[FanFict] Born to be Yours

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

Title: Born to be Yours
Cast: TeenTop, Jung Tara
Cameo: Kim Donghyun, Lee Sungmin, ,Park Eun Min, Park Hae Mi
Disclaimer: Lee Sungmin belong to SM Ent., Kim Donghyun belong to Starship Ent., TeenTop belong to TOP Media., Jung Tara, Park Hae Mi, Park Eun Min belong to cloudyeppeo Ent.,
::::::::::

Aku sedang menikmati makan malam berdua dengan kekasihku ketika mendapat telpon dari Min Soo Oppa. Aku segera menjawab telepon darinya setelah mendapat persetujuan dari kekasihku.

“Nee~ Oppa.. Stress?? Stress kenapa, Oppa? Aku?? Lagi makan malam dengan Donghyun..Ohh.. baiklah, aku akan meneleponmu kembali, Oppa.. Fighting..”

Aku meletakkan ponselku di atas meja lalu menatap kekasihku mesra. Donghyun membalas tatapanku dan memberikan seulas senyum yang sangat manis. Malam ini aku benar-benar sangat bahagia. Aku merasakan kalau malam ini predikat “Wanita paling bahagia” harus jatuh ke tanganku.

“Sayang, hari ini aku sudah mengikuti audisi tahap pertama di Starship,” katanya lagi. “Doakan aku agar berhasil masuk dan menjadi salah satu member Boyfriend,”
“Tentu saja, Oppa-ku sayang..” kataku lalu mengenggam tangannya erat. “Aku akan selalu mendukungmu,”
I really love you, honey,” kata kekasihku lalu mengecup tanganku mesra. “Ouw ya, ada apa dengan Min Soo, sayang?”
Aku menggeleng lalu tersenyum. “Aku akan menanyakan lebih lanjut nanti setelah pulang dari sini, Oppa,”
“Baiklah, aku akan segera mengantarkanmu pulang setelah dari sini,”
“Oppa…”
“Tara sayangku, Min Soo itu satu-satunya saudara yang kau punya di sini. Aku mengerti akan hal itu,”
“Terima kasih, Oppa,”




Aku segera menghidupkan laptopku dan menyambungkannya dengan koneksi internet. Aku mengklik logo Skype dan mengetik user serta passwordnya. Mataku bergerilya mencari nama Bang Min Soo di kontak. Aku tersenyum dan waving ketika wajah kusutnya muncul di layar.
“Oppa…”
**

Kehebohan terjadi di agensi Teentop. Beberapa staff terlihat kewalahan meladeni pertanyaan wartawan. Managemen Teentop duduk tidak berdaya di sofa. Rambut mereka awut-awutan dan wajah letih serta stress tampak.

CAP, leader dari Teentop, hanya bisa menatap 2 tersangka perkelahian dengan kosong. Cowok tampan yang mendapat posisi rapper itu tidak tau harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalah mereka.

“Yaa~~ Chunji, Niel, apa-apaan kalian ini, ohng?” akhirnya CAP bersuara lalu memandang 2 cowok berambut merah dan keriting itu tajam. “Kalian mau jadi pahlawan, ohng?”
Mata Chunji menyirat kemarahan tingkat dewa. Dadanya naik turun tanda emosi masih menguasainya.
“Aku akan keluar dari TeenTop,” suara Chunji terdengar.

Semua yang berada di ruangan itu segera memandang ke arahnya.

“Yaa~~ Lee Chan Hee…TeenTop akan comeback stage dan kau mengatakan ini? Apakah kau sadar mengatakan ini, ohng?” maki sang manajer.
“Hyung, ini kedua kalinya kekasihku direbut…ahh..bukan..kedua kalinya aku dipermainkan.. Wanita yang aku cintai itu…berpacaran ama sahabatku sendiri… Apakah kalian tidak bisa merasakan apa yang aku rasa, ohng? Aku sudah memaafkan L.joe yang akhirnya bersama Hae Mi, Hyung… Kini, Eun Min pun meninggalkanku demi Niel? What the hell,”

“Chunji Hyung…” suara Niel pelan lalu menatap ke arah cowok yang duduk di sebelahnya dengan mata sendu. “Aku tidak tau kalau Eun Min itu…milikmu…”
“Tskk…aku tidak perlu mendengar suaramu, Niel..Ambil saja wanita itu, aku tidak butuh,” kata Chunji lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. “Semoga TeenTop makin sukses tanpa aku di sini,”

“Yaa~~ Chunji…” teriak CAP lalu menarik tangannya dan segera menamparnya. “Sebaiknya kau dinginkan dulu kepalamu,”
Cowok tampan berambut merah itu mengusap pipinya yang panas lalu menatap tajam ke arah leader dan segera berlalu dari hadapannya.
**

Aku segera menepikan mobil ketika melihat orang tergeletak di pedestrian yang tidak jauh dari apartmentku. Aku keluar dari mobil dan bergegas menuju tempatnya. Mataku terbelalak ketika darah tercecer di sekitarnya. Hidung, mulut, dan telinga orang ini mengeluarkan darah. Dadanya naik turun karena kesusahan bernafas.

“Jebaaalll…” katanya pelan lalu tangannya mencengkram tanganku. “Jebal, help me,”
Aku mengangguk dan dengan sekuat tenaga mengangkat tubuhnya dan memanggul tasnya lalu membimbingnya menuju mobilku. Aku melarikan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju Noel Hospital.




“Taraaaaa…” dokter Sungmin menyambutku dan menginstruksikan perawatnya untuk membuka pintu belakang mobilku.
Para perawat itu sungguh terampil nan cekatan mengeluarkan cowok itu dari mobil dan meletakkannya di atas brangkar dan segera membawanya masuk ke ruang ICU.

Aku berjalan mengikuti rombongan itu dengan linglung. Pikiranku kosong. Aku masuk ke ruangan dokter Sungmin dan duduk di kursi.

“Tara, apa yang terjadi?” tanya dokter tampan itu lalu mengulurkan botol minum. “Minumlah…kau sangat shock sekali,”
“Apakah dia akan meninggal?” tanyaku dengan mata berair.
“Aku belum bisa memastikan, sayang. Kita akan segera tau jawabannya setelah pihak ICU memeriksa keadaan korban itu. Apakah kau kenal dengannya?”

Aku menggeleng lalu menyerahkan tas yang sedari tadi aku bawa.
“Kau bisa memeriksa data yang kau butuhkan di sini,”
“Tas ini?”
“Nee~~ Tas ini milik cowok tadi,” kataku mengangguk.
“Baiklah,” kata dokter Sungmin menerima tas. “Aku akan memeriksa tas ini. Kau pulanglah. Aku akan menelepon Donghyun,”
“Gomawo,”
**

“APAAAA???” teriak beberapa orang ketika mendengar berita yang dibawa Changjo dan Ricky. “Kalian bilang Chunji tidak ada di rumahnya?”
“Nee~~ Hyung.. Saat ini, L.joe dan CAP Hyung lagi mencarinya di beberapa tempat nongkrongnya. Niel Hyung dan Eun Min Noona juga mencarinya di beberapa kenalan Chunji Hyung,” kata Ricky gusar.

“Yaa~~ Kim ssi…apa yang sedang kau lakukan, ohng? Suasana genting seperti ini kau malah sempat-sempatnya menonton berita kecelakaan,”
“Changjo, Ricky,” kata cowok yang dipanggil Kim ssi itu melambaikan tangan. “Bukankah itu…motornya Chunji?”

Changjo dan Ricky mendekati Kim ssi dan melihat tayangan tivi.
“Hyung, motor seperti itu kan banyak, bukan hanya Chunji Hyung yang punya,”
“Sudahlah,” maki sang manajer kesal lalu mematikan tivi. “Kalian bertiga duduk di sini,”
“Nee~~”



“Yaa~~ Hyung, bagaimana? Kau sudah menemukan Chunji?” suara Niel gusar ketika teleponnya tersambung. “Aku dan Eun Min belum menemukannya. Kami sekarang menuju rumah ke 15,”

Eun Min memandang kekasihnya dengan gelisah. Beberapa kali tampak tanganya mengusap-ngusap pundak kekasih untuk memberikan ketenangan. Niel memukul stir dengan kasar.
“Ini salahku…”
“Bukan…ini salah kita berdua,” ujar Eun Min pelan.



“CAP Hyung, ini cafe ke sepuluh yang kita datangi,” kata L.joe menatap CAP.
“Masuklah dan tanyakan pada pemilik cafe itu,” suara CAP lirih.
“Nee~ Hyung,” jawab L.Joe lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, sosok cowok berambut blonde itu keluar dengan wajah putus asa.
“Bagaimana?” tanya CAP segera ketika L.joe masuk ke dalam mobil.
“Dia tidak di sana,”
“Goshh…Kita harus mencarinya kemana.. AAAARRRGGGHHHH….”

TILILILIT…TILILILIT

“Hyung, ponselmu berbunyi,”
“Ohh…” kata CAP lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di dashboard mobil. “Tara…”
**

1 bulan kemudian…
“Tara…” suara dokter Sungmin terdengar. Aku bangun dari tidur dan memandang ke arahnya. “Temui Donghyun untuk terakhir kalinya,”
“MWO?”
“Pergilah ke alamat ini, Tara,”
Aku menerima secarik kertas yang berisikan alamat dari dokter Sungmin.
“Jangan khawatir dengan Chunji, sayang, perawat di sini yang akan menjaganya,”

Aku keluar dari ruangan dan segera berlari. Aku terus berlari, berlari, dan berlari. Jantungku berdebar sangat kencang. Perasaanku tidak karuan saat ini. Air mataku luruh seirama dengan kecepatan lariku. Aku tidak memperdulikan cacian dan makian dari para pengendara maupun dari pejalan kaki yang aku tabrak. Nafasku tersengal ketika sampai tempat yang dimaksud. Aku melihat sosoknya membelakangiku. Perlahan aku berjalan ke arahnya.

“Donghyun Oppa…” kataku pelan.
Sosok itu berbalik badan dan memberikan senyum manisnya.
“Donghyun Oppa…”
“Ayo sini,” Donghyun Oppa menarik tanganku dan memintaku duduk di dekatnya. “Aku pikir, aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kali,”
Jantungku makin berdebar kencang ketika mendengar kata-kata itu.

“Tara…” suaranya mulai terdengar bergetar. “Aku rasa…kita harus mengakhiri hubungan ini, sayang,”
Air mataku jatuh dengan derasnya. Apa katanya tadi? Dia meminta kami putus?
“Oppa…kenapa?? Apakah kau marah padaku gara-gara…”
“Aku tidak marah padamu, sayang,” katanya tersenyum namun matanya berair. “Besok, aku akan ke Seoul, untuk menjalani training..Puji Tuhan, aku lulus menjadi salah satu trainee yang akan mengisi Boyfriend,”

Mataku terbelalak mendengarnya. Doaku dikabulkan Tuhan.
“Chukae, Oppa,” kataku pelan lalu berusaha tersenyum.
“Tara,” katanya lagi lalu merengkuh tubuhku. “Kalau kita dijodohkan oleh Tuhan, kita pasti akan bertemu kembali. Thanks for everything,”
Aku mengangguk dalam rengkuhannya. “Aku akan mendukungmu, Oppa.. Semoga kau sukses, Donghyun Oppa, dan jangan melupakanku meskipun kita tidak menjadi sepasang kekasih lagi,”
“Tentu saja..You’re my endless moment, honey, aku tidak akan melupakanmu,”




Aku memandang kosong ke arah Chunji yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan perban dan infus. Air mataku terus membasahi wajahku. Perlahan, aku memegang tangannya dan mengenggamnya.
“Aku berpisah dengan kekasihku karena kau, Chunji… Seharusnya aku mendampinginya tapi karena kau, dia memilih berjuang sendirian..Jadi aku mohon…. sadarlah… supaya pengorbananku tidak sia-sia,”
**

Manajemen TeenTop mendadak heboh ketika CAP mendapat telepon dari kepolisian Busan. Mereka semua terlihat tidak sabar untuk menginterogasi rapper tampan itu. CAP berbalik badan dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.

“Manajer Hyung,” suara CAP terdengar. Mereka semua menahan nafas menunggu kata demi kata yang keluar dari bibir CAP. “Chunji…ternyata mengalami kecelakaan dan sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri,”

“APAAAA???”

CAP mengangguk. “Kepolisian Busan tadi mengatakan, kejadiannya 1 bulan yang lalu…Pihak rumah sakit, kepolisian maupun orang yang menyelamatkan Chunji mengalami kesulitan karena data diri tidak ditemukan,”
“MWOO???”
“Nee~~ Titik terang terlihat ketika orang yang menyelamatkan Chunji mencari tau data dirinya dari motor yang digunakan. Perjuangan yang luar biasa…”
“Kita harus mengucapkan banyak terima kasih pada orang itu,”
“Manajer Hyung, masalahnya pihak rumah sakit tidak mau memberitahu identitas data diri penyelamat itu,”

“Baiklah kalau begitu, CAP. Kita harus mencari tahu siapa penyelamat itu supaya bisa mengucapkan terima kasih,”
“Tapi bagaimana caranya?”
“CAP Hyung,” suara Niel terdengar. “Kau kan punya sepupu yang tinggal di sana, Tara ya kalo tidak salah namanya? Kau kan bisa minta bantuan dirinya,”

“Benar..benar…” Changjo, Ricky, dan L.Joe menyetujui ide Niel.
“Tapi…sepupuku itu tidak tau kalau aku ini seorang artis. Bagaimana ini? Yang dia kenal adalah Bang Min Soo bukan CAP TeenTop,”
“Begini saja,” kata manajer TeenTop. “Aku setuju dengan ide Niel, CAP.. Kau, Ricky, dan Changjo berangkat ke Busan…tapi, kau ke sana bukan sebagai CAP tapi sebagai Min Soo. Kalian harus menyamar selama berada di Busan,”

“Kami setuju, manajer Hyung,”

“Aku tidak mengirimkan kalian berdua ke Busan, karena masalah kalian dengan Chunji masih belum selesai,” kata manajer Hyung pada L.Joe dan Niel.
“Kami mengerti, Hyung. Kami berdua tetap di Seoul untuk menyiapkan comeback stage TeenTop dan berusaha memikirkan cara untuk memperbaiki hubungan kami dengannya,”
“Baiklah. Kalian bertiga bisa berangkat besok ke Busan,”
“Nee~~,”
**

Aku terbangun dari tidurku ketika ponselku berbunyi. Aku tersenyum ketika melihat caller ID.
“Min Soo Oppa…” jeritku senang. “Mwo?? Kau dan 2 temenmu menuju Busan? Jjinjja?? Aku senang sekali, Oppa… Berapa lama kalian di Busan? Aku mengerti,,,kalian bisa menginap di apartmentku. Aku sekarang lagi di rumah sakit, oppa.. Bukan aku…temanku, Oppa… Dia menjadi korban kecelakaan.. Nee…”




Aku melambaikan tangan ketika sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Kaca mobil terbuka dan sosok Min Soo Oppa tersenyum.
“Oppa…” kataku tersenyum.
“Masuklah,” katanya lagi.
“Nee~~”

Aku sangat menikmati suasana seperti ini. Berkumpul kembali dengan sepupuku yang sudah lama tidak bertemu.
“Kami tinggal di satu apartment selama di Seoul, Tara,” kata Ricky. “CAP Hyung…ehh..maksudku Min Soo Hyung sangat baik sekali pada kami,”
“Min Soo Oppa memang baik banget,” kataku dengan senyum merekah. “Oppa…hmm.. bagaimana dengan temanmu yang menghilang itu?”
“Kami baru menerima kabar, ternyata dia mengalami kecelakaan, Tara,” jawab Changjo pelan.
“Maafkan aku,” jawabku.
“Ahh,,tidak apa-apa, Tara… Min Soo Hyung kan selalu merepotkanmu dengan curhatannya,” jawab Changjo jenaka.

Hahaha…
**

“Taraaa… Yaa~~ Jung Taraaaa…” teriak Changjo dari luar kamarku.
Aku terbangun karena mendengar suara teriakan Changjo dari luar kamar. Perlahan aku bangkit dan turun dari kasur. Aku masih setengah sadar ketika membuka pintu.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ayo cepat…” katanya lalu menarik tanganku.
“Yaa~~ Yaa~~” kataku. “Oppa, ada apa?”
“Tadi dokter Sungmin menelepon, dia mengatakan bahwa temenmu sudah sadar,”
“Mwo??? Jjinjja??” senangku. “Kita akan ke sana sekarang. Sebentar, aku mau bersihkan diri dulu,”
“Baiklah,” sahut mereka bareng.
**

CAP POV…
“Taraaa…kau dan Ricky duluan menemui dokter Sungmin dan temanmu, nanti aku dan Changjo menyusul,”
“Baiklah, Oppa. Kau bisa menelponku ataupun Ricky,”
“Nee, Hyung. Kalau gitu, kami duluan,”
“Hati-hati,”

Aku mengemudikan mobilku menuju tempat parkir yang telah disediakan rumah sakit. Aku dan Changjo segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa langkah, kami menghentikan langkah dan bergegas balik ke mobil karena di depan pintu masuk utama telah banyak wartawan.

“Hyung, bagaimana ini?” cemas Changjo meremas rambutnya.
“Kita harus segera memberi tau Ricky,”
“Kau yang meneleponnya,” kataku lalu menunjukkan ponselku. “Manajer Hyung menelepon,”
“Baiklah,”

Aku segera menjawab telpon dari manajer Hyung. “Bagaimana bisa wartawan mengetahui tempat Chunji dirawat, Hyung? Kami bertiga sudah berada di rumah sakit, tapi aku dan Changjo masih di parkiran mobil. Ricky sudah masuk ke dalam bersama sepupuku… Kami akan berhati-hati, Hyung.. Nee…”

“Hyung, aku sudah memberitahu Ricky. Nanti mereka akan menelepon kalau sudah selesai,”
End of CAP POV…
**

“Taraaa…jebal…” kata Ricky tiba-tiba panik.
Aku melihat ke arahnya bingung. “Kenapa kau pucat seperti itu? Apakah kau sakit?”
Dia menggeleng lalu duduk di kursi. “Beberapa wartawan berkerumun di pintu masuk, bagaimana ini?”
“Haahh?? Yaa~~ apakah kau takut dengan wartawan, Ricky?” tanyaku yang dijawab anggukan. “Jangan takut, aku dan dokter Sungmin akan melindungimu. Sepertinya lama juga ya kita menunggu di sini. Apakah dia masih sibuk?”

Tok..Tok..

“Tara-ssi…” salah satu asisten dokter Sungmin masuk ke ruangan. “Mianhae, beliau masih sibuk menjawab pertanyaan wartawan berkaitan member TeenTop yang dirawat di rumah sakit ini,”
“Ohh…begitu? Baiklah.. Sampaikan padanya aku akan kembali nanti sore,”
“Akan aku sampaikan,” katanya lagi lalu melihat ke arah Ricky dengan tatapan penuh menyelidik. “Hmm..apakah kau salah satu member TeenTop?”

“Yaa~~ dia ini temannya sepupuku, mungkin hanya mirip,”
“Ahh..benar… Ada lagi yang akan kau sampaikan?”
“Begini, temanku ini memiliki fobia dengan wartawan, adakah alat agar dia tenang saat kami melewati kerumunan wartawan itu?”
“Mwo? Fobia akan wartawan? Lucu juga.. Sebentar, aku akan mencarikannya,”
“Kami akan menunggu di sini,”




“Yaa~~ apakah kalian pikir ini cukup untuk mengelabui wartawan?” tanya Ricky gusar.
“Aku rasa ini cukup. Semua perhiasan yang kau pakai sudah dilepas dan diganti dengan stetoskop dan masker,” kata asisten itu. “Lagian, wartawan tidak mungkin melihatmu karena banyak dokter yang keluar masuk, jadi mereka pasti menganggap kau salah satu dari mereka,”
“Kalau kau masih merasa cemas, tutupi kepalamu dengan topi ini,” kataku lalu menyerahkan topi yang berwarna senada dengan masker yang telah dia pakai.

Perfect,” kata Ricky tersenyum puas. “Kau bisa menelpon Oppa-mu sekarang,”
“Baiklah. Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu, suster. Maafkan kalau temanku ini merepotkanmu,”
“Tidak apa-apa, Tara-ssi,”
“Kalau begitu, kami berdua permisi dulu ya,”
“Hati-hati,”
“Nee~~”
**

Ricky POV…
Jantungku berdebar kencang ketika melihat banyak sekali wartawan di sana. Aku melirik ke arah gadis cantik di sampingku yang sibuk dengan ponselnya. Gadis yang benar-benar cantik. Tara berpindah tempat di sebelah kiriku ketika melewati kerumunan wartawan itu.

“Tara…” suara seseorang memaksa kami harus menghentikan langkah.
Gadis cantik itu berhenti dan berbalik badan. “Ohh..dokter Sungmin, aku akan kembali nanti sore,”

Aku menganggukkan kepala ketika dokter Sungmin menyunggingkan senyum padaku.

“Baiklah..nanti aku akan meneleponmu lagi,”
“Nee.. Kami permisi dulu,”

Aku bernafas lega ketika berhasil melewati kerumunan wartawan itu. Namun, aku masih belum bisa membuka penyamaranku sebelum masuk ke dalam mobil. Aku segera masuk ke dalam mobil ketika mobil yang dikemudikan CAP Hyung berhenti di depan kami.

Aku melihat tatapan heran dari mereka berdua ketika kami masuk ke dalam mobil.
“Tara, Ricky mana? Kenapa kau malah bersama dokter ini?”

Aku dan Tara tertawa mendengar pertanyaan dari Changjo.
“Apakah kalian tidak mengenal dokter tampan ini, ohng?”
“Ini aku…Ricky,”
“Jjinjja…aku tidak mengenalmu,” kata CAP Hyung tertawa.
“Yaa~~ apakah kalian tidak tau kalau teman kalian ini fobia terhadap wartawan?”

“Tara…Tara…tentu saja Ricky fobia terhadap wartawan, dia kan Teen…”
“Teen?? Teen apa? Teenager?”
“Iyaa..teenager yang nakal tepatnya,” sahut CAP Hyung langsung dan mengedipkan mata padaku.
“Gomawo, Hyung,” kataku lalu membuka penyamaran.
End of Ricky POV…
**

“Siapa kau?” tanya Chunji galak ketika aku berada di ruangannya bersama dengan dokter Sungmin.
“Yaa~~” kesalku. “Bisakah kau beretika baik padaku? Kalau aku tidak membawamu segera ke sini, kau akan mati kehabisan darah,”
“Ohh…” katanya lagi lalu tersenyum sinis.
Ingin sekali aku menjitak kepalanya yang berambut merah itu.

“Chunji, dialah yang menyelamatkanmu,” kata dokter Sungmin.
“Arasso, dokter,” katanya lalu melihatku dari atas sampai bawah. “Kau…apakah punya maksud terselubung mendekatiku?”
“MWOO?? Maksud terselubung apa, ohng? Aku tidak mengerti akan perkataanmu,”
Aku sungguh sangat kesal dengan cowok tampan ini.

“Tara…aku perlu bicara denganmu,” kata dokter Sungmin padaku.
“Nee, dokter,”
**

Chunji POV…
Aku memandang sosok gadis cantik itu dengan senyum. Aku senyum melihat punggungnya yang hilang di telan pintu. Aku benar-benar mengucapkan syukur karena Tuhan tidak mengambil nyawaku ketika tabrakan itu terjadi. Ingatan terakhirku adalah ketika aku bertengkar dengan Niel. Ahh…aku benar-benar egois.

“Auchh…” kataku meringis kesakitan ketika mencoba menggerakkan kakiku. “Suster, apakah kakiku patah?”
“Tidak, hanya ada beberapa yang retak, namun sudah dioperasi. Kau akan di CT-scan setelah dokter Sungmin dan pacarmu, Tara, kembali ke ruangan. Selain itu, kau juga akan diterapi sebelum diperbolehkan pulang,”

“Suster, apa katamu tadi? Pacar? Gadis itu?”
“Nee~~ Chunji-ssi..kau sangat beruntung memiliki pacar seperti dirinya. Dia terus menunggumu di sini sejak kau masuk, kira-kira 1.5 bulan yang lalu. Setiap malam dia selalu tidur di sini. Aku benar-benar iri melihatmu,”

Apa katanya tadi? Gadis yang tidak aku kenal itu selalu menungguku di sini. Kenapa dia melakukan itu.

“Yaa~~” teriakku tidak sopan ketika gadis yang dimaksud suster masuk ke ruanganku. “Terima kasih,”
“Tara ssi, Chunji ssi, saya permisi dulu,”
“Nee, suster,” jawabku lalu menatapnya tajam. “Bicaralah yang sejujurnya,”
“Apa yang ingin kau dengar dariku, Chunji?”
“Semuanya,”
“Baiklah…”

Aku mendengar dengan seksama setiap kata yang diucapkan olehnya termasuk dia diputuskan pacarnya karena aku. Dia lebih memilih menungguiku daripada menemani pacarnya makan malam. Rasa bahagia masuk ke hati dan perasaanku mendengarnya.

“Sepertinya tugasku sudah selesai, Chunji ssi,” katanya mengagetkanku. “Selama terapi, kau akan ditemani oleh agensimu, TOP Media,”
“Tidak…aku tidak mau terapi kalau bukan kau yang menemaniku,”
“Mwo?? Yaa~~ kau akan dipindahkan ke rumah sakit Seoul, supaya penanganannya mudah dan cepat,”
“Tidak..Aku tidak mau. Kalau aku pindah ke rumah sakit Seoul, kau juga harus ikut,” kerasku.
“MWO??”
“Apa aku kurang jelas menanggapinya? Aku tidak mau terapi kalau bukan kau yang menemaniku. ARASSO??”
End of Chunji POV…
**

CAP POV…
“Hyung, kenapa Tara masih belum kembali?” cemas Changjo bolak balik seperti setrikaan.
“Terakhir dia menelponku, dia lagi di rumah sakit,”
“Bagaimana kalau kita susul saja ke sana?”
“Aku setuju dengan Ricky, Hyung,”
“Baiklah, kita sekarang ke sana,”




Aku, Changjo, dan Ricky bergegas menuju kamar temannya yang dirawat.
“Hyung, kita sudah bolak balik sampai 5 kali, apakah kau tidak tau kamarnya yang mana?” gerutu Changjo lalu berhenti. “Kau baca dulu sms Tara,”
“Baiklah,” kataku lalu membaca sms dari sepupuku. “Lantai 5, VVIP 3,”
“Hyuuunggg…sekarang ini kita berada di lantai 3. Neol jjinjja…” gerutu Ricky.
“Mianhae…Kalau begitu, kita naik lift saja,” usulku.
“Kami akan membunuhmu kalau kau ingin naik tangga,” sewot Changjo dan Ricky.

Beberapa menit kemudian kami bertiga sampai di lantai 5. Aku segera bertanya pada perawat agar tidak repot mencari mana kamarnya.
“Ohh..VVIP 3?”
“Nee~~”

Kami mengangguk ketika mendapat penjelasan dari suster penjaga itu. Kami segera mengucapkan terima kasih lalu berlalu dari hadapannya.

“Itu VVIP 3,” senangku.
Perlahan aku membuka pintu kamar dan berjalan masuk. Mataku terbelalak melihat sosok yang sedang menatapku.
“Chunji…”
CAP POV…
**

Chunji POV…
Mataku terbelalak melihat 3 sosok yang sangat aku kenal sedang berdiri di situ. Bagaimana mungkin mereka bertiga bisa mengetahui kamarku.

“Chunjiii…” teriak Changjo dan Ricky dengan binar mata bahagia. “Akhirnya kami menemukanmu,”
Mataku beralih pada sosok gadis yang menemaniku seharian yang tampak bingung dengan situasi ini. Ekspressi kaget terbaca dari wajah cantiknya.

“Yaa~~ Tara.. apakah kau memberi tau mengenai keadaanku pada mereka, ohng?” kataku.
“Aku?? Aku tidak tau kalau mereka mengenalmu, Chunji,”
“Jjinjja?”

“Chunji, benar apa yang dikatakan Tara, dia tidak tau mengenai Teen Top,” CAP Hyung menjawab pertanyaanku. “Aku senang sekali,”

“Maafkan aku,” kataku akhirnya. “Maafkan aku karena telah membuat kalian cemas,”
“Min Soo Oppa…”

Aku kaget mendengar gadis itu memanggil CAP Hyung dengan Min Soo Oppa. Rasa cemburu segera mengaliri perasaanku. Kembali perasaan takut itu muncul, takut kalau CAP Hyung akan mengambil Tara dari sisiku. Mataku mengilat marah ketika CAP Hyung menatap Tara dengan mesra.

“Hyung,” kataku dingin. “Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
“Mwo?”
“Ingat itu,”
End of Chunji POV…
**

“Astagaaaa…” kataku setelah Min Soo Oppa menjelaskan siapa mereka sebenarnya. “Pantas saja Ricky fobia akan wartawan,”

“Maafkan aku, sayang, karena tidak pernah memberitahumu mengenai pekerjaanku yang sebenarnya,” kata Min Soo Oppa mengatupkan tangan.
“Tidak apa-apa, Oppaku sayang,” kataku tersenyum lalu melihat ke arah Chunji yang sedari tadi berwajah masam memandang kami berdua. “Chunji, kenapa dengan wajahmu?”

“Aku? Tidak apa-apa, Tara. Hyung, ingat, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
“Yaa~~ aku sama sekali tidak meng..er..” kata Min Soo Oppa menggantung. “Ahh..Arasso..”

“Tara, keputusan ada di tanganmu,” kata Chunji tiba-tiba. “Aku tidak akan pindah ke Seoul kalau kau tidak mau ikut,”
“Chunji, kau jangan seperti ini. Aku ini bukanlah siapa-siapa. Kebetulan saja aku lewat ketika kecelakaan itu terjadi…”
“Kau tidak mau kan pengorbananmu sia-sia?” tanyanya yang menohokku.

Aku memandang Chunji penuh selidik. Bagaimana bisa dia mengetahui kata-kata itu. Kata-kata yang aku ucapkan sewaktu hubunganku dengan Donghyun Oppa putus.

“Kau tidak mau kan, Tara?” tanyanya lagi.
“Kau…”
“Aku mendengar semuanya…Kau menangis, kau mengenggam tanganku, dan saat air matamu jatuh ke tanganku..aku mengetahui semuanya, Tara,”

“Kau..menangis? Kenapa?”
“Ahh..itu…Oppa…” kataku lagi dengan senyum. “Donghyun Oppa meminta putus dariku karena dia akan menjalani training di Starship,”
“Apa bukan karena aku?” goda Chunji dengan senyum.
“Yaa~~ Chunji..Neol jjinjja…” makiku lalu mengetok kepalanya. “Pede sekali,”
“Aku memang pede, Tara. Aku senang kau berusaha belajar untuk mengenali diriku secara perlahan,”

“HAA???”
**

Di sinilah aku berada sekarang, TOP Media. Aku memutuskan untuk ikut pindah ke Seoul demi seorang cowok bandel bernama Chunji. Aku hanya bisa menganggukkan kepala ketika manajer Teen Top memperkenalkan seluruh staff manajemen Teen Top padaku.

“Teen Top itu terdiri dari 6 cowok tampan namun sedikit agak nakal. Selama di Busan, kau sudah mengenal 4 dari mereka,” kata manajer itu lagi. “Niel dan L.Joe, mereka juga tergabung dalam Teen Top.

“Annyeonghaseyo,” kata menganggukkan kepala lalu tersenyum. “Jung Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Senang bertemu denganmu, Tara. Niel imnida,”
“L.Joe imnida,”
“Kami mengucapkan banyak terima kasih karena kau menemani Chunji Hyung selama di Busan,”

Aku hanya tersipu malu mendnegar perkataan mereka.
“Aku pasti akan merepotkan kalian karena ikut ke Seoul,”
“Tidak, Tara,” kata manajer mereka. “Manajemen kami akan kalang kabut kalau kau tidak mengikuti keinginan bocah tengil ini. Kau akan tinggal di apartment Teen Top untuk sementara waktu. Kami akan bilang pada wartawan maupun fans kalau kau itu sepupunya CAP,”
“Aku benar-benar minta maaf kepada TOP media,”
“Tidak, Tara…Kalau kau tidak menyelamatkan Chunji, aku tidak tau bagaimana nasib Teen Top ke depan. Kami semua sudah menganggap kau bagian dari Teen Top,”
“Kamsahamnida,”
**

“Apartment kami ini terdiri 4 kamar. Changjo dan L.Joe sekamar, Ricky dan Niel sekamar. Aku dan Chunji satu kamar sendiri..”
“Hyung, Tara sekamar denganku saja,” celetuk Chunji tiba-tiba.
“MWO?? Yaa~~” kata Min Soo Oppa mengetok kepala Chunji gemas. “Tidak bisa…”
“Hyung, Tara kan ke sini karena Chunji,” kata Niel bijak. “Jadi, alangkah baiknya kalau mereka sekamar. Bukan karena apa-apa, kalau Chunji meminta sesuatu, Tara akan cepat membantunya…”
“Kalau begitu, aku saja yang sekamar dengan Chunji,” kata Min Soo Oppa lagi.
“Hyuuunggg… Aku sekamar dengan Tara ya? Aku janji…aku tidak akan melakukan apa-apa padanya…Jebaaalll…” bujuk Chunji dengan muka memelas.

Aku tersenyum melihat perdebatan 6 orang cowok tampan itu. Min Soo Oppa menghela nafas lalu melihat ke arahku.
“Apakah kau sudah memutuskan?”
“Kalau kau mengizinkan aku sekamar dengan Chunji, tidak masalah, Oppa…”
“Deuuu… Oppa…” goda Niel dan L.Joe bareng. “Romantis sekali,”
“Hyung, ingat…Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
Niel dan L.Joe langsung terdiam dan saling pandang.
“Mian,”

“Tentu saja aku ingat. Aku juga tidak mau kejadian itu terulang lagi. Kalau terulang lagi, siapa yang jadi korban selanjutnya, ohng? Babo.. Ya sudah, kalau begitu, aku mengizinkan kau sekamar dengan Tara, tapi tidak seranjang. Kita akan membeli kasur buat Tara. Ingat Chunji, kau tidak boleh seenaknya berkeliaran dengan boxer kesayanganmu. Changjo, Ricky..kalian tidak boleh keluar dari kamar dengan topless. Niel, L.Joe…Kalian berdua…kalau mau makan setelah mandi, jangan hanya memakai handuk.. Mengerti?”

Aku ternganga mendengar penjelasan dari Min Soo Oppa. Sangat menarik sepertinya kehidupan Teen Top.
“Dan kau, CAP Hyung…kalau mabuk, jangan menciumi kami sembarangan,” kata Chunji dengan jenaka.
“MWOO???” teriakku. “Oppa… neol… Aku tidak akan berdekatan denganmu kalau kau lagi mabuk,”
“Hahaha.. Tara.. Kau jangan khawatir..Paling itu sasaranku ya Chunji, Niel, dan L.Joe,”
“Yacckkkssss…”
**

Inilah yang tidak aku sukai. Aku harus berhadapan dengan wartawan. Menjawab semua pertanyaan dari mereka. Ketika aku jujur, mereka akan mempertanyakan kejujuranku. Ketika aku bohong, mereka akan memojokkanku. Serba salah jadinya. Saat ini, aku harus berhadapan dengan wartawan ketika aku menemani Chunji terapi di salah satu rumah sakit di Seoul.

“Tara ssi… Tara ssi…”
Aku hanya tersenyum menghadapi paparazzi itu.
“Teman-teman wartawan bisa mendapatkan penjelasan saat konferensi-pers yang akan dilaksanakan TOP Media nanti malam. Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan kalian sekarang,”
“Tara ssi..Chunji ssi…Apakah kalian saat ini memiliki hubungan khusus?”

Aku melihat Chunji memintaku berhenti.
“Tentu saja..Aku dan Tara memiliki hubungan khusus. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan 1.5 bulan di rumah sakit Busan sewaktu aku dirawat. Tara selalu menjagaku setiap malam. Maaf, aku harus masuk sekarang karena jadwal terapiku sudah dimulai. Permisi,”

Aku mengangguk lalu mendorong kursi roda Chunji masuk ke dalam rumah sakit. Chunji akan menggunakan kursi roda selama kakinya belum bisa digerakkan.

“Tara, maafkan aku karena kau harus terbiasa berhadapan dengan wartawan,” kata Chunji pelan.
“Tidak apa-apa, Chunji,” kataku tersenyum.

“Dokter..sangat sakit sekali,” kata Chunji tertatih berjalan saat terapi lalu terjatuh.
“Chunjii..” teriakku lalu membantunya berdiri. “Apakah kau baik-baik saja?”
“Tentu…Kau jangan khawatir,” katanya lagi lalu kembali mencoba berjalan.

Aku melihat ekspressi Chunji yang kesakitan membuatku ingin menangis seakan aku merasakan sakit yang dia rasakan.

“Dokter, apakah harus seperti ini?” tanyaku bergetar.
“Aku mengerti kekhawatiranmu, Tara-ssi. Awalnya memang seperti ini. Percayalah…Pacarmu memiliki semangat yang luar biasa,”
“Pacar?”
“Nee…Cowok tampan ini pacarmu kan?”
“Haa???”

Aku ternganga mendengar perkataan dari dokter yang menemani Chunji terapi. Pacar? Siapa? Cowok tengil berambut merah ini? Chunji?

“Tara…” suara Chunji terdengar. “Apakah kau tidak keberatan menungguku sampai jam 12?”
Aku melihat ke arah jam tangan. Jam 12, berarti masih 2 jam lagi. Aku mengangguk lalu tersenyum.
“Gomawo,”
**

L.Joe dan Niel sedang menghabiskan waktu senggangnya dengan pacar mereka di sebuah cafe dekat agensi mereka. Mereka berempat tampak menikmati meskipun beberapa fans menganggu waktu kencan mereka.
“Gomawo, Oppa…” kata beberapa fans yang dilayani untuk foto bareng dengan mereka.
“Nee…” jawab Niel tersenyum. “Kalian berhati-hati pulangnya ya,”
“Nee, Oppa..”

“Chunji sudah kembali,” suara L.Joe terdengar. “Aku senang sekali, Chunji sudah bersikap seperti biasa,”
“Nee, Oppa, aku juga mendengar berita itu dari televisi,” ujar Hae Mi lalu menatap L.Joe dengan sayang. “Apakah Chunji sudah bisa memaafkan kita?”

L.Joe dan Niel hanya menghela nafas lalu tersenyum masam.
“Dia tidak pernah membahas masalah itu lagi. Sejak dia pulang sampai sekarang, hubungan kami sudah mulai membaik, tapi aku tidak tau di dalam hatinya,”
“Oppa…” kata Eun Min lalu mengenggam tangan kekasihnya lembut. “Kita harus meminta maaf padanya,”
“Jangan sekarang. Saat ini dia disibukkan dengan jadwal terapi untuk kakinya..”
“MWO???”
“Nee.. Dia mengalami kecelakaan di Busan, satu hari setelah pertengkaranku dengannya. Aku…benar-benar merasa bersalah. Saat ini, aku hanya terus berdoa agar gadis itu tidak menyakiti Chunji,”
“Gadis itu?” bingung Hae Mi dan Eun Min bareng. “Nugu, Oppa?”

“Jung Tara…gadis cantik yang selama 1.5 bulan menemani Chunji sewaktu dirawat di Busan. Ternyata, Tara itu sepupunya CAP Hyung,” jawab Niel pelan.
“Tara? Kenapa dia bisa menemani Chunji?” penasaran Eun Min.
“Tara…gadis itu yang menyelamatkan Chunji sewaktu kecelakaan terjadi. Lokasi kejadian kecelakaan ternyata tidak jauh dari apartmentnya. Kami semua benar-benar berhutang budi pada Tara. Kalau dia…kalau dia tidak ada di sana..mungkin…mungkin Chunji sudah berada di surga sekarang,” sedih L.Joe meneteskan air mata.

“Tapi sepertinya Chunji tidak tau kalau Tara itu sepupuan dengan CAP Hyung. Matanya selalu mengilat marah ketika Tara dan CAP Hyung mesra-mesraan. Kadang, aku ingin tertawa melihat adegan mereka bertiga,” ujar Niel tertawa.

“Kami ingin sekali berkenalan dengan Tara, Oppa. Bolehkah?”
“Asal kalian tidak bertemu dengan Chunji, tidak apa-apa. Chunji kan tidak ingin kalian muncul di hadapannya,”
“Kami mengerti, Oppa,”
**

“Chunji~ahh.. Aku tidak ingin ikut ke KBS. Sudah cukup wajahku muncul saat konferensi-pers kalian. Aku tidak ingin membuat heboh di sana,”
“Kenapa, Tara?” tanya Changjo lalu menatapku.
“Aku takut, artis-artis di sana bakal menyukai aku,”
“MWO???” kata Chunji lalu menatapku dalam. “Demi Tuhan, Jung Tara, kau sungguh narsis sekali,”
“Narsis itu daya tarikku, Chunji,” kataku menjiplak kata-katanya.
“Oh goshh…” kata Changjo geleng-geleng kepala. “Kita kedatangan 1 makhluk narsis lagi. Oh my,”

“Taraaaa…” suara sang manajer terdengar. “Kau tidak keberatan kan ikut ke KBS?”
“Manajer Oppa…” kataku menatapnya. “Aku tidak mau ikut. Aku yakin, nanti pasti heboh di sana,”
“Jebaalll…”
“Tara, ayolah…” kata Min Soo Oppa membujukku.
“Baiklah…baiklah…dengan syarat, kalian harus melindungi aku,”
“Aku yang akan melindungimu,” kata Chunji menatapku.
“Kamsahamnida,”




“HAAAA??? Aku? Aku juga ikutan rehersal? AKUU???” kagetku.
“Nee…” jawab manajer oppa.
“Oppa… Aku ini bukan siapa-siapa. Fans Teen Top banyak di sana. Nanti netizen akan berkomentar yang macam-macam. Oppa.. aku ini gadis biasa,”
“Aduuhhh…bocah iniii… Mulai saat ini, kau bagian dari Teen Top. Arasso?”
Aku mengangguk pasrah lalu duduk di sebelah Chunji.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau ikut naik ke atas panggung, Tara?” tanya Chunji menatapku.
Aku melihat dirinya yang sudah didandani. Betapa tampannya dia. Aku melirik ke kakinya. Aku menghela nafas lalu melihatnya dan tersenyum.
“Aku takut…semua fans-mu marah gara-gara aku selalu berada di sekitarmu,” kataku pelan. “Aku…”
“Semua fans sudah menerima kamu. Mereka malah memintamu selalu berada di sekitarku, Taraku sayang,”
“Chunji…” kataku pelan. “Apakah nanti…ketika kakimu sudah sembuh dan tidak butuh bantuanku lagi untuk berjalan, apakah kau akan melupakanku?”
“Tidak…aku tidak akan melupakanmu. Kalau itu terjadi, lebih baik aku tidak usah sembuh saja,”
“Andwae..andwae.. Maafkan pertanyaan bodohku itu. Fighting untuk comeback stage-nya ya,”
**

Donghyun POV…
Aku tampak terkejut melihat sosok gadis yang kini berada di hadapanku. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih saat ini. Gadis itu…gadis yang selama ini selalu berada di pikiranku muncul dengan seorang pria tampan yang merupakan salah satu member Teen Top sunbaenim. Aku tersenyum ketika gadis itu menyunggingkan senyumnya.

“Donghyun Oppa…astagaaa.. kau tampak tampan sekali,” katanya memujiku lalu berjalan mendekatiku dan tanpa pikir panjang dia memelukku. “Aku kangen sekali padamu, Oppa,”
“Kenapa kau bisa berada di sini?” tanyaku.
“Karena dia, Oppa,” jawabnya lalu kembali ke sebelah cowok tampan itu.

Aku menganggukkan kepala ketika cowok berambut merah itu menganggukkan kepala.
“Jadi kau yang bernama Donghyun Oppa?” kata cowok tampan itu. “Akhirnya aku bisa melihatmu juga,”
Aku tertawa mendengar perkataannya dan tersenyum. “Namaku bukan Donghyun Oppa, namaku Kim Donghyun,”

“Donghyun Hyung…sebentar lagi giliran kita yang perform,” kata Minwoo mengingatkanku.
“Oh..iyaa…” kataku mengangguk. Mataku beralih pada mereka berdua dan berjalan mendekati cowok tampan itu lalu membisikkan sesuatu. “Aku titip Tara padamu. Jangan buat dia menangis lagi,”

“Nee~~ Percayalah padaku,”
“Tara, aku tidak bisa berlama-lama, kalau ada kesempatan, kita ketemuan lagi ya,”
“Oke, oppa.. Fighting…”
End of Donghyun POV…
**

“Min Soo Oppa…” kataku memanggil namanya lalu duduk di sebelahnya. “Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”
“Silakan,” katanya lalu menutup majalah yang dia baca dan melihat ke arahku.
“Oppa… Apa maksud perkataan Chunji “aku tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi untuk ketiga kalinya”?”
“Haa??”

Aku melihat ekspressi kaget di wajahnya. Namun dia berusaha untuk menutupinya dengan senyum manisnya.
“Tara, beberapa bulan lalu, Chunji berkenalan dengan seorang gadis. Wajah Chunji selalu tersenyum karena gadis itu. Ternyata, Chunji hanya dipermainkan oleh gadis itu, Tara,”
“Dipermainkan?”
“Nee..Gadis itu ternyata menyukai L.Joe,”
“Haa??”
“Chunji dan L.Joe kan akrab, jadi ya gadis itu mendekati sahabatnya L.Joe. Betapa marahnya Chunji pada saat itu, namun, kemarahan itu bisa ditahannya demi Teen Top. Setelah itu, Chunji kembali dekat dengan seorang gadis. Namun, lagi-lagi Chunji menelan pil pahit Tara, gadis itu ternyata mendekati Chunji untuk bisa berdekatan dengan Niel,”
“MWO?”
“Kecelakaan kemaren itu, puncak kemarahan Chunji pada Teen Top, Tara. Satu hari sebelumnya, dia memutuskan untuk hengkang dari Teen Top karena emosi masih menguasai dirinya,”

Aku terhenyak mendengar cerita dari Min Soo Oppa mengenai Chunji. Cowok itu selalu menampilkan senyumnya di depan kami semua ternyata dia menyimpan luka yang amat dalam di hatinya.

“Tara…” kata Min Soo Oppa mengenggam tanganku. “Aku mohon padamu, jangan membuat Chunji tersakiti untuk ketiga kalinya,”
“Min Soo Oppa, apa maksudmu?” tanyaku kaget.
“Seperti yang diberitakan, kau dan Chunji memiliki hubungan khusus, jadi, aku tidak ingin melihat air mata dan luka pada diri Chunji,”

BRAAKKK…BRAAAKKK…

Aku dan Min Soo Oppa segera melihat ke arah pintu. Chunji berdiri di sana dengan mata yang mengilat marah. Changjo dan Ricky hanya bisa mematung melihat kemarahan Chunji.

“Jadi ini maksudnya, Tara,” makinya tinggi. “Kau mendekatiku karena CAP Hyung, ohng?”

Aku melepaskan genggaman tangan dan berjalan mendekatinya.
“Apa maksud perkataanmu?” kataku tenang.
“Kau…dan dia..” tunjuknya. “Kau mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan dia kan, Tara?”
“Aku??”
“Iyaa… Aku tidak habis pikir… Kau selalu mengikuti perkataan Hyung karena…karena..karena kau mencintainya,” makinya dan matanya berair. “Aku kecewa pada kau, hyung, kau selalu bilang “arasso” tapi apa…kau mengkhianatiku,”

“Ada apa ini?” tanya Niel dan L.Joe lalu masuk ke dalam. “Chunji…Hyung…Tara… Ada apa ini?”
“Diamlah kalian berdua,” bentak Chunji pada Niel dan L.Joe.

Aku benar-benar sedih mendengar perkataannya. Aku benar-benar kecewa saat ini. Air mataku menjadi saksi kekecawaanku pada Chunji. Apakah dia tidak bisa membaca semua yang aku lakukan?

“Chunji…jaga kata-katamu,”
“Ohh… kau mau membela Tara, ohng?”

Akupun menghadiahi Chunji sebuah tamparan.
“Dengar Chunji…aku tidak perlu mendekati siapapun termasuk kamu untuk seorang Min Soo Oppa..tanpamu pun, aku bisa. Kau tau, aku lebih dulu mengenal Min Soo Oppa daripada kalian. Aku memang mencintainya…aku memang mencintai Min Soo Oppa. Aku selalu mengikuti kata-katanya karena…aku ini adik sepupunya Min Soo Oppa. Hanya dia yang aku miliki di Korea, Chunji. Hanya dia, seorang Min Soo Oppa,” makiku bergetar lalu bergegas keluar.

“Tara..Tara…” Changjo menahan langkahku.
“Aku melakukan ini semua demi kau, Chunji. Akupun rela putus dari Donghyun karena kau. Aku ikut ke Seoulpun hanya karena kau. Demi kau, Lee Chanhee. Apakah kau tidak bisa membaca semuanya, ohng?”

“Tara…dinginkan kepalamu dulu,” ujar Changjo memegang lenganku.
“Lepaskan tanganmu dari lenganku, Changjo,” kataku menatap Changjo dengan mata yang basah. “Biarkan aku pergi untuk mendinginkan kepalaku,”
“Tapi kau tidak punya siapa-siapa selain kami, Tara,” kata Ricky.

“Aku kecewa padanya. Tolong sampaikan padanya, terima kasih untuk semuanya,” kataku lalu dengan pelan melepaskan tangan Changjo. “Min Soo Oppa…sampaikan terima kasihku pada Manajer Oppa, permisi,”

“Tara..Tara.. yaa~~ Jung Tara…” teriak Min Soo Oppa lalu mengejarku.
**

“Babo,” kata Niel tinggi pada Chunji yang terduduk di sofa. “Kau babo, Chunji,”
“Diamlah,” maki Chunji.
“Saat ini aku tidak akan tinggal diam, Chunji,” kata Niel lagi. “Kau meragukan ketulusan Tara? Tsk..tsk.. Apakah kau tidak bisa membaca semua ini? Dia melakukannya demi kau. Aku tau, kau masih menyimpan rasa trauma pada gadis yang mendekatimu, tapi…seorang Tara yang sama sekali tidak mengenal Teen Top? Kau juga ragu padanya, ohng? Tatapannya padamu dengan tatapannya pada CAP Hyung berbeda. Dia memang mencintai Hyung, bahkan sangat mencintai Hyung,”

“Chunji…” kata Ricky lalu duduk di sebelahnya. “Selama beberapa hari aku di Busan, aku merasakan kehangatan dan ketulusan saat dia menjagamu di rumah sakit. Dokter Sungmin mengatakan semuanya. Dia menangis saat kau masuk ICU. Dia segera menanyakan “apakah cowok itu akan meninggal”. Dia selalu bilang tidak bisa ketika sang pacar mengajaknya untuk makan malam karena kau. Kau tau…dia selalu keliling Busan untuk mencari tau mengenai keberadaan keluargamu. Betapa bodohnya kau karena curiga seperti ini,”

“Satu hal lagi…kami bisa menerima kabar dari kepolisian Busan mengenai keadaanmu karena da mencari tau data dirimu dari motor yang kau pakai. Dia mencatat nomor polisi motormu dan segera ke kepolisian Busan. Usaha itu memakan waktu 1 bulan lebih,” jawab L.Joe pelan.

“Wajar, Hyung, dia dan CAP Hyung seperti itu. Mereka bersaudara. CAP Hyung, semenjak orang tuanya meninggal, dia tinggal di keluarga Tara…” kata Changjo pelan. “Minta maaflah padanya dan CAP Hyung,”
**

“Taraaa…” suara Min Soo Oppa terdengar di belakangku. Aku berbalik badan dan melihat dirinya berkeringat karena mengejarku.
“Kenapa kau mengejarku?” kataku dingin. “Lebih baik kau urusi saja adikmu itu,”
“Karena kau yang menjadi prioritasku, Tara. Kembalilah ke dorm,”
“Aku tidak mau kembali ke sana, Oppa,” kataku pelan lalu duduk. “Aku capek seperti ini, Oppa. Aku capek. Aku mau kembali ke Busan saja,”
“Apartmentmu yang di Busan kan sudah disewakan…”
“Aku bisa tinggal di rumahnya dokter Sungmin,”
“Tidak Tara… Aku tidak akan mengizinkan kau kembali ke Busan…”
“Kau siapa yang berhak melarangku, ohng?”
“Taraaaa… Neol…Oke, aku mengerti perasaanmu yang kecewa padanya. Apakah kau mulai mencintainya?”

Aku terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Pundakku disentuh olehnya.
“Kau sudah mulai mencintainya, Tara,”
“Molla…”
“Aku percaya kau akan kembali ke dorm. Kalau kau tidak kembali, Manajer Hyung bisa membunuhku dengan kemarahannya,”
“Aratta,”
**

“Waahhhh…ternyata Jung Tara itu cantik sekali ya,” puji Hae Mi saat mereka menonton siaran ulang konferensi pers oleh TOP Media di cafe. “Pantas saja Chunji tidak ingin kehilangan dia,”
“Aku berharap, Niel tidak jatuh hati padanya,”
“Yaa~~ aku rasa Tara bukanlah gadis yang suka menggoda laki-laki. Wajahnya polos sekali,”
“Hahaha…” kata Eun Min menertawakan kebodohannya. “Chunji pasti tidak akan mengizinkan gadisnya untuk menggoda lelaki di sekitar mereka. Yaa~~ Hae Mi…bukankah gadis itu Tara?”
“Eodi?”
“Itu. Gadis yang duduk di meja nomor 4,” tunjuk Eun Min yang diikuti Hae Mi.
“Benar…Ayo kita ke sana,”
“Geundae…”
“Kalau kau tidak mau, aku saja,”
“Baiklah,”

Akhirnya 2 gadis cantik itupun berjalan menuju meja nomor 4.
“Jung Tara ssi,”
**

“Jung Tara ssi,” suara seseorang memaksaku untuk berhenti melamun. Aku tersenyum melihat 2 gadis cantik berdiri di hadapanku.
“Nee?” bingungku.
“Hmm…boleh kami bergabung denganmu?”
“Ohh…” kagetku lalu meminta mereka segera duduk. “Apakah aku kenal dengan kalian?” tanyaku. Kedua gadis yang duduk di depanku menggeleng lalu tersenyum.
“Tidak, Tara…kau tidak mengenal kami,” jawab gadis manis berkacamata. “Namaku Hae Mi, Park Hae Mi,”
“Namaku Eun Min, Tara, Park Eun Min,”
“Hae Mi..Eun Min…” kataku pelan sambil menatap mereka berdua. “Chun..ji?”
“Nee~~ Mungkin kau sudah mendengar cerita mengenai kejahatan kami padanya,” lirih Eun Min.
“Ahhh…aku sudah mengetahuinya,” jawabku.

“Kau dan Chunji?”
Akhirnya aku menjelaskan kisahku mulai dari awal sejak bertemu dengan cowok tengil itu sampai bertengkar dengannya.

“Taraaaa…” sahut Eun Min lalu tersenyum. “Itulah yang akan dilakukan Chunji kalau dia melihat gadis yang dicintai dan disayangi bermesraan dengan cowok lain apalagi sahabatnya,”
“Karena Chunji tidak tau mengenai kau dan CAP Oppa,”
“Molla,”
“Kembalilah padanya, Tara, kami tidak ingin kau menjelma seperti kami yang menyakitinya. Sudah cukup, kami berdua saja yang menyakiti Chunji…”
“Tapi Eun Min…”
“Kau mencintainya,” kata Eun Min lalu mengusap air mataku. “Buktinya ini,”
“Kau menangis karena dia, Tara. Kembalilah sebelum terlambat,”

Aku hanya menatap kedua gadis itu dengan kosong.
**

Aku mengalahkan emosiku demi Chunji. Yaa.. Aku melakukan semua ini hanya demi cowok berambut merah itu. Aku menganggukkan kepala ketika semua mata member TeenTop termasuk dirinya melihat ke arahku. Aku merasakan, tatapan mereka semua mengikutiku lalu menghembuskan nafas lega.

“Apakah kalian sudah makan?” tanyaku dingin.
“Belum, Tara,” jawab Ricky lalu berdiri. “Aku akan membantumu memasak,”
“Yaa~~ Yaa~~”
“Aku akan mendekatinya kalau kau tidak segera,” jawab Ricky lalu menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke dapur.

“Ricky…” suara Chunji terdengar. “Tolong tinggalkan kami berdua,”
“Tapi, Hyung…” kata Ricky ngotot namun menganggukkan kepala dan segera keluar dari dapur.

Aku tidak menggubris kehadirannya. Aku terus membelakangi dirinya. Aku mendengar dia menarik kursi lalu menghela nafas. Kembali aku mendengar dia menarik kursi lalu memelukku dari belakang. Aku membiarkan tubuhku dipeluk oleh dirinya.

“Kenapa?” tanyaku menghentikan kegiatanku ketika mendengar isak tangisnya.
“Aku takut kehilanganmu, Tara…Maafkan aku.. Maafkan kebodohanku,” katanya.
Aku berbalik badan dan segera memeluk dirinya lalu mengusap-ngusap punggungnya untuk memberikan ketenangan. Aku melepaskan pelukanku lalu memberikan tissue padanya dan tersenyum.
“Kau jelek kalau menangis,” kataku tersenyum.
“Tara…” katanya lalu menatapku dalam. “I was born to be yours,”
“Haa??”
“Pasca kecelakaan itu…aku seperti terlahir kembali..Tuhan “melahirkanku” lagi karena untuk berpasangan dengan salah satu malaikat-Nya,”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku menikmati ketika tanganya menyentuh wajahku. Aku senang sekali ketika dia mengecup mesra keningku.

“Aku tidak akan menyentuh bibirmu sebelum kau resmi menjadi milikku,” katanya lagi.
Aku segera mengecup bibirnya sekilas lalu tersenyum.
“Mian, aku mencuri bibirmu, Chunji,”
“Kau…anak nakal…” kata Chunji lalu memelukku dengan erat.

“Yaa~~ Yaa~~ kalian berdua…” ujar Changjo dan Ricky bersama. “Apakah kalian tidak malu bermesraan di hadapan kami semua, ohng?”

Aku dan Chunji segera melihat ke arah pintu. Benar saja, 5 makhluk ajaib berada di sana dengan wajah yang siap menggoda.

“Nanti kita lanjutkan ya, sayangku,” kata Chunji lalu mengusir 5 makhluk ajaib itu. “Tara,,,i was born to be yours,”

::::FIN::::

5 thoughts on “[FanFict] Born to be Yours

  1. dumz!!!
    i love this fic! especially karena ada Chunji darlaaa wkwkwkwk
    walopun pada akhirnya aku sama Niel ;DD
    tak apalah yang penting Chunji bahagia sama Tara
    #noonasarap
    tapi kurang adegan NC nih agaknya lolol

    tiap baca ffmu aku selalu nunggu2 ada konflik apa yah
    soalnya konfliknya selalu keren n rame hehehe
    keep writing say!

  2. Ahaha terhibur bgt nih xD
    ‘aku tidak butuh’ ciee chunji lol!!
    Akakak jahat bgt ini eunmi sm haemi sueer.
    Keep writing kak.cayo cayo!!
    Deg deg pas haemi berduaan ama eljo di cafe kekeke

  3. @wookietis: hahahahaha… akhirnya dirimu baca juga ya dan komen
    makasi banyak ya, say…
    kyaaa~~ ini mah kagak FF NC lho 😀

    masa siey konfliknya selalu rame? puji Tuhan deh kalo gtu

    @vemysuryo: kiss..kiss…dlu..
    dirimu trhibur? alhamdulillah klo trhibur
    hahahaha…bagus kah critanya?

  4. wuaahhhh
    tara sepupuan ama minsoo, enak bnr ampe bs mesra2an
    chunji kasian yah, uda byk yg ninggalin dy demi ljoe ama niel
    tp untungnya dy dpt tara. ampe tara putus dr pacarnya
    tara d tiap ff narsis ye
    lol
    bagus onn, buat lg yah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s