[FanFict] Lacoste (part 2)

Hankyung POV…
“Wowww.. Lawan yang pantas untuk Hankyung,”komen Dongwoon yang terdengar sangat menyebalkan. “Yaa~~ Hankyung, aku tidak menyangka kalau kau tidak berkutik sama sekali di hadapan Tara,”

Aku mengetok kesal kepalanya.
“Berisik,”makiku lalu memegang wajahku yang memar gara-gara tonjokan Tara. “Aisshhhh!!! Dasar cewek bodoh. Seenaknya saja menonjok mukaku,”
Dongwoon mengusap-ngusap kepalanya yang sakit akibat diketok Hankyung. “Tapi kau senang kan, Hankyung,”
“Yaaa~~Son Dongwoon… diamlah…”kataku lalu tanganku terjulur untuk mengetok kepalanya.

“Yaa~~ kau diamlah dulu, Dongwoon, kau juga Hankyung, aku jadi susah mengompres luka memarmu,”marah Junhyung padaku dan menjitak kepalaku dan kepala Dongwoon.
“Yaa~~ kau… Jangan seenaknya menjitak kepala orang,”makiku ke Junhyung.
“Makanya diam,”marah Junhyung lalu menekan dengan keras di memarku.
“Aishhh!! Sakit tau,”marahku lalu merampas es batu yang sudah dibungkus dengan sapu tangan.

Selang beberapa saat, Donghae datang dengan membawa selebaran yang dimaksud Tae Ran. Aku menerima selebaran itu dengan bingung.
“Benar kau yang buat ini?”tanya Donghae sambil menunjuk selebaran yang aku pegang dengan dagu.
“Aku? Buat selebaran murahan ini? Yang benar saja, ccihh”kataku lalu membuang muka.
“Hankyung~~ah…”
“Baiklah, baiklah. Memang aku yang buat. Kenapa? Karena aku pengen melihat reaksinya,”
“Reaksi yang sangat tidak terduga karena luka memar tercipta di wajahmu,”kata Dongwoon meremehkanku.
“Yaa~~~ ini diluar kendali, Dongwoon,”
“Rencanamu selanjutnya apa?”

Aku menggeleng sambil menatap tulisan Tae Ran. ”Kenapa aku menjadi makin menyukaimu, Tae Ran? Aku bingung akan perasaanku,”
“Melamun lagi,”tegur Donghae.
“Aku bingung akan perasaanku,”
End of Hankyung POV…
**

Aku menyusuri koridor sekolah dengan lunglai. Aku sama sekali tidak menyangka kalau diriku mampu berbuat seperti tadi, menonjok ketua Lacoste.

“Hahh..”kataku menghela nafas panjang. “Aku sudah mengibarkan bendera peperangan dengan Lacoste.

Langkahku terhenti karena beberapa cewek yang aku tau sebagai fans-nya Lacoste menghadangku. Aku menatap mereka dengan sinis.
“Kami tidak akan membiarkan siapapun yang melukai Lacoste,”
“Cihh..”kataku lalu menatap mereka sinis dan dingin. Beberapa dari mereka sepertinya ketakutan. “Apa kalian semua bersedia berakhir seperti Hankyung, ohng?”

“Ta..Ta..Tara..mak..mak..maksud kami…”
“It’s not my bussiness. Jadi jangan menyerahkan diri kalian padaku kalau tidak mau merasakan tonjokanku. Aku tidak akan tinggal diam kalau kalian berani mengangguku,”ancamku lalu segera meninggalkan mereka.

Aku melihat ketiga sahabatku sudah menunggu di dalam kelas. Aku lagi-lagi menghela nafas dan berjalan menuju ke arah mereka.

“Taraaaa~~”kata Chinju lalu memelukku. “Kau keren sekali. Andai aku bisa melakukan hal yang sama sepertimu..”
“Apa aku perlu melakukan hal yang sama terhadap Lee Donghae?”tanyaku menatap Chinju.

Chinju menggeleng lalu melepas pelukannya dan duduk di hadapanku.
“Aku minta maaf kalau sudah membuat kalian khawatir,”seruku pelan.
Vanie mengusap-ngusap tanganku dan tersenyum. Vanie Lee, seseorang yang mampu membuat aku menjadi tenang dan beban yang menimpaku sebagian terangkat.

“Tara..jangan khawatir, kami sekuat tenaga akan melindungimu kalau Lacoste melakukan attack padamu…”

Aku menggeleng mendengar perkataannya Vanie. “Aku..tidak akan melibatkan kalian semua ke dalam masalah ini. Bendera perang antara aku dan Hankyung sudah terkibar sejak kami bertemu face-to-face beberapa hari lalu di koridor sekolah,”

“Baiklah kalau itu maumu, dear,”kata Eun Min tersenyum. “Kami terutama aku, siap membantumu, jadi jangan ragu meminta bantuan kami ya,”

Aku mengangguk dan tersenyum.
**

Hari ini merupakan hari tersial dalam hidupku. Aku menonjok salah satu Lacoste, dihadang oleh fansnya Lacoste, dan sekarang aku kembali bertemu Lacoste. Mereka berempat sudah menunggu di depan mobilku yang terparkir.

Aku menghela nafas lalu dengan santai melenggang ke arah mobilku. Beberapa siswa yang melewati parkiran, hanya diam dan melihat tanpa berbuat apa-apa.

“Mau apa lagi kalian?”tanyaku dongkol dan menatap mereka satu per satu. “Kalau kalian mau balas dendam, jangan hari ini, aku sudah capek,”

Aku melihat salah satu dari mereka, kalau tidak salah bernama Junhyung, tersenyum padaku. Aku tidak bisa menjelaskan makna yang terkandung dari senyumannya.

“Jung Tara, kami ingin mengucapkan terima kasih karena kau berhasil menonjok mukanya Hankyung,”

“Huh??”kagetku dengan muka bingung.

“Yaa~~ Yong Junhyung, apa maksud kau berkata demikian, ohng?”omel Hankyung dengan mimik jenaka.
Mimik jenakanya Hankyung berhasil membuat tawa ketiga Lacoste dan tentu saja aku.

“Aku rasa, kalian cowok yang baik,”kataku singkat lalu membuka pintu mobil. “Ouw ya, Hankyung, aku tidak akan meminta maaf padamu karena menonjok mukamu. Well, bisakah kalian menyingkir dari depan mobilku, aku ingin segera istirahat di rumah,”

“Baiklah, Nona Manis,”kata Junhyung lagi lalu mereka berempat menyingkir dari depan mobilku.

“Kamsahamnida,”kataku masuk mobil lalu segera meninggalkan parkiran.
“Ternyata dia lebih cantik dari foto. Kalau kau tidak bersedia, aku yang akan melakukannya,”kata Junhyung lalu berlalu dari mereka.

Hankyung menatap punggung Junhyung yang semakin menjauh dengan hati yang bergemuruh.
**

Aku masih gak habis pikir dengan pengakuan palsu yang ada di majalah dinding sekolahku. Siapa Hankyung? Kenapa hatiku mengatakan aku pernah bertemu dengannya dan kenapa jantungku berdetak kencang ketika bertatapan mata dengannya. Dan kenapa dia berani sekali buat selebaran itu.

“Tae Ran, sebentar, sebentar,”katanya lalu berusaha berdiri dan memegang lenganku. “Dengar, aku memang suka padamu, sudah lama aku pendam perasaan ini,”

“Jjaaahhhhh!!!! Berani sekali dia ngomong seperti itu dan seenaknya memegang lengan orang. Dasar buaya,”makiku.

Ponselku berdering dan nama -DooDoo- terpampang di LCD ponsel. Aku tersenyum melihat nama itu dan segera menjawab telepon darinya.

“DooDoo..Yoon Doojoon.. Kangeeeeennn.. Hahahaha… Mwo?? Kau mendapat prediket pemain terbaik dan top-scorer? Waahhh..congratulation, honey.. Whaaaatttt???? Kau memberikan kadoku pada Hangeng.. Yaa~~inma.. Hahhh.. DooDoo..aku tau harga kado itu mahal, tapi hatiku lebih mahal dari kado itu… Ternyata kau menyaksikan kejadian itu ya?? Aku masih merasakan sakit di hati, DooDoo.. Aku mau minta maaf padamu karena aku bilang pada salah satu cowok playboy kalau aku sudah punya pacar dan aku sebut namamu…Hahaha.. Mianhae.. Baiklah..”

Aku menghela nafas setelah menyudahi telepon dari Doojoon.
“Aku berharap kita bisa seperti dulu lagi. Bertiga,”

“Aku juga berharap demikian,”kataku lalu mengambil foto 3 anak kecil dengan memakai baju warna senada yang sedang tersenyum manis.
**

“Kamsahamnida, ahjumma,”kata Chinju sopan lalu mengambil 2 kantong belanjaannya dan segera keluar dari minimarket tersebut.

Chinju berjalan dengan santai menuju apartment-nya yang tidak jauh dari Seven Eleven Minimarket. Keasikan Chinju terusik ketika beberapa meter dihadapannya ada seseorang yang sepertinya terluka. Seseorang itu merupakan sosok yang dia kenal, Lee Donghae. Perang berkecamuk di kepalanya. Sisi baiknya bilang dia harus menolong sosok itu. Sisi jahatnya bilang saatnya dia untuk balas dendam. Akhirnya, Chinju memutuskan untuk menolong sosok itu meskipun keinginan balas dendam menguasai hatinya.

Chinju mengeluarkan ponselnya dan segera menekan nomor Tara.
“Tara..tolong.. Aku menemukan Donghae terkapar dengan luka tusukan..Iiyaaa..di apartmenku.. Aku tunggu.. Maaf merepotkan…”

Chinju memasukkan ponselnya dan berjalan mendekati Donghae yang sedang mengerang kesakitan.
“Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit…Sebentar lagi sahabatku akan sampai.. Bertahanlah…”
**

Tengah malam buta bersama Chinju dan salah satu Lacoste di rumah sakit. Aku punya dosa apa dengan Lacoste. Hari ini sebanyak 3 kali aku berinteraksi dengan Lacoste.

“Mau sampai kapan kita disini, Chinju?”tanyaku lalu membantu Chinju merapikan selimut Donghae.
“Sampai salah satu dari Lacoste muncul,”katanya.
“Baiklah,”kataku lalu berjalan ke sofa. Mataku sudah mengantuk dan kepalaku berat. “Chinju, aku mau tidur sebentar, kalau sudah mau pulang, tolong dibangunkan,”

“Baiklah,”kata Chinju mengangguk.




Aku terbangun karena sinar terang masuk ke mataku. Aku melihat sekeliling. Aku masih berada di rumah sakit dan sosok Chinju sudah tidak ada lagi di sana. Sosok Hankyung yang menggantikannya. Aku segera melihat ke arah jam tangan dan…

“Kyaaa…Sudah jam 8 pagi,”cemasku lalu buru-buru membereskan barang-barangku.
“Aku sudah meminta izin untukmu agar tidak masuk sekolah hari ini,”suara Hankyung terdengar.

Ternyata sosok itu sudah bangun atau tidak tidur. Aku meletakkan tasku dan berjalan ke arahnya.

“Apakah dia sudah mati?”tanyaku sadis.
“Yaa~~ kenapa kau bisa berkata demikian, ohng?”kagetnya.
Aku mengangkat bahu dan duduk di hadapannya. Aku melihat wajah pucat Donghae yang terbaring di kasur.
“Ternyata, Lacoste bisa dilumpuhkan dengan cara seperti ini ya. Ahh..Andai tidak ada Chinju, mungkin dia sudah mati kehabisan darah. Makanya, jadi orang itu jangan suka menyakiti orang lain. Kalau aku jadi Chinju, aku bakalan tidak mau menolong orang yang sudah menyakitiku…”

“Tara…”katanya pelan. “Apakah kau yang sedang berbicara ini?”
Aku kaget mendengarnya. “Tentu saja. Aku, Jung Tara, yang berbicara. Kau pikir siapa? Hantu?”
Aku melihat dia menggeleng. “Aku melihat bukan seperti Jung Tae Ran yang aku kenal,”

“Yaa~~ kau baru bertemu denganku sekarang. Jadi, kau jangan merasa kalau sudah mengenalku…”sungutku.
“Aku sudah mengenalmu sejak setahun yang lalu, Tae Ran. Mengenal DooDoo juga,”katanya lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi.
“DooDoo?”
**

Aku memaki dalam hati kenapa bersedia melangkahkan kaki menuju ruangan tempat Donghae dirawat. Aku menghela nafas sesaat sebelum mendorong pintu ruangan VVIP itu. Aku hanya tersenyum singkat ketika menyadari 3 Lacoste sudah merubungi ranjang Donghae.

“Apakah dia sudah mati?”tanyaku lalu duduk di sofa.

“Yaa~~ sepertinya kau menunggu saat-saat aku mati,”sewot Donghae lalu menatapku tajam.
Aku membalas tatapan tajam itu dan tersenyum sinis. “Tentu saja aku berharap kau cepat mati, biar kau segera bertemu dengan Tuhan dan Tuhan segera menghukummu karena kelakuanmu yang menyakiti Chinju.. Kau tau, kalau tidak ada dia, mungkin kau sudah mati…”

“Kau…”

“Aku disini tidak bermaksud memaksa kau untuk merasa terhutang budi pada gadis manis itu, aku berharap kau sadar bahwa harga hidup itu sangat mahal, Lee Donghae,”kataku tetap menatap Donghae dengan tajam.

“Kau…”

Aku berdiri dari sofa dan mengambil tas punggungku.
“Well, sudah saatnya aku pergi dari sini,”
“Taraaa…”suara Donghae menghentikan langkahku.

“Kamsahamnida…”

Aku memandang ke arah Donghae dan tersenyum singkat. “Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih darimu,”
**

Aku melangkahkan kaki ke taman yang terletak berdekatan dengan parkiran mobil. Sosok Chinju sedang duduk di bangku taman sambil menatap ke langit. Perlahan aku berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya.

“Apa yang kau pikirkan?”tanyaku pelan. Dia menggeleng untuk menjawab pertanyaanku. “Donghae?”

Park Chinju tidak menjawab pertanyaanku. Aku hanya melihat dia menghela nafas.
“Ini balasan dari Tuhan, Chinju,”kataku hati-hati.
“Tuhan sudah mendengar do’aku, Tara.. I felt guilty,”
“Bersalah? Kenapa?”tanyaku heran.

“Seharusnya aku tidak mendoakan seperti itu. Dia manusia, bukan Tuhan…”
“Chinju.. memang aku tidak tau apa yang telah kau rasakan akibat perbuatan Donghae, tapi, Tuhan maha adil, sayang..”
“Kau benar.. tapi, aku sama seperti dia.. Aku juga telah menyakiti dirinya,”

Aku rasa, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menganggu Chinju dengan celotehanku. Aku tersenyum mendengar penuturannya.
“Jika kau merasa lebih baik kalau kau menghadirkan rasa bersalahmu, silakan saja,”kataku lalu bergegas berbalik badan. “I trust you, dear,”

“Kamsahamnida,”
**

Donghae POV…
Aku tidak percaya. Aku, seorang Lee Donghae, berakhir di rumah sakit.

“Tentu saja aku berharap kau cepat mati, biar kau segera bertemu dengan Tuhan dan Tuhan segera menghukummu karena kelakuanmu yang menyakiti Chinju.. Kau tau, kalau tidak ada dia, mungkin kau sudah mati…”

Perkataan Jung Tae Ran masih terngiang-ngiang di telingaku. Jujur, hatiku sakit mendengar perkataannya. Apakah gadis itu tidak punya hati.

“Aku disini tidak bermaksud memaksa kau untuk merasa terhutang budi pada gadis manis itu, aku berharap kau sadar bahwa harga hidup itu sangat mahal, Lee Donghae,”

Benar apa yang dikatakannya. Andai saja tidak ada gadis itu, mungkin aku sudah tidak lagi berada di dunia. Aku memijit-mijit pelipisku.

“Kau kenapa?”suara Junhyung mengagetkanku. “Apakah kau masih memikirkan perkataan cewek tanpa hati itu?”
“Dia benar, Junhyung,”kataku pelan. “Hidup itu mahal harganya,”

Dongwoon dan Hankyung hanya melihat ke arahku dengan penasaran.
“Apakah kau menyesal karena menyakiti Chinju? Gadis itu sepertinya tulus menolongmu,”kata Dongwoon.
“Aku rasa tidak. Tidak akan mudah bagi seorang gadis melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, apalagi yang berkaitan dengan hati,”

“Terserah. Aku tidak akan ikut campur urusan pribadimu, Donghae,”kata Junhyung dan tersenyum. “Aku percaya, apa yang kau lakukan, sudah dipikir secara matang,”
End of Donghae POV…
**

Aku asik membolak balik buku diktat Matematika ketika sosok Donghae duduk di depanku. Beberapa teman sekelasku yang kebetulan berada di kelas segera keluar. Aku menghela nafas melihat itu lalu menyandarkan punggungku ke sandaran kursi.

“Kita hanya berdua di dalam kelas ini. Apa yang akan kau lakukan? Memperkosaku?”tanyaku kasar.

Dia menyunggingkan senyum menanggapi perkataanku.
“Kalau aku memperkosamu, aku akan berhadapan langsung dengan Hankyung, Tara…”
“Tch..Hankyung..”kataku sinis. “Sepertinya aku ini banyak dosa ya ama Lacoste. Kenapa aku harus berurusan dengan kalian,”

“Hahahaa..Kau lucu, Jung Tara,”katanya lalu berdiri. “Aku benar-benar mengucapkan terima kasih kepadamu meskipun kau tidak membutuhkannya,”

Aku terhenyak mendengar penuturannya dan menatap punggungnya dengan bingung.
“Apa yang sudah aku lakukan kepadanya ya?”

“Tara..”suara Chinju mengagetkanku. “Donghae…”
Aku tersenyum. “Dia hanya mengucapkan terima kasih padaku..”
“Begitu?”tanyanya lalu menatapku. Aku curiga melihat ekspresi wajah Chinju.
“Jangan khawatir, Chinju, aku tidak akan menjahati Donghae,”
“Aku pegang kata-katamu,”katanya tegas.

Aku hanya mengangguk sambil menatap heran ke arahnya.

“Aku…sepertinya…aku masih menyukainya, Tara,”kata Chinju pelan namun cukup membuatku terperangah. “Aku gadis yang bodoh ya,”

Aku menggeleng. “Kau tidak bodoh, Chinju. Suka dan Cinta merupakan anugerah dari yang Diatas,”
“Meskipun itu ke seorang Lee Donghae?”tanyanya.
“Yapp..Namun, kali ini kau harus lebih dan ekstra hati-hati lagi ya. Aku tidak akan memintamu untuk berhenti memelihara perasaan suka itu, kau sudah besar,”

“Gomawo,”katanya lalu memelukku.
**

Kedua kali pada hari yang sama aku bertemu Lacoste. Aku menghela nafas ketika mereka memaksaku untuk duduk bersama mereka.

“Ada rencana apa lagi sich?”ketusku. “Apa kalian akan killing me softly, ohng?”
“Astagaaaa..kau ini..Sampai kapan kau mencurigai kami?”
“Sampai kalian tobat dan kembali ke jalan yang benar.. Hahaha.. tapi itu tidak akan mungkin kalian lakukan,”sinisku.

“Yaa~~ kau itu punya hati atau tidak sich?”gemas Junhyung.
“Punya..sayangnya, hatiku bukan untuk kalian,”makiku.

“Ya Tuhan, dosaku apa sich dengan mereka ini,”

“Taraa..”suara Donghae terdengar.

“Grr…cowok ini mau apa lagi sich,”

“Apa yang harus aku lakukan? Chinju sepertinya menghindariku terus?”

“Huhh?? Kau..”
“Tara, jangan marah dulu,”suara Hankyung memotong pembicaraanku. “Dia merasa bersalah kepada gadis itu,”
“Tch..kalian akan merasa bersalah atau hanya pura-pura?”

“TARAAAA…”bentak Donghae. “AKU MEMANG LACOSTE.. PENJAHAT..TAPI AKU MASIH PUNYA HATI BUKAN SEPERTI KAU…”
“HHEHH!! MASIH PUNYA HATI? SEORANG LACOSTE MASIH PUNYA HATI?”balasku.
“KAU…”
“KENAPA? KAU MAU MENAMPARKU? SILAKAN…”

“Yaa~~ kalian berdua ini.. Duduklah,”sewot Junhyung lalu memaksa kami berdua duduk. “Tara, wajar kalau kau tidak percaya akan perkataan kami kalau berbicara soal hati, tapi, apakah kau tidak melihat keputusasaan dari wajahnya?”

Aku melihat ke arah wajah Donghae yang sepertinya sangat putus asa. Aku tidak tau apa yang harus dilakukan.

“Well..sepertinya benar kau merasakan putus asa “sekarang”. Apa yang harus aku lakukan untukmu?”
“Izinkan aku untuk bertemu dan berbicara pada Chinju,”
“Ya Tuhaaaannn..hanya itu? Silakan..”kataku. “Namun, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya pada Chinju. Kalau kau melakukan itu, mungkin kau akan berakhir di pemakaman, Lee Donghae,”

“Tara..”

“Kalian berempat tidak perlu tersenyum seperti itu. Aku serius mengatakan ini. Aku..TIDAK AKAN MEMAAFKANmu kalau mengetahui Chinju kembali tersakiti,”kataku lalu meninggalkan mereka.
**

Hankyung POV…
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya pada Chinju. Kalau kau melakukan itu, mungkin kau akan berakhir di pemakaman, Lee Donghae,”

Aku tidak menyangka seorang Jung Tara bisa berkata seperti itu. Apa yang menyebabkan dia “jahat” seperti tadi. Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku mengenai seorang Jung Tara.

“Hankyung, kau janganlah merasa bersalah seperti ini,”suara Donghae lembut terdengar. “Sudah sepantasnya, Jung Tara melindungi sahabatnya,”
“Donghae, aku mewakili dirinya untuk meminta maaf,”
“Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti dirinya apabila sahabatku tersakiti oleh orang yang sama, Hankyung,”kata Donghae lagi.

Aku termangu di tempatku memikirkan kata-kata Donghae. Benar apa yang dikatakannya. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama apabila sahabatku disakiti oleh seseorang.

Ponselku bergetar, -DooDoo- meneleponku.
“Yoo.. Baik.. Kau apa kabar? Hahahaha.. Ohh.. Pacarmu itu Vanie Lee?? Hehehehee..Aku pikir Tara.. Kapan kau menjelaskan mengenai diriku?? Yaa~~ masa kau tidak mau membantu sepupumu? Araaa.. Aku yang berbuat aku yang bertanggung jawab.. Nee..”

“Nugu?”tanya Junhyung padaku.
“Doojoon, sepupuku,”jawabku.
“Bagaimana kau dan Tara?”tanya Junhyung lagi. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. “Masih belum ada perkembangan?”
Aku mengangguk. “Aku takut akan melukai dirinya kembali dan aku akan berakhir di pemakaman jika aku melakukannya…”

Aku melihat Junhyung menghela nafas dan memikirkan sesuatu. Sementara Dongwoon sibuk membantu Donghae turun dari ranjang.

“Well, Hankyung.. Aku mengerti kegundahanmu mengenai Tara…”
“Sebaiknya kita hentikan saja permainan ini,”ucap Donghae tegas. “Tuhan sudah menegur kita agar menghentikan permainan konyol ini,”
End of Hankyung POV…
**

Aku duduk termenung di taman sekolah yang terletak di belakang lapangan basket. Beberapa siswa tampak berpacaran di pinggir lapangan basket sebelah kanan, sedangkan lapangan basket sebelah kiri dijadikan tempat untuk belajar.

“Apa Donghae bisa dipercaya?”tanyaku lalu menatap langit dan tersenyum. “Aku memang baru mengenal Chinju, tapi, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku. Aku akan tersakiti jika dia disakiti,”

“Tara…”lagi-lagi suara Lacoste, Hankyung, terdengar.
“Mau apa lag?”ketusku.
“Aku hanya ingin berbicara dari hati ke hati,”katanya lagi lalu duduk di sampingku. “Sejak kapan kau bisa berkata jahat seperti tadi?”

Aku menghela nafas mendengar pertanyaan darinya.
“Itu salah satu pertahanan yang aku punya jika menghadapi kalian, Hankyung. Jadi aku mohon…”
“Taraaaa..”
“Sebentar..”kataku lalu menatap lurus ke arahnya. “Bagaimana kau bisa tau DooDoo?”

Aku melihat keresahan terjadi pada dirinya. Apa dia menyembunyikan “sesuatu” yang akan membuatku shock apabila “sesuatu” itu terbongkar.

“Dia seorang pemain sepakbola yang sangat terkenal, makanya aku tau…”
“DooDoo adalah panggilan masa kecil Yoon Doojoon dariku dan Hangeng..dia sama sekali tidak pernah mempublikasikan mengenai panggilan tersebut, Hankyung,”kataku tetap menatap dia. “Kenapa kau bisa tau soal itu? Apakah kau..Han..geng?”

Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang menanti jawabannya. Apa yang akan aku lakukan jika dia menjawab iya. Apa pula yang akan aku lakukan jika dia menjawab tidak. Kenapa aku berharap dia akan menjawab “Iya, Tara, aku Hangeng,”.

“Sepenting apa sosok Hangeng buatmu?”tanyanya singkat.

Jantungku makin bergemuruh.
“Sangat penting…”jawabku pelan.
“Dibanding Doojoon, lebih penting mana?”
“Hard to choose them, Hankyung. Mereka penting bagiku di posisi yang berbeda,”
“Apakah kau menyukai Hangeng?”

“Apakah kau wartawan? Apakah kau punya niat buruk sehingga mengorek-ngorek hatiku, ohng?”kataku berdiri.
Dia memegang tanganku.”Lepaskan tanganku,”kataku pelan.
“Aku tidak akan melepaskan tanganmu karena kau akan segera pergi dari hadapanmu dan itu yang tidak aku inginkan, Tara,”

Aku berbalik badan menghadapnya. Mataku terpaku pada kalung yang melingkar di lehernya. Aku terbelalak melihat bandul yang menjadi liontinnya, matahari. Aku kembali menatapnya dengan mata sendu. Hatiku sedih sekali menerima kenyataan ini.

“Apakah kau, Hangeng?”tanyaku pelan. “Aku mohon, jawablah…”

Aku berusaha membendung air mata yang sudah mengantri di pintu keluar kantong air mata. Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak keluar ketika mendengar jawaban darinya.

“Aku, Hangeng, Tara…”
**

Advertisements

One thought on “[FanFict] Lacoste (part 2)

  1. OMG OMG
    baru tau ada part 2nya
    kyaaaaaa

    mau pingsan baca ending part 2
    dag dig dug beneran
    wkwkwkw

    hiyaaaa kuharap si donghae bs bertobat kekeke
    satu2 lacoste berubah dr buaya jadi domba
    hehehhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s