[FanFict] Lacoste (part 3)

Wookie POV…
Langkahku terhenti ketika melewati taman yang terletak di belakang lapangan basket. Gadis itu ada di sana dan sedang menangis. Aku melihat sosok yang sangat tidak aku suka sedang memeluknya. Seluruh adegan yang serasa lambat membuat emosiku memuncak.

Tanganku mengepal, jantungku bergemuruh ketika melihat Hankyung mengusap-ngusap kepala Tara dan menggandeng tangannya.

“Kau akan berhadapan denganku, Hankyung,”makiku lalu menonjok pilar.
Aku membiarkan darah yang mengucur dari tanganku. Sakitnya tidak bisa mengalahkan sakit di hatiku.

“Wookie, tanganmu berdarah,”seru seseorang yang sangat aku kenal, Park Eun Min, dan segera memegang tanganku. “Aku akan mengobatimu,”
“Kau tidak perlu cemas seperti ini, Eun Min,”kataku lalu mengibas tanganku dengan perlahan.
“Kau tidak mau karena bukan Tara kan yang sekarang sedang berdiri di hadapanmu?”tanyanya pelan.

Aku mengangguk dan tersenyum. “Iya. Maaf,”
“Sebaiknya kau mundur, Wookie. Tara sudah bertemu dengan cinta pertamanya..”
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,”kataku lalu balik badan dan berlalu dari hadapan gadis itu.
End of Wookie POV…
**

Aku merasakan lelah menggerogoti tubuhku. Mataku tidak kuasa terbuka. Kepalaku tidak kuasa terangkat dari bantal empukku. Aku membiarkan tubuhku terbaring lemah di kasurku dengan seragam sekolah yang masih melekat.

Kejadian hari ini sangat dan cukup membuatku menangis. Menangis karena bahagia. Ya, aku sangat bahagia karena berhasil menemukan sosok Hangeng yang selama ini aku cari, namun, kenapa aku harus menangis? Kenapa?

“Agassi…”suara Bibiku terdengar. “Sebaiknya kau makan siang terlebih dahulu, wajahmu pucat,”
Tanpa membuka mata, aku menggeleng.
“Baiklah, aku akan kembali ke kamarmu 1 jam kemudian,”
Aku mengangguk.

Aku terpaksa membuka mataku tepat ketika terdengar bunyi pintu kamarku ditutup. Aku menghela nafas melihat segelas coklat dingin berada di atas meja belajar. Perlahan aku bangun dari kasur dan berjalan menuju meja belajarku.

“Bibi, kau sangat perhatian padaku,”kataku sambil memandang pintu lalu meneguk coklat dingin itu sampai habis.

KRIIEETTT!!
Aku menoleh ke arah pintu ketika pintu tersebut terbuka.

“Ahhh…Agassi, Bibi kira masih tidur. Agassi.. ada tamu buatmu,”
“Siapa?”
“Dia tidak mau menyebut namanya tapi kalau Bibi lihat dari seragam sekolah yang dia pakai, sepertinya dia satu sekolah denganmu,”
Aku mematung memandang ke arah Bibi dengan bergumam. “Kenapa perasaanku mengatakan yang menjadi tamuku adalah Lacoste,”
“Agassi..”seru Bibi sambil menowel pipiku.
Aku tersadar dari lamunan dan meringis. “Aku akan menemuinya, Bibi. Kamsahamnida,”
“Ne, Agassi,”
Aku merapikan baju seragamku dan segera menemui tamu tersebut. Benar saja, dia salah satu Lacoste sekolahku, Son Dongwoon.

“Ada apa?”tanyaku singkat lalu duduk di sofa.
“Tara..”katanya lalu duduk. “Maafkan aku karena berani datang ke rumahmu. Hmm..kau kenal dia?”

Aku mengambil foto yang diletakkan di atas meja. Aku melihat foto itu sambil berpikir. Perasaanku mengatakan aku pernah bertemu dengan 2 orang cowok yang berada dalam foto ini, tapi dimana dan kapan.

“Mereka yang melakukan penusukan terhadap Donghae beberapa minggu lalu,”katanya lagi lalu menyodorkan 2 buah foto.
Aku kembali mengambil foto tersebut dan mataku terbelalak. “Wookie?”
“Iya, anak buahku mengatakan kalau Wookie sering bertemu dengan orang ini. Tapi aku tidak mau menarik kesimpulan kalau Wookie yang menjadi otak pada penusukan Donghae,”
“Kenapa kau mengatakan ini kepadaku?”tanyaku menatapnya.
“Karena kau kenal dan dekat dengan Wookie, Tara,”kata Dongwoon lalu meneguk minuman yang disiapkan oleh Bibi.

Aku menghela nafas karena tidak percaya apa yang sedang terjadi. Kalau benar apa yang dikatakan Dongwoon, kenapa seorang Wookie tega melakukan penusukan kepada Donghae. Apa yang menjadi latar belakang Wookie melakukan ini.

“Tara…”suara Dongwoon kembali terdengar. “Eun Min…”
“Yaa~~ apakah kau lupa masa lalumu dengannya, ohng? Apakah kau lupa kalau kau pernah menyakitinya, Dongwoon? Jangan berani-berani menganggu Eun Min,”
“Kenapa?”tanyanya dengan tatapan sendu.
Aku menghela nafas kesekian kalinya karena mendapati tatapan sendu dari seorang Dongwoon. “Well, apa yang akan kau tanyakan?”

“Apakah aku boleh mendekati Eun Min kembali?”
**

Eun Min POV…
Aku merasakan perih di hati mengingat kejadian siang tadi di koridor sekolah. Kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan kalau Wookie memiliki perasaan kepada Tara. Aku ingin marah, tapi sama siapa. Aku ingin berteriak, tapi dimana.

Aku merasa sangat yakin bahwa Wookielah yang akan membuatku melupakan Dongwoon, tapi, pkiranku meleset jauh. Dia menyukai bahkan mungkin mencintai Tara, sahabatku sendiri.

Aku berdiri dari kursi dan masuk ke kamar setelah mengunci jendela berandaku. Aku duduk di depan laptop sambil memandangi gambar Wookie yang menjadi wallpaper laptopku. Aku tak kuasa membendung air mataku ketika menyadari aku jatuh cinta padanya dan harus segera melenyapkan perasaan cinta itu.

“Ya, aku harus melenyapkan perasaan ini demi menyelamatkan persahabatanku dengan Tara,”kataku menyemangati diri sendiri dan tersenyum. “Eun Min, aja aja,”
End of Eun Min POV…
**

Junhyung menatap heran ketiga sahabatnya yang sedang melamun. Dia tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di Lacoste’s Castle siang ini. Donghae duduk di kursi dengan tangan terlipat di dada dan menatap dengan tatapan kosong. Hankyung lain lagi, cowok China itu sedang menopang dagu dan beberapa kali menghela nafas. Begitu juga dengan Son Dongwoon.

“Yaa~~”teriak Junhyung namun tidak berhasil menganggu lamunan ketiga sahabatnya. “Aishh, jjinjja…”

Junhyung menjadi kesal sendiri dan segera keluar menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Junhyung kembali dengan segayung air. Tidak sampai dalam hitungan menit, ketiga temannya kembali ke Bumi dengan sumpah serapah. Junhyung tersenyum puas lalu meletakkan gayung yang sudah kosong di atas meja.

“Yaa~~ Yong Junhyung..apa yang kau lakukan? Bajuku sekarang basah,”omel Donghae dan Dongwoon bareng.
“Itu akibatnya kalau teriakanku tidak kalian respon,”katanya santai lalu tersenyum.

Donghae dan Dongwoon hanya menatap Junhyung dengan kesal. Mereka berdua menerima handuk yang diulurkan Hankyung dan mengelap baju mereka.

“Yaa~~ Dongwoon, aku melihatmu melakukan hal yang tidak wajar,”Junhyung mulai mengeluarkan serangannya. “Kenapa?”
“Huh??”tanya Dongwoon dengan muka bodoh.
“Kenapa kau ikut-ikutan melamun seperti 2 orang ini?”tanya Junhyung sambil menunjuk Donghae dan Hankyung.
Bibir Dongwoon membulat. “Aku sudah menemukan seseorang yang berhasil mencuri hatiku,”
“MWO?”teriak Junhyung kencang.
“Dan hanya kau yang masih berstatus Lacoste, Junhyung,”timpal Donghae dengan senyum kemenangan.
“Kalian terlalu lemah dengan…”
“Kau juga akan begitu jika sudah menemukan yang tepat, Junhyung,”sambung Hankyung dengan senyum.
“Aku tidak sama dengan kalian. Mengerti,”maki Junhyung lalu keluar dengan wajah marah.

“Dia kenapa?”tanya Donghae polos.
Hankyung dan Dongwoon mengangkat bahu.
“Hankyung, bagaimana perkembanganmu dengan Tara?”tanya Dongwoon.
Hankyung menceritakan semuanya soal perkembangan hubungannya dengan Tara. Dongwoon dan Donghae segera menjadi pendengar setia.

“Semoga Tara bisa menerima aku kembali,”kata Hankyung lalu melihat ke arah pintu.
Sosok yang dimaksud telah berdiri di sana dengan senyum. Hankyung merasakan kegugupan yang sangat.

“Apakah aku menganggu?”tanya Tara.
**

Ini pertama kalinya bagiku mengunjungi Lacoste’s Castle. Aku tersenyum ketika mendapati Hankyung melihat ke arahku.
“Apakah aku menganggu?”tanyaku pelan.

“Ahh..tidak..silakan masuk,”suara Dongwoon mempersilakan aku masuk.
Aku mengangguk lalu berjalan mendekati mereka dan duduk di depan Hankyung. Dongwoon dan Donghae saling pandang. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada diri Hankyung. Keringat dingin mengucur dari wajahnya.

“Apakah kau sakit?”tanyaku lalu menatapnya.
“A..a..ahh..tidak..aku..tidak..sakit,”suaranya terdengar gugup.
“Yaa~~ Tara, apa maksud kedatanganmu ke sini?”
“Junhyung mana? Aku tidak melihat dirinya,”kataku lalu melihat sekeliling.

Tumpahan air berceceran di lantai dan aku baru menyadari kalau rambut serta baju mereka basah serta gayung tergeletak begitu saja di atas meja.
“Junhyung?”tanyaku.
Dongwoon mengangguk. “Dia sedang marah pada kami. Ada apa?”

Aku menyodorkan selembar kertas dan foto padanya. Dongwoon menerima kertas itu dan segera membacanya sedangkan Donghae menerima foto.

“Lee Hyukjae dan Yang Yoseob?”kata Dongwoon lalu menatapku dengan tatapan penuh tanya.
“Aku tidak mengerti,”sambung Donghae.
“Itu nama orang yang berada dalam foto itu, Dongwoon, yang beberapa hari lalu kau membawanya ke rumahku,”

“MWO?? Yaa~~ Son Dongwooooonnn…”teriak Hankyung kencang. “Berani-beraninya kau mengunjungi Tara tanpa diriku…”
“Sebentar-sebentar, Hankyung,”kataku lalu menenangkan Hankyung. “Dia tidak melakukan apa-apa hanya menceritakan kejadian penusukan Donghae,”

Donghae menatap Dongwoon bingung.
“Baiklah, Donghae, aku akan menjelaskan semuanya,”

Dongwoon menjelaskan sedetail-detailnya kepada Donghae apa yang sedang terjadi.

“Jadi kau meminta anak buahmu menyelidiki siapa yang menusukku?”tanya Donghae.
“Iyaaa..dan anak buahku mendapatkan mereka berdua..Lee Hyukjae dan Yang Yoseob,”
“Tara..terima kasih karena mau membantu Dongwoon,”suara Hankyung lembut.

Aku mengangguk dan tersenyum.
**

Dongwoon POV…
Aku menatap gadis itu dari kejauhan. Gadis itu sedang melamun. Aku merasa bodoh saat ini. Kenapa aku bisa melepaskan gadis secantik Eun Min demi sebuah taruhan.

Aku melihat gadis itu mengelap air matanya ketika menyadari kehadiranku di dekatnya. Aku tidak bisa mendeskripsikan tatapan yang dia hadiahkan padaku.

“Apa aku boleh duduk di sini?”tanyaku lalu segera duduk tanpa menunggu jawaban darinya.
“Duduklah..karena aku sudah selesai duduk di sini,”katanya lalu berdiri.

Tanganku refleks memegang tangannya dan menghadiahkan sebuah senyuman. Gadis itu memandangku galak dan menepis tanganku dengan kasar.

“Yaa~~”katanya dengan nada dingin. “Kau tidak berencana untuk menarikku LAGI ke dalam pesonamu kan?”
Aku tertawa mendengar pertanyaan polos yang menekan pada kata LAGI. Aku menghadiahkan senyuman maut padanya.

“Kalau memang itu maksudku, kenapa? Kau sudah tidak tertarik padaku?”tanyaku menggodanya.
“Aisshhh..Neol..”makinya lalu mendesis pelan lalu duduk dengan wajah ditekuk.

Aku semakin tersenyum lebar melihat reaksinya.

“Yaa~~”katanya lagi lalu menatapku sinis. “Aku sedang marah..kenapa kau malah tersenyum lebar seperti itu?”
“Kau lucu,”kataku lalu menatapnya.
Aku melihat matanya membesar dan berbalik menatapku. Aku menikmati kecantikan dari wajahnya. Matanya. Dan semua yang ada pada dirinya.
“Yaa~~ Son Dongwoon..Kau baru menyadari kalau aku ini lucu, ohng? Kau….”
Aku segera mengunci bibirnya. Aku tidak menghiraukan keadaan sekitar. Aku merasakan jantungku bergemuruh ketika berciuman dengannya.

“Yaa~~”makinya lalu mendorongku dan mengusap bibirnya dengan kasar. “Kau pikir kau siapa? Beraninya mengambil bibirku…”
“Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku, Eun Min,”
“Cihh..”katanya lalu berlalu dari hadapanku.
“Aku berjanji, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,”
End of Dongwoon POV…
**

“MWO??? Dongwoon menciummu?”tanyaku kaget. Eun Min hanya mengangguk pasrah. “Cowok itu benar-benar..”
“Tara…”suara Chinju terdengar. “Apakah kau baik-baik saja dengan ini semua?”

Aku bingung dengan pertanyaan Chinju. Aku hanya menatapnya dengan harapan dia akan menjelaskan lebih lanjut. Aku melihat dia menghela nafas dan menatapku dengan sendu.

“Aku merindukan Vanie..Apakah dia baik-baik saja?”
“Dia baik-baik saja kok. Kau kenal Yoon Doojoon?”tanyaku yang dijawab anggukan oleh Chinju dan Eun Min. “Vanie sedang berpacaran dengannya…”
“Mwo??”kaget mereka bareng. “Apakah kau tidak cemburu?”
“Mwo?”aku gantian kaget mendengar pertanyaan dari mereka. “Cemburu? Tentu saja tidak…”
“Bukankah kau pernah bilang kalau kau berpacaran dengannya…”

Aku tertawa mendengar penuturan polos Eun Min. “Aku hanya berbohong di hadapan Hankyung,”
“Tara.. Apakah kau baik-baik saja dengan ini semua? Semuanya…”
“Yaa~~ Park Chinju..aku tidak mengerti maksudmu,”
“Donghae mendekatiku dan sepertinya Dongwoon juga mendekati Eun Min…”
“Ahh..”kataku lega. “Tidak menjadi masalah bagiku jika ini semua membuat kalian bahagia,”

“Tara..kau dan..Han..kyung?”tanya Eun Min takut-takut.
Aku menggeleng. “Aku masih belum bisa menentukan perasaanku padanya. Aku..bingung…”
“Maaf,”
“Eun Min..gwenchana..”

“TARAAAA…”suara seseorang memanggilku dengan nada tinggi.
Aku menoleh ke arahnya dan mendapati sosok Junhyung menatapku tajam di depan pintu masuk. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya.

“Siapa kau, ohng, yang bebas menghancurkan popularitas Lacoste?”makinya dan menatapku tajam.
“Jung Tara, Junhyung,”kataku membalas tatapan tajam darinya. “Aku, Jung Tara.. Wae?”
“Neol…”
Aku segera menutup mata ketika tangannya terangkat dan melayang ke arah pipiku.

“JUNHYUUUUNGGG…”suara Hankyung terdengar.
Perlahan aku membuka mata. Tangan Junhyung menggantung di udara.
“Kau akan berhadapan denganku kalau tanganmu berani mendarat di pipinya,”
“Cihhh…”makinya lalu menepis tangan Hankyung dengan kasar dan segera berlalu dari depan kelasku.
“Kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk dan entah kenapa aku tidak berani menatap wajahnya.
“Gwenchana..”kataku. “Gomawo,”
“Baiklah kalau begitu. Aku permisi,”
“Gomawo,”

Aku kembali ke tempat Chinju dan Eun Min. Aku menjadi takut dengan sosok Junhyung.
“Tara, apakah kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk pelan dan berusaha tersenyum.
“Ne, gwenchana,”
**

Aku memandang tidak percaya sosok yang sedang dipukuli di ujung jalan. Sosok Junhyung dipukuli oleh Lee Hyukjae dan Yang Yoseob. Aku segera berlari ke arah mereka.

“Yaa~~ Lee Hyukjae.. Yang Yoseob..”teriakku kencang dan berhasil menghentikan pukulan mereka. Aku segera menangkap tubuh Junhyung yang limbung dan memandang mereka berdua dengan galak.

“Ta…Ta…Tara…”gugup Yoseob memandangku resah.
“Aku akan melaporkan kalian pada polisi,”kataku tegas dan berusaha sekuat tenaga menahan tubuh Junhyung.
“Kau…”Lee Hyukjae berusaha menyerangku namun ditahan oleh Yoseob.
“Kalau kita menyerang Tara, kita bisa dibunuh oleh Wookie,”
“WOOKIE???”teriakku kencang.
“Junhyung, urusan kita berdua belum selesai…”
“Urusan kalian dengannya sudah selesai saat ini juga dan urusan kalian dengan Wookie akan berakhir…”

Aku melihat tatapan ketakutan dari mereka ketika aku menyebut nama Wookie dan mereka segera berlari meninggalkan kami berdua. Aku mendudukkan Junhyung perlahan karena sudah tidak kuat menahan tubuhnya.

“Bertahanlah…”kataku lalu mengeluarkan ponsel dari kantong.
“Tidak perlu menghubungi siapa-siapa,”makinya lalu merebut ponselku dan mencopot baterainya.
“Yaa~~ apa yang kau lakukan, ohng?”kataku menatap nanar ke arah ponselku yang sudah tidak berbentuk.
“Kenapa kau menolongku? Bukankah kau wanita tanpa hati?”
Aku menowel kepalanya dengan keras mendengar perkataannya.
“Yaa~~ kau sadis juga,”
“Aku menolongmu karena mereka berdua yang menjadi tersangka penusukan Donghae.. Yaa~~ apakah kau tidak diajari bagaimana mengucapkan terima kasih? Sayang, kau begitu tampan, tapi tidak tau etika,”

Aku mengubek-ngubek tasku mencari sesuatu untuk membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya, pelipis dan hidungnya.

“Kau sedang apa?”tanyanya sambil meringis kesakitan.
“Aku sedang mencari sesuatu untuk menambah lukamu,”kataku ketus dan mengeluarkan sebungkus tissue basah. “Akhirnya nemu,”

Aku membuka tissue tersebut dan mengulurkan padanya.

“Yaa~~ apakah kau tidak mau membersihkan lukaku?”tanyanya singkat lalu menatapku dingin.
“Baiklah, aku akan membersihkan lukamu,”kataku lalu tanganku terulur pada pelipisnya dan mulai membersihkan lukanya.

“Yaa~~ bisakah kau melakukannya dengan lembut?”
“Bisa, kau tenang saja,”kataku lalu sengaja menekan dengan keras pada lukanya.
“Yaa~~”makinya lalu menangkap tanganku.
“Lepaskan…”kataku.
Aku menjadi takut ketika bertatapan dengan matanya. Aku takut, dia akan memperkosaku. Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, dia tidak memperkosaku tapi menciumku tanpa permisi. Aku shock mendapat serangan bibir darinya. Aku meronta dan segera mendorong tubuhnya.

“Neol…”kataku dengan bergetar.
“Aku akan menaklukanmu meskipun aku harus berhadapan dengan Hankyung,”
**

Seluruh siswa Cheonsa Senior High School gempar melihat beberapa memar terdapat di wajah Junhyung. Mereka berbisik-bisik ketika Junhyung melewati koridor sekolah. Aku melihat beberapa plester terpasang di wajah tampannya. Langkahnya melambat ketika melewatiku. Aku sempat melihat matanya menatap ke arahku dan sedikit tersenyum. Aku hanya menganggukkan kepala untuk membalasnya.

“Apa yang telah terjadi antara kau dan dia?”bisik Chinju pelan.
“Aku hanya menolongnya,”kataku pelan lalu masuk kelas.
“Yaa~~”teriak Chinju lalu mengikutiku. “Aku merasa ada sesuatu yang terjadi antara kau dan dia,”
Aku menggeleng lalu berusaha menghindar tatapan darinya.
“Taraaa…”
“Well,”kataku menatap Chinju. “Dia menciumku,”
“MWO???”tanya Chinju lalu duduk di hadapanku. “Kau berciuman dengannya?”
“Yaa~~ Bukan berciuman..Dia menciumku…”
“Baiklah..apapun itu… Bagaimana kau jelaskan ini semua pada Hankyung?”

Aku tergagap mendengar perkataan Chinju dan menatapnya dengan sendu.
“Baiklah..baiklah..ini akan menjadi rahasia kita berdua,”
“Gomawo,”
**

Lacoste’s castle…
Kehebohan juga terjadi di “istana” Lacoste ketika Junhyung menjejakkan kaki di sana. Donghae, Dongwoon segera berteriak dan berdiri menghampiri Junhyung. Hankyung hanya diam di tempat memandang Junhyung yang sedang dikerubungi 2 sahabatnya.

“Yaa~~ apa-apaan kalian,”maki Junhyung dengan kesal.
“Kau kenapa?”cemas Dongwoon.
Gwenchana,”kata Junhyung singkat lalu duduk di hadapan Hankyung. “Kau boleh tertawa sekarang, Hankyung,”
“Apakah kau mau aku menambah memar di wajah tampanmu?”dingin Hankyung lalu tersenyum. “Siapa?”
“Lee Hyukjae dan Yang Yoseob,”
“MWO??”teriak Dongwoon. “Kita harus berhati-hati.. Ini sepertinya serius untuk menghancurkan kita,”
Junhyung menatap Dongwoon heran. “Menghancurkan kita?”
“Iya..Kalau ini terjadi, Wookie akan berakhir di pemakaman,”maki Donghae.
“Yaa~~ kenapa kau mengulangi kata-kata wanita tanpa hati itu?”maki Junhyung.
“Tapi dia yang menyelamatkanmu,”kata Hankyung dingin.

Dongwoon dan Donghae saling berpandangan mendengar perkataan Hankyung.
“Yaa~~ Hankyung..”
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau mengkhianatiku, Junhyung,”
“Cihhh..maksudmu apa, ohng?”kata Junhyung menatap tajam.
“Kauuu…”kata Hankyung segera menarik kerah Junhyung.

“Yaa~~ Yaa~~”Dongwoon segera menarik tubuh Hankyung menjauh dari Junhyung.

“Dengar, Junhyung… Wookie memberitahuku..kau menciumnya.. Yaa~~ Dongwoon..lepaskan…”maki Hankyung kencang lalu mendorong Dongwoon dengan keras.
“Hankyung, dengar..Ini merupakan salah satu rencana Wookie menghancurkan kita.. Kau tau, Wookie mencintai Tara,”kata Dongwoon.
“Kau tau darimana?”seru Junhyung dan Hankyung bareng.
“Eun Min,”jawab Dongwoon pelan.

“Kau akan berurusan denganku, Wookie,”maki Junhyung lalu segera keluar dari “istana”.
“Yaa~~ Yong Junhyung.. Yaa~~”teriak Hankyung kencang dan mengejar Junhyung. “Urusan kita belum selesai,”
Junhyung menatap Hankyung tajam dan tersenyum sinis. “Aku akan bersaing denganmu untuk mendapatkan Tara. Aku menang 1 poin darimu karena berhasil mendapat ciumannya,”

BUGHHH!! BUGGHHHH!!
Hankyung menonjok Junhyung dengan kasar. Junhyung hanya tersenyum sinis mendapati dirinya tersungkur di lantai.

“Yaa~~ Yaa~~ apakah kau mau kita berurusan lagi dengan Heechul ssi, ohng?”kata Donghae dan Dongwoon bareng lalu melerai mereka.

Donghae membantu Junhyung berdiri dan memaksanya menjauhi Hankyung. Dongwoon hanya menghela nafas mendapati kenyataan kalau Hankyung dan Junhyung pasti akan bermusuhan.
**

Kedatangan Dongwoon dan Donghae ke rumahku menambah kerunyaman yang terjadi di pikiranku. Aku hanya menatap 2 cowok tampan ini tanpa mengomentari penjelasan mereka mengenai Hankyung dan Junhyung.
“Tentukan pilihanmu, Tara.. Hankyung atau Junhyung,”
“Mwo?? Kalian ke rumahku hanya untuk ini?”
“Yaa~~ bagimu mungkin memang “hanya” tapi bagi kami “sangat”,”sungut Donghae.
Jebal,”kata Dongwoon pelan.

Aku tidak tau harus menjawab apa. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah menghela nafas sambil meresapi perkataan 2 cowok tampan ini dan memejamkan mata untuk merasakan perasaanku. Aku segera membuka mata ketika ciuman “paksa” yang dilakukan Junhyung berkeliaran di pikiranku dan itu semua membuat perasaanku mendapat guncangan keras.

“Yaa~~ Jung Tara..jebal..”
“Dongwoon, aku butuh waktu soal ini.. Aku rasa, ada hal yang lebih penting dari ini. Soal Wookie…”
“Aku akan menghajarnya, Tara, pasti,”maki Dongwoon kesal.
“Dongwoon, kau perlu berhati-hati. Aku yakin, kau adalah target selanjutnya,”
“Mwo? Yaa~~ Tara, kenapa kau bisa seperti itu?”tanya Donghae.

“Begini.. Aku mengetahui kisahmu dan Eun Min… Kau tau, tapi, sebelumnya jangan marah dengan ceritaku…”
“Baiklah..”
“Kau tau, Eun Min sangat terluka atas apa yang telah kau lakukan..terus, dia membuka hatinya kembali untuk cowok lain agar dia bisa melupakanmu, tapi akhirnya dia kembali terluka..”
“Cowok itu Wookie?”tebak Donghae yang aku jawab anggukan. “Wae?”
“Karena Wookie mencintaiku, Dongwoon. Kau pasti tau itu kan?”

Dongwoon mengangguk.

“Kita harus menyelesaikan ini semua sebelum Wookie “menyentuh” kalian berdua,”kataku pelan. “Aku tidak akan memaafkan dirinya kalau dia melukai Eun Min,”

“Tara, aku berjanji..aku akan melindungi Eun Min,”
“Aku takut, dia akan mempengaruhi Eun Min mengenai kejelekan tentang kau,”kataku tegas.
**

Aku segera melarikan mobilku dengan kecepatan tinggi setelah menutup telepon dari Chinju. Aku tidak memperdulikan keadaan jalan yang aku lewati. Aku segera menekan klakson mobil apabila ada yang menghalangi jalanku. Aku tidak mencemaskan diriku yang sedang bertarung dengan kematian, tapi, aku sungguh mencemaskan keadaan Eun Min.

“Taraaaa~~jebaaaallll..Eun Min…menggores pergelangan tangannya dengan gunting…sekarang dia masuk rumah sakit…”

Perkataan Chinju terus terngiang di telingaku. Pikiranku langsung tertuju pada sosok Wookie. Aku memukul setirku karena wajah Wookie masuk ke pikiranku.

“Kau akan berurusan denganku, Wookie,”makiku.

Aku segera berlari masuk ke dalam rumah sakit setelah memastikan mobilku terkunci dan terparkir dengan aman. Aku melihat sosok Dongwoon dan Junhyung duduk di depan ruangan tempat Eun Min dirawat. Wajah Dongwoon terlihat seperti putus asa. Aku menganggukkan kepala dan menyunggingkan sedikit senyum ketika mereka berdua melihat ke arahku.

“Taraaa~~”Chinju segera memelukku. Wajahnya kusut.
Aku tersenyum menenangkan dirinya dan berjalan mendekati Eun Min yang masih belum sadarkan diri.

“Dia sudah melewati masa kritis, Tara, tapi sampai saat ini masih belum sadarkan diri,”kata Chinju pelan lalu kembali menangis.
“Yaa~~ Park Chinju..kau harus kuat,”kataku bergetar karena air mataku juga sudah menggenang di pelupuk mata.
Aku mengenggam tangan Eun Min dan segera memejamkan mata. Aku memanjatkan do’a kepada Tuhan agar Eun Min segera sadar.

Beberapa saat kemudian, tangan Eun Min bergerak dan suara lirihnya terdengar.
“Taraaaa…”
Aku membuka mata dan berusaha tersenyum meskipun air mata mengalir di pipi. Chinju berteriak histeris bahagia saking senangnya. Aku segera mengingatkan Chinju kalau kami sekarang sedang berada di rumah sakit.

“Eun Min…”kataku pelan lalu menghapus air mataku. “Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan do’aku…”
“Dongwoon…”
“Kau mau bertemu dengannya?”kata Chinju dengan mata membesar. Eun Min mengangguk lalu perlahan air matanya luruh. “Baiklah, kami akan meninggalkanmu dengan Dongwoon,”

Aku mengikuti Chinju di belakang untuk memanggil Dongwoon yang menanti dengan cemas di luar ruangan.

“Masuklah, Eun Min membutuhkanmu,”seru Chinju lalu tersenyum.
“Terima kasih,”kata Dongwoon lalu berdiri dan segera masuk ke ruangan Eun Min.
“Taraaaa…aku perlu ke kapel,”kata Chinju pelan.
Aku mengangguk lalu duduk di sebelah Junhyung. “Kau harus baik-baik saja di sana,”
Chinju mengangguk. “Junhyung, aku titip Tara dan Eun Min ya,”
“Baiklah,”

Aku memandang punggung Chinju yang semakin menjauh dengan mata basah. Aku menoleh ke arah Junhyung karena merasakan genggaman di tanganku.
“Aku akan melindungimu,”katanya lalu memberikan senyum untuk menguatkan diriku dan segera merengkuhku.
Aku mengangguk dan memejamkan mata. Kesedihan yang aku rasakan sedikit berkurang karena rengkuhan dari Junhyung.
**

Hankyung POV…
Langkahku terhenti ketika melihat pemandangan yang sangat tidak aku inginkan. Aku melihat 2 sosok yang sama-sama aku sayangi bahkan cintai sedang berpelukan. Jantungku bergemuruh kencang. Tanganku mengepal.

“Junhyung benar-benar membuktikan ucapannya,”kataku lalu berbalik badan dan mendapati sosok Donghae yang memandangku dengan tatapan polosnya. “Kau saja yang ke sana, aku masih ada urusan,”

Aku segera berlalu dari hadapannya sebelum mendapati pertanyaan dari cowok tampan namun sungguh sangat polos ini.

“Karena mereka?”tanyanya yang berhasil menghentikan langkahku. “Kita tidak akan pecah hanya karena mereka kan?”

Aku berbalik badan dengan senyum yang sangat aku paksakan. “Tentu saja tidak, Donghae, kau tenang saja,”
“Aku tidak yakin akan itu,”
Aku menghela nafas lalu berjalan mendekati dirinya. “Aku akan mengikhlaskan Tara kalau seandainya dia memilih Junhyung…”
“Kalau begitu, kau harus ikut denganku ke sana,”
Aku tergagap ketika mendapati tangan Donghae mendarat di lenganku. “Kau akan baik-baik saja kalau kau ikhlas akan mereka,”
“Baiklah,”kataku akhirnya lalu mengekori Donghae.
End of Hankyung POV…
**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s