[FanFict] Get Married, Am I? (Part 1)

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator

 

::::::::::
Title: Get Married, Am I?
Cast: Onew, Jung Tara, Park Hae Mi, Silvana Park
Cameo: rest of SHINee, Yesung, Nunmi, Doojoon, Jinwoon, Seulong, Minhyuk, TeenTop, dan Minwoo
Disclaimer: SHINee dan Yesung belong to SM Ent., Jinwoon dan Seulong belong to JYP Ent., Doojoon belong to Cube Ent., Minhyuk belong to FNC Music., Teentop belong to TOP Media., Minwoo belong to Starship., Jung Tara, Park Hae Mi, Silvana Park, Nunmi belong to cloudyeppeo Ent.

 

::::::::::

“Tara…apa yang sedang kau lakukan?” tanya asistenku, Nunmi, lalu melihat ke layar komputer. “Masih saja kau melihat-lihat foto mereka?”

Aku mengangguk lalu tersenyum lebar. “Ini hasil karya terbaikku tau. Khuntoria, siapa yang tidak mengenal mereka.. Betapa hebatnya aku bisa membantu mereka sewaktu pemotretan di Bali,”
“Sebenarnya, Cloudyeppeo Entertainment ini punya link dengan agensi di Korea kah?”

Aku memandang cewek cantik berkacamata yang memasang wajah penuh keingintahuan itu dengan senyum. Akupun mengeluarkan map biru dari laci dan memberikan padanya.
“Bacalah ini,” kataku lalu mataku beralih ke layar komputer. Kali ini, layar komputerku menampilkan fotoku bersama Nickhun dan Victoria. Lagi-lagi lengkungan ke atas di bibirku tercipta.

“Tara…berarti company kita ini dibawah naungan Cube Entertainment?” tanya Nunmi lagi.
“Iya, penanggung jawab utama kita atau bisa disebut Chief President kita ini Papa Hong…”
“Papa Hong? Siapa?”
“Wahhh…aku tidak tau siapa nama lengkapnya, yang jelas, aku memanggilnya Papa Hong,”

Aku tersenyum melihat gadis itu manggut-manggut dan mengembalikan map biru itu padaku.

“Tara, bukankah kau harus berangkat ke Gili Trawangan sekarang? Silvana Park dan Andromeda sudah menunggu di sana,”
“Mwo?” kagetku lalu melihat ke jam tanganku. “Mati.. Aku titip kantor padamu ya. Aku minta tolong telponin yacht kita agar ready ketika aku sampai di sana,”
“Beres…”
**

Pemotretan pun berjalan lancar. Aku sangat senang sekali bekerja sama dengan Silvana Park. Ini kali kedua aku bekerja sama dengannya. Silvana Park, artis baru namun sikap profesional akan kerja sudah sangat bagus.

“Tara, senang sekali aku bisa bekerja sama denganmu lagi,” ujarnya disela-sela waktu istirahat.
“Ahh…harusnya aku yang bilang seperti itu, Silvana,” kataku malu-malu lalu tersenyum. “Apakah kau tidak ingin berenang?”
“Aku tidak ingin buat kehebohan di sini. Para wisatawan lokal maupun mancanegara sudah banyak berkerumun di sekitar kita,”

Aku melihat sekeliling. Benar katanya. Sudah banyak orang berkerumun sambil memegang kamera untuk mengabadikan seorang Silvana Park.

“Kau benar,” kataku lalu mengangguk.
“Tara,” aku menoleh ke samping. Wajah sang manager, Andromeda, tersenyum melihatku lalu memberikan sebuah amplop. “Itu titipan dari Hong,”
“Papa Hong?” tanyaku tidak percaya.
“Nee~~ Papa Hong-mu menitipkannya padaku agar kau belajar bahasa Korea,”
“Haaa??? Aku?? belajar bahasa Korea?”
“Aku tidak bisa menjelaskan lebih detail, sebaiknya kau menelepon Papa Hong-mu, Tara,”
“Aku mengerti. Terima kasih,”
**

Aku duduk di meja kerjaku dengan lemas. Pembicaraanku dengan Papa Hong melalui telpon sangat mengejutkanku. Aku diminta untuk ikut sebagai talent di acara salah satu Channel TV Korea, MBC. Syuting acara itu akan dimulai 6 bulan lagi, oleh karena itu aku diharuskan belajar bahasa Korea.

“Tara, aku tidak menemukan tempat les bahasa Korea di Senggigi,” kata Nunmi pelan.
“Arghhh…Kenapa harus aku? Kenapa bukan kau, Nunmi, yang harus ikut acara itu?” kesalku.
“Apakah kau lupa? Aku masih baru di sini, Tara, jadi mana mungkin bisa ikut,”
“Anyway, kau bisa berbahasa Korea kan? Kau kan pernah bekerja selama setahun di sana, kan?”
“Haa?? Aku?”
“Aduhh…Nunmi…kau dipilih ama Papa Hong untuk masuk ke sini karena bisa berbahasa Korea disamping kau cantik dan memiliki ide-ide yang brilian untuk pemotretan,” kataku dengan puppy eyes. “Jadi, kau ajarkan aku,”
“Taraa…”
“Aku janji, aku akan membawa Choi Minho ke sini agar kau bisa melakukan apa saja dengannya. Bagaimana?”
“Mwoya?? Choi Minho? Hahahaha…” kata Nunmi senang. “Baiklah, aku akan memegang janjimu,”
“Bagus. Terima kasih,”
**

Kini, hari-hariku di Cloudyeppeo Entertainment makin berwarna. Setiap hari, aku harus menyediakan lebih kurang 4 jam untuk belajar bahasanya Papa Hong. Demi Tuhan…Memang aku ada darah Korea yang mengalir di tubuhku, namun, Papaku tidak pernah menggunakan bahasa Korea ketika berkomunikasi dengan kami. Beliau lebih senang menggunakan bahasa Inggris.

Kepalaku sudah butek karena tulisan-tulisan unik bin ajaib tengah mengantri masuk ke otakku. Aku hanya melihat Nunmi yang masih semangat mengajariku.
“Tara…ini dibaca Saranghaeyo…” katanya menunjuk sebuah tulisan di kertas itu. Aku mengikutinya. “Sa..rang..hae..yo,”
“Ohh…ini dibaca Sa..terus ini dibaca Rang…” kataku lalu melihat padanya. “Jadi, bulat kecil di bawah itu dibaca “ng” begitu?”
“Aku tau kalau kau bisa cepat belajar,” senangnya lalu tersenyum. “Aku punya hadiah untukmu,”

Aku ternganga melihat 2 buku lumayan agak tebal sudah teronggok di atas meja. Aku mengambil satu buku yang berada di atas. Buku bersampul biru itu bertuliskan “Tata Bahasa Korea”. Aku tersenyum miris ketika tanganku membuka lembar demi lembar dari buku itu.

“Baiklah, Nunmi,” kataku akhirnya. “Waktu belajar bahasa Korea hari ini kita akhiri saja,”
“Kau kan baru belajar 2 jam?”
“Aku mau ke Pantai Senggigi. Apakah kau lupa, kau sudah menandatangani kontrak untuk pemotretan Super Junior KRY di Coconut Cafe? Jadi, kau harus mencari spot di sana untuk dilaporkan ke SM Entertainment,”
“Astagaaa..Untung kau mengingatkanku,” kata Nunmi panik lalu segera mengambil tas kerjanya. “Paaakkk…antarkan aku ke Coconut Cafe,”

Aku tersenyum melihat kepanikannya. Memiliki partner kerja seperti dirinya merupakan kesenangan tersendiri. Dia serba bisa. She is special, begitulah kata-kata yang selalu aku ucapkan ketika ditanya apa pendapatku memiliki partner kerja seperti Nunmi.
**

Aku mengalami kemajuan pesat dalam belajar bahasa Korea meskipun kadang masih ada tata kalimat dan pengucapan yang salah. Kini, aku tidak perlu lagi menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan Silvana Park.

“Wahh…kau sudah bisa berbahasa Korea sekarang,”
“Nee~~ aku belajar otodidak dengan partner kerjaku,”
“Ahh…Nunmi maksudmu? Gadis itu istimewa sepertinya,”
“Sangat,” kataku tersenyum. “Silvana, kapan kau balik ke Korea?”
“Kalau tidak salah 2 hari lagi. Waeyo?”
“Anii…aku mau menitipkan sesuatu pada Papa Hong. Gwenchana?”
“Gwenchana,”
“Kamsahamnida,”
“Cheomaneyo,”
**

6 bulan kemudian…
“TARAAAAA~~~” teriak Nunmi kencang mengagetkanku.
“Wae geurae?” tanyaku melotot padanya.
“Email dari Papa Hong. Beliau memintamu menelponnya sekarang juga,”
“MWO??
“Jigeum..”

Aku mengangguk lalu segera menelpon Papa Hong. Aku segera berbicara ketika sebuah suara di seberang mengatakan “Yoboseyo”.
“Nee~~ Yoboseyo… Papa Hong… Ohhh…Kamsahamnida…” kataku lalu meletakkan telepon dan memandang Nunmi. “Papa Hong lagi ada rapat direksi untuk membahas acaranya MBC,”

Aku kaget karena bingung melihat eskpresi Nunmi yang kaget di depan laptop mungil miliknya. Aku ikutan melihat ke sana untuk mengetahui apa yang sedang dibacanya.

“Yaa~~yaa~~ bisakah kau menjelaskan ini artinya apa?” tanyaku.
Nunmi menjelaskan arti dari artikel yang sedang terpampang di hadapan kami. Aku mendengar dengan seksama.

“MWOO?? We Got Married??? Aku??”
“Nee~~ Namamu disebut di sini, yang akan menjadi talent acara WGM, namun, pasangannya masih menjadi rahasia. Chukae,”
“Tidak Nunmi..Tidak..ini pasti bohong kan?”

“Tara..ada telepon buatmu, Papa Hong,” panggil sekretaris.
“Terima kasih,” kataku lalu meninggalkan Nunmi untuk menjawab telepon. “Nee~~ Papa Hong,”
**

Seoul, South Korea…
Beberapa wartawan sudah berkerumun memenuhi pintu masuk gedung MBC. Fans WGM juga ikutan berkerumun. Mereka semua ingin mencari tau kelanjutan WGM yang akan melibatkan agensi Cube Entertainment. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi talent pada acara WGM Spesial kali ini.

“Hong ssi…” wartawan dan fans segera berdesakan ketika Hong-ssi, Executive Producer dari Cube keluar dari gedung MBC. “Siapa yang akan menjadi talentnya? Bisakah kau membocorkannya?”

Pria tampan itu tersenyum lalu diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari mereka.
“Well…apakah kalian ingat akan Cloudyeppeo Entertainment yang ada di Indonesia?”
“Nee~~anak perusahaan dari Cube untuk membantu artis-artis Korea yang akan melakukan pemotretan di Indonesia kan?”
“Benar…Talentnya merupakan best-staff dari Cloudyeppeo.. Jung Tara atau dikenal dengan Tara Vanika,”
“Tara Vanika?”
“Kalian tenang saja. Hari ini dia berangkat dari Indonesia, setelah dia sampai, kami akan segera mengadakan konferensi pers,”
“Kami mengerti, terima kasih akan waktunya,”
**

Akhirnya aku sampai juga di Seoul setelah menempuh perjalanan lebih kurang 10 jam. Aku bingung ketika sampai di pintu keluar banyak sekali fans yang berkerumun sambil membawa spanduk SHINee dan meneriakkan nama member SHINee. Aku segera melihat ke belakang ketika teriakan pada fans semakin menggila. Benar saja, Jonghyun, Taemin, dan Minho keluar dari sana. Aku segera menepi agar mereka bisa lewat dengan aman. Namun, mereka berhenti tepat di depanku sambil tersenyum.

“Tara..kok kau bisa berada di Seoul?” sapa Jonghyun mengagetkanku. Para fans semua segera mengabadikan moment itu dengan kameranya.

Aku yakin 100%, nama dan wajahku bakal menjadi headline di situs-situs online maupun fanbase-fanbase SHINee. Aku tersenyum lalu mengulurkan tangan.
“Kita ketemu lagi Jonghyun,”
“Noona..Kau Tara Noona kan?” jawab Taemin lalu ikutan menyalamiku.
“Nee~~ Taemin, senang bertemu denganmu lagi,”
“Aku juga, Noona…”
“Tara Noona..ohh…aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi,”
“Nee~~ Minho. Senang bertemu denganmu lagi,”

Aku mengangguk dan melambaikan tangan ketika mereka semua berpamitan dan berlalu dari hadapanku. Aku harus segera meninggalkan tempat itu sebelum para shawol “menginterogasi”. Aku menganggukan kepala dan menyisakan sebuah senyum ketika melihat sosok Papa Hong di sana. Aku melambaikan tangan padanya lalu berjalan menuju dirinya.

Kini, gantian fans WGM yang mengerumuni Papa Hong. Mereka semua segera melihat ke arahku ketika Papa Hong melambaikan tangannya.

“Annyeonghaseyo Papa Hong,” sapaku lalu menganggukkan kepala.
“Annyeonghaseyo Tara,” kata Papa Hong lalu menarik tanganku agar bisa berdiri di sampingnya. “Dialah Jung Tara, atau Tara Vanika,”

Lampu blitz dari kamera segera menerangi diriku setelah Papa Hong mengenalkanku pada mereka. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum ketika mereka semua melihat ke arahku.
“Annyeonghaseyo..Jung Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Nee~~ Bangaseupnida, Tara eonnie.. Fighting..”
“Nee~~ Kamsahamnida,”
**

Aku membaca script yang diberikan oleh pihak MBC dengan seksama. Aku sangat sulit mencerna tulisan-tulisan indah ini. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Tanganku terulur pada ponsel ketika benda itu menyala.
“Nomor siapa ini?” tanyaku bingung namun aku segera menjawab telepon itu. “Yoboseyo…Nee~~ Tara imnida.. Mwo?? Hmmm.. Nuguya??.. Yaa~~ Silvanaaaa… Nee.. aku sudah di Seoul…Help me, please…”

“Aku akan ke sana, Tara, kau tinggal dimana?”
“Aku tinggal di….”




TING…TONG…

Aku tersenyum senang ketika mendengar bel berdentang. Aku segera terbang menuju pintu untuk membukakan pintu. Aku tersenyum lebar melihat sosok Silvana sudah berdiri di sana dengan sekeranjang buah. Aku menganggukkan kepala ketika menyadari sosok yang berdiri di sebelahnya.

“Ayo masuk..” kataku mempersilakan mereka masuk. “Namun, maaf, apartmentku masih belum tertata rapi. Aku masih jet-lag,”
“Tidak apa-apa,” kata Silvana lalu duduk. “Tara, kenalkan, ini sahabatku, Park Hae Mi, baru-baru ini dia mendapat predikat Sun of Seoul,”
“Ahhh…aku pernah mendengarnya. Ternyata kau orangnya, Hae Mi, cantik sekali. Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Ahh…kau berlebihan, Tara,” kata Hae Mi senyum. “Senang bertemu denganmu,”

“Apa yang harus kami bantu?” tanya Silvana sambil melihat sekeliling. “Kenapa banyak sekali poster Beast di sini?”
“Ahh..itu..Papa Hong yang menempelkannya. Beliau mengatakan agar aku tidak kesepian di Seoul,”

Park Hae Mi berdiri untuk melihat foto-foto yang aku tata di dinding. Artistik menurutku.
“Tara…ini…Khuntoria?” tanyanya menunjuk sebuah foto Khuntoria lagi berpose denganku.
“Nee~~” kataku berdiri di sampingnya. “Sewaktu mereka berdua pemotretan di Bali beberapa waktu lalu, aku membantu mereka,”
“Ohh..ini…kau sama SHINee,”
“Nee~~ ini waktu pembuatan pictorial book SHINee tapi aku lupa di mana,” kataku meringis malu.

“Hae Mi, Tara itu sudah ahli di bidang pemotretan. Banyak sekali hasil karyanya yang mendapat penghargaan di Korea ini. Kemaren waktu aku pemotretan di Lombok, dia juga yang membantu,”
“Ohh…fotomu yang mendapat penghargaan Sun and Beach Category itu ya?”
“Mwo?? Foto yang mana, Silv?” tanyaku melihat ke arahnya.
“Ahh..foto ala paparazzi itu.. Yang kau ambil diam-diam…”
“Astagaaa… apakah aku lupa menghapusnya?”
“Hahaha…iya,”

Aku kembali duduk di samping Silvana setelah puas menjelaskan foto-foto itu kepada Hae Mi. Aku baru menyadari bahwa Park Hae Mi adalah seorang model dan yang pernah digosipkan dengan L.Joe TeenTop.

“Aku akan mengusulkan pada brand langgananku untuk membuat pemotretan di Lombok. Indah sekali,”
“Mwo? Apakah kau ada pemotretan?”
“Nee~~ brand langgananku mengeluarkan swimsuit terbaru, aku terpilih jadi model yang akan mengenakannya,”
“Kebetulan aku membawa profil perusahaanku yang di Lombok. Sebentar ya,”

“Yaa~~yaa~~ Tara.. kau ini…katanya kau ingin dibantu untuk bahasa Korea kenapa jadi membahas pemotretan, ohng?” teriak Silvana.
“Setelah ini,” balasku setengah kencang dari kamar.
Aku keluar kamar sambil membawa beberapa lembar kertas dan segera memberikan pada Hae Mi.
“Kami akan membantu kalau diperlukan,”
“Tapi, aku tidak bisa berbahasa Inggris,”
“Kebetulan sekali, partner kerjaku fasih berbahasa Korea,”
“Aku akan pertimbangkan dan mendiskusikannya kepada agensiku,”
“Nee…Kamsahamnida,” kataku lalu menyodorkan script pada Silvana. “Ini yang harus kalian bantu,”
“Baiklah…”
**

Akupun sudah memulai syuting untuk MBC WGM Spesial. Aku hanya diberi script generalnya dan aku harus mengembangkannya. Aku sama sekali bingung apa yang akan dilakukan. Pagi ini, aku sudah berdiri di depan apartment untuk menunggu sebuah mobil yang akan menjemputku. Aku kembali membuka card-mission itu untuk membaca perintah yang harus aku lakukan.

“Kau akan dijemput dengan van hitam yang di depannya ada hiasan bunga,” kataku membaca card itu.
Aku segera melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat van hitam. Aku tersenyum karena dari arah kiri meluncur van hitam berhiaskan bunga. Beberapa saat kemudian, van itu berhenti di depanku. Pintu terbuka dan beberapa orang turun dari dalam lalu segera menyanyikan sebuah lagu yang sama sekali tidak pernah aku dengar. Aku hanya tersenyum malu-malu mendapat perlakuan seperti itu.

“Selamat atas pernikahanmu, Tara, silakan masuk,”
“Nee~~ kamsahamnida,” kataku naik lalu mobil van itu segera meluncur.

Aku sama sekali tidak tau apa yang harus aku lakukan di dalam mobil van ini. Aku hanya sendiri dan ditemani oleh seorang PD-nim, cameraman dan lighting-man.

“PD-nim, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku pada PD-nim yang duduk di depanku.
“Lakukan yang terbaik,” katanya lalu tersenyum.

Akupun melihat sekeliling mengagumi interior van yang mewah namun minimalis. Beberapa sudut sudah dihiasi dengan bunga. Aku segera melakukan seperti yang dilakukan Nickhun Oppa ketika di bus menuju Building 63. Tanganku terulur ke atas untuk mengambil bunga. Aku konsentrasi pada karangan bunga kecil lalu menempelkannya pada rambutku.

“Ottae? Aku terlihat cantikkan?” tanyaku yang hanya dijawab senyuman oleh ketiga pria itu. Aku hanya mendengus sambil membolak-balik card-mission.

“Ahhh… aku tau apa yang harus aku lakukan,” seruku lalu menatap kamera dengan senyum. “Aku akan mengajarkan kalian perkalian menggunakan jari. Perkalian jari ini hanya berlaku untuk perkalian 6 sampai perkalian 9. Pethatikan ya,”

Akupun mengangkat kedua telapak tanganku sejajar dengan kamera.
“Baiklah, misalnya 6 dikali 6,” kataku lalu menutup 4 jari di tangan kiriku dan menutup 4 jari di tangan kananku. “Caranya, 4 jari yang ditutup kita kalikan. Berarti 4 dikali 4 kan 16. Terus, jari yang berdiri masing-masing jumlahnya 10, karena 2 jari yang berdiri maka jumlahnya 20. Untuk mencari hasilnya, jumlah jari yang ditutup ditambah dengan jumlah jari yang berdiri berarti 16 ditambah 20, hasilnya 36. Berarti 6 dikali 6 hasilnya 36,”

Aku mendapat applaus dari PD-nim. Aku tersenyum bahagia.
“Bagaimana? Mudahkan? Perkalian jari ini memudahkan kita yang belum terlalu hafal perkalian,”

“Kalau 8 dikali 7?” tanya PD-nim.

“Baiklah. 8 itu berarti 2 jari yang ditutup terus 7 itu berarti 3 jari yang ditutup,” kataku menunjukkan jari-jariku. “Sama seperti tadi, jari-jari yang ditutup kita kalikan, berarti 2 dikali 3 hasilnya 6. Nah, terus jari-jari yang berdiri ada 5, berarti jumlahnya 50. Hasilnya adalah 6 ditambah 50 adalah 56. Berarti 8 dikali 7 hasilnya 56,”

“Wowww…kereeeenn…”
“Kamsahamnida,”
**

“Waahhhh…Tara memang unik,” sahut Minhyuk yang nonton episode pertama dari studio. “Perkalian jari. Ide yang sangat bagus,”
“Benar… Baru kali ini aku mendapat pelajaran Matematika di WGM,” sahut Jinwoon.

Hahahahaa…
**

Rasa ingin tahuku muncul ketika mobil yang aku tumpangi berhenti dan pintu mobilnya dibuka dari luar. Sosok cowok berkacamata dengan membawa koper kecil masuk ke dalam van lalu duduk di sebelahku. Aku tersenyum lebar ketika cowok itu membuka kacamatanya dan tersenyum padaku.

“Doojoon…” seruku lalu sumringah. “Apakah kau yang akan menjadi pasanganku?”
Doojoon tersenyum padaku dengan malu-malu. “Bagaimana, PD-nim? Apa aku saja yang menjadi pasangan Tara?”
“Hahaha…” PD-nim hanya tertawa.

“Annyeong Tara…”
“Annyeong..” balasku sambil menganggukkan kepala dan tetap tersenyum.
“Apa yang kau rasakan ketika memasuki mobil cinta ini?” tanyanya.
“Mwo? Van ini mobil cinta?” tanyaku lalu tertawa. “Bingung tapi aku menikmatinya dan sangat penasaran dengan prince charmingnya,”
“Waahhh…”kata Doojoon lalu melihat ke kamera. “Papa Hong…rencana kita sukses.. Tara sukses penasaran,”
“Yaa~~Yaa~~ Papa Hong…jebal…”
“Tara, mungkin kau belum banyak dikenal di Seoul ini, apa yang kau rasakan ketika melihat fans yang berkerumun sewaktu kau tiba di sini?”

“Nee~~ aku memang belum dikenal banyak orang di entertainment Seoul namun di fotografi, aku cukup terkenal. Puji Tuhan, hasil karyaku mendapat penghargaan di sini,” kataku dengan senyum. “Meskipun aku tidak pernah bersentuhan langsung dengan dunia hiburan Seoul, namun Korean Hallyu sangat dirasakan di Indonesia,”
“Jjinjja??” tanya Doojoon antusias. “Aku baca beritamu di situs online, kau pernah terlibat kerja sama dengan beberapa artis Korea. Bisa kau ceritakan?”
“Nee~~”

Akupun menceritakan pengalaman itu dengan wajah yang bahagia. Itu sebuah prestasi yang sungguh luar biasa bisa bekerja sama dengan artis-artis ngetop Korea.

“Berarti, kau sudah cukup kenal dengan artis Korea? Siapa yang menjadi idolamu?”
“Idolaku? Tentu saja Beast…”
“Kamsahamnida. Aku sangat senang mendengarnya,” senang Doojoon. “Selain Beast?”
“2 PM, Super Junior, SHINee, F(x), Boyfriend dan Teentop,”
“Dari semua yang kau sebutkan, sebutkan 3 yang paling kau inginkan menjadi pasanganmu di WGM,”
“Hmm..2 PM, Super Junior dan SHINee,” jawabku dengan senyum. Aku ingin sekali Nickhun Oppa, Yesung Oppa, serta Onew yang jadi pasanganku,”
“Kau harus patah hati karena Nickhun Hyung sudah memiliki Victoria Noona…”
“Nee~~aku mengerti,” jawabku. “Oleh karena itu, 2PM dicoret dari listku, hehehe. Kalau Super Junior, sepertinya tidak mungkin karena 4 member dari mereka sudah ikutan WGM, berarti Suju dicoret dari list. Sisanya SHINee…”

“Kenapa kau memilih SHINee?”

Lagi-lagi aku menceritakan pengalamanku ikutan membantu pemotretan SHINee untuk membuat pictorial book mereka. Awal ketemu SHINee, aku terkesima melihat Onew dan Key. Mereka sangat spesial bagiku.

“Aku tidak habis pikir ada cowok se-cerewet Key dan sangat suka sekali menarikan dance dari girlband. Sangat menarik,”
“Kalo Onew?”
“Onew? Mungkin karena kami berdua sama-sama sering disebut tahu dan “aneh”. Onew…sangat menarik di mataku apalagi ketika dia melakukan onew condition,”

Aku melihat Doojoon membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah card lalu menyerahkan padaku. Aku menerima card itu dan mulai membacanya.

“Kau akan turun di depan Building 63 lalu masuk ke dalam dan menuju lift. Kau harus berhenti di lantai 42. Pasanganmu akan memakai kostum ayam. Setelah bertemu dengan pasangan, kalian berdua menuju lantai paling atas,”

Mobilpun berhenti setelah aku membaca card-mission itu.
“Selamat menemukan pasanganmu, Tara,”
“Algesseumnida. PD-nim dan semuanya…Kamsahamnida. Selamat jalan,” kataku pamitan lalu turun dan menutup mobil. Aku terus melambaikan tangan pada mobil van itu sampai mobil itu menghilang.

Aku segera berjalan menuju pintu masuk sambil beberapa kali menganggukkan kepala ketika orang-orang di sekitarku melambaikan tangannya padaku. Aku diam mematung ketika sudah masuk ke Building 63.

“Ottokhae?” tanyaku pada diriku sendiri lalu melihat sekeliling. Orang-orang yang berada di gedung itu langsung melihat ke arahku. Akupun melambaikan tangan pada mereka lalu menganggukkan kepala.

“Annyeonghaseyo,” sapaku. “Bisakah aku ditunjukkan arah menuju lift?”
“Baiklah,” jawab satu orang dari mereka lalu memintaku mengikutinya. “Silakan,”
“Kamsahamnida,” kataku lagi lalu mengikutinya. Aku memberikan seulas senyum padanya ketika dia mempersilakan aku masuk lift. “Kamsahamnida,”

Akupun segera memencet tombol 42. Jantungku saat ini berdebar-debar karena ingin bertemu dengan suamiku. Aku tersenyum lebar ketika lift berhenti di lantai 42 dan pintu terbuka. Sosok Minwoo Boyfriend berdiri di sana sambil membawa sebuah boneka beruang.

“Ahhh… Minwoo…” seruku sumringah lalu tertawa. “Senang sekali aku bisa bertemu denganmu langsung,”
“Nee~~Noona..”

Akupun keluar dari lift untuk berfoto bareng dengannya. Kesempatan emas. Aku tersenyum puas melihat hasil foto kami.
“Kamsahamnida,” kataku. “Sepertinya kau bukan pasanganku, Minwoo,”
“Nee~~Noona,” katanya lagi lalu memberikan boneka beruang padaku. “Kau harus berhenti di lantai 49. Fighting, Noona..”
“Gomawo,”

Akupun meneruskan perjalananku menuju lantai 49. Aku shock melihat cowok ganteng dengan sebuket bunga mawar telah berdiri di sana ketika pintu lift terbuka.
“Kyaaa~~Chunjii…” senangku lalu tanpa basa basi lalu memeluknya. “Senang bertemu denganmu,”
“Aku juga, Noona,” katanya lagi.
Lagi-lagi aku berfoto bareng dia. Aku mendapatkan kesempatan emas lagi. Aku tersenyum manis ketika cowok tampan itu memberikan bunga mawar yang dipegangnya.
“Noona, selamat untuk pernikahanmu. Kau akan mendapatkan sesuatu di lantai 60. Chukae Noona,”
“Kamsahamnida,”

Kembali aku meneruskan perjalananku menuju lantai 60. Jantung ini semakin berdebar-debar. Aku tidak melihat siapapun di sana. Aku keluar dari lift lalu melihat sekeliling. Mataku menangkap sosok yang memakai kostum ayam membelakangiku. Aku tertawa kecil lalu berjalan untuk menangkap “ayam ganteng” itu.
“Bingoo,” kataku berhasil menangkap ayam itu.

Aku kaget bukan kepalang bercampur senang ketika sosok “ayam ganteng” itu berbalik badan.
“ONEWWWW~~~” teriakku tidak percaya. “Kau..kau..”
Aku hanya garuk-garuk kepala tidak tau berbuat apa ketika berhadapan dengan pasanganku. Aku tertawa menutupi rasa grogiku.

“Ahh~~akhirnya aku bertemu dengan istriku,” kata Onew tertawa malu-malu.
“Aku juga senang bertemu dengan suamiku,” kataku.
“Hmm…apakah kau mendapat card-mission?” tanya Onew.
“Nee~~” akupun mengeluarkan card itu dan menyerahkan padanya.
“Sekarang, kita harus menuju lantai paling atas,” katanya lagi lalu menunjuk lift.
“Onew-ssi, lantai 60 ini merupakan lantai teratas. Tapi kenapa disebut Building 63 ya?”
“Tara-ssi, Onew-ssi, kalian harus menggunakan tangga untuk mencapai lantai 63,”
“Ahh..”
“Sebaiknya aku melepaskan kostum ayam ini sebelum kita ke lantai 63,” katanya malu-malu. “Apakah kau bisa membantuku?”
“Nee~~”
**

Onew POV…
“Apa yang kau rasakan pertama kali bertemu dengan Tara?” tanya PDseperti itu.
“Ternyata dia bisa dandan girly juga dan..hmm…Kemampuan berbahasa Koreanya sudah bagus,”
“Mwo?
“Pertama kali aku bertemu dia…waktu pemotretan untuk pictorial book. Waktu itu, Tara-ssi berambut pendek. Topi selalu menghias kepalanya. Dia itu selalu memakan permen lolipop. Baju kaos dan celana 3/4 serta sepatu sneaker selalu menemani dirinya, tak lupa kamera selalu menggantung di lehernya. Aku sungguh tidak menyangka..” kataku berhenti lalu kembali senyum. “Dia sangat cantik sekali. Ahh… Senang sekali aku bertemu dengannya lagi,”
“Jjinjja?” tanya PD-nim lagi dengan nada menggodaku.

Hahaha…
“Nee~~ Terima kasih, PD-nim, karena aku dipasangkan dengan dirinya,”
End of Onew POV…
**

“Apa yang kau rasakan, Tara, ketika bertemu dengan pasanganmu?”
“AMAZING,” semangatku lalu tertawa. “Hahaha.. Aku grogi sekali ketika sosok “ayam-ganteng” itu berbalik badan. Ahhh…Speechless,”
“Pertemuan kemaren merupakan pertemuan kedua dengan Onew, bagaimana perasaanmu?”
“Nee~~ Makin tampan dan terlihat lebih dewasa. Aku suka itu. Ahhh…pokoknya aku sangat menyukainya,”
“Suka?”
“Maksudku, aku sangat menyukai pernikahan ini. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik buat Onew,”
**

Sementara di salah satu studio MBC…
“Kyaaa~~ unik..Tara itu sangat unik. Bisa-bisanya dia foto bareng dengan Minwoo dan Chunji,” komen Jinwoon lalu tertawa.
“Astagaaaa…dia menyebut pasangannya dengan “ayam-ganteng”. Lucu sekali…Kau lihat, Jinwoon, ekspressi kaget dan senangnya tidak bisa disembunyikan ketika “ayam-ganteng”nya berbalik badan,” kata Seulong ngakak.
“Hahaha…Nee~Ong Hyung…Babo sekali mereka berdua,”
**

Onew POV…
Aku menyunggingkan senyumku ketika Tara berjalan masuk tempat janjian kami, Kona Beans. Aku terpesona melihat baju yang dia kenakan. Cantik sekali dan terlihat sangat fresh.
“Ahh.. kau sudah datang,” kataku segera menyambutnya dan menarik kursi lalu mempersilakan duduk.
“Kamsahamnida,” jawabnya lalu mengulurkan sesuatu. “Buatmu,”
“Apa ini?” tanyaku sambil menerima gift darinya. “Aku boleh membukanya?”
“Silakan. Aku membelinya sewaktu liburan di Bali dan sebagian aku beli dari tempat tinggalku, Lombok,”

Aku membuka gift itu sambil sesekali melihat dirinya yang melihatku dengan tatapan penuh suka dan penasaran. Aku tersenyum senang ketika berhasil menelanjangi kado itu. Mataku membesar melihatnya. Kalung, gelang, kaos bertuliskan “Lombok Island”, kaos motif barong, pembatas buku dan blangkon serta perlengkapan spa khas Bali.

“Itu…” katanya lalu menunjuk ke arah kado dan tersenyum. “Semoga kau menyukainya,”
“Kamsahamnida, Tara-ssi, aku senang sekali,”
“Gelang ini…” katanya lagi lalu mengambil gelang dan menarik tanganku dan memasangkannya. “Aku juga memakai gelang ini,”

“Ahhh…” kataku tertawa. “Bagaimana kalau kita mengabadikan foto dengan gelang ini?”
“Dengan senang hati,”
“Hana dul set,”

KIMCHEESE…
End of Onew POV…
**

Hari ini, aku ingin membuat kejutan pada Onew yang sedang sibuk latihan untuk beberapa show SHINee. Aku ingin mengirimkan makanan untuk SHINee. Aku duduk menopang dagu di dapur. Aku berpikir apa yang akan dibuat. Akupun segera menelepon Nunmi karena tidak menemukan ide.

“Nee~~ sedang apa? Ohh… Aku ingin memberi kejutan pada SHINee berupa makanan. Apa yang sebaiknya aku buat? Ahh.. Penyetan.. Kamsahamnida,”

Aku tersenyum lalu bergegas masuk kamar untuk mengambil kertas dan pulpen dan kembali ke dapur.

“Aku akan membuatkan SHINee penyetan dan nasi uduk,” kataku lalu membuka kulkas untuk memeriksa bahan dan bumbu. Aku tersenyum karena sebagian besar bahan dan bumbu sudah ada. “Berarti, aku harus membeli ayam, timun, tomat, garam, dan penyedap rasa,”




Seluruh pengunjung supermarket langsung melihat ke arahku dan beberapa diantara mereka ada yang mendekatiku untuk foto bareng maupun minta tanda tangan.
“Gomawo, Tara eonnie,”
“Nee~~ Gomawo,” kataku memeluk fans itu dan melambaikan tangan padanya.

Aku membuka catatanku untuk melihat list belanjaanku. “Yoshh…”
**

“APAAA???” teriak Key. “Jadi ada yang menggantikan posisiku? Nuguya? Nugu? Si tomboy Tara? Hufftt.. berani sekali dia, jagiya,” sewot Key lalu bermanja-manja dengan Onew.
“Yaa~~ Key…harusnya kau senang karena ada seorang eomma buat kalian,” kata Onew tersenyum malu-malu.
“Sepertinya Onew Hyung sudah mulai menyukai Tara Noona,” sahut Minho. “Hyung, sewaktu kami bertemu dengannya di bandara, kami sama sekali tidak menyangka ternyata Noona bisa berdandan girly seperti itu,”
“Key Hyung, dia sangat cantik,” balas Taemin.
“Aku juga tidak percaya bisa melihat dia dalam “girly”,”
“Yaa~~ Yaa~~jadi kalian berempat memihaknya, ohng? Aku ingin membuktikan dengan kepalaku sendiri. Apakah dia pantas menjadi eomma buat kita,” sewot Key.

“Onew…” suara sang manajer ditengah-tengah debat mereka. “Tara meneleponmu,”
“Kamsahamnida, manajer Hyung,” kata Onew lalu menjawab telepon. “Nee~~ Tara ssi…”
**

“Annyeonghaseyo, Onew-ssi…” kataku segera ketika mendengar suaranya di seberang. “Nee~~ aku sudah di gedung yang kau maksud. Studiomu lantai berapa? Baiklah.. Nee~~ Gomawo,”

Aku tersenyum lalu melangkah masuk dengan riang. Aku segera menekan angka 5 di lift dan menikmati perjalananku menuju studio SHINee. Kembali aku merasakan debaran di jantung semakin kuat ketika pintu lift terbuka. Aku segera bertanya pada salah satu staff kantor di mana SHINee berada.

“Baiklah. Kamsahamnida,” kataku. “Dia berada di ruangan itu,”
Aku berjalan pelan menuju ruangan tersebut dan tanganku terulur untuk membuka knop pintu. Aku mendorong pelan pintu tersebut dan melangkah masuk.

Aku segera menganggukkan kepala dan menyunggingkan sebuah senyum untuk mereka.
“Eomma…” sahut mereka semua kecuali Key. Cowok itu hanya melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak percaya.
“Yaa~~ apakah kau…apakah kau…si tomboy Tara? Demi Tuhan…”
“Tentu saja, si cerewet,” balasku lalu ikutan bergabung dengan mereka. “Akhirnya aku bertemu denganmu lagi,”
“Ini pasti mimpi. Kau cantik sekali,” gumam Key tidak berkedip melihatku.
“Yaa~~Kim Kibum…aku ini suaminya,” sungut Onew.

Hahaha…
Kami semua tertawa mendengar celetukan Onew. Tanpa basa-basi aku mengeluarkan makanan yang telah aku buat.
“Pasti kalian belum makan kan?” tanyaku sambil mengeluarkan 5 piring dan 5 botol air minum.
“Eomma…aku bantu,” kata Taemin lalu membantuku.
“Hmm… baunya enak sekali,” kata Minho yang membantuku mengeluarkan tempat nasi dan menuangkannya pada piring yang sudah disiapkan.
“Waaahhh…ayaaaammmm…” senang Onew lalu membagikan ayam pada mereka. “Ini lebih satu,”
“Aku sengaja melebihkan ayamnya. Itu buatmu, Onew-ssi,”
“Ahh…kau memang istriku yang baik,” kata Onew spontan.
“Hahaiii…”

“Ini nama makanannya apa, Eomma?” tanya Key sibuk menciumi sambal.
“Itu sambal terasi namanya,” jawabku tersenyum senang.
“Bukan ini. Nama makanan semuanya,”
“Ahh…kalau nasinya disebut nasi uduk. Kalau ayamnya disebut ayam penyet. Ini sangat populer di Indonesia,”
“Key umma…enak sekali,” jawab Taemin. “Jangan banyak-banyak sambalnya, pedas sekali. Ini pertama kali aku makan dengan rasa yang enak seperti ini. Eomma..kamsahamnida,”

“Ayo buka mulutmu. Aaaa…,” kata Onew menyuapkan nasi padaku.
Dengan malu-malu aku menerima suapan dari Onew. “Gomawo,”
“Ini enak sekali, Tara-ssi. I really love you,”
“Mwo??”
**

Onew POV…
“Ahhh…neomu..neomu..ceohahae…” kataku dengan nada bahagia. “Aku benar-benar surprise mendapati dia mengunjungiku dan membawakan makanan. Aku sangat…sangat…menyukainya,”
“Apa yang kau rasakan ketika member SHINee lainnya memanggil Tara dengan “eomma”?”
“Kaget…Aku rasa dia juga kaget ketika mereka semua memanggil dengan “eomma”. Hahaha…aku tidak tau mereka dapat ide dari mana ide itu. Aku hanya berharap, bisa menjadi suami yang baik buat Tara,”
End of Onew POV…
**

We Got Married, sukses mengubah diriku. Aku diminta untuk lebih mengalahkan egoku. Aku dituntut untuk lebih care pada orang lain. Biasanya aku senang menghabiskan waktu senggang tanpa siapapun, namun, sekarang aku harus berbagi dengan Onew, suamiku.

Aku berjalan menuju sebuah toko buku di pusat kota dengan riang. Meskipun ini merupakan pertemuan ketiga dengannya, namun, rasa gugup dan grogi itu masih menguasaiku. Aku sangat menikmati setiap saat bersamanya.

Aku tersenyum ketika beberapa orang yang berada di sana meneriakkan namaku dan Onew. Apakah ini yang selalu dirasakan oleh artis Korea? Dimana saja mereka berada, pasti ada fans yang mengikutinya. Fans itu seperti pengawal yang siap melindungi idolanya. Inilah yang tidak aku rasakan. Aku memang bukan artis tapi aku cukup terkenal di Lombok maupun Indonesia, namun, ketika aku menghabiskan waktu di mall, tidak ada fans seperti fans di Korea. Aku segera menuju tempat membaca buku yang terletak di lantai 3 dari toko buku ini.

Aku harus membiasakan diri menganggukkan kepala maupun membungkukkan badan selama berada di Korea. Itulah yang sering dilakukan mereka ketika bertemu dengan orang lain maupun berpisah. Aku menganggukkan kepala ketika sosok Onew dengan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung sampai siku. Topi baret hitam terlihat nangkring di kepalanya dengan angkuh. Senyum itu…senyum yang sangat aku sukai.

“Ahhh…maafkan aku,” kataku lalu berdiri di depannya. “Aku telat menemuimu,”
“Tidak apa-apa,” katanya lalu tersenyum.
“Gomawo,” kataku lagi lalu berusaha mencerna buku-buku yang tertulis dengan kanji Korea. “Molla,”
“Molla?”
“Ahhh..ini…aku sama sekali tidak memahami judul-judul buku yang ada di sini,” kataku meringis malu.
“Ahhh…” kata Onew lalu berjalan mendekati sebuah rak buku dan kembali dengan beberapa buah buku di tangannya.
“Wuaaaaa…” histerisku karena dia membawakan beberapa buku berbahasa Inggris karangan Paulo Coelho. “Kamsahamnida,”

“Nee~~ Tara ssi…kita bisa menikmati buku-buku ini sambil duduk dan kita juga bisa memesan makanan,”
“Baiklah..Aku menyukainya,” kataku senang.
“Bukumu aku bawakan saja,” katanya mengambil alih buku-buku yang di tanganku.
“Tasmu…aku saja yang bawa,” kataku.
“Terima kasih,” katanya lalu berjalan menuju meja dan meletakkan buku di atasnya. Aku mengikutinya.
**

“Hyung~~ berapa usia pernikahan kalian?” tanya Taemin.
“Hmm~~~ 3 bulan. Wae?”
“Wae???” tanya Taemin tidak percaya. “Yaa~~ Hyung, kau harus merayakannya,”
“Merayakan?”
“Hyuuuunggg~~neol jjinjja…” kesal Taemin lalu menunjukkan laptopnya yang sedang menayangkan WGM Khuntoria. “Lihat ini..Khuntoria merayakan hari jadi mereka yang ke 100 hari. Kau masih punya waktu 10 hari untuk menyiapkannya,”
“Hyung,” sambung Minho. “Apakah kau sudah mengetahui semuanya tentang Noona,”
Onew menggeleng menjawab pertanyaan Minho lalu menunjukkan senyum khasnya. “Hahaha…aku belum mengetahui semuanya mengenai Tara,”
“MWO?? Hyuuuuuu~~~nggg… Neol jjinjja…” kata Minho lalu menatap Onew lesu. “Kita cari tau lewat internet saja,”

Minho sibuk berkutat dengan Daum, search-engine Korea untuk mencari informasi mengenai Tara. Usaha pencarian yang memakan waktu 2 jam lebih itu tidak menghasilkan apa-apa.

“Ahh..aku baru ingat. Artis Indonesia kan tidak ada yang seperti kita. Jarang sekali ada artikel yang membahas facts tentang mereka,”
“Ahhh…bagaimana ini?” bingung Onew. “Apa aku menyamar lagi aja menjadi ayam untuk mencari tau informasi mengenai Tara?”

Taemin dan Minho hanya membeku dengan wajah tak percaya.
Onew condition,” kata Taemin lalu tertawa. “Aku saja yang mencari tau mengenai Tara. Kalian berempat memikirkan acaranya seperti apa,”
“Setuju. Kamsahamnida,”
**

Replay Japanese version mengalun indah dari ponselku. Aku mengernyitkan dahi berpikir nomor asing yang muncul di LCD ponselku ini milik siapa.

“Nee~~ Yoboseyo,” kataku lembut. “Nee?? Ahhh~~ Taemin.. Eomma?? hahaha…tidak apa-apa. Berarti aku dan Onew-ssi sudah memiliki 4 orang anak. Hmm..hari ini? Aku free sampai jam 2. Ohh..apakah kau tidak ada jadwal? Baiklahh..di Kona Beans saja ya..Nee~~”




Aku melambaikan tangan ketika Taemin muncul di Kona Beans. Aku menyunggingkan senyum ketika dia menganggukkan kepala.
“Eomma…” katanya dengan mimik jenaka. “Jangan bilang-bilang Appa kalau aku menemuimu,”
“Mwo??” tanyaku kaget lalu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Haha..baiklah,”
“Yagsok?” katanya lagi lalu menunjukkan kelingkingnya.
Promise,” kataku sambil mengaitkan kelingkingku. “Well, kamu mau memesan apa?”

Akupun menyebutkan pesanan kami lalu mengucapkan terima kasih dan mengembalikan menunya. Aku tersenyum melihat Taemin yang sepertinya salah tingkah.
“Hmm..Eomma, berapa usia pernikahan kalian?”
“3 bulan. Kenapa?”
“Apa kau tidak berkeinginan untuk merayakannya?”
“Merayakannya? Memangnya harus begitu?”

Aku tersenyum melihat wajah Taemin yang kaget.
“Eom~ma..kalau di Korea itu, kita harus merayakannya. Artinya kita itu merasa bersyukur atas apa yang telah kita alami dengan pasangan. Baik itu suka maupun duka. Bisa diartikan juga sebagai review hubungan,”
“Ahh…Aku jadi ingin merayakannya,”
“Jjinjja??” tanya Taemin senang sambil menikmati pesanannya.
“Nee~~ Tapi apa mungkin Onew ssi juga berpikiran yang sama? Apakah dia juga ada keinginan untuk merayakannya?”
“Molla,” jawab Taemin singkat lalu berpikir untuk memulai menggali informasi. “Eomma..hmm..aku pernah menonton beberapa episode, sepertinya kamu tidak suka makanan pedas ya?”
“Nee~~ rasa pedas untuk makanan Korea sangat spicy sekali, jadi perutku tidak kuat, Taemin. Namun, untuk makanan pedas di Indonesia, aku bisa memakannya. Aku pernah memakan ttokpokki di sini, namun, aku meminta bibi penjualnya agar porsi buatku tidak terlalu pedas,”
“Ohhh…Beberapa waktu lalu, aku lihat beberapa foto hasil karya Eomma, kenapa latar belakangnya semua laut?”
“Ahh~~itu…aku sangat suka akan laut maupun pantai karena aku merasa beban kerjaku akan hilang dibawa angin kalau aku berdiri di tepi pantai,”
“Wahhh…laut itu sangat indah. Eomma…”
**

Onew POV…
Aku membaca kertas yang disodorkan Taemin. Aku tertawa membaca tulisan yang ditulis dengan spidol merah, BACA dan DIINGAT. Aku membaca point demi point beberapa fakta mengenai Tara. Aku benar-benar berterima kasih pada Taemin dan Minho yang bersedia direpotkan.

“Ahh…dia sangat menyukai ayam goreng,” kataku senang lalu mataku beralih pada point selanjutnya. “Wahh…dia sangat menyukai lagu “Just the Way You are”,”

Aku mengambil buku dan kotak pensil dari dalam tas. Aku telah memikirkan beberapa yang akan aku siapkan untuk merayakan hari ke-100 kami.
“Menyanyikan lagu “Just the way You are”, kalau bisa versi piano. Aigooo…sepertinya aku harus meminta Wookie Hyung untuk mengajariku piano,” kataku lalu kembali membaca kertas itu. Aku tertawa-tawa membaca fakta mengenai istriku.

“Aku harus memberikan hadiah boneka beruang padanya,” kataku menulis di buku dengan senyum. “Terus, dia juga suka gurita, jadi aku akan membuatkan makanan kesukaanku, gurita pedas,”

“Yaa~~ Onew Hyung, Eomma tidak begitu suka pedas, jadi jangan sampai makanan kesukaanmu itu terlalu pedas,” kata Taemin.
“Nee~~” kataku lalu mencoret kata “pedas” lalu mengganti dengan “tidak terlalu pedas”.
End of Onew POV…
**

Aku melambaikan tangan ketika sosok Onew muncul di depan apartmentku. Aku tersenyum senang lalu menganggukkan kepala.
“Apakah kau sudah lama menungguku?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Baru saja kok,”
“Hmm…aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat,” katanya lalu memandangku.
“Jjinjja?? Wahhh…gomawo,” kataku tersenyum.
“Aku harap kau menyukainya,”




“Waaahhh…aku sangat suka dengan kereta api…” histerisku senang. “Kamsahamnida,”
“Nee~~ Aku akan melakukan yang terbaik buat istirku,” katanya yang memicu semburat merah di wajahku.
“Terima kasih, suamiku,” kataku senang.
Aku mengikutinya dengan riang. Senyum selalu melengkung di bibirku dan debaran jantungku semakin menggila. Kami segera menuju kereta api setelah membeli tiket. Aku kaget pangkat tinggi ketika melihat gerbong kereta api. Sangat bagus sekali, berbeda dengan gerbong kereta api di Indonesia.

“Silakan duduk, my lady,” kata Onew dengan tersenyum.
“Ahh…terima kasih, my prince,”

Aku dan Onew kembali bertukar cerita. Perjalanan ini, merupakan perjalanan paling indah yang pernah aku lakukan. Aku menikmati setiap jengkal wajahnya sambil sesekali menikmati pemandangan dari jendela kereta api.

“Apakah kau lapar?” tanyaku padanya.
“Ahh..hahaha…” katanya garuk-garuk kepala. “Aku sangat senang sekali menantikan perjalanan ini sampai-sampai aku lupa sarapan,”
“Buatmu,” kataku lalu memberikan sekotak makanan padanya. “Semoga kau suka,”
**

“Waa..waa…romantis sekali mereka berdua,” komen Seulong yang menonton dari studio MBC. “Yaa~~ Taemin, gimana perasaanmu melihat adegan mereka ini?”
“Hahaha…aku iri, Hyung,” kata Taemin dengan mimik jenaka. “Tapi aku menang 1 poin dari Onew Appa, karena aku sudah punya nomernya eomma,”
“Mwo?? Dari mana kau dapatkan nomor ponselnya?” kaget Minhyuk.
“Aku mengambilnya dari ponselnya eomma. Aku menelpon ke ponselku,”
“MWO?? Wahhh..waahh…Onew harus berhati-hati denganmu, Taemin,”
“Astagaaa…lihat itu…Onew terus melihat ke arah Tara. Arrrgghhh…romantis sekali,” ujar Minhyuk stress. “Aku iri…”
“Eomma…paling mudah tertidur kalau melakukan perjalanan panjang. Hobi eomma itu tidur di perjalanan,”
“Yaa~~ Taemin, sepertinya kau banyak tau mengenai Tara?”
“Nee~~aku sengaja bertemu dengannya untuk mencari informasi. Minho Hyung, juga mencari informasi mengenai eomma melalui Papa Hong,”
“Kalian ini benar-benar anak berbakti,”
“Gomawo,”
**

Onew POV…
Aku tersenyum melihat Tara tertidur di sepanjang perjalanan. Aku tau, dia sangat lelah menyiapkan semuanya demi perjalanan ini. Aku ingin sekali menyentuh wajahnya, tapi perasaan itu segera aku tahan sampai tiba waktunya. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto ketika dia tertidur. Lucu sekali.

Aku membangunkan dia secara perlahan ketika kami telah sampai di tujuan.

“Ahh..apakah kita telah sampai?” tanyanya. “Ahhhh,,,aku pasti tertidur ya?”
“Kau tertidur di bahuku selama perjalanan,” kataku menggodanya lalu berpura-pura kesakitan.
“Mwo?? Ahh..maafkan aku,” katanya lalu segera memijat-mijat bahuku.

Aku menangkap tangannya lalu memandang ke dalam matanya. Aku merasakan sesuatu mengalir ke dalam hatiku. Aku merasakan jantungku berdebar kencang. Aku tersenyum menyadari ini semuanya. Ya, i’ve fell for her.

“Aku bercanda, sayang,” kataku lagi lalu tersenyum. “Bahuku cukup kuat kok untuk kepalamu,”
“Ahh…gomawo,” katanya lagi dengan wajah yang memerah.

“Kita telah sampai,” kataku lalu membawakan beberapa tas miliknya. “Ayo turun,”
“Nee~~”

Kamipun berdua turun dari kereta api dan berjalan ke pintu keluar. Kami berhenti melangkah lalu melihat sekeliling. Aku bingung harus berjalan ke arah mana.

“Onew ssi,”
“Yaa~~ bukankah kita sudah menyepakati untuk memanggil “sayang” satu sama lain. Aku memanggilmu “chara” dan kamu memanggilku “amor”?”
“Ahh…nee..” katanya tersenyum malu. “Mi amor..sebaiknya kita baca dulu card-mission yang diberikan oleh penjual tiket tadi,”
“Benar, benar,” kataku membuka card-mission lalu membacanya. “Sebaiknya kita menelepon nomor yang tertera di sini,”

Aku menekan nomor yang tertera di sana. Aku segera mengucapkan “yoboseyo dan annyenghaseyo” ketika suara seorang Ahjusshi terdengar di seberang.
“Nee~ahjusshi.. Onew imnida.. Aku dan istriku telah sampai. Aku bingung harus berjalan ke arah mana menuju tempatmu? Ohh.. Nee~~ baiklah.. Gomawo…”

“Bagaimana?” tanyanya dengan nada khawatir.
Aku tersenyum untuk menenangkannya. “Jangan khawatir, mi chara, aku sudah mengerti. Kita berjalan ke arah kiri,”
“Okay,”




Akhirnya kami berdua sampai di tempat yang dimaksud. Mataku terbelalak melihat tempat itu. Hatiku bersorak senang. Tempat itu adalah peternakan ayam. Aku melihat ke arah istriku, wajahnya menampilkan ekspressi kaget namun penasaran.

“Bagaimana?” tanyaku. “Apakah kau senang?”
“Nee~~” katanya lagi. “Ayo kita segera menemui pemilik peternakan ini,”
“Baiklah,”
End of Onew POV…
**

Aku sangat menikmati petualangan di peternakan ini. Aku bisa berinteraksi dengan ayam. Hal yang paling senang aku lakukan adalah mengumpulkan telur-telur dan memberi makan ayam.

Aku mengantarkan minuman yang telah disediakan oleh istri Ahjusshi ke Onew dan Ahjusshi yang sibuk membersihkan kandang ayam.

“Ahjusshi, mi amor, sebaiknya kalian istirahat dulu,” kataku setengah berteriak.
“Nee~~”
Beberapa saat kemudian, Onew dan Ahjusshi keluar dari kandang tersebut. Aku mengeluarkan sapu tangan dari celemekku dan menyeka keringat yang bertebaran di dahi Onew.
“Apakah kau capek?” tanyaku lalu mengelap keringatnya. “Sebaiknya kau istirahat dulu saja, mi amor,”

Aku menikmati saat ini. Duduk berduaan di rumput dengan beratapkan langit biru. Sinar matahari tidak terlalu panas karena angin berhembus dengan kencang. Aku menjadi cinta dengan suasana peternakan.

“Onew ssi, Tara ssi, kalian bisa berkeliling di desa ini menggunakan sepeda,”
“Nee??”
“Iya..kalian bisa menikmati indahnya pemandangan di desa ini dengan menggunakan sepeda. Tidak jauh dari peternakan ini, ada pantai yang cukup bagus. Aku bisa mengantarkan kalian ke pantai itu,”
“Hmm…apakah bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda, Ahjusshi?” tanya Onew antusias.
“Tentu saja. Aku akan menghubungi saudaraku yang bekerja di sana agar menyiapkan tempat,” kata Ahjusshi senang. “Kalian juga bisa menyantap seafood di sana,”
“Jeongmal?” histerisku senang. “Mi amor, kita harus ke sana,”
“Aku akan melakukan apa saja agar hatimu senang, chara, tapi kau harus berjanji, kau harus belajar dance-nya Replay ya,”
“MWO??” kagetku. “Aku tidak bisa menari,”
“Charaaa…”
“Baiklah…aku berjanji,” kataku tersenyum.




“Aaaaa….” teriakku ketika sepeda kami oleng dan jatuh di rerumputan.
“Gwaenchana?” khawatirnya.
“Aku tidak akan terluka karena jatuh seperti ini,” kataku dengan senyum, namun, beberapa saat kemudian, aku merasakan perih di dengkulku. “Aaaa…dengkulku…dengkulku…berdarah,”

Onew segera melihat ke arah dengkulku dan wajahnya memias. “Maafkan aku…maafkan aku,”
“Tidak apa-apa,” kataku menenangkannya.
“Sepertinya aku membawa obat luka,” katanya lagi lalu membongkar tasnya. “Aku membawanya. Ayo, aku obati dulu lukamu,”

Aku meringis perih ketika alkohol menyenhtuh lukaku. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat. Namun, mataku berair menahan perih. Aku menyunggingkan senyum ketika matanya melihatku.

“Kau menangis..ahh..senangnya karena kau bisa terlihat lemah juga di hadapanku,”
“Mwo??” kagetku. “Aku hanya kepanasan,”
“Mi charaa…kalau kau mau menangis, silakan. Aku kan suamimu,”
“Yaa~~ huffttt…” kesalku lalu manyun.
“Mi chara…mi charaa…” Onew menggodaku dengan menggelitik pinggangku. “Kau semakin terlihat cantik dengan wajah seperti itu.
“Yaa~~Neol…”

Onew hanya tertawa-tawa karena aku tertatih-tatih mengejarnya. Aku sungguh menikmati ini semua. Aku memang merasakan perih di dengkulku namun bahagia mengalahkan semuanya.

“Chara..chara…” kata Onew akhirnya menangkap tubuhku. “Sudah..sudah..nanti lukanya makin lebar. Kita kembali ke peternakan saja ya?”
Aku menggeleng. “Kita ke pantai dulu baru pulang,”
“Baiklah,” kata Onew lalu naik ke sepeda. “Ayo naik. Aku akan lebih hati-hati lagi,”
“Aku percaya padamu,”
**

Onew POV…
Aku akhirnya berhasil meminjam mobil Appa untuk merayakan hari ke-100 kami. Aku tersenyum puas melihat persiapan yang telah selesai. Aku mengambil kertas berisi list “Project 100 hari”.
“Mobil, boneka beruang, t-shirt Happy Holiday Onew, skin malgeum Onew, beres,” kataku mencoret beberapa poin dari list yang ada. “Berarti, yang kurang, hmm…huwaaa…masih ada 3 poin lagi. Menyanyikan “just the way you are”, menyiapkan kumpulan foto bersamanya selama 100 hari, dan menyiapkan makanan gurita (tidak) pedas,”

Aku melihat ponselku yang menyala. Sebuah pesan masuk ke ponselku, nama Yesung Hyung menjadi pengirimnya.
“Oh my gosh, aku lupa kalau ada janji dengannya dan Wookie Hyung,” kataku lalu menekan tombol call. “Hyuuuu~~nggg…mianhae…aku ke sana sekarang.. Nee~~ nanti kita sekalian ke cafe-mu ya.. Aku mencintaimu, Hyung.. Nee~~”

Aku tersenyum lalu menuliskan 50% di tulisan Norae. Aku bergegas membereskan barang-barangku lalu segera berangkat ke SM untuk menemui Yesung dan Wookie Hyung.




Aku tersenyum mendengar pertanyaan mereka. “Belum Hyung. Aku belum tau nomor ponselnya Tara,”
“Mwo?? Demi Tuhan, Onew, usia pernikahan kalian hampir 100 hari namun kau masih belum tau nomor ponselnya? Jadi, kalau kalian berhubungan, melalui apa?”
“Manajer Hyung,”
“Onew, hari ini kau harus mendapatkan nomor ponselnya. Taemin saja sudah punya nomor Tara,”
“Jeongmal? Taemin? Oh my… Anak itu harus diwaspadai,” omelku lalu manyun.
“Makanya itu. Kau kan suaminya, Onew, nomor ponsel itu sangat penting dibandingkan yang lain,”
“Nee~~hyung…Kebetulan nanti kami mau makan malam bareng, jadi aku akan menanyakan nomor ponselnya,”
“Bagus, kalau begitu kita latihan sekarang,”
End of Onew POV…
**

“Yaa~~kau kenapa menutup mataku, chara?” protes Onew ketika aku menutup matanya.
I’ve surprised for you, amor,” kataku berbisik padanya lalu membimbingnya duduk. “Sayang, kau tunggu di sini ya,”
“Chara..chara…” teriaknya panik.

Aku tidak menggubris teriakannya. Aku segera mengganti gaunku dengan baju casual dan berdiri di hadapannya. Aku tersenyum melihat dirinya yang matanya masih tertutup kain. Aku segera memberi kode kepada “asisten”ku untuk membuka penutup matanya Onew dan menyalakan tape-recorder. Beberapa saat kemudian, lagu Replay memenuhi ruangan dan aku segera menggerakkan badanku. Aku tersenyum melihat wajah Onew yang kaget namun terlihat bahagia itu. Rasanya malu sekali aku menari di hadapan suamiku dan pengunjung cafe itu. Inilah pertama kalinya aku menari di depan semua orang. Aku berharap dalam hati semoga tarianku ini sama dengan tariannya SHINee. Tiba-tiba saja Onew berdiri dari kursi dan bergabung denganku.

“Kita menari bersama,” katanya lalu mengikuti gerakanku.

Aku menikmati malam ini. Ini pengalaman yang tidak akan aku lupakan. Aku melakukan wave-hand ketika selesai menari. Aku tersenyum ketika mendapat applause dari para pengunjung.

“Kamsahamnida,” kataku kembali menganggukkan kepala lalu berjalan menuju meja yang sudah direserved. Aku tertawa ketika Onew menatapku dengan tatapan menyelidik. “Apakah kau surprised?”
“Tentu saja, chara. Kau sukses dan aku benar-benar bahagia,” katanya dengan senyum. “Siapa yang mengajarimu? Kenapa merahasiakannya dariku?”
“Ahhh…aku diajarin Taemin dan Eunhyuk Oppa. Aku belajar 3x seminggu. Maafkan aku, amor,” kataku tersenyum namun khawatir dia akan marah.
Dia hanya melihatku tanpa berkomentar apa-apa. Jujur, aku takut sekali melihat reaksinya seperti ini.
“Amor…” kataku perlahan menyentuh tangannya. “Apakah kau marah?”
“Aku tidak marah padamu, dear, hanya sedikit shock,” katanya lalu tersenyum. “Lain kali, kalau mau latihan menari, kau harus bilang padaku terlebih dahulu ya,”
“Nee~~ siaaappp…” kataku lalu menyantap menu yang sudah terhidang.
“Chara…hmmm…” suara suamiku terdengar ragu-ragu.
“Ada apa?”
“Lusa kan hari jadi kita yang ke-100, hmm…jadi aku tidak ingin merepotkan manajer kita masing-masing…”
“Amor, apa yang kamu inginkan?” tanyaku bingung. Dia terlalu berbelit-belit.
“Hmm…” katanya lalu menyodorkan ponselnya. “Aku minta nomormu,”
“Haa??” kataku kaget lalu mengambil ponselnya, menuliskan nomorku lalu mengembalikan padanya. “Amor..amor..kok susah sekali. Bilang aja kalau mau tukeran nomor,”
“Aku malu,”
“Astagaaa…” kataku lalu mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di atas meja.

“sekai no doko ni mo kawari wa inaiyo…kimi wa boku ni dake no everything”

“Ahhhh…” kata suamiku menunjuk-nunjuk ponselku yang berbunyi. “Replay…”
“Nee~~ aku membaca fakta-faktamu dari Internet dan kau ingin mengenalkan part-mu di Replay Japanese version pada shawol yang baru,”
“Apakah kau suka artinya?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Nee~~ aku sangat suka sekali arti dari part-mu ini,” aku menyunggingkan senyum yang paling manis.
It won’t change no matter where in the world…You are my only everything” katanya lalu menatap mesra padaku.
**

“Waaahhhhh….romantis sekali,” sewot Jinwoon yang menonton WGM dari studio MBC lalu manyun. “Ahhh…lama-lama aku tidak kuat melihat adegan demi adegan mereka,”
“Harusnya, Onew mengakhirinya dengan sebuah kiss yang romantis juga,” sambung Seulong.
**

Onew POV…
Aku mematutkan diriku untuk memeriksa apakah ada yang kurang. Aku tersenyum puas mendapati diriku tampan sempurna malam ini. Aku keluar kamar dengan beberapa barang di tanganku. Aku tersenyum ketika Key dan Jonghyun menyongsongku dan membantuku membawakan sebagian hadiah untuk Tara.
“Hyung, kau mau pergi kemana?” tanya Key menyelidik.
“Aku? Mau makan malam dengan Tara,” kataku lalu memastikan hadiah-hadiah itu aman di tempatnya.
“Ohh… Aku harap, kau menjadwalkan rekreasi dengan anak-anakmu,”
“Akan aku tanyakan pada eomma kalian,” jawabku senyum.
“Hati-hati, Hyung,”
“Nee,” kataku masuk mobil lalu segera menelpon Yesung Hyung untuk memastikan semuanya telah selesai apa belum. “Nee, Hyung, sekarang aku lagi di jalan menuju apartmentnya Tara. Ahh..kalian menunggu kami di sana? Aku benar-benar berterima kasih padamu, Hyung. Nee~~”




Aku perlahan mengemudikan mobilku masuk ke apartmentnya Tara. Aku keluar dari mobil lalu berdiri di depan sambil memencet nomor ponsel Tara.
“Chara, aku sudah di bawah. Nee~~”

Aku kembali memastikan dandananku. Aku berdiri tegap menunggu Tara dengan jantung yang berdebar kencang. Aku benar-benar terkesima ketika sosok Tara muncul di depanku. Gaun semi-formal jatuh dengan bebas di tubuhnya. Aksen belt-ribbon berwarna ungu menambah manis dirinya. Rambutnya yang biasanya digerai, kini dibuat plum dengan beberapa helai rambut membingkai wajahnya. Ahh..dia benar-benar cantik malam ini. Tidak ketinggalan, wedges dengan warna senada yang menghiasi kakinya tampak sempurna. Aku…jatuh cinta padanya.

“Amor..” suaranya memabukkanku. “Sepertinya kita sehati,”

Aku baru menyadari kalau kami berdua memakai baju dengan warna yang sama. Aku tersenyum lalu mengulurkan tanganku dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.

“Kamsahamnida,” katanya lalu aku segera menutup pintu dan masuk ke tempatku.
“Chara..” kataku lalu tersenyum dan mengulurkan sebuah kotak dari kantong suitku. “Bukalah,”
Dia menerima kotak dariku dan segera membukanya. Matanya berbinar dan bibirnya tersenyum. Perlahan dia mengeluarkan kalung berbandul love yang bisa dibuka.
“Ahh..” katanya lalu membuka bandul itu. “Lucu sekali foto kita ini, amor,”
“Aku pasangkan ya?” tanyaku sopan.
“Nee~~”

Aku mengambil kalung itu lalu segera memasangkan di lehernya. Aku mencium wangi segar dari lehernya. Ahhh…aku gila malam ini.
“Kamsahamnida,” katanya lalu kembali menatapku. “Kau sangat tampan, amor,”
“Nee,” kataku lalu menghidupkan mobilku. “Are u ready?”
“Siaaappp,”
End of Onew POV…
**

Aku memandang tidak percaya bangunan yang berdiri angkuh di sana. Handel dan Gretel. Tempat yang sangat ingin aku datangi ketika aku menjejakkan kaki di Seoul. Kini, keinginanku terkabulkan karena suamiku.
“Inilah tempatnya,”
“Kamsahamnida, amor,” kataku dan tanpa pikir panjang mencium pipinya.
“Ahh…” katanya lalu memegang pipinya yang aku cium. “Terima kasih untuk ciuman manis ini, Tara. Ayo kita turun,”
“Nee~~”

Aku segera turun setelah Onew membukakan pintu dan kembali mengulurkan tangannya. Aku dan Onew berjalan beriringan memasuki cafe itu. Betapa kagetnya ketika masuk, beberapa orang yang sangat kenal berdiri menyambut kami. Yang paling membuat aku kaget, backsound di cafe ini adalah Just The Way You Are, menambah romantis suasana.

“Selamat datang, pengantin baru,” suara Yesung Oppa menyambut kami.
Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku karena bertemu dengan dirinya. Namun, aku hanya tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
“Chara,” bisik suamiku. “Kau boleh memeluknya. Karena itu salah satu hadiahku untukmu,”
“Gomawo,” kataku lalu memeluk Yesung Oppa. “Yesung ssi, kamsahamnida,”
“Nee~~ silakan,” katanya lalu menunjukkan meja yang sudah disiapkan.

Aku terbelalak melihat meja itu. Meja itu…sangat romantis. Aku tersenyum ketika Onew menarik sebuah kursi dan memintaku duduk.
“Kamsahamnida,”
“Nee~~” kata Onew lalu duduk di hadapanku. “This is for us, our 100 days anniversary,”
“Kamsahamnida. Very very gamsahae,”
“Well…silakan menikmati suasananya ya sementara itu para pekerjaku akan menyiapkan menu buat kalian berdua,”
“Hyung, terima kasih,”
“Yesung ssi…”
“Kau bisa memanggilku dengan Yesung Oppa,”
“Yesung Oppa, very very gamsahae,”

Aku saat ini tidak bisa menghilangkan senyumku. Malam ini aku benar-benar bahagia. Kencan ini kencan yang paling romantis.

“Chara… buatmu,” kata suamiku mengulurkan kotak berukuran sedang berpita pink magenta padaku.
“Terima kasih,” kataku lalu segera membuka kotak itu. “Ahhh…T-shirt Happy holiday Onew.. Wahhh..skin malgeum…Mwo?? Apa ini? Project 100 hari Charamore?”
“Hehe..Charamore itu sebutan buat kita, chara. Sama seperti Khuntoria, Yongseo, Teukso, Adam,”
“Hahh…” kataku lalu membuka kumpulan foto kami berdua. Aku benar-benar tidak percaya Onew menuliskan detail semua peristiwa yang telah kami alami selama 100 hari. Aku menitikkan air mata kebahagiaan karena bisa mengalami ini semua.
“Amor..Aku benar-benar mengucapkan terima kasih padamu. I love you,” kataku lalu menyusut air mataku. “Aku benar-benar bahagia malam ini,”

Onew berdiri lalu berlutut di hadapanku dan menatapku mesra.
“Ini belum seberapa, chara. Aku masih punya hadiah lainnya,” katanya lalu berdiri dan berjalan menuju piano.
Tiba-tiba saja lampu sorot segera menyorot dirinya. Aku terpukau melihat dirinya diterangi lampu tersebut. Menyala seperti bintang. Beberapa saat kemudian, mengalunlah irama piano lagu kesukaanku dan suara Onew terdengar menyanyikannya. Kembali air mataku menitik menyaksikan penampilannya di sana.

When I see your face, there’s not a thing that I would change
Cause you’re amazing, just the way you are
And when you smile, the whole world stops and stares for a while
Because girl you’re amazing, just the way you are
The way you are, the way you are
Girl you’re amazing, just the way you are






“Amor…” kataku ketika berada di mobil. “Aku benar-benar bahagia malam ini. Terima kasih banyak, sayangku,”
“Aku jadi malu. Aku juga bahagia malam ini,” kata Onew lalu melihat ke dashboard mobil. “Apa ini?”
Aku melihat ke arah card yang berpitakan pink lalu menatapnya dengan senyum.
Card-mission,” kata kami bareng.
**

Sementara itu, Minhyuk dan Seulong menggigit bantal kursi studio MBC.
“Mukyaaaa~~~~” teriak Minhyuk histeris. “Tidaaaakkk…romantis sekali mereka.. PD-nim…bisakah aku menggantikan Onew???”
“Yaa~~yaa~~Minhyuk…kalau boleh, aku juga pengen. Mereka romantis sekali,” kata Seulong.
“Hyung, besok kita akan menyamar jadi Onew, bagaimana?”
“Mwoo??”
**

“Huwaaaa~~” kataku histeris. “Apakah ini hadiah dari PD-nim buat kita, amor?”
“Aku juga tidak tau. Kita tanya saja dengan ahjumma yang menelepon kita tadi,”
“Nee~~”

Aku dan Onew turun dari mobil dan bergegas menuju rumah itu. Rumah yang berlantai 2 ini bernuansa putih dan creme. Minimalis sekali. Rumah ini juga memiliki garasi. Teras rumah menambah indah yang terletak di atas garasi yang bisa diakses dari lantai 2.

Perlahan kami mengetuk pintu rumah dan menunggu dengan sabar di luar. Beberapa saat kemudian, seorang ahjusshi yang kemungkinan suami si ahjumma membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Kami ternganga melihat dalam rumah. Benar-benar mewah. Interior dan furniture yang ada sangat sepadan. Aku tersenyum ketika mendapati dapur yang terletak di samping ruang keluarga.

“Wahh…” kataku lalu naik ke lantai 2. “Amooorrr…indah sekali,”
Ternyata lantai 2 ini hanya berisi 1 kamar tidur yang dilengkapi dengan tivi plasma yang tertempel di dinding dan 2 jendela. Jendela 1 akses ke balkon dan jendela yang lain akses ke teras.
“Charaaa…” suara suamiku terdengar. “Kamu di mana?”
“Aku di teras,” kataku menghirup udara dalam-dalam.
“Chara…”
Aku menoleh ke arahnya dan menarik dirinya lalu segera memeluknya dari belakang. Romantis sekali. Kami bisa menikmati bintang dari sini.

“Tara ssi, Onew ssi…” suara Ahjusshi terdengar dari belakang.
Aku segera melepas pelukanku dan tersenyum.
“Selamat atas pernikahan kalian. Rumah ini menjadi rumah kalian. Kalian berdua bisa menghubungi kami kalau ada sesuatu yang dibutuhkan,”
“Nee~~” kataku lalu turun ke bawah karena Ahjusshi tersebut mau pulang. “Ahjusshi…kamsahamnida,”
“Nee~~”

“Charaa…” kata Onew dari belakang lalu duduk di sofa. “Ayo sini,”
Aku mengangguk lalu duduk di sebelahnya dan merebahkan kepalaku ke pundaknya.
“Besok, kita akan berbelanja untuk melengkapi rumah ini. Ottae?”
“Besok? Aku tidak bisa, amor, karena besok aku ada jadwal di Cube untuk berdiskusi mengenai pemotretan,”
“Begitu? Kira-kira jam berapa selesainya?”
“Aku tidak bisa memastikan. Nanti aku akan meneleponmu kalau sudah selesai,”
“Aku mengerti,”
**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s