[FanFict] Lacoste (part 1)

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

This FF i dedicated for my “besties”..
::bat in http://www.twitter.com/@wookietis as Park Eun Min::
::intigayo in http://www.twitter.com/@prAMYtha as Park Chinju::
::::::::::

Title: Lacoste
Cast: Hankyung, Donghae, Son Dongwoon, Yong Junhyung, Jung Tae Ran (Jung Tara), Park Eun Min, Park Chinju, Vanie Lee
Other Cast: rest of Beast and Super Junior
Disclaimer: of course, i don’t have guys cast because Super Junior belong to SM Ent.; Beast belong to Cube Ent.; girls cast belong to cloudyeppeo Ent.
::::::::::

Lacoste’s Castle…
“Bingo…”seru Junhyung sambil melihat ke arah seorang gadis yang baru saja turun dari mobil dan segera masuk ke ruang kepala sekolah.

Hankyung, Donghae, Dongwoon segera melihat ke arah Junhyung yang menatap keluar dengan mata berbinar.
“Yaa~~ kau kenapa?”tanya Hankyung padanya.

Junhyung tersenyum lalu mengedipkan mata. “We got a new target,”
“Target?”bingung Donghae.
Junhyung mengangguk. “Kita mendapatkan mainan baru, guys. Gadis itu yang akan menjadi target selanjutnya,”

Hankyung, Donghae, Dongwoon hanya menatap Junhyung dengan bingung dan penuh tanda tanya.
**

Hari ini merupakan hari pertamaku di sekolah ini, 1004 (Cheonsa) Senior High School. Aku merasakan beberapa tatapan mata dari para siswa segera terarah kepadaku. Pandanganku terus lurus ke depan tanpa menghiraukan tatapan-tatapan nakal itu. Aku mendesah lega ketika menemukan ruangan kepala sekolah. Perlahan aku mengetuk pintu dan segera membuka pintu tersebut setelah mendengar “Coming” dari dalam.

“Selamat siang, Headmaster…”kataku sopan lalu membungkuk.
“Selamat siang. Silakan duduk,”

Aku mengangguk lalu duduk di hadapannya. Headmaster sekolah ini sungguh Pretty Boy. Hidungnya mancung. Kulitnya halus, mulus, dan tentu saja putih. Kuku-kuku jari tangannya sangat cantik. Rambutnya yang lurus berwarna hitam legam, menambah ketampanan wajahnya. Bibirnya yang seksi selalu menampilkan senyum yang sangat menawan. Aku sangat bersyukur karena awal sekolahku disini mendapat anugerah yang sangat indah.

“Jung Tara…”suaranya menyadarkanku. “Namamu sudah tercatat di kelas 2-2. Aku akan menyerahkanmu kepada Park Jungsoo ssi..”

Aku mengangguk dan berdiri lalu mengikutinya dari belakang. Headmaster berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Park Jungsoo – Mathematic.

“Silakan, Tara ssi,”kata Headmaster mempersilakan aku masuk.
“Kamsahamnida, Headmaster,”
“Well, aku menitipkan anak cantik ini padamu, Teukie,”
“Roger, sir,”
“Tara, mulai saat ini, Teukie ssi yang akan bertanggung jawab padamu,”
“Ne~”kataku kembali mengangguk.
**

Aku sedang menikmati makan siang bersama Vanie Lee, dia teman pertamaku di sekolah ini.
“Kau sangat cantik, Tara,”pujinya lalu tersenyum.
“Ahhh..terima kasih, Vanie. Aku senang bisa makan siang denganmu, Princess of Cheonsa,”
“Yaa~~ darimana kau tau mengenai kontes kecantikan yang pernah aku ikuti?”
“Teukie ssi,”
“Aissshhh.. Guru tampan itu sungguh sangat menyebalkan. Dia itu selalu mencari siswa maupun siswi di sekolah ini untuk mengikuti kontes kecantikan. Nah, kau harus siap-siap jika namamu tiba-tiba sudah terdaftar,”
Aku tertawa-tawa mendengar kesewotannya terhadap wali kelas kami.

“Yoo~~”
“Oh hai, Chinju, Eun Min, silakan bergabung,”kata Vanie antusias.
Aku melihat ke arah 2 orang gadis yang sama cantiknya dengan dirinya dan menyunggingkan senyum.

“Yaa~~ kau pasti Jung Tara, kan?”salah satu dari mereka menyapaku dan mengulurkan tangan.
Aku melirik ke name-tag yang terdapat di bajunya, Park Eun Min. Aku mengangguk lalu menerima uluran tangannya. “Nee~ Eun Min ssi,”

Dia mengibas-ngibaskan tangannya dan tersenyum. “Cukup memanggilku dengan Eun Min, tanpa embel-embel -ssi,”
“Ahh..Mian,”kataku meringis malu-malu.
“Tidak masalah, Tara,”

“Hi, aku Chinju, Park Chinju imnida,”
“Hi, Jung Tara imnida,”

“Tara…”wajah Eun Min tiba-tiba berubah serius. Aku kaget melihat perubahan wajahnya. “Sejak kau dinyatakan diterima di sekolah ini, namamu sudah terdaftar di list Lacoste…”
Vanie dan Chinju mengangguk dengan muka serius.

“La..Lacoste?”tanyaku bingung bercampur gugup.
“Nee~ Lacoste,”kata Chinju serius lalu membeberkan soal Lacoste padaku.

Lacoste? Lacoste sebenarnya merk sebuah baju terkenal yang tentu saja harganya diatas rata-rata. Namun, Lacoste yang dimaksud oleh ketiga gadis cantik ini merupakan sebutan untuk para playboy.

Playboy?”
“Jjaaahhh..kalau kau tidak berhati-hati, kau merupakan sasaran empuk mereka..”gemas Eun Min.
“Kau pernah menonton Hana Yori Dango? Atau Kkotboda namja?”tanya Chinju meremehkanku.
“Yaa~~Chinju, sepertinya kau meremehkanku. Aku tau..bahkan aku pernah foto bareng dengan Kim Bum dan Lee Minho…”
Yaa~~ kau pernah foto bareng dengan mereka?”tanya Chinju tidak percaya. Aku mengangguk. “So lucky,”

“Chinju, hentikan celotehanmu,”sewot Vanie. “Kau harus berhati-hati dengan Lacoste, Tara, mereka berjumlah 4 orang,”
“Yong Junhyung, Lee Donghae, Son Dongwoon, dan ketua dari Lacoste, Hankyung,”
“Hankyung?”tanyaku.

Aku merasa familiar dengan nama yang terakhir disebut oleh Vanie. Tiba-tiba saja wajah Hangeng muncul di pikiranku.

“Aku pernah menjadi korban dari Lee Donghae, Tara, dan sampai sekarang aku masih dendam padanya,”kata Park Chinju dengan wajah menahan amarah.
Vanie dan Eun Min segera menenangkan Chinju. “Dan Eun Min juga pernah mengalaminya,”

Aku bergidik ngeri membayangkan perkataan Vanie. Aku tidak membayangkan apabila itu juga terjadi padaku.
**

Lacoste’s Castle…
Dongwoon sibuk membolak balik majalah yang membahas mengenai wanita-wanita dewasa ketika Donghae masuk dengan wajah memerah. Dongwoon segera melihat ke arahnya.
What’s happen?”

Hankyung dan Junhyung menghentikan tariannya dan segera mendekat ke arah Dongwoon dan Donghae.
“Ada apa ini? Yaa~~ Donghae, kau kenapa?”

“Sebentar…haaaaahhhhhhh!!”kata Donghae lalu menghembuskan nafas dengan keras. “Aku akhirnya mengetahui gadis yang dimaksud Junhyung tadi pagi,”

Junhyung yang paling antusias mendengar berita yang dibawa Donghae. “Jjinjja? Lanjutkan,”

Donghae mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan meletakkan di meja. Hankyung mengambil foto tersebut dan matanya segera terbelalak. Nafasnya memburu dan penjelasan dari Donghae berhasil membuat kepalanya pusing mendadak.

“Namanya Jung Tae Ran, berhubung dia pernah tinggal di Seattle, namanya berubah menjadi Jung Tara…”

Hankyung menggebrak meja dan memandang tajam ke arah Donghae. “Hentikan,”
“Yaa~~ Hankyung.. kenapa dengan kau?”cemas Junhyung. “Kau berkeringat,”

Tubuh Hankyung gemetar dengan keras. “Kita tidak akan “bermain” dengannya. Mengerti?”
Junhyung, Dongwoon dan Donghae saling pandang lalu menatap Hankyung dengan bingung.

“Tapi, kau tadi sudah setuju kalau anak baru ini jadi target buruan Lacoste…”
“Aku mencabut perkataanku..”
“MWO?”kaget Junhyung kesal. “Kau jangan seenaknya ya. Perjanjian ini sudah berjalan ketika anak baru ini menjadi siswi di sini, Hankyung. Mau tidak mau, kau harus mengikuti aturan perjanjian Lacoste…”

“Tapi..”

“Apa anak ini mirip dengan tetanggamu..ehh..lebih tepatnya cinta pertamamu?”skak Dongwoon merebut foto yang dipegang Hankyung. “Wahhh…cantik sekali,”

Hankyung terdiam lalu terduduk mendengar pertanyaan Dongwoon. Nafasnya semakin memburu. Perlahan dia mengangguk.
“Aku tidak mau menyakitinya lagi,”lirih Hankyung lalu menunduk. Air matanya sedikit menitik. “Sudah cukup aku menyakiti dirinya…”

“Tapi kan, Hankyung, belum tentu anak baru ini merupakan cinta pertamamu itu?”komen Dongwoon kalem lalu mengembalikan foto tersebut.
Junhyung mengambil foto itu dan melihat dengan seksama. “Apa kalian menyadari sesuatu yang menarik dari dirinya?”

Mereka bertiga menggeleng.
“Kalung yang dipakai. Coba perhatikan. Liontin dari kalungnya mirip banget dengan liontin kalung yang sedang kau pakai,”

Hankyung merebut foto itu dan melihat ke arah kalung. Matanya tidak mempercayai dengan apa yang sedang dilihatnya. Perlahan dia meraba liontin kalung yang sedang terpasang di lehernya.

She’s her,”lirih Hankyung pelan.
You haven’t any choice, Hankyung. You must..”
Hankyung hanya menghela nafas mendengar perkataan tegas dari Junhyung. Memang, saat ini dia tidak ada pilihan lain.

“Hankyung,”suara Donghae lembut memanggil namanya.
“Baiklah, aku akan “bermain”,”kata Hankyung akhirnya. “Meskipun akhirnya nanti, dia akan semakin membenciku,”

Hankyung berdiri lalu keluar dari “kerajaan” Lacoste.
**

Hankyung POV…
Aku menatap langit-langit kamarku dengan gundah. Aku tidak mempercayai apa yang aku lakukan siang tadi bersama Lacoste. Aku menyetujui “bermain” dengannya. Apa aku tidak mengambil pelajaran dari peristiwa beberapa tahun lalu. Aku menggaruk-garuk kepalaku karena kesal.

“Arrrggghhh…”kataku lalu telungkup di kasur. “Aku akan kembali menyakitinya,”

Pikiranku melayang ke setahun lalu, dimana dia berpamitan karena mau pindah yang bertepatan dengan hari ulang tahunku.

Flashback…
“Hangeng… thanks for everything.. Aku minta maaf.. Hari ini, aku akan pindah dari sini, yahh..seharusnya aku hanya mengabarkan ini pada Doojon, tapi apa daya, kau juga sahabatku meskipun beberapa waktu terakhir ini kau selalu menyakitiku. Aku akan selalu sayang kamu dan Doojon.. Maaf, aku tidak bisa merayakan ulang tahunmu. Happy birthday..”
End of Flashback…

“Aissshhh!!!”teriakku kesal lalu duduk di kasur. “Bagaimana caranya aku mendekati Tara. Aku tidak punya nomor ponselnya..apalagi nomor rumahnya. Grr.. Apa aku tanya Doojon saja ya?”

Aku keluar kamar dan menuju telepon. Aku mengangkat gagang telepon dan segera menekan nomor ponsel Doojon. Suara Amma terdengar ketika aku akan menekan angka terakhir dari nomor ponsel Doojon. Aku meletakkan gagang telpon dan menoleh ke arah Amma.

“Dari Doojon,”kata Amma lalu menyerahkan sebuah kotak yang telah dibungkus dengan kertas kado.
Aku menerima kado itu dengan penuh tanda tanya. “Doojon? Hari ini kan bukan…”
“Sudah, terima aja dulu. Nanti jangan lupa kau bilang terima kasih ke Doojon ya,”
“Nee~~ Kalau begitu, aku ke kamar dulu,”
Amma mengangguk dan tersenyum.

Aku memandang kotak yang berukuran sedang dengan seksama. Tumben-tumbennya si jelek itu mengirimkan paket buatku. Akupun membuka kado itu dengan hati yang penasaran. 15 menit kemudian, aku berhasil “menelanjangi” kado itu. Mataku terbelalak melihat kotak kado itu. Ipod merk apple, idamanku.
“Si jelek itu punya feeling kalau aku lagi mengidamkan ipod untuk menunjang tarianku? Omo~~ ada surat,”kataku lalu mengambil surat yang berwarna kuning, warna yang sangat tidak aku sukai.

”Jelek…dasar jelek, namja babo. Mian, aku baru bisa mengirimkan kado itu sekarang, padahal, kado itu sudah dibeli 1 tahun lalu, XD. Miane, karena aku terpaksa bobol kado ini untuk menyelipkan suratku.

Sebenarnya, kado ini Tae Ran yang beli sebagai hadiah ulang tahunmu. Apa kau ingat, ultahmu setahun yang lalu? Pasti kau ingat, babo. Jangan bilang kau tiba-tiba amnesia dan melupakan kejadian itu. Aku sangat sakit hati melihat kejadian itu. Kau bentak Tae Ran tiba-tiba, padahal, dia hanya ingin pamitan dan memberikan kado ini padamu.

Kau tau, dia itu sangat menyayangimu, hhmm..tidak..sepertinya dia mencintaimu. Hah!! Aku gak tau harus menjitak kepalamu atau menendang pantatmu biar kau sadar akan dirinya. Yah!! Mungkin kau cemburu karena dia sangat dekat denganku. Iya kan? Kau pasti cemburu karena aku lebih tampan dari dirimu.”

“Grrr…bocah ini sangat narsis…”makiku kesal lalu melanjutkan membaca surat darinya.

”Aku sangat kaget waktu dia memintaku menemaninya membeli kado. Dia bilang, dia mau beli kado untuk orang yang sangat special baginya, dan aku pikir itu Yesung, kakak kelasnya, namun ternyata, kado itu untuk kau. Coba kau liat dibelakang ipod itu, ada tulisan HanRan, Hankyung-Tae Ran. Sebenarnya aku sangat tidak menyetujui tentang perasaannya pada kau, kau kan Lacoste, buaya yang sangat mengerikan, namun, kau dan dia adalah 2 orang yang sangat aku sayang, makanya aku akan membantu kalian. Asal kau berjanji, kau tidak akan menyakitinya lagi.

Kalau aku dengar kau membuat dia menangis atau sakit hati, kau akan berurusan denganku, Yoon Doojon. Ouw ya, aku juga menyelipkan nomor ponsel plus nomor rumahnya, aduh!! aku kok bisa ya punya sepupu babo kayak kau dan entah kenapa aku juga berbaik hati padamu ya? Sudah deh, aku udah capek nulis. Happy belated birthday ya, sepupu.”

-sepupumu yang sangat tampan, Yoon Doojoon-

“Aisshhh!!! Sialan kau, Doojoon. Kurang ajar, sebelum kau menjitak atau menendang pantatku, aku duluan yang akan melakukannya. Tapi, kau merupakan sepupuku yang paling baik, Doojoon. Gomapta,”
End of Hankyung POV…

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai dan sendiri. Vanie dan Eun Min masih ada rapat membahas extrakurikuler sekolah. Chinju, masih di laboratorium bahasa.

“Kita ketemu lagi, Tae Ran,”

Langkahku terhenti dan segera menoleh ke belakang. Seraut wajah yang gak pernah aku lihat tersenyum ke arahku.
“Lagi?”bingungku.

Cowok itu mengangguk namun wajahnya berubah pias. “Kau tidak ingat padaku?”
“Ingat?”
“Aisshhh…Tae Ran… aku Ryeowook, Kim Ryeowook, adiknya Yesung, seniormu waktu SMP,”
“Wookie? Astaga….kok kau berubah jadi kurus? Kangen….”kataku lalu memeluk cowok yang bernama Wookie itu.

“Tidak pantas berpelukan di koridor seperti itu,”

Sebuah suara yang tegas memaksaku melepaskan pelukan pada Wookie. Kami berdua melihat ke arah suara itu.
“Ahh..Hankyung,”kata Wookie lalu melihat ke arahku. “Tae Ran, nanti aku akan menghubungimu,”

Aku melihat punggung Wookie yang semakin menjauh dariku.
“Kau tidak pantas dengannya,”
Suara menyebalkan itu kembali terdengar dan sukses membuatku sedikit emosi.

“Kalau kau tidak tau apa-apa, tidak pantas kau berkata demikian,”makiku lalu menatap sinis ke arahnya.
“Cihh..Yang pantas bersanding denganmu adalah aku, Hankyung,”
“Tch..Kau? Sayang sekali, Hankyung, aku sudah memiliki seseorang.. Yoon Doojoon,”kataku berbohong.

Aku melihat perubahan wajahnya ketika mendengar nama Doojoon.
“Yoon Doojoon?”makinya kesal. “Dia akan berurusan denganku karena berani memilikimu,”

Tiba-tiba aku takut mendengar perkataannya. Bisa-bisa Doojoon bermasalah dengannya.
“Yaa~~ tunggu,”kataku mengejar dirinya. “Apa yang akan kau lakukan terhadap Doojoon?”
It’s not your bussiness,”
My bussiness, of course. Kau tidak berhak menyentuh dirinya. Ara?”
“Cihh.. Terus, siapa yang boleh menyentuhnya? Hangeng?”katanya lalu meninggalkanku.

Aku termangu mendengar kata-katanya.
“Cihh.. Terus, siapa yang boleh menyentuhnya? Hangeng?”

Aku menatap punggung cowok bernama Hankyung dengan berjuta pertanyaan dan hati perih. Luka yang telah tersimpan setahun lalu kembali terkuak.

“Tara, kau baik-baik saja?”suara Vanie menyadarkanku. Eun Min segera memelukku dan menenangkanku.
“Apa yang dikatakannya?”tanya Chinju.
Aku menggeleng lemah lalu terisak kecil.
“Sudahlah, biar Tara tenang dulu. Ayo ke kelas,”kata Eun Min membimbingku.
**

Hankyung membanting tasnya di “kerajaan” Lacoste. Dongwoon dan Donghae yang asik cekikikan langsung mendongak ke arah Hankyung.
“Yaa~~~ kau kenapa?”
“Kalian kenal Wookie?”marah Hankyung.
“Wookie? Kim Ryeowook maksudmu? Kalo gak salah, dia adik dari Yesung Hyung,”sahut Donghae
“Yesung?”kaget Hankyung
“Kau kenal, Hankyung?”tanya Dongwoon penuh tanya

”Aku sangat kaget waktu dia memintaku menemaninya membeli kado. Dia bilang, dia mau beli kado untuk orang yang sangat special baginya, dan aku pikir itu Yesung, kakak kelasnya…”

“Jangan-jangan, Yesung yang dimaksud adalah cowok yang pernah dekat dengannya waktu SMP,”kata Hankyung pada dirinya sendiri.
“Yaa~~~ sejak kapan kau suka ngomong sendiri. Kalo gak salah, yang aku tau dari Sungmin Hyung, Yesung Hyung itu pernah satu sekolah ama Tae Ran, di Daejeon…”kata Donghae.

“Sungmin? Siapa itu?”
Donghae menggaruk-garuk kepalanya. “Hehehee.. Bagaimana ya aku menjelaskan siapa Sungmin Hyung. Penjelasannya akan memakan waktu lama. Hmm.. intinya itu, Sungmin dan aku bersaudara. Kenapa siey kau marah-marah seperti ini?”

“Ternyata dia kenal ama Tae Ran dan seenaknya berpelukan di koridor sekolah, dan..Yoon Doojoon…”
“Yoon Doojoon? Aku kenal dengan Doojoon. Dia kan soccer-player yang sangat terkenal..”kata Dongwoon lalu memikirkan sesuatu. “Hmm..dengar-dengar, Doojoon punya kekasih yang satu sekolah dengan kita…”
“Mwo??”kaget Hankyung. Perkataan Dongwoon menambah kekesalan di dalam dirinya.

Hankyung segera mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor. “Yaa~~ Yoon Doojoon.. Kau harus ke Korea secepatnya.. Kenapa kau tertawa, ohng? Aku lagi marah sekarang.. Mwo?? Kau berpacaran dengan Tae Ran? Yaa~~ Kau.. Kenapa aku bisa punya sepupu jelek sepertimu ya.. Tidaaaakkk.. Aku tidak cemburu.. Ssikeuro,”

“Kau akan berurusan denganku, Doojoon, awas aja kalau kau balik ke Korea,”sungut Hankyung.

Hahahahahaa…Donghae dan Dongwoon tertawa melihat reaksi Hankyung. Dia cemburu.
I got it,”seru Dongwoon. “Kau cemburu pada Doojoon kan?”
“Mwo? Yaa~~ Son Dongwoon, jangan sembarangan berasumsi,”
“Ini bukti kalau kau menyukai Tara dan cemburu pada Doojoon,”

“Grr.. kalian berduaaaa.. Menyebalkaaaannn.. Ssikeuro..”
**

Lapangan basket yang terletak di tengah-tengah sekolahku mendadak sangat ramai. Aku penasaran apa yang terjadi di sana. Mataku membulat ketika mengenali salah satu cowok yang sedang sibuk tebar pesona dengan tarian. Aku mendesis pelan ketika mata cowok yang aku maksud melihat ke arahku.
“Cihhh..”

“Taraa~~”teriak Chinju dari arah belakang.
Aku menoleh ke arahnya. Chinju dan Eun Min menyusulku. “Oh hai..”
“Mereka yang disebut Lacoste..”bisik Chinju.
“Berhati-hatilah,”timpal Eun Min.

Aku mengangguk mendengar penjelasan Chinju mengenai 4 cowok tampan yang memang jago dalam dance. Cowok bernama Hankyung berhasil mempesonaku dengan tariannya.

“Hankyung, cowok yang pernah face-to-face denganmu beberapa waktu lalu di koridor sekolah, memang paling terkenal diantara mereka. Junhyung, berada di peringkat kedua. Donghae, berada di peringkat ketiga dan Dongwoon di peringkat terakhir,”

“Dongwoon, cowok itu sebenarnya baik tapi…”kata-kata Eun Min terhenti dan menatap nanar ke arah Dongwoon. “Eun Min, sudahlah.. Lupakan masa lalumu.. Siapa tau, kau menemukan cowok yang lebih baik darinya,”kataku pelan.
I wish,”

“Taraaaa~~”teriak Vanie kencang.
Aku tersenyum padanya dan melambaikan tangan. “Kenapa kau teriak-teriak?”
“Yaa~~kau benar pacaran ama Hankyung?”tanya Vanie tiba-tiba.
Mataku melotot gak percaya. “Aku? Pacaran? Hankyung? Yaa~~ yang benar aja kamu. Tau dari mana?”
“Mading,”kata Vanie lalu menunjuk ke majalah dinding.
“Jjinjja?”kagetku yang dijawab anggukan ama Vanie.
“Sumpah, aku tidak bohong,”
“Baiklah, baiklah. Aku akan melihatnya. Gomawo, Vanie,”kataku lalu segera menuju mading.

Benar saja, di mading ada tulisan super gede yang menyatakan aku berpacaran ama Hankyung, salah satu Lacoste. Mataku terbelalak membaca tulisan yang super gede itu.

JUNG TAE RAN adalah pacarku. JUNG TAE RAN pacar dari HANKYUNG. JANGAN MENGANGGU TAE RAN KALAU TIDAK MAU BERURUSAN DENGANKU. –LACOSTE’S HANKYUNG

“Grrrr…cowok bernama Hankyung ini sudah menganggu kehidupanku. Aku tidak akan memaafkannya,”makiku dengan tangan terkepal.

“Tae Ran, sudah dipastikan kau adalah target selanjutnya,”kata Chinju menambah kekesalan yang sudah berada diubun-ubun.
“Aku akan buat perhitungan dengannya dan tentu saja Lacoste,”makiku lalu berjalan ke arah lapangan basket.

“Yaa~~ Tara.. Yaa~~,”

Aku menembus kerumunan cewek-cewek yang memenuhi pinggir lapangan basket dengan kasar.
“Yaa~~”teriakku kencang. Mereka berhenti menari dan melihat ke arahku. Kerumunan cewek-cewek yang memenuhi pinggir lapangan segera terdiam.

Aku mendekati cowok yang bernama Hankyung dan tanpa pikir panjang aku menonjok pipinya. Dia terjatuh seketika dan dengan segera aku menarik kerah jaket yang dipakainya.
“Dengar!!! Aku gak tau kau, dan kau gak kenal aku, jadi jangan sembarangan membuat pengakuan seperti di mading itu. Arraseo?”makiku kasar.

Aku memandang galak ke arah tiga temannya yang hanya mematung melihat ketidakberdayaan seorang Hankyung.
“Kalian bertiga…”kataku lalu menunjuk mereka satu per satu. “Jangan ikut campur. Aku merasa berhak memberikan pelajaran pada cowok yang super pede seperti teman kalian ini. Jangan merasa kepedean dulu,”marahku.

“Tae Ran, sebentar, sebentar,”katanya lalu berusaha berdiri dan memegang lenganku. “Dengar, aku memang suka padamu, sudah lama aku pendam perasaan ini,”
“Hei, tuan yang sangat pede, berhati-hatilah mengutarakan perasaan,”kataku menepis tangannya dengan kasar lalu segera berbalik badan dan meninggalkan dia.
**

Advertisements

One thought on “[FanFict] Lacoste (part 1)

  1. dummzzzzz
    aku suka suka sukaaaaa
    suasana sekolahnya sedikit mengingatkan diriku pada ouran high school
    hahahaha
    klo teuki jd guruku sptnya aku ga bakal pengen lulus2 dah lol

    aiguuu kenapa si hangeng bs ganti nama jd hankyung d ceritanya?
    ada wookie xixixixi
    aku ngakak bagian mading, kepedean amat sih si hankyung.. dan bagian dia d tonjok itu
    rasain dah XDD

    ayuk lanjutin dumzz
    penasaran sama cerita buaya2 tampan hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s