[FanFict] Sugar Rush (part 2)

Dongwoon POV…
Aku terus berlari sekencang mungkin tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Teriakan orang-orang yang aku tabrak, klakson-klakson mobil yang harus berhenti mendadak, semuanya tidak menarik perhatianku. Aku segera melempar pistol ketika berada di dekat mobilku. Tanpa pikir panjang, aku masuk ke mobil dan segera kabur dari tempat tersebut. Aku dapat melihat tatapan kemarahan dari mata Siwon dan Doojon dari kaca spion.

Aku mengambil ponselku dengan kasar dan memencet beberapa angka yang sudah aku hafal.
“Pesankan tiket pesawat menuju Toronto sekarang juga. Penerbangan malam ini.. Jangan banyak tanya.. Laksanakan perintahku atau kau sekeluarga akan lenyap dari muka bumi ini…”

Aku melempar ponsel tersebut ke jok sebelah dan memukul setir mobil.
“Damn…”
End of Dongwoon POV…
**

Jang Hyunseung sangat menikmati berita yang ditayangkan dari salah satu channel TV. Senyum iblisnya terkembang lebar.

“Hahahaha…Akhirnya, aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menghabisi Vanie Lee. Andromeda, ini akibatnya karena dengan berani mendepakku. Pembalasan ini semakin manis terasa, hahhahahaha…”

Hyunseung menyaksikan berita tersebut dengan hati yang tidak bisa dijelaskan. Bahagia 100% yang dia rasakan. Balas dendam yang direncanakan untuk Andromeda Galaxy Association sudah 30% berhasil.

“AGA pasti akan mengalami guncangan kalau Vanie Lee meninggal. Target selanjutnya adalah kau, Silvana Park,”kata Hyunseung lalu merobek foto Silvana Park. “AGA, secepatnya kau harus memesan peti matimu karena waktu kematianmu tinggal sebentar lagi,”

Hahahahahaha…
**

Heenim POV…
Aku menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Lampu yang terletak di sudut kanan pintu masih menyala terang, itu berarti operasi masih berlangsung. Aku melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 11 malam, operasi sudah berlangsung selama 2 jam dan sekarang masih belum selesai.

Doojon mengatupkan tangan dengan mata terpejam. Aku tau, dia sedang berdoa untuk kelancaran operasi Vanie. Siwon, Silvana Park, dan Wookie berada di kapel untuk memohon kepada Tuhan agar diberi mukjizat kepada Vanie. Junhyung dan Tara juga melakukan hal yang sama seperti Doojon, mereka berdua mengatupkan tangan dengan mulut komat kamit memanjaatkan do’a.

Aku menyandarkan tubuh ke dinding dan memangku tangan sembari menatap dengan cemas ke arah pintu ruang operasi. Aku memanjatkan do’a kepada Tuhan agar Dia memberikan mukjizat kepada malaikat kecilku yang sedang berjuang melawan maut.

“Heenim,”seseorang memanggilku. Donghae.
Aku mengangguk lalu menerima pelukan darinya.
“Aku gagal melindungi Vanie, Donghae,”kataku lirih, tanpa terasa air mataku turun.
“Sudahlah, Heenim. Tuhan punya rencana lain dari kejadian ini. Ouw ya, sepertinya aku tidak melihat Choi Siwon dan Silvana Park? Kemana mereka?”
“Mereka berdua sedang berada di kapel sekarang…”

Aku melihat Donghae mengangguk lalu ikut melihat ke ruang operasi. Aku melihat Donghae juga melakukan hal yang sama, mengatupkan tangan dan berdoa. Aku terharu melihat mereka. Meskipun aku tidak percaya Tuhan, tapi aku percaya bahwa ada kekuatan di dalam doa.

Air mataku mengalir pelan ketika kesekian kalinya melihat pintu ruang operasi, pintu tersebut belum terbuka.
“Ya Tuhan, apakah Kau mendengar doa kami? Berikan mukjizatMu kepada malaikat kecil kami di dalam sana. Amen,”kataku lalu menutup mata.

Teeettt..Teeeettt…Kleeeekkk…Kleeekkk..
Terdengar bunyi pintu dibuka. Aku membuka mata. Doojon, Donghae, Junhyung, dan Tara juga membuka mata. Dokter yang menangani operasi Vanie keluar.
“Apakah ada diantara kalian yang bernama Heenim?”tanya dokter tersebut menyebut namaku.
“Saya yang bernama Heenim, dokter,”kataku berjalan mendekati dokter tersebut.
“Anda diminta masuk ke dalam ruang operasi,”
Aku mengangguk lalu mengikuti dokter tersebut ke dalam ruang operasi.
End of Heenim POV…
**

Siwon, Silvana Park, dan Wookie berjalan dengan lunglai menuju ruang operasi. Mata mereka basah oleh air mata. Mereka bertiga kaget karena sosok Heenim sudah tidak berada di sana.
“Hyung kemana?”tanya Wookie lalu duduk di kursi menghadap Donghae.
“Hyung diminta masuk ke ruang operasi,”jawab Doojon pelan.

Donghae segera mendekati Siwon dan Silvana Park ketika melihat mereka.
“Apakah tidak keberatan kalau aku menanyakan sesuatu?”
“Tidak masalah, Chief,”
“Aku mendapat kabar dari kepolisian Seoul bahwa pelaku penembakan Vanie…”
“Son Dongwoon, Chief,”jawab Siwon.
“Apakah kau yakin?”
“Ne, aku yakin sekali, Chief. Aku menemukan saputangan ini di tempat kejadian,”kata Siwon menyerahkan saputangan yang sudah terbungkus plastik.
“Aku dan Siwon Hyung juga mengejar pelakunya, kami tidak bisa menangkap pelaku karena kalah cepat. Namun, aku menemukan senjata penembakannya,”seru Doojon

lalu menyerahkan pistol yang juga sudah terbungkus plastik.

“Terima kasih, kalian berdua telah membantu kami. Masalah ini semakin rumit, karena Dongwoon baru saja meninggalkan Korea dengan penerbangan malam,”kata Donghae menghela nafas. “Kami kecolongan satu langkah darinya…”

“Chief,”kata Eun Min lalu menangis. “Temukan Dongwoon, baik itu dalam keadaan hidup maupun sudah mati. Dia harus bertanggung jawab atas peristiwa ini,”

Beberapa saat kemudian, Heenim keluar dari ruang operasi dengan senyum sedikit mengembang.
“Heenim Hyung, bagaimana keadaan Vanie?”tanya Doojon bergetar.
“Tuhan mendengar doa kita semua. Peluru berhasil dikeluarkan dan Vanie sudah melewati masa kritis. Vanie akan dipindah ke Private Suite untuk rawat jalan…”
“Heenim, kita harus memindahkan Vanie dari rumah sakit ini. Dia tidak aman jika dirawat di sini. Hyunseung pasti akan melakukan sesuatu apabila dia mendengar kabar bahwa Vanie masih hidup,”

“Benar juga..”
“Bagaimana kalau dirawat di tempatku saja?”usul Doojon. “Aku yakin, Hyunseung tidak akan mencariku..”
“Apakah kau yakin? Memang, masalah Hyunseung hanya kepada Andromeda, namun mencari informasi bukan hal yang sulit untuknya,”celetuk Heenim.
“Sebaiknya kami bawa ke Australia saja,”

Mereka semua segera melihat ke arah suara.
“Maaf, adakah diantara kalian yang bernama Kim Heechul dan Yoon Doojon,”
“Nee, saya yang bernama Kim Heechul, Eomonim,”
“Saya yang bernama Yoon Doojon, Eomonim,”
“Ahh..Kami orang tua dari Vanie. Kami akan membawa Vanie ke Australia…”
“Tapi..”
“Kami janji, kami akan segera memulangkan Vanie ke Seoul setelah dia sembuh. Berat hati kami melakukan ini karena kami apalagi saya sangat mencemaskan kejadian yang dialami Vanie, tapi, setelah saya melihat Kim Heechul dan Yoon Doojon, saya percaya menitipkan Vanie pada mereka…”
“Kamasahamnida, Eomonim, Abeoji,”kata mereka bareng
**

Doojon POV…
Aku duduk termenung di kamarku. Mataku berkunang-kunang. Hari ini merupakan hari terberat selama aku menjadi artis. Kondisiku di masa-masa trainee tidak mampu mengalahkan kondisiku saat ini. Perasaanku diaduk-aduk sampai tidak tau bagaimana bentuknya sekarang.

Aku berdiri lalu keluar kamar dan menuju kulkas. Aku mengeluarkan sekaleng bir untuk menenangkanku. Aku berjalan lunglai menuju ruang tivi dan dengan perlahan duduk di sofa.

“Ahh..”kataku mengambil remote untuk menghidupkan tivi.
Televisiku menayangkan berita dari channel KBS World. Aku menyaksikan berita itu dengan perasaan yang teraduk-aduk. Air mataku turun ketika menyaksikan tubuh Vanie yang tidak bergerak ketika ditandu menuju ambulance. Suasana saat itu sangat tidak terkontrol. Emosiku memuncak ketika peliput menyebut nama Son Dongwoon. Aku meremas kaleng bir-ku dengan keras dan melemparkannya ke dinding.

KLONTAAAANG!!

“Son Dongwoon, kau akan berhadapan denganku. Kau sudah menyakitiku sebanyak 2 kali. Kau akan merasakan balasannya,”makiku.
End of Doojon POV…
**

Donghae tergesa menuju Lab Criminal sekembalinya dari rumah sakit. Zhoumi terlihat di dalam ruangan tersebut sedang berkutat dengan komputernya.
“Zhoumi…”sapa Donghae lalu menyodorkan 2 benda yang membuat Zhoumi mendongak.
“Apa ini, Hyung?”tanya Zhoumi menunjuk benda tersebut.
“Barang bukti yang ditinggalkan pelaku di TKP…”
“Penembakan Vanie Lee?”tanya Zhoumi dijawab anggukan oleh Donghae. “Aku akan segera memeriksanya, Hyung,”

“Thanks. Ouw ya, apakah kau melihat Onew?”
“Onew? Hmm.. sepertinya dia lagi di ruangannya Key, mencari tau dimana keberadaan Son Dongwoon, Hyung,”
“Baiklah, aku akan ke ruangan Key,”

Donghae keluar dari ruangan Zhoumi dan menuju ruangan Key. Onew dan Key terlihat sedang serius di hadapan komputer. Jari-jari mereka menari indah di keyboard komputer.
“Yoo..”sapa Key dan Onew bareng ketika melihat Donghae memasuki ruangannya.
“Yoo..”balas Donghae lalu menuju ke tempat Key. “Bagaimana? Apakah sudah ada hasilnya?”

Key mengangguk.
“Aku menelpon ke bandara untuk mengetahui penerbangan pada jam tersebut yang tujuannya Amerika. Pihak bandara memberikan yang sangat mengejutkan, Hyung. Pada malam dimana Dongwoon meninggalkan Korea, ternyata tidak ada penerbangan yang menuju Amerika, yang ada penerbangan menuju Toronto, Canada, Hyung. Apa benar informasi yang kau dapatkan itu? Dongwoon berada di Amerika? Canada bukan Amerika, Hyung,”

Donghae mengepalkan tangannya.
“Si bodoh itu kembali selangkah dariku. Aku akan menghubungi pihak Investigation di Canada..”
“Hyung,”kata Onew. “Aku sudah menghubungi pihak Investigation, mereka berhasil menemukan dimana Son Dongwoon tinggal selama berada di Toronto,”

Donghae pindah ke tempat Onew untuk melihat hasil temuannya. Komputer menayangkan sebuah alamat. Donghae tersenyum lalu mengambil ponselnya.
“Minho, tolong sampaikan kepada atasanmu, Kangin, 2 hari lagi aku akan berangkat ke Toronto.. Iyaaa.. terkait kasus penembakan Vanie Lee,”

Onew dan Key memandang atasannya dengan kagum. Donghae, Chief Investigation yang baru, sungguh sangat cemerlang. Kinerjanya cepat dan tangkas.

“Kalau saja aku perempuan, aku pasti menginginkan dia menjadi kekasihku,”lirih Onew dengan mata berbinar menatap Donghae.

“Kali ini aku akan menangkapmu Dongwoon, bersiaplah,”kata Donghae lalu menatap ke arah Onew. “Yaa~~ Onew, kau kenapa?”
Onew gelagapan ditatap seperti itu. “Hahahaa.. Aku mengagumimu, Hyung, tapi sayang, aku bukan seorang wanita,”

Key tertawa mendengar celetukan spontan dari Onew.
“Pabo,”
**

“Heeniiimmm.. Kangeeeennn… Puji Tuhan, lukaku sudah pulih.. Nee.. Secepatnya aku akan pulang ke Korea.. Aku sudah sangat kangen padamu dan…padanya.. Hahahaha.. Doojon menghubungiku 3 kali per hari. Pagi, siang, malam…”

Hahahha.. Dasar yang sedang kasmaran.. Darling, aku merasa sepi di kantor.. Aku benar-benar merindukanmu,”

“Dokter yang menanganiku masih belum mengizinkan untuk bepergian jauh. Kemungkinan akhir bulan aku akan berangkat ke Seoul…”

Darling, Gyeosa-mu berkali-kali menanyakan keadaanmu padaku dan itu semua membuat aku pusing..

“Mian, Heenim.. Aku sudah mengabarkan mengenai keadaanku padanya.. Nee.. Bogoshipo, Heenim,”

Aku mengembalikan gagang telepon pada tempatnya dan menuju dapur. Mommy masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Hari ini adalah hari spesial karena hari ini merupakan tanggal pernikahan kedua orang tuaku.
“Mom,”kataku lalu berdiri di sampingnya. “Selamat hari pernikahan,”
Aku memeluk Mommy dan mengecup pipinya dengan sayang.
Honey, terima kasih banyak. Mommy loves you,”
Vanie loves Mommy,”
**

Hyunseung histeris mendengar kabar mengenai kecelakaan yang dialami Appanya.
“Eomma.. apakah Appa baik-baik saja? Kenapa bisa?”tanya Hyunseung di telepon.
Appa terlalu sibuk bekerja, sayang, sehingga kondisi badannya tidak baik sewaktu menyetir mobil. Sudah lama Appa tidak memakai supir..
“Aku akan menyusul ke Aussie sekarang juga.. Tidak apa-apa.. Aku akan melimpahkan pekerjaanku sementara kepada wakilku.. Nee.. Huhh?? Eomma, aku sudah besar..”

Eomma menyukainya, Hyunseung.. Dia gadis yang baik. Hahaha.. Aku tau kamu sudah besar.. Aku rasa dia cocok untukmu.. Bukan gadis bule, gadis Korea, nee.. anak dari sahabat Appa..
“Liat saja nanti. Aku menggunakan pesawat malam. Nee.. I love you, Eomma,”

Hyunseung termenung di tempatnya. Dia sungguh sangat panik mendengar kabar kalau Appanya mengalami kecelakaan. Pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada Silvana Park dan Vanie Lee yang secara tidak langsung dia sakiti.

“Aku tidak boleh terlalu lemah. Untuk sementara aku akan berhenti dulu menyakiti mereka berdua,”katanya lalu menekan nomor sekretarisnya. “Kim, tolong pesankan tiket pesawat menuju Australia, penerbangan malam saja. Terima kasih,”
**

“APAAAA?? Hyunseung sedang berada di Australia? Oh My…”cemas Doojon dan panik.
Heenim dan Silvana Park juga tidak kalah panik. Begitu juga dengan Andromeda.
“Aku lupa..aku lupa kalau Hyunseung juga tinggal di Aussie.. Bagaimana ini?”cemas Silvana Park.
“Tenang..aku mendapat kabar bahwa Appanya mendapat kecelakaan di sana, kemungkinan besar dia akan fokus untuk menjaga Appanya…”
“Hyunseung kan tidak tau kalau Vanie sedang berada di Aussie.. Jangan khawatir, pihak keamanan rumahnya pasti ketat, orang tua Vanie kan merupakan Ambassador Korea untuk Australia..”kata Heenim pura-pura tenang.

“Aku sungguh cemas, Heenim,”tukas Andromeda. “Hyunseung tau bagaimana wajah Vanie, namun, Vanie tidak tau wajah Hyunseung. Oukeh..Vanie akan terlindungi apabila berada di rumah, bagaimana dengan di luar rumah? Apakah keamanan untuknya terjamin?”
“…”
**

Hyunseung POV…
Akhirnya aku sampai dengan selamat di rumah yang telah membesarkanku setelah berjam-jam menempuh perjalanan. Kelelahan yang aku alami tidak berhasil mengalahkan kepanikanku. Aku segera berlari masuk ke dalam rumah ketika taksi yang aku tumpangi berhenti tepat di depan rumah.

Namun, aku mendapat shock theraphy ketika aku membuka pintu. Sosok yang sangat ingin aku lenyapkan berada di sana bersama Eommaku. Ya, Vanie Lee sedang bercengkrama dengan Eommaku di ruang tamu.

“Hyunseung, Eomma senang sekali kau telah sampai, Nak. Eomma kangen padamu,”kata Eommaku memelukku.
“Aku juga merindukanmu, Eomma,”kataku membalas pelukannya.
Eomma melepaskan pelukannya dan menarik tangan gadis itu dan mngenalkannya padaku.
“Vanie, ini anak tunggal Eomoni…”

Eomonim??

Aku melihat sosok itu tersenyum yang menurutku manis dan mengulurkan tangannya.
“Vanie Lee,”
Dengan ragu aku menerima uluran tangannya. “Hyunseung,”

“Eomma senang kalian sudah saling kenal,”
“Eomonim, aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku sudah janji untuk menemani Mommy di Boutique,”
“Gadis sepertimu pasti menjadi dambaan keluarga yang memiliki seorang anak laki-laki. Beruntung sekali laki-laki yang berhasil mendapatkanmu,”

Aku hanya diam menyaksikan adegan itu. Diam-diam aku menikmati kecantikannya dan bersyukur dalam hati kalau dia masih hidup sampai sekarang. Aku melihat semburat merah di wajahnya. Gadis itu malu-malu.

“Menurutmu begitu, Eomonim?”tanyanya yang dijawab anggukan oleh Eommaku. “Berarti dia beruntung memilikiku,”
“Heii, anakku, apakah kau sudah memiliki seseorang?”goda Eommaku.
“Sudah Eomonim,”jawabnya dengan malu-malu. “Well, Eomonim, besok aku akan main ke sini lagi. Aku seperti memiliki 2 Mother, 2 Father dan 1 kakak cowok,”

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Dia menganggapku kakak cowoknya. Bagaimana bisa? Apa yang akan dikatakannya ketika dia mengetahui bahwa akulah yang melukai Silvana Park?

“Aku juga, dear. Aku serasa memiliki seorang anak perempuan. Aku senang karena memiliki teman untuk membicarakan hal-hal yang bersifat cewek,”
“Eomonim, Hyunseung Oppa, aku permisi dulu,”
“Hati-hati,”kataku tiba-tiba dan tersenyum.

Eommaku menatapku dengan sayang.
“Kau terlambat satu langkah, Hyunseung. Dia sudah punya seseorang,”
Aku hanya tersenyum. “Yeahh..”
End of Hyunseung POV…
**

Aku sungguh merindukan wajahnya. Aku sungguh ingin menikmati senyumannya. Aku kangen semua yang ada pada dirinya. Aku sangat merindukan Yoon Doojon. Jangan sampai aku melupakan bagaimana wajahnya, matanya, dan juga senyumannya karena kelamaan berdiam di Aussie.

Tokk..Tokk..
Mommy masuk ke kamarku dan duduk di hadapanku.
“Sayang, hari ini Mommy mau menjenguk Mr. Jang, apakah kau mau ikut?”
Aku mengangguk.
“Baiklah kalau begitu. Mommy akan menunggumu di bawah, sayang,”seru Mommy lalu beranjak keluar kamarku.
“Yes, Mom,”




“Vanessa, Vanie, mari masuk..”seru Eomonim. “Hyunseung, kemari, Nak,”
Aku melihat Hyunseung Oppa berjalan mendekati kami dan tersenyum.
“Vanessa, ini anak tunggalku, Hyunseung,”
Mommyku tersenyum lalu mengulurkan tangan. “Vanessa. Senang bertemu denganmu, Hyunseung,”
“Saya juga,”

Mommy menuju kamar Abeoji bersama Eomonim sedangkan aku tetap tinggal di ruang tamu bersama Hyunseung. Kami berdua diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Vanie, Eomma bilang kamu mengalami kecelakaan di Korea, makanya dibawa kesini?”
Aku mengangguk. “Tapi pelakunya masih belum tertangkap, Oppa, Donghae ssi mengabarkan kalau pelakunya melarikan diri ke Toronto,”
“Apakah kau sudah tau siapa pelakunya?”
Aku menggeleng. “Aku tidak tau siapa pelakunya. Namun, Siwon ssi bilang pelakunya Son Dongwoon,”
“Son Dongwoon?”
“Ne,”
I’m so sorry to hear that, dear. Bagaimana dengan lukamu?”
“Puji Tuhan, lukaku sudah berangsur pulih,”
“Puji Tuhan,”
**

Hyunseung POV…
Aku tidak tau apa yang sedang terjadi padaku. Aku sering kali mendapatkan kesempatan untuk melenyapkannya namun sama sekali tidak bisa aku lakukan. Aku selalu terbawa dengan ketulusan yang terpancar dari wajahnya. Hatiku bergejolak gembira ketika bersamanya maupun dia berada di rumahku. Aku sudah gila.. Aku sudah gila. Semakin sering aku bertemu dengannya, perasaanku padanya semakin tumbuh, namun, aku harus berpuas hati karena tidak akan berhasil memilikinya karena dia sudah memiliki seseorang. Benar kata Eommaku, aku terlambat satu langkah dari pacarnya.

Aku terus menatap dia, menikmati semua yang ada pada dirinya. Aku tertawa geli menyadari perasaan jahatku melemah gara-gara seorang Vanie Lee. Basa-basi aku menanyakan mengenai penembakan yang terjadi padanya. Aku menjadi marah pada Son Dongwoon karena melukainya. Ahhh… Kenapa aku menjadi lemah begini.

“Oppa, kau tidak apa-apa?”tanyanya menatapku.
Jujur, perasaanku semakin bergejolak ketika menatap matanya. “Ahh..aku tidak apa-apa, Vanie,”
“Wajahmu pucat, Oppa, apakah kau sakit?”
Aku menggeleng cepat-cepat dan berusaha menghindar sebelum tangannya menyentuh dahiku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku ketika kulitnya bersentuhan langsung dengan kulitku.

Aku harus pergi dari suasana ini sebelum menjadi benar-benar gila, gila akan dirinya. Aku beranjak dari ruang tamu menuju kamarku.
“Oppa, kau mau kemana?”
“Aku mau istirahat,”
“Okai. Istirahat yang cukup ya, Oppa,”

Aku mengangguk lalu bergegas menuju kamarku. Pesonanya sungguh kuat meracuni hatiku. Sesampainya di kamar, aku duduk di meja dan menghubungkan laptopku dengan koneksi internet. Halaman Google terbuka dan aku segera mengetikkan keyword. Beberapa saat kemudian, artikel yang berkaitan dengan keyword keluar. Mataku bergerilya mencari berita mengenai penembakan Vanie Lee.

Tujuanku mencari berita penembakan Vanie hanyalah untuk mengetahui homepage pribadinya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan berita itu. Aku tersenyum karena menemukan sesuatu yang sangat menarik dan segera menekan klik kiri sebanyak 2 kali pada mouse. Mataku bergerilya membaca apa saja yang terpampang. Aku kembali menyunggingkan senyum ketika menemukan website pribadinya.

“Heedictator Entertainment?”kataku mem-block tulisan Heedictator Entertainment. “Ternyata Vanie bekerja di sana,”

Aku kembali membuka Halaman Google dan mengetikkan “Heedictator Entertainment” pada tab-search. Beberapa saat kemudian, seluruh artikel yang mengandung keyword tersebut keluar.

“Yosh. Heedictator’s profile,”kataku lalu menekan klik kiri sebanyak 2 kali pada mouse. Aku arahkan pointer mouse ke tulisan Vanie’s Twitter. Aku membaca semua yang tertulis di home twitternya. Aku tertarik pada salah satu twit yang ada.

“@Vanillyeppeo my sugar rush @guachonDJ bogoshippo :*”

“Cihhh..guachonDJ? guachon? Handsome? Oh my, sungguh narsis,”
Aku tersenyum membaca tulisan itu. Aku kembali mengarahkan pointer mouse ke tulisan @guachonDJ dan terbukalah home-twitter. Mataku terbelalak.
“Yoon Doojon?”kataku lalu mataku membaca bio. “Choirish Association? Dia kan yang menjadi korban penusukan beberapa minggu lalu yang ditemukan oleh Vanie di kantor manajemennya,”

Jantungku berdebar ketika kembali membuka Halaman Google. Aku mengetikkan Choirish Association. Bingo!!
“Anak perusahaan dari AGA..”kataku lalu memijit pelipis mata. “Pacarnya Vanie dibawah naungan AGA? Tidak.. Kenapa harus ini yang aku temukan? Aku..aku..”

Aku merebahkan badanku ke kasur dan berusaha memejamkan mata. Kenapa aku harus mengalami ini? Sepertinya aku harus menghentikan pembalasan terhadap Vanie.
“Vanie tidak berhak mendapatkan pembalasanku. Masalahku hanya kepada AGA, bukan kepada anak perusahaannya,”
End of Hyunseung POV..
**

Pesawat Korean Air yang ditumpangi Donghae dan Onew mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Pearson Toronto yang terletak di daerah Mississauga, sebelah barat Ontario. Donghae dan Onew segera masuk terminal kedatangan dan mengurus visa. Tampak kesibukan yang terjadi di dalam bandara karena bandara ini merupakan bandara tersibuk di Canada dan tahun 2005 bandara ini berada di peringkat 29 sebagai bandara tersibuk di dunia.

Donghae segera menyelesaikan urusannya dan bergabung bersama Onew yang sedari tadi bengong seperti ayam goreng karena melihat kesibukan di Bandara.
“Yaa~ kenapa kau bengong?”tanya Donghae lalu menyerahkan paspor dan visa miliknya.
“Gomapta, Hyung,”kata Onew lalu memasukkan paspor dan visa miliknya ke dalam tas. “Aku takjub melihat kesibukan yang terjadi,”
“Kita sebaiknya segera menuju pintu keluar. Canada Investigation sudah menunggu,”
Onew mengangguk lalu mengikuti Donghae.



“Hyung,”kata Donghae lalu memeluk pria tersebut.
“Donghae, akhirnya kita bisa bertemu lagi,”pria itu membalas pelukan Donghae. “Apakah cowok muda ini juga bekerja di tempatmu?”
“Ne, Hyung. Onew, dia merupakan Chief of Canada Investigation, Kim Youngwoon..”
“Sebaiknya kau memanggilku dengan Kangin, Donghae. Senang bertemu denganmu,”
“Aku juga, Kangin Hyung. Onew imnida,”
“Well, sebaiknya kita segera meninggalkan bandara karena aku mendapat kabar bahwa Son Dongwoon akan bertolak ke Beijing,”

Donghae dan Onew mengikuti Kangin menuju parkiran mobil. Mobil yang mereka tumpangi segera meninggalkan bandara sesaat setelah Onew menutup pintu.
“Donghae, Onew, apakah kalian sudah makan?”
“Belum, Hyung, namun bisa ditunda setelah penangkapan Son Dongwoon,”kata Donghae kalem.
“Baiklah. Perjalanan dari Mississauga menuju Toronto memakan waktu lebih kurang 26 menit,”kata Kangin tersenyum.
“Iya, Hyung,”

Kangin menyerahkan selembar kertas kepada salah satu anggotanya yang diminta untuk membantu mereka menangkap Son Dongwoon. Mobil melaju dengan kecepatan sedikit kencang ketika melewati jalan tol. Onew memandangi dengan takjub pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Onew sepertinya lupa apa tujuan mereka mendatangi Toronto.
**

Minho segera menghampiri mobil yang baru saja berhenti di depan rumah yang merupakan tempat tinggal Dongwoon selama di Toronto. Kangin turun dari mobil yang diikuti Donghae dan Onew.

“Hyung, berita buruk. Son Dongwoon sudah tidak lagi berada di sini. Beberapa jam yang lalu dia sudah meninggalkan Toronto menuju Beijing dan celakanya kita tidak punya kenalan di Beijing Crime Private Investigator,”sesal Minho.

Donghae mengepalkan tangan dan terdiam mendengar penuturan Minho. Kangin juga bereaksi sama. Hanya Onew yang masih bisa senyam-senyum.
“Yaa~~ kenapa kau masih bisa senyam-senyum begitu?”maki Donghae kesal.
“Tenang, Hyung. Aku punya kenalan di Beijing Crime Private Investigator,”Onew mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa nomor yang sudah hafal di luar kepala.

Onew memandang mereka lalu menjauhkan ponselnya dari telinga. “Tidak diangkat,”
“Kalau begitu, kita sebaiknya kembali ke markas. Aku akan mengantarkan kalian berdua ke hotel,”
“Ne~”
**

Doojon POV…
Aku hanya senyum lebar menikmati telepon darinya. Aku sudah sangat rindu padanya.
“Sayang, kapan kau kembali ke Seoul? Aku sudah sangat merindukanmu.. Hahaha.. Apakah selama kau di sana mengalami hal yang aneh? Hmm.. Maksudku merasa terancam? Ohh.. Syukurlah.. Huh? Tapi mereka tau kan kalau kau sudah memilikiku? Ohh.. Aku turut mendoakan kesembuhan sahabat Papamu ya.. Nee.. Oukeh, aku akan mengikuti kata-katamu.. Makan tepat waktu dan banyak minum vitamin.. Te amo, mi amor..”

Aku berjalan menuju sutradara setelah menyudahi pembicaraan dengan kekasihku. Aku pasti diminta untuk review ulang setiap scene yang sudah dikerjakan.
“Doojon, kau tampak sempurna.. Biasanya untuk mendapat ekspresi malu-malu karena jatuh cinta yang perfect harus take berulang-ulang..”

Aku hanya tersenyum mendengar penuturan sutradara yang bertanggungjawab pada pembuatan Music Videoku. Aku mengalami perubahan yang pesat sejak berhubungan dengan Vanie Lee.

“Yaa..kau melamun?”
“Bagaimana dia tidak melamun, Hyung, kekasihnya saja sedang berada jauh darinya,”goda manajerku, Siwon Hyung.
“Wahh..Pantesan saja ekspresimu disini begitu sempurna, hahahahah”

Semburat merah memenuhi wajah tampanku dan wajah Vanie dengan senyumannya tanpa permisi melintas di pikiranku.

“Doojon, aku mau bicara sebentar,”kata Siwon Hyung.
Aku mengikutinya dari belakang.
“Baru saja aku mendapat kabar dari Donghae, Dongwoon tidak lagi berada di Toronto, namun sudah berada di Beijing..”
Aku terkejut mendengar penuturan Siwon Hyung. “Jinjja?”
“Ne..”
End of Doojon POV…
**

Park Eun Min memandang sedih foto yang sedang dipegangnya, fotonya bersama Vanie Lee. Air matanya turun membasahi wajah cantiknya yang sudah dipoles make-up.

“Vanie, aku benar-benar minta maaf, tidak sepantasnya aku melibatkanmu ke dalam duniaku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua ini, Vanie?”

Park Eun Min segera menyusut air matanya ketika salah satu penanggung jawab debut stage memasuki ruangannya untuk memberi tahu berapa menit lagi aku akan tampil.

“Silvana ssi, waktu anda tinggal 5 menit lagi. Harap bersiap-siap,”
“Roger that,”

Park Eun Min membenahi riasan wajahnya yang berantakan gara-gara air mata. Sekuat mungkin dia menciptakan senyum manis agar berhasil mencuri hati fandom di Seoul.

“Ini debutku yang pertama di Seoul, aku harus memberikan yang terbaik buat semuanya terutama untuk Vanie Lee,”Eun Min menyemangati dirinya.

Ponsel mungilnya bergetar. 1 new message delivered. Eun Min membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Vanie..”desisnya pelan dan berusaha agar air matanya tidak tumpah. “Aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Thanks,”
**

Dongwoon melenggang santai di tengah-tengah kesibukan yang terjadi di Beijing Capital International Airport (BCIA) setelah pesawat Air Canada yang ditumpanginya mendarat selamat di landasan. Dongwoon memperhatikan sekitar, tampak beberapa polisi yang sedang siaga.

“Cihh..tangkas sekali kinerja Donghae. Kau tidak akan pernah berhasil menangkapku, Donghae,”

“Kami tidak menemukan penumpang dari Toronto yang seperti di foto, sir,”kata Henry sambil memperhatikan beberapa penumpang yang melewatinya. “Baiklah, sir,”

Henry memperhatikan dengan seksama pria berambut blonde yang sedang berjalan ke arahnya. Dia menatap bergantian ke arah pria tersebut dan foto. Henry merupakan detektif yang bekerja untuk Beijing Crime Private Investigator memiliki instinc yang sangat kuat untuk mengenali seseorang.

“Aku rasa, pria blonde yang sedang berjalan ke arah sini mirip dengan pria yang ada dalam foto ini. Pria blonde itu Son Dongwoon,”bisik Henry kepada rekannya, Taemin.
“Sir Henry, aku rasa berbeda..”kata Taemin bergantian menatap pria blonde yang dimaksud Henry dan foto. “Aku tidak menemukan kemiripan..”
“Aku akan membuktikkan kalau pria blonde itu merupakan Son Dongwoon,”kata Henry lalu menjatuhkan sebuah buku ketika pria blonde melewatinya.

“Bukumu, sir,”kata Dongwoon menyerahkan buku tersebut pada Henry dan tersenyum.
“Ohh..Terima kasih sekali, sir. Silakan,”jawab Henry tersenyum bermakna.

Dongwoon melewati mereka dengan senyum kemenangan. Polisi tersebut tidak bisa mengenali dirinya karena perubahan yang terjadi pada rambutnya, mata, dan bibir.
“Donghae, sudah aku bilang, kau tidak akan pernah berhasil menangkapku,”

Namun, Dongwoon kecolongan satu hal. Polisi memotret dirinya dengan diam-diam dan mengambil sidik jarinya dengan pintar.

“Yosh,”kata Henry menatap buku yang sudah ada sidik jari Dongwoon. “Senjata ini akan menangkapmu, Dongwoon, dan membuatmu bertanggung jawab atas penembakan yang kau lakukan,”
**

Hankyung, Chief of Beijing Crime Private Investigator, segera memeriksa buku yang disodorkan Henry. Hankyung menaburi permukaan buku dengan flourscent powder untuk menemukan sidik jari Dongwoon. Hankyung mengambil kertas berbahan mika untuk memindahkan sidik jari tersebut.

“Henry, segera kau periksa sidik jari ini,”kata Hankyung menyerahkan kertas mika tersebut.
“Baiklah, aku akan segera memeriksanya,”Henry mengambil kertas tersebut dan membawanya ke Lab Criminal.

Henry tersenyum puas menemukan pemilik sidik jari itu. Son Dongwoon. Namun, untuk memastikan, Henry meminta Onew mengirimkan hasil pemeriksaan sidik jari yang terdapat di senjata penembakannya, pistol. Beberapa saat kemudian, fax dari Onew sampai dan tanpa basa basi, Henry segera mencocokkan sidik jari tersebut dan Match Found. Henry keluar dari Lab Criminal dan masuk ke ruangan Taemin.

“Segera kau cari alamat Son Dongwoon. Pria blonde tadi memang dirinya,”
“Yes, sir,”Taemin segera berkutat dengan komputernya.
“Aku berada di ruangan Hankyung Gege, kau bisa mencariku di sana kalau kau menemukan alamatnya,”
Taemin mengangguk.
**

Minho berjalan menuju ruangan Kangin sambil membawa laporan dari Beijing Crime Investigation.
“Yoo..”kata Minho lalu mengulurkan berkas tersebut.
Kangin membaca berkas tersebut dan tersenyum kemenangan.
“Inilah saatnya kau menghentikan petualanganmu, Dongwoon,”

Donghae menatap bangga ke arah Onew. Berkat bantuannya, Son Dongwoon berhasil ditemukan.
“Onew, aku bangga padamu,”kata Donghae.
“Aku juga, Onew, kau sungguh sangat membantu,”puji Kangin lalu memeluk Onew.
“Ne, Hyung,”

“Minho, tolong pesan 4 tiket tujuan Beijing. Kita berangkat sekarang juga,”
“Roger,”
**

Rumah mewah yang terletak di tengah kota Beijing sudah terkepung polisi gabungan, Canada, Korea, dan Beijing. Hankyung dan Kangin bertindak sebagai pemberi aba-aba. Beberapa anggota polisi termasuk Onew, Donghae dan Henry siaga dengan pistol teracung dan bersiap mendobrak pintu depan. Mereka segera mendobrak pintu setelah mendengar hitungan ketiga.

“Hellow.. Police..”

Onew dan Henry masuk ke ruang tidur utama dan memeriksa lantai 1 sedangkan Donghae memeriksa lantai 2. Langkah Donghae terhenti karena kepalanya ditodong pistol oleh Dongwoon.

“Akhirnya kita bertemu juga, Donghae,”kata Dongwoon mengacungkan pistol ke kepalanya. “Buang senjatamu dan turun sekarang juga,”

Beberapa polisi yang memeriksa lantai 1 segera menodongkan pistol ke arah Dongwoon dan Donghae yang sedang menuruni tangga.

“Buang senjata kalian atau aku akan menembak cowok sombong ini,”gertak Dongwoon.
Para polisi saling pandang lalu bergegas membuang senjata yang mereka pegang lalu memberikan jalan untuk mereka berdua. Donghae melirik Onew dan memberi kode agar melakukan sesuatu yang menarik perhatian Dongwoon. Donghae segera melumpuhkan Dongwoon ketika konsentrasinya terpecah dan merebut pistol yang dipegangnya lalu segera menodongkan pistol tersebut ke arah kepala Dongwoon.

“Jangan bergerak atau kepalamu akan bocor dengan pistolmu sendiri?”

Beberapa polisi segera mengambil senjata mereka dan membantu Donghae untuk meringkus Dongwoon. Beberapa saat kemudian, Dongwoon berhasil di borgol dan digelandang ke mobil tahanan.

“Kinerja yang bagus, Donghae,”kata Hankyung menyalami Donghae.
“Aku akan membawanya ke Korea. Aku butuh bantuan dari kalian, untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu selama perjalanan,”
“Roger,”
**

Aku bersama Hyunseung melihat berita tertangkapnya Son Dongwoon di Beijing. Aku sangat bersyukur dalam hati karena pelaku penembakanku sudah berhasil ditangkap. Aku tersenyum lega.

“Bagaimana perasaanmu, Van, melihat berita ini?”
“Aku lega sekali, Oppa, akhirnya Son Dongwoon berhasil ditemukan. Aku berharap pihak investigasi segera menuntaskan perkara Doojon dan kasus penembakanku,”
“Doojon?”aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Donghae ssi mengatakan bahwa pelaku penusukan terhadap pacarku itu bukan dari Rainbow Secret, namun, Son Dongwoon. Mereka masih belum bisa menemukan apa motifnya,”
“Rainbow Secret?”
“Iya,”
**

Eun Min mengucapkan syukur ketika melihat berita mengenai penangkapan Dongwoon di Beijing. Dia tidak putus memanjaatkan syukur kepada Tuhan atas tertangkapnya Dongwoon. Perasaan bahagia segera melingkupi hati dan perasaannya.

“Tuhan, terima kasih atas mukzijat yang Kau berikan,”
“Eun Min,”Andromeda memasuki ruang tunggu Silvana. “Kita harus mengadakan conference-pers untuk mengklarifikasi masalah ini…”
“Masalah ini?”
“Iya, masa lalumu terkuak..”
“Huh?? Terkuak bagaimana?”

Andromeda hanya menatap lurus artisnya dan menyunggingkan senyum simpul lalu menghela nafas.
“Aku baru diberitahu pihak investigasi.. Dia mengakui bahwa dialah yang melakukan penusukan terhadap Doojon, namun dia tidak mengakui kalau dia yang menembak Vanie…”

“What?? Baga..”
“Sebentar, Eun Min.. Dia menjelaskan bagaimana peluru itu bisa menembus perut Vanie bukan Ryeowook,”
“Mwo?”
“Nee..kalau ditelusuri masalah ini, motifnya hanya 1, cemburu,”lagi-lagi Andromeda menghela nafas. “Dongwoon sengaja menceritakan masa lalumu dihadapan media agar kau kena imbas penangkapan dirinya..”

“Aku terima tantangannya. Cowok brengsek itu masih saja menimbulkan masalah meskipun dirinya sudah dipenjara,”
“Tapi, Eun Min…”
“Kita klarifikasi semuanya, meskipun karirku akan berakhir,”
“Eun Min,”
“Andro, trust me.. Kebenaran akan melindungi kita,”
**

Aku memasuki gedung Heedictator Entertainment dengan langkah riang. Beberapa karyawan segera memelukku dan mengucapkan syukur serta bahagia karena aku telah pulih. Aku meminta mereka merahasiakan kedatanganku agar kejutan untuk atasanku berjalan lancar.

Aku mengetuk pintu ruangannya perlahan dan…
“Kejutaaaannnn…”teriakku kencang ketika Heenim membuka pintu.
“Vaaaannieeee…”teriaknya lalu memelukku. “Kangen,”
“Oleh-oleh dari Mommy, Heenim,”kataku.
“Thanks, darling. Kapan kau tiba?”tanyanya lalu mengulurkan gelas.
“Heenim, gomapta. Tadi malam, Doojon yang menjemputku,”
“Kauuuu…”katanya lalu menjewer telingaku. “Kenapa tidak menghubungiku, ohng? Anak nakal,”

Aku meringis kesakitan dan tersenyum. “Mian..mian.. Aku mau buat kejutan untukmu,”
“Dan berhasil, sayang,”kata Heenim memelukku lalu mengecup keningku mesra.
“Well, apa yang harus aku kerjakan?”tanyaku menunjuk meja kerjaku.

Heenim tertawa lalu berdiri dan mengambil beberapa lembar kertas lalu menyerahkan kepadaku.
“Kertas kerja dengan Cheonsa Entertainment. Mereka meminta jawabannya 2 hari lagi, jadi kau yang akan menemui mereka. Ouw ya, kau juga sekalian baca kertas kerja dengan Andromeda.. Silvana Park berkolaborasi dengan KRY untuk debut singlenya, Sugar Rush,”

Aku mengangguk lalu tersenyum. “Yes, sir,”
**

Aku memasuki gedung Cheonsa Entertainment dengan perasaan ringan. Akhirnya aku bisa mengunjungi gedung tempat Wookie bernaung. Aku menuju ke ruangan KRY setelah mendapat izin dari petugas keamanan.

“Yosh, itu ruangannya KRY,”kataku lalu berjalan mendekat dan mengetuk perlahan.
“Yes, coming,”

Aku memutar knop pintu dan mendorong pintu perlahan. Aku menyunggingkan senyum.
“Vanie..”kaget Wookie. “Apakah kau yang diutus oleh Heedictator Entertainment?”
Aku mengangguk lalu mengulurkan tangan kepada pria tampan yang duduk di meja utama.
“Park Jungsoo ssi?”kataku.
“Bingo,”
“Senang bertemu dengan anda. Saya, Vanie Lee, dari Heedictator Entertainment..”
“Wowww.. Heenim memiliki selera yang sempurna..”

Aku memandang bingung pria tampan itu. Kebingunganku memicu senyum manis tersungging di bibir tipisnya.

“Tidak usah dipikirkan Vanie,”katanya lagi lalu mengajakku bergabung dengan KRY. “Aku akan mengenalkanmu pada KRY,”

“Senang berkenalan dengan KRY,”kataku sopan.
“Senang berkenalan denganmu, Vanie,”

Aku menjelaskan konsep beserta desain baju kepada KRY untuk kolaborasinya dengan Silvana Park. Konsep sweet-chic ditawarkan kepada mereka karena mengingat lagu yang akan dinyanyikan sangat manis.

“Konsep Music Video untuk mereka bertema sweet-party. Kita tidak memakai guest-star untuk MV ini. Model untuk MV ini adalah Wookie dan Silvana Park,”

Hahahahahaha…
Aku tertawa mendengar penuturan manajer mereka. Semburat merah langsung muncul di pipinya Wookie.

“Yaa~~ kenapa kau ketawa?”heran Kyuhyun.
“Maaf, maaf… Kita teruskan,”kataku lalu berusaha menahan tawa. “Berarti daya tarik di MV mereka terletak pada Wookie dan Silvana Park?”

Manajer mereka mengangguk. Park Jungsoo menjelaskan konsep cerita yang akan disampaikan pada MV mereka. Konsep cerita yang sangat romantis. Cerita cinta yang awal ketemu biasa saja, menjadi luar biasa karena bertemu kembali di sebuah pesta manis.

“Awalnya mereka berdua hanya liat-liatan di pesta akhirnya Wookie berani mengajak Silvana Park menari dan berujung mereka berdua dansa. Dansa disini bukan seperti Video Clip-nya Tailor Swift, Love Story, ya, kami tidak menggunakan konsep Princess and Her Castle,”

Aku lagi-lagi menahan tawa karena wajah Wookie yang sudah sangat memerah.

“Kau bisa melihat MVnya Girls Generation featuring 2PM yang Cabi Song. Scene ketika mereka party, di bagian akhir MV,”jelas Kyuhyun.

“Kau juga bisa melihat MV lainnya dari Kpop Artist sebagai referensimu untuk menciptakan desain sweet-chic…”
“Baiklah, aku juga akan melihat video clip dari Sugar Rush. Aku akan menggabungkan konsep Asia dan Western di desain sweet-chic yang baru. Hmm.. kalau boleh, aku minta script dari MV ini agar aku tau ada scene apa aja di dalamnya,”

“Baiklah. Minggu depan akan kami berikan kepada kamu. Kami setuju dengan desain ini, Vanie, kami senang sekali bisa bekerja sama dengan Heedictator Entertainment,”
“Aku mewakili Heenim sangat berterima kasih karena diberi kepercayaan untuk menangani wardrobe agensi ini,”
**

Aku dengan tergesa memasuki restoran Korea yang terletak bersebelahan dengan Joker Entertainment. Suasana etnik segera aku rasakan ketika membuka pintu depan. Mataku segera mencari sosok yang meneleponku untuk makan siang bersama.

Aku tersenyum ketika mendapati dirinya dan melambaikan tangan.
“Oppa, maaf aku telat,”kataku lalu duduk di hadapannya.
Hyunseung Oppa hanya tersenyum dan mengangguk. “Tidak apa-apa, Vanie,”
“Gomapta, Oppa,”

Aku membuka kitab menu dan mataku segera bergerilya membaca deretan nama makanan yang berhasil membuatku mengeluarkan air liur. Ttokppokki dan Green Tea Float menjadi pilihanku.

Aku sangat menikmati makan siang kali ini karena kembali mendapatkan kesempatan untuk bersama Oppa tercintaku setelah kembali dari Aussie. Aku sangat bahagia sekali karena memiliki seorang Oppa seperti Jang Hyunseung.

Aku menikmati matanya, wajahnya, dan bibirnya dengan diam-diam. Aku tersenyum karena mendapati diriku terpesona padanya.

“Yaa~~ kenapa kau tersenyum seperti itu? Apakah kau terpesona padaku?”

Aku tersenyum malu-malu. “Siapa yang tidak terpesona padamu, Oppa. Kau begitu tampan…”
“Jadi, kau akan berpaling padaku?”tanyanya dengan senyum jenaka.
“Tentu tidak. Aku sangat mencintai Doojon dan aku tidak akan mengkhianatinya,”
“Hahahahaa.. Sudah bisa dibaca dari wajah dan senyummu kalau kau sangat mencintainya,”
**

Junhyung POV…
Aku mengucek-ngucek mata ketika melihat 2 orang yang baru saja keluar dari restoran Korea yang tepat bersebelahan dengan agensiku. Aku segera bersandar pada dinding untuk melihat mereka berdua.

“Bagaimana bisa Vanie makan bareng dengan cowok brengsek itu? Mereka terlihat sangat akrab,”kataku lalu segera merogoh ponsel dan menekan nomor Doojon.

“Yaa~”kataku ketika terdengar suara Doojon di seberang. “Dimana?.. Yaa~~ bagaimana bisa kau membiarkan Vanie makan bersama Jang Hyunseung? Mwo?? Dia minta izin padamu untuk makan siang bersama Oppanya? Oppa?? Ne~ aku melihat mereka baru saja keluar dari restoran Korea di sebelah agensiku.. Tenang, aku rasa, Vanie tidak tau kalau Jang Hyunseung itu Chief dari Rainbow Secret.. Oke, aku tidak akan ikut campur masalah ini sebelum kau menyelesaikannya.. Nee..”

Aku menghela nafas dan mengembalikan ponselku ke tempatnya semula. Aku berjalan perlahan menuju mobilku. Langkahku terhenti ketika mendapati suaranya memanggil namaku. Aku tersenyum padanya.

“Yoo..”kataku lalu berjalan ke arahnya. “Tumben kau berada di daerah sini?”
Aku melihat kebahagiaan terpancar dari wajah sahabatku itu.
“Aku baru saja makan siang dengan Oppaku..”
“Oppa?”tanyaku bingung.
“Nee.. Aku memang belum menceritakan kepada kalian. Dia, anak sahabat dari Papaku, Junhyung…”
“Kau tau apa pekerjaannya, Vanie?”
“Pekerjaannya? Tentu saja aku tau. Dia salah satu Chief majalah terkenal di sini, Junhyung,”

Aku mengurungkan niatku untuk memberi tahu hal yang sebenarnya. Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan yang tengah dia rasakan. Aku hanya tersenyum mendengar penuturannya.

“Aku rasa, ada baiknya kau mengenalkannya pada kami,”
“Tentu saja.. Aku pasti akan mengenalkannya pada kalian,”
“Dengan senang hati,”kataku dan tersenyum.
End of Junhyung POV…
**

Aku mendengar penuturan Eun Min mengenai Rainbow Secret dengan hati bergetar. Mataku berkaca-kaca ketika Eun Min menyebut nama Oppaku.

“Kau tidak bohongkan, Eun Min?”tanyaku bergetar menahan air mata yang mau tumpah. “Jang Hyunseung?”

“Vanie, aku tau ini sulit bagimu untuk menerima kenyataan, tapi, inilah kenyataan yang sebenarnya. Jang Hyunseung, Chief dari Rainbow Secret…”

Aku mengangguk dan berusaha menampilkan senyum menanggapi penuturannya. Doojon merengkuhku untuk memberikan ketenangan.

“Aku minta maaf karena membuat kalian khawatir karena kedekatanku dengan Hyunseung Op..pa..”kataku pelan.
Junhyung mengenggam tanganku dan tersenyum. “Kamu tidak perlu minta maaf kepada kami. Harusnya kamilah yang meminta maaf padamu..”

Aku menggeleng dan tersenyum. Aku menggapai ponselku dan menekan sebuah nomor.
“Oppa, bisakah kau menemuiku sekarang?”
**

Hyunseung POV…
Aku menatap dengan bingung wajah-wajah yang seperti menunggu sesuatu dariku. Hatiku sangat sedih melihat air mata keluar dari mata Vanie.

“Well, apa yang ingin kalian dengar dariku?”
“Oppa, apakah benar kau merupakan Chief Rainbow Secret?”tanya Vanie dengan bergetar.

Aku mengangguk dan terus menatap ke arahnya. “Benar, Vanie,”
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa, sayang? Well..aku memang tidak jujur padamu soal ini..Aku..aku memang salah…karena melibatkan sahabatmu, Silvana Park, pada masalahku.. Namun, jujur, setelah aku mengenalmu, ambisiku untuk melenyapkan AGA menghilang begitu saja…”

Aku mengenggam tangannya meskipun ada Doojon di sebelahnya. “Vanie, aku menyayangimu lebih dari apapun. Aku sungguh sangat bahagia karena memilikimu…sebagai seorang adik perempuan,”

“Hyunseung, aku tidak akan melanjutkan kasus ini..”sahut Silvana Park mengagetkanku. “Aku tidak akan merampas kebahagiaan Vanie. Aku sudah cukup membuat dia menderita karena masuk ke duniaku. Aku memaafkanmu, dengan syarat, kau tidak akan melukai Vanie…”

Aku tersenyum mendengar penuturannya. “Tentu saja, Silvana ssi. Aku sudah berjanji pada kedua orangtuaku untuk menjaga dirinya. Hmm.. kau jangan salah paham Doojon, aku tidak akan merebutnya darimu,”

“Oppa..kau pantas menerima ini,”katanya lalu menampar wajahku. “Aku memaafkanmu, Oppa,”
“Aku rasa, masalahmu dengan AGA sudah selesai, Jang Hyunseung,”
“Dan, kaulah yang memenangkan masalah ini, Andromeda,”
“Tidak ada yang menang atau kalah, Hyunseung. Hati dan ketulusan yang memenangkan masalah ini,”

Aku tersenyum lalu menjabat tangan Andromeda.

“Kita damai,”
End of Hyunseung POV…
**

Advertisements

One thought on “[FanFict] Sugar Rush (part 2)

  1. dumzzz
    parah deh baru sempat drop comment d sini
    pdhl dibacanya udh dari kapan taun juga
    hahahaha

    ada parody SHINee dengan Onew condition yg dodol abisss
    tp klo ada sekumpulan polisi2 imut macem Onew, Key, Henry dll gw mau deh jd kriminal *sarap* LOL

    dewww Hyunseung menyerah pada cinta :DD
    tp ayank dongwoonku dipenjara *nangis*
    yah salahnya dia sendiri
    sapa suruh jd org jahatt huehue
    cuman gpp dink
    endingnya sama wookie gt lhooo
    *ketawa2 girang sendiri*

    ayo dumz tulis ff baru lagiii
    *maksa*
    aku sejak kerja ini ga sempat nulisss
    ide udh terbang krn capek T^T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s