[FanFict] Accidentally Mommy

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

Title: Accidentally Mommy
Cast: Onew, Jung Tara, Niel, L.Joe, Park Hae Mi, Park Eun Min
Cameo: Jung-Ah, Vanie Lee
Disclaimer: Onew belong to SM Ent., Jung Ah belong to Pledis., Niel dan L.Joe belong to TOP Media., Jung Tara, Vanie Lee, Park Hae Mi, Park Eun Min belong to cloudyeppeo Ent.
::::::::::

Coffee-shop…
Cowok tampan itu tidak percaya mendengar perkataan sang kekasih. Mata cowok tampan itu tampak membesar menatap sang pacar.

“Jung-ah~~ Apa..kah…”

“Apa masih kurang jelas, ohng? Aku tidak menginginkan bayi ini, Onew,” kata cewek cantik itu ketus lalu memberikan bayi yang dipegangnya pada cowok tampan dihadapannya. “I’m just playing with you, dear,”

“Jung-ah..kau tega..”

I don’t care about that, honey,” katanya lagi dengan tersenyum sinis. “Well…urusan kita berakhir sudah, jadi, kau jangan mencariku lagi,”

“Jung-ah~~”

“Bye, Onew,”
**

“APA-APAAN INI, ONEW?”
“Eomma~~ jeongmal mianhae… Aku benar-benar minta maaf,” kata Onew pelan dengan kepala menunduk. “Aku bertanggung jawab atas semua ini, Eomma..tapi, aku memohon padamu agar bisa menjaga bayi ini untuk sementara waktu sampai aku mendapat pekerjaan yang mapan,”
“KAUUUU..” maki perempuan yang dipanggil eomma itu. “Sudah Eomma bilang, Jung-ah itu bukan perempuan yang baik untukmu, tapi.. kau malah menentang kami dan membela perempuan itu. Inilah pelajaran yang kau dapat, Onew~ah…”

“Jagi…sudahlah…” kata pria yang duduk disamping wanita itu. “Terima saja bayi ini,”
“Yobo~~”
“Jagiya…ini anugerah dari Tuhan untuk keluarga kita,” kata pria itu lagi dengan senyum bijaknya. “Onew, kau akan memberi nama siapa pada anakmu ini?”
“Appa…kamsahamnida..” kata Onew berusaha tersenyum. “Aku masih belum memikirkan nama bayi ini,”

“Onew…hmm..bagaimana kalau kita menamakan bayi ini dengan Lee Hae Byeol?”
“Eommaaa…” kata Onew histeris lalu memeluk wanita itu dengan erat. “Kamsahamnida,”
**

“Hae Mi…Eomonim itu sepertinya sedang ada masalah,” kataku menunjuk ke seberang jalan.
“Dan kau akan ke sana untuk menolongnya?” tebak Hae Mi lalu menatapku.
“Nee~~” kataku dengan senyum. “Aku kasihan melihatnya,”
“Yaa~~” teriak Hae Mi kencang. “Kalau kau terlambat L.A.G.I, kau akan mendapat hukuman dari Vanie Seonsangnim…”
“Aku akan menyusul..” kataku lalu bergegas menyebrang.
“Taraa..Yaa~~ JUNG TARAAAA~~” teriak Hae Mi kencang yang aku balas dengan lambaian tangan.



“Eomoniiimm~~” kataku lalu menganggukkan kepala. “Annyeonghaseyo,”
“Ahh..annyeonghaseyo..” kata wanita paruh baya itu menatap ke arahku dan menyunggingkan senyum.
“Tara imnida,” kataku sambil menunjukkan name-tag di baju sekolahku,”
“Jung Tara namamu?”
“Nee~~” kataku lalu melihat bayi yang dipegangnya. “Ahhh…tampan sekali anakmu, Eomonim,”
“Anii~~ dia cucuku, Tara,” katanya mengejutkanku.
“Cucu?” kagetku. “Kau masih sangat muda untuk menjadi seorang Halmoni, eommonim.. Ahh,, maafkan atas kelancanganku,”
“Tidak apa-apa, Tara,” katanya menghela nafas lalu mengulurkan botol susu padaku. “Aku sepertinya gagal mendidik anakku…”

Aku melihat ke arahnya. Matanya menitikkan air mata.

“Anakku itu…usianya tidak jauh beda denganmu, Tara…”
“Usiaku tahun ini masuk 19, Eomonim..”
“Berarti anakku satu tahun lebih tua darimu, Tara. Usianya baru 20 tahun…tapi…”
“Eomonimm…Bayi ini pasti akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu,” kataku dengan senyum lebar.
“Kau benar…” katanya lalu memasukkan botol susu kosong ke dalam tas. “Lee Hae Byeol…nama bayi ini…benar-benar membawa berkah. Suamiku, puji Tuhan, mendapat jabatan yang sangat bagus di perusahaannya,”

“Wahhh..adik kecil..namamu sungguh hebat. Hae Byeol.. Semoga kau menjadi Bintang yang bersinar terang seperti Matahari di keluarga kecilmu ya,”
“Yaa~~ apakah kau…tidak bersekolah?”
“Hahaha…” kataku garuk-garuk kepala. “Aku pergi sekarang, Eomonim…”
“Hati-hati, anakku,”
“Nee~~ annyeong,” kataku lalu berlari kencang menuju sekolah.
**

“JUNG TARAAAAAA~~~” teriak Vanie Seonsaengnim kencang ketika wajahku muncul di kelas. Aku segera menyunggingkan senyum manisku. “Senyummu tidak mempan untuk mengurangi kekesalanku padamu, Tara,”
“Seonsaeng..mianhae…aku…”
“Apalagi yang akan kau jelaskan padaku? Alasan apa lagi yang akan kau utarakan padaku, ohng?”
“Aku tidak akan membuat alasan atas keterlambatanku, Vanie-ssi,” kataku tertunduk pelan. “Aku siap menerima hukuman darimu,”
“MWO??”kaget Vanie ssi menatapku tidak percaya. “Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?”
“Tidak ada, seonsaengnim,” kataku menatap ke arahnya. “Aku hanya ingin meminta maaf,”
“Hahaha… Apakah kepalamu terantuk? Sejak kapan seorang Jung Tara mengucapkan kata maaf,” kata guru cantik itu lagi. Aku hanya menghela nafas. “Ya sudah, kau masuk dan duduk. Kali ini aku memaafkanmu,”
“Kamsahamnida,”
**

5 years later…

“Yaa~~ Eun Min… aku sekarang sudah berada di Narita, jadwal keberangkatanku jam 1 siang..Arasso… Aku tidak akan terlambat di pernikahannya Hae Mi dan L.Joe.. Kau tenang saja.. Kau cerewet sekali…” kataku menghela nafas lalu melihat sekeliling. “Yaa~~ apa aku harus menjodohkanmu dengan aktor terkenal itu, Ahn Daniel, biar cerewetmu bisa berkurang… Oh Tuhan, Eun Min… Aku tidak akan pulang ke apartmenku.. Aku langsung menuju ke tempat pernikahan.. Nee~~”

“Mommy…” suara seorang anak kecil memaksaku menyunggingkan senyum. Kini, di hadapanku berdiri seorang anak kecil dengan boneka beruang coklatnya sedang melihat ke arahku dengan mata beningnya. “Mommy…”

“Mommy??” tanyaku ulang sambil menunjuk pada diriku. “Sayang, aku bukan Mommy-mu,”

Mata anak itu segera berkaca-kaca mendengar perkataanku. Mati.. Kalau anak itu menangis, seluruh penumpang yang berada di ruang tunggu akan melihat ke arah kami berdua. Aku kembali menyunggingkan senyumku lalu membantunya duduk di sebelahku.

“Mommy…akhirnya aku menemukanmu,” katanya lagi lalu memegang tanganku.

“HAE BYEOL….HAE BYEOL…” suara seseorang memanggil sebuah nama yang sepertinya familiar denganku.
“APPA…” kata anak kecil itu lalu mengangkat boneka beruangnya.
“Hae Byeol~ah..” kata cowok tampan yang dipanggil Appa oleh anak kecil itu. “Kau jangan membuat Appa cemas, sayang,”
“Mianhae,”
“Dan kau…” katanya lalu menunjuk diriku. “Apakah kau yang menculik anakku?”

Mataku membulat mendengar tuduhannya. Apa katanya tadi? Dia menuduhku menculik anaknya?

“Yaa~~ Mister.. tolong berhati-hati ya.. Aku tidak menculik anakmu. Dia sendiri yang datang ke tempatku. Jadi, lebih baik kau tanyakan pada Hae Byeolmu ini,” ketusku.
“Apaa…” kata Hae Byeol dengan menunjukkan wajah sedihnya. “Mommy,”
“MOMMY?? Yaa~~ apakah kau juga meracuni pikiran anakku, ohng?”

“Apa salahku hari ini Tuhan?” kataku menghela nafas lalu menatap bengis ke cowok tampan ini. “DENGAR BAIK-BAIK…AKU TIDAK TAU SIAPA KALIAN DAN KALIAN TIDAK MENGENAL AKU.. JADI, JANGAN ASAL TUDUH SEPERTI INI, MISTER..”

“Para penumpang pesawat Korean Air tujuan Seoul, silakan memasuki ke dalam pesawat”

Aku segera mengangkat tasku lalu bergerak meninggalkan ayah dan anak yang sama-sama tampan itu namun sukses membuat kepalaku sakit.

“Mommy…” teriak Hae Byeol sambil berlari mengejarku. Langkahku tertahan karena tangannya mengenggam tanganku. “Mommy..jangan pergi dari Hae Byeol,”
“Hae Byeol~ah..” kataku menatapnya lalu tersenyum. “Baiklah.. Mommy tidak akan meninggalkanmu, sayang. Ayo,”
“Yaa~~”
“Mister, aku melakukan ini demi anakmu,” kataku pelan lalu berjalan beriringan.
**

“Aku tidak bisa bersama kalian,” kataku pada Onew, nama cowok tampan yang dipanggil Appa oleh Hae Byeol. “Aku dan kau punya kehidupan masing-masing,”
“Tara…” kata Onew lalu melihatku. “Apakah kau tidak bisa melakukannya demi anakku? Hae Byeol… ditelantarkan oleh ibunya 5 tahun yang lalu,”
“Kau telah menceritakan masa lalumu padaku, pada orang yang baru kau kenal 2 jam yang lalu. Tapi, aku tidak bisa, Onew ssi, sekarang aku akan pergi ke acara pernikahan saabatku,”
“Aku akan bersamamu ke sana, Tara,”
“APAAA???”
“Nee~~ Kami berdua akan menemanimu ke acara pernikahan sahabatmu,”



Kedatanganku dengan seorang lelaki tampan dan anak kecil mengundang tatapan menyelidik dari sahabat-sahabatku yang sudah memenuhi tempat acara. Aku hanya bisa tersenyum kecut mendapati serangan mereka.
“Annyeonghaseyo,” kataku membuka suara dan berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana.
“KAUUU…JUNG TARAAAA~~” suara Eun Min terdengar keras. “Apakah kau menikah selama di Jepang, ohng?”
“Yaa~~ Park Eun Min,” kataku lalu menarik dirinya menjauhi Onew. “Aku akan menjelaskan semuanya setelah acara ini selesai,”
“Tapi…anak itu sangat tampan, Tara. Kau jatuh cinta padanya, ohng?” kata Eun Min menggodaku.
“Mwo??”
“Apapunlah itu, Tara..semoga kau bahagia bersama mereka ya. Pria yang bersamamu…tampan sekali, hahahaha,”
“Apakah kau berniat menggodanya?”
“Tidak, targetku hanya aktor tampan bernama Ahn Daniel,”
“Bagus,”
**

Onew POV…
Aku tidak habis pikir ketika melihat pemandangan di depanku. Wanita yang sama sekali tidak aku kenal itu kini tengah bermain dengan anak semata wayangku. Siapa dia?

“Yaa~~ Tara…” suaraku memanggil namanya. “Apakah kau tidak berencana untuk tidur, ohng?”

Aku segera meralat ucapanku ketika mendapati tatapan menyelidik darinya.

“Maksudku, kalau kau tidur, aku juga bisa tidur. Aku sudah sangat capek,”
“Ahh…” katanya lalu tersenyum dan segera mengangkat Hae Byeol. “Hae Byeol, ucapkan selamat malam pada Appa,”
“Appa..selamat malam,” kata anakku itu lalu mengecup kedua pipiku. “Hae Byeol sayang Appa,”
“Appa sayang Hae Byeol,”

“Onew ssi, selamat malam,”



Aku duduk tepekur di pinggir kasurku sambil melihat pigura fotoku dengan orangtuaku. Air mataku jatuh secara perlahan.
“Eomma… Onew sudah kembali ke Korea.. Kini.. Hae Byeol sudah memiliki seorang teman..” kataku pada pigura itu. “Eomma Appa..Onew janji, akan membawa seorang istri dan ibu yang baik buat aku dan Hae Byeol,”
End of Onew POV…
**

Aku duduk termenung di pinggir jendela besar di belakang meja kerjaku. Peristiwa kepulanganku ke Korea terus berkeliaran di kepalaku.

“Hae Byeol…” kataku pelan. “Sepertinya aku pernah mendengar namanya sebelum ini…tapi di mana dan kapaaaannnn??” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal mencari jawaban.

“Agassi…” suara sekretaris memaksaku untuk melihat ke arahnya.
“Nee~~”
“Ini laporan perusahaan selama kau berada di Jepang,”
Aku menerima beberapa map lalu menaruhnya di atas meja. Perlahan tanganku mengambil map yang terletak paling atas.
“Cloudy Kindergarten…” kataku lalu membaca laporannya. “Senang sekali aku melihat perkembangan Cloudy Kindergarten, Kim,”
“Itu berkat usaha yang dilakukan oleh Eun Min sajangnim, Agassi,” kata sekretarisku dengan senyum. “Kita tidak salah memilih orang,”

“Kim…Park Eun Min…benar-benar bisa diandalkan..namun…gadis cantik itu sungguh sangat cerewet,”
“Hahaha…” sekretarisku tertawa mendengar perkataanku. “Agassi…akhir-akhir ini banyak pria yang menanyakan kebenaran berita pernikahanmu di Jepang,”
“MWO??”
“Nee~~ berita itu segera tersebar luas ketika kau datang ke pernikahan Hae Mi Agassi bersama seorang pria tampan dan anak kecil,” kata sekretarisku lagi lalu tersenyum. “Tapi Agassi…jujur, kami semua, seluruh staff Cloudyeppeo Coorporation sangat bahagia mendengar berita pernikahanmu,”
“MWOO?? Yaa~~ KIIIMMM..Neooolll…”
“Agassi..semoga kau bahagia dengan mereka ya,” kata sekretaris Kim dengan senyum. “Aku permisi dulu,”

TILILIT…TILILIT…

“Nee~ Eun Min..”



“Cottooo~~Eun Min…” teriakku melihat wanita cantik berkacamata itu. “Yaa~~ aku tidak bisa membawa Hae Byeol ke kantor..”
“Tapi Tara…masa kau mau menitipkan Hae Byeol di sini sampai kau menjemputnya, ohng? Kasihan Hae Byeol,”
“Eun Min…tolong mengertilah posisiku..Aku ini korban..korban kebodohan laki-laki tampan itu,”
“Onew maksudmu? Hahaha…” Eun Min menertawakan diriku. “Kau tau…Onew itu sangat tampan, babo, masa kau mau menyia-nyiakan dirinya?”
“MWO?? Menyia-nyiakan katamu? Aissshhh…kau ini semakin menyebalkan, Eun Min,” sungutku.
“Tara, dengarkan aku,” kata Eun Min serius. “Hari ini aku ada janji dengan salah satu petinggi distrik Gwangmyeong-si untuk membicarakan rencana perluasan Cloudy Kindergarten di sana,”
“Gwangmyeong-si?”
“Nee~~ kampung halamanmu dan Hae Mi. Apakah kau melupakannya?”
“Tidaakk..” kataku tersenyum kecut. “Aku rasa…ada sesuatu yang akan mengingatkanku mengenai Hae Byeol kalau aku ke sana,”
“Terserahlah. Aku terpaksa mengusirmu sekarang karena petinggi distrik itu telah menelponku,” kata Eun Min lalu berdiri dan meninggalkanku begitu saja.

“Cottooo~~ Yaa~~ Park Eun Min…” teriakku yang tidak digubris oleh wanita cerewet itu.
Aku menghela nafas memandangi punggung sahabatku yang semakin menjauh. Helaan nafasku semakin terdengar ketika terdengar bunyi deru mobil yang semakin mengecil.

Aku tercenung memikirkan apa yang harus dilakukan. Aku tersentak ketika mendengar suara salah satu asistennya.
“Tara sajangnim…” suara sang asisten memanggil namaku. “Hae Byeol sudah di sini,”
“Ahh…” kataku tersenyum ketika wajah anak ganteng itu muncul di hadapanku. “Bagaimana hari ini, sayang?”
“Menyenangkan, Mommy,” kata Hae Byeol dengan mata binarnya. “Hari ini kita mau ke mana, Mommy?”
“Mommy akan mengajakmu bermain di kantor ya,”
“Yeee~~”
**

Aku tersenyum senang ketika Hae Byeol terlelap di salah satu sofa ruanganku. Aku menginstruksikan sekretarisku untuk memindahkannya ke ruangan pribadiku.
“Agassi..Hae Byeol lucu sekali,” kata Kim tersenyum lebar. “Bolehkah aku menjaganya?”
“Yaa~~tugasmu di sini bukan sebagai baby-sitter, Kim, tugasmu sebagai sekretarisku,”
“Aku mengerti, Agassi, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Hae Byeol,”
“Oh Tuhaaann..baiklah..baiklah… Selama aku rapat, tolong kau jaga Hae Byeol,”
“Aku mencintaimu Agassi,”
**

“Mommy..cohahae,” kata Hae Byeol tiba-tiba lalu mencium pipiku. “Mommy…gomawoyo,”
“Saranghae, Hae Byeol,” kataku tersenyum.
“Yaa~~ JUNG TARAA…” suara Onew mengagetkanku. “Apakah kau saat ini sedang berencana mencuri hati anakku, ohng?”
“Mister, jangan salahkan aku kalau hal itu terjadi,” kataku mengerling genit padanya.
“Aishhh…kalian berdua ya…” gemas cowok tampan berkacamata itu. “Aku akan merebut kembali hati anakku, Tara,”
“Terus, kapan kau akan merebut hatiku, Onew?” tanyaku usil lalu tersenyum.
“Mwo??”
“Kidding,”



“Ahhh…senang sekali aku malam ini,” kataku senang lalu mengelus kepala Hae Byeol yang sudah terlelap di pangkuanku. “Onew, kamsahamnida,”
“Sebentar..” katanya lalu melihat ke arahku. “Berani sekali kau memanggilku dengan “Onew”, memangnya umurmu berapa sekarang?”
“Umurku? 25 tahun, wae?”
“Yaa~~kau itu satu tahun lebih muda dariku, jadi jangan memanggilku dengan “Onew”, kau harus memanggilku dengan “Onew Oppa”,”

Aku tersedak mendengar perkataannya.

“Onew Oppa?” tanyaku kaget. “Aku tidak akan memanggilmu dengan itu,”
“Kau…nakal sekali,”
“Biarin..” kataku tersenyum lebar. “Mehrong,”
“MWOO?? Yaa~~ JUNG TARAAAA~~”
**

Onew POV…
Aku membiarkan cowok tampan yang berada di hadapanku mengeluarkan sumpah serapahnya. Ahn Daniel, sahabatku yang sekarang tetap menjadi sahabatku meskipun statusnya kini sebagai Most Famous Actor.

“Yaa~~ Onew~ah.. Akhirnya kau kembali setelah menghilang tanpa kabar,” kata Niel mengeluarkan amunisinya. “Baca ini,”

Aku menerima surat kabar yang dibawa olehnya. Aku tidak menyangka kehadiranku di pernikahan Park Hae Mi dan L.Joe menjadi berita yang paling dicari di Naver. Berita yang paling hangat, fresh from the oven, di seantero Korea Selatan.

“Kau tau, siapakah Jung Tara itu?”
“Tidak… yang aku tau, dia stranger yang berhasil mencuri hati anakku,”
“Yaa~ babo.. Tara itu…sahabatku,”
“Mwo??” tanyaku kaget. “Aku pikir kau akan berbicara serius, Niel,”
“Tara itu sahabatku, Onew,” kata cowok tampan itu serius lalu menatapku tajam. “Jung Tara…owner Cloudyeppeo Corporation…yang membawahi Cloudy Kindergarten, Cloudyeppeo Resort dan Hotel…”
“Stop..stop.. apa katamu? Dia owner dari CC? Serius?”
“Kalau dia tidak terkenal, berita ini tidak akan menjadi berita yang paling banyak dibicarakan orang, babo,” sungut Niel lalu tersenyum. “Terus, apa yang akan kau lakukan?”

Aku menggeleng lalu menghela nafas. Aku menyandarkan tubuhku ke kursi lalu menerawang.
“Molla, Niel,”
“Aku tidak bisa berkata apa-apa, Onew. Hae Byeol…sepertinya sudah jatuh cinta pada Tara… Aku rasa.. anakmu itu menemukan sosok ibu dari Tara,”
“Molla…”
“Yaa~~ apakah kau pesimis setelah mendengar siapa Tara yang sebenarnya, ohng? Mana Onew yang aku kenal?”
“Onew yang kau kenal telah lenyap ketika masalah itu muncul, Niel,”

“Onew..” kata sahabatku dengan senyum. “Hae Byeol itu anugerah buatmu. Buktinya, kau mendapat pekerjaan yang sangat mapan dengan posisi yang cukup atas kan? Toko daging keluargamu juga berkembang pesat.. Ayahmu juga.. sekarang menjadi penguasa di Gwangmyeong..dan… sekarang.. kau memiliki “hubungan” dengan Tara secara tidak sengaja…yang merupakan keinginan dari setiap pria,”

Aku hanya tertawa mendengar celetukan Niel. Aku diam-diam memuji dirinya yang semakin dewasa.
“Kamsahamnida,” kataku tersenyum. “Aku dengar, kau ada hubungan dengan penanggung jawab dari Cloudy Kindergarten, siapa namanya? Park Eun Min?”

“Yaa~~ kau tau dari mana soal itu?”
“Tara dan Eun Min..bagaikan kucing dan anjing kalau bertemu. Tara selalu mengancam Eun Min kalau kecerewetannya muncul,”
“Mengancam?”
“Tara selalu bilang “apakah aku harus menjodohkanmu dengan aktor terkenal itu, Ahn Daniel, agar cerewetmu berkurang”,”
“Wanita itu…” kata Niel geregetan. “Jjinjja…”
“Itulah daya tariknya, Niel,” kataku tiba-tiba. “Ahh…maksudku…Niel..maksudku…”

“Hahaha… apakah kau mulai menyukainya?” goda Niel.
“Molla,”
End of Onew POV…
**

Aku mendengus mendengar cerita bulan madu Hae Mi yang ke Indonesia.
“Ahhh..aku mengunjungi 2 tempat wisata di Indonesia. Lombok dan Bali.. Oh my gosh… Negara itu benar-benar indah,”
“Lombok?” heranku.
“Nee~~ kami berdua terinspirasi dengan WGM Woojung Couple…” kata Hae Mi berbinar. “Daaaannn…benar-benar indah… Aku jatuh cinta pada Gili Trawangan.. Jjinjja…”
“Aku rasa, Tara akan merencanakan bulan madu dengan Onew Oppa ke sana, Hae Mi,”
“Chamkan…” kata Hae Mi menatapku penuh selidik. “Apakah kau benar telah menikah di Jepang? Hae Byeol, anak tampan itu berumur 5 tahun, sedangkan kau hanya 6 bulan di Jepang..bagaimana bisa…”
“Kau pintar, Hae Mi, tidak seperti wanita bawel ini,” sungutku. “Aku itu tidak menikah dengan siapapun di Jepang…jangankan menikah, pacarpun tidak punya. Accidentally Mommy, bisa dibilang begitu. Aku bertemu dengan mereka ketika kepulanganku ke Korea..”

“Dialah jodohmu, Tara,” kata Hae Mi berbinar.
“Aku bukan sepertimu yang bisa jatuh cinta dengan pria yang duduk di sampingmu ketika di pesawat, Hae Mi. Aku sungguh tidak habis pikir, kau dan L.Joe bisa menikah,”
“Tuhan..punya rencana indah buat manusia, dear,”
“Aku mengerti,” kataku akhirnya lalu meneguk pesananku.

“Tara..” suara Eun Min terdengar. “Ada baiknya kau menonton reality show Hello Baby MBLAQ..agar kau mendapat referensi untuk mengurus Hae Byeol,”
“Ini…” kata Hae Mi mengulurkan sebuah buku padaku.

“Cara-cara mengurus anak untuk wanita karier sepertimu. Kau…mulai belajar membagi waktumu dengan “keluarga”. Aku tau..kau itu workaholic, namun sekarang, kau telah memiliki “keluarga” yang menunggumu,”
“Aku benar-benar mencintai kalian,” kataku memasukkan buku tersebut ke dalam tas. “Kamsahamnida,”
**

Onew..pekerjaannya bertambah satu yaitu meladeni pertanyaan dari paparazzi. Pemilik beberapa peternakan ayam dan owner beberapa restoran ayam goreng itu menjadi berita hangat di seantero Korea Selatan ketika dirinya tertangkap kamera menghadiri pesta pernikahan dengan seorang wanita.

“Onew ssi…apakah benar semua berita itu? Tolong konfirmasinya,”

Cowok tampan itu hanya bisa tersenyum kecut mendapati serangan dari paparazzi yang sudah mengerumuni kantor kecilnya. Beberapa pihak keamanan tampak berusaha keras untuk menahan paparazzi agar tidak mengenai bos mereka.

Accidentally Marriage,” kata Onew dengan senyum khasnya.
“Apa maksud perkataan anda, Onew ssi?”

Pria tampan itu hanya menyisakan senyum sebelum dirinya bergegas menuju mobil pribadinya.

“Yaa~~ Onew ssi..Onew ssi..Onew ssi…”

TINN…TINN…

“Tolong ya…tolong…Onew sajangnim masih ada rapat di luar kota,” kata pihak keamanan berusaha membubarkan kerumunan paparazzi itu supaya mobil bos mereka bisa pergi dengan segera.
**

Onew POV…
Aku kaget karena mendapati Tara telah terduduk dengan manis di depan tivi yang menayangkan sebuah reality show Hello Baby MBLAQ. Aku tersenyum ketika wajahnya melihat padaku.

“Aku telah menyiapkan makanan dan minuman buatmu, Onew,” katanya singkat lalu kembali fokus pada acara tivi itu.
“Yaa~~” kataku lalu mengambil remote dan menekan tombol “off”. “Kenapa kau sudah berada di rumah, ohng?”
“Mulai saat ini, aku berusaha untuk berada di rumah sebelum jam 6 sore,” katanya lagi lalu merebut remote dari tanganku. “Aku sengaja menonton acara ini supaya tau bagaimana cara mengurus anak dengan baik,”

Aku mengambil buku yang tergeletak di atas meja dan meminta penjelasan dari wanita cantik itu.

“Aduuuhhhh… bisa tidak kau membiarkan aku menonton acara ini sampai selesai, ohng? Itu buku yang dibelikan Hae Mi untukku supaya menjadi Accidentally Mommy yang baik,”

“Tapi Tara…” kataku lagi yang memicu tatapan tidak suka darinya. “Buku ini berbahasa Indonesia,”
“Mwo??” kagetnya lalu mengambil buku tersebut dari tanganku dan membukanya dengan kasar. “Demi Tuhan..Apakah Hae Mi berpikir aku mengerti bahasa Indonesia…”
“Tara…”
“Yaa~~Onew.. aku sudah banyak ketinggalan acara ini…” katanya lagi lalu kembali konsentrasi ke acara MBLAQ Hello Baby. “Wahhh…Seungho keren sekali…”

Aku tersedak mendengar perkataannya. Matanya berbinar bahagia, apakah gadis cantik ini jatuh hati pada Seungho. Aku merasakan sesuatu mengaliri perasaanku. Panas. Yaa~~ Aku sedikit tidak suka ketika dia memuji cowok lain di hadapanku.

“Onew…apakah kita perlu bertemu dengan MBLAQ untuk membantu mengurusi Hae Byeol?”
“Aku rasa tidak perlu,” ketusku lalu meninggalkan Tara sendirian.
End of Onew POV…
**

“Yaa~~ Hae Mi…” kataku lalu mengulurkan buku yang diberikannya padaku. “Kau membeli buku berbahasa Indonesia,”
“Masa?” kaget Hae Mi lalu mengambil buku tersebut dan membukanya. Hae Mi hanya meringis dan tersenyum salah tingkah. “Hahaha..jeongmal mianhae, cantik, aku salah mengambil sepertinya,”
Aku terkekeh melihat reaksinya. Aku tersenyum lalu kembali mengambil buku tersebut. “Tidak apa-apa, Hae Mi, aku akan mencoba memahami isi buku ini dengan google translate,”
“Ide yang cemerlang,”



Aku melihat sekeliling toko buku untuk mencari sosok Onew. Aku mendengus tanda tidak suka karena Onew terlambat dari waktu janjian. Aku mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa kesal dan bosan yaitu dengan mengelilingi toko buku. Mataku terpaku pada sebuah pamflet yang terletak tidak jauh dari kasir.

How’s to educate a children for career woman?” kataku membaca judul buku tersebut. “Wahhh…aku ikutan ini saja sembari menunggu Onew,”
Akupun ikutan mendaftar untuk menghadiri talk-show mengenai cara mendidik anak. Tanganku terhenti ketika seseorang meneriaki namaku.

“Yaa~~JUNG TARAAA…NEOOOLLLL…”

Aku menoleh ke arah suara. Seraut wajah cantik berkacamata menyambutku dengan senyum yang terbentuk di bibirnya. Aku menyudahi pendaftaran terlebih dahulu sebelum meladeni wanita cantik itu.

“Nuguseyo?” tanyaku pelan. Wanita itu tertawa terbahak-bahak.
“Babo…” katanya lalu menarik tanganku menjauh dari antrian. “Apakah kau tidak mengenalku, ohng?”
“Tidak…” kataku polos lalu terus melihat ke arahnya. Tiba-tiba sebuah wajah melintas di pikiranku. “Ahh..apakah kau.. Vanie Seosaengnim?”
“Ping Pong..” katanya lalu menjentikkan jarinya.
“Seonsaeng…” kataku setengah berteriak. “Kau sangat berubah. Cantik sekali,”
“Gomawo..” katanya lalu menatapku menyelidik. “Yaa~~kenapa kau mengikuti talk-showku, ohng?”
“Mwo??” bingungku.
“Kau itu ya..meskipun telah menjadi wanita karir, tapi kau masih terlihat bodoh di mataku. Apakah kau tidak membaca yang menjadi pembicaranya?”

Aku garuk-garuk kepala lalu segera melihat ke arah pamflet. Mataku membesar ketika mendapati namanya menjadi pembicara sekaligus author dari buku best-seller.

“Ahh…” kataku meringis.
“Kau itu tetap babo, Tara,” katanya lalu mengulurkan sebuah buku. “Ini buatmu, gratis dan kau mendapat bonus?”
“Bonus?”
“Nee~~” katanya lalu membuka halaman pertama. “Selain kau mendapat tanda tanganku, kau juga mendapatkan kiss-markku,”
“Huhhh??”
**

“Mommy…” suara Hae Byeol mengagetkanku. Tatapannya bening sekali. “Mommy,”
“Nee, Hae Byeol,” kataku lalu menutup buku yang sedang aku baca dan segera melihat ke arahnya. “Ada apa?”
“Appa…kok belum pulang? Hae Byeol sudah mengantuk, Mommy,”

Aku tersenyum lalu menggendong anak tampan itu dan mendudukkannya di kasur.
“Mommy akan menemani Hae Byeol tidur ya,”
“Nee..” katanya lalu berbaring di kasur, meletakkan boneka beruang coklatnya.
Aku segera menarik selimut menutupi tubuhnya dan mengecup kedua pipinya. “Selamat malam, sayang,”
“Selamat malam, Mommy,”



Aku melihat ke arah jam dinding, jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku heran kenapa Onew belum pulang. Tidak biasanya cowok tampan itu belum berada di rumah. Akupun mengenyahkan pikiran burukku dengan menonton film barat kesukaanku, CSI. Aku segera berdiri untuk melihat siapa yang datang ketika bel berdentang. Mataku membesar ketika melihat Onew yang dipapah sekuriti apartment dalam keadaan mabuk.

“Selamat malam, Tara ssi,” kata sekuriti tersebut lalu membimbing Onew masuk ke dalam.
“Tidurkan saja dia di sofa ini,” kataku menginstruksikan.
“Nee~~” kata sekuriti itu lagi lalu segera pamit.
“Kamsahamnida,” kataku menganggukkan kepala lalu menutup pintu.

Aku menghela nafas melihat kondisi Onew yang tergeletak tak berdaya di sofa. Bajunya acak-acakan. Rambutnya awut-awutan. Pipinya merah pertanda dia banyak mengkonsumsi minuman keras.

Perlahan aku membuka sepatu dan melepaskan kaos kakinya. Akupun membuka jas yang dia pakai lalu menyampirkan ke badan sofa. Tanganku terulur untuk melepaskan dasinya dan melonggarkan kemejanya dengan membuka beberapa buah kancing kemeja.

Aku segera mengangkut semua barang-barangnya dan memasukkan semuanya ke dalam kamarnya. Aku keluar dari kamar dengan selimut dan sebuah bantal. Perlahan sekali aku menaruh bantal itu di bawah kepalanya. Aku segera menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Selamat malam, Onew,” kataku lalu masuk ke kamarku dan melanjutkan membaca buku.
**

Onew POV..
Kepalaku terasa berat sekali ketika membuka mata. Aku kaget karena diriku tengah terbaring di sofa. Keningku berkerut ketika menyadari sebuah selimut dan bantal menemaniku tidur.
“Apakah Tara yang melakukan ini semua?” tanyaku pada diriku dan berjalan menuju dapur karena perutku terasa lapar.

Bibirku tersenyum karena mendapati sebuah surat darinya.

“Onew, aku telah menyiapkan gurita pedas dan susu hangat sebagai sarapan pagimu. Maaf, aku terpaksa meninggalkanmu pagi-pagi karena ada urusan keluar kota untuk beberapa hari. Jadi, kau jangan lupa menjemput Hae Byeol di Cloudy Kindergarten.”

“APAA??” kataku lalu memijit-mijit pelipisku. “Dia akan meninggalkanku untuk beberapa hari? Astagaaa…”



“APPAAAA~~~” teriak Hae Byeol ketika dia melihatku berdiri di depan. “Mana Mommy?”
“Mommy ada urusan keluar kota untuk beberapa hari, sayang, jadi Appa yang akan menemanimu,”
“Ahh…” aku kaget melihat wajah kecewanya.
“Hae Byeol tidak suka karena Appa yang akan menemani?”
“Suka..tapi..Mommy…”
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Mommy?” tanyaku.
“Ooo…”
End of Onew POV…
**

“Agassiiii…” teriak Kim mengagetkanku.
“Yaa~~ Neoll..” kataku kesal lalu mengetok kepalanya gemas. “Ada apa?”
“Kehebohan terjadi, Agassi…” kata sekretarisku dengan nafas tersengal-sengal. “Hae Byeol…Hae Byeol…ada di luar,”
“Mwo???”
“Nee~~ Hae Byeol berada di sini bersama seorang cowok tampan,”




Mataku terbelalak ketika melihat sosok Hae Byeol yang sedang dikerumuni staff Cloudyeppeo Coorporation dan beberapa staff cewek mengagumi Onew.
“Yaa~~” teriakku kencang. “Apa yang sedang terjadi di sini?”
“Mommy…” kata Hae Byeol lalu berlari ke arahku.
Aku memeluk anak tampan itu lalu memandang galak ke arah sang tersangka, Onew, yang hanya bisa memberikan senyum khasnya. “Neo…”
“Jeongmal mianhae, Tara,” katanya lalu berlutut di hadapanku.
“Huwaaa…romantis sekali,” kata staff CC bersorak dan bertepuk tangan. “Agassi…kami menerima Onew ssi sebagai Appa kami,”
“MWOO?? Yaa~~cepat selesaikan pekerjaan kalian,”
“Nee~~ Agassi,”
“KAU..berdirilah..” kataku ketus lalu memandang galak ke arahnya. “Apa-apaan ini?”
“Mommy…” suara Hae Byeol meredam emosiku. “Hae Byeol yang meminta Appa mengantarkan ke tempatmu,”
“Benar…benar…Aku melakukan ini demi anakku, Tara,” kata cowok tampan itu lagi lalu mengakhiri dengan cengiran khasnya.
Aku hanya bisa menghela nafas dan meminta mereka masuk ke kamarku.
**

“Yaa~~” kata Kim mengancam resepsionis hotel. “Nanti kau bilang pada Agassi kalau kamar sudah full booking ya,”
“Eonnie…kalau ketahuan bohong sama Agassi bagaimana? Bisa-bisa pekerjaanku yang dipertaruhkan,”
“Tenang…aku yang akan bertanggung jawab. Kau jangan khawatir,” kata gadis cantik itu tersenyum senang. “Ini kesempatan tiada duanya, Song. Onew ssi mengunjungi Agassi,”
“MWOO??” kaget wanita yang dipanggil Song itu. “Pantas saja para wartawan sudah berkerumun di lobby,”

Kim segera melihat lobby hotel yang terletak di belakangnya. Benar saja. Para wartawan tampak sibuk berbincang satu sama lain.

“Aku harus segera memberi tahu Agassi,” kata Kim lagi lalu menegaskan sang resepsionis. “Pokoknya kau ikuti saja perintahku. Kau mau kan melihat Agassi bahagia?”
“Tentu saja…Aku harap berita pernikahan mereka benar adanya,”
“Makanya itu…”
“Baiklah…baiklah…”
“Gomawo,” kata Kim lagi lalu melesat ke kamar bos mereka.
**

“Soooonggg~~~” omelku di telepon ketika mendapati bahwa kamar sudah full-booking. “Masa sudah penuh semua, ohng?”
“Agassi…jeongmal mianhae…kamar hotel kita sudah penuh semua. Maaf…”
“Baiklah…baiklah… Terima kasih, Song,” kataku pasrah lalu menghela nafas ketika melihat senyum simpul Onew.
“Well..apakah malam ini kita tidur bersama, Tara sayang,”
“Kau tidak perlu senyum-senyum seperti itu, Onew,” sungutku. “Kita memang sekamar tapi bukan seranjang,”
“Taraaa… Kau akan mengeluarkan uang lebih kalau memesan extra-bed,” kata Onew disertai dengan senyuman khas. “Kasur ini kan cukup besar, jadi aku rasa cukup untuk menampung kita bertiga,”
“APAAA???” kagetku. “Aku tidak akan membiarkan kau mencari kesempatan untuk menyentuhku,”

Aku kesal sekali karena Hae Byeol Appa itu tertawa terbahak-bahak.
“Aku tidak akan mencari kesempatan, Tara cantik,” katanya menggodaku. “Kemungkinan besar, keesokan paginya seluruh pakaian kita sudah berserakan di lantai,”
“Yaa~~ Kau benar-benar berpikiran mesum, Onew,” marahku lalu melempar bantal ke arahnya.
“Aku harap kau menyukainya,”
“HUHHH???”
**

Onew POV…
Aku kaget karena para wartawan segera mengerumuni diriku dan Tara ketika menginjakkan kaki di lobby.
“Tara ssi..Onew ssi…bisakah kalian menjelaskan kenapa kalian bisa berada di Jeju..menginap di satu hotel yang sama?”
“Memangnya salah ya?” tanya Tara bodoh. “Hotel ini kan terbuka untuk umum,”
“Tentu saja ini membuat kami penasaran, Tara ssi…” kata seorang wartawan. “Kalian berdua digosipkan telah menikah di Jepang…berarti benar gosip itu?”

“Maaf ya…” kata Kim berusaha membubarkan para wartawan. “Mereka berdua masih ada urusan…”
“Kim…sudahlah,” kata Tara lagi lalu tersenyum. “Aku benar-benar mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku. Aku menganggap semua berita yang kalian tulis itu sebuah doa buat kehidupanku dan Onew ke depannya. Doakan saja yang terbaik,”

“Tara…”

Aku kaget ketika tangannya mengenggam tanganku.
I’m an accidentally Mommy for his son,” katanya lagi lalu tersenyum ke arahku. Aku membalas senyuman itu.
“Dan aku berharap, Tara menjadi Mommy buat anakku. Aku tidak keberatan untuk menikahi dirinya,”
“Sudah ya…” kata Tara lagi. “Kami berdua mau mengajak Hae Byeol mengelilingi Jeju. Annyeong…”
End of Onew POV..
**

“GILAAAA…” kata Eun Min teriak ketika membaca headline dari sebuah surat kabar. “Apa yang sedang direncanakan oleh mereka berdua?”

Ahn Daniel, atau lebih sering dipanggil Niel, hanya tersenyum melihat respon yang keluar dari gadis cantik itu.

“Yaa~~apa yang sedang direncanakan oleh sahabatmu itu, Niel?”
“Mungkin sama yang aku rencanakan,” kata Niel dengan senyum manis.
“Apa…apa..kau juga merencanakan untuk menikahi Tara?”
“HAAAA???” tanya cowok itu lalu tertawa. “Aku dan Onew memiliki rencana yang sama..yaitu ingin menikahi wanita yang kami cintai,”
“Sebentar…” kata Eun Min galak. “Onew mencintai Tara?”

“Baboo…kenapa kau malah mengkhawatirkan dua orang aneh itu, ohng?” kesal Niel. “Kenapa kau tidak khawatir dengan cowok tampan yang sedang duduk di hadapanmu?”
“Maksudnya?”
“Eun Min…aku…telah memiliki sebuah rencana untuk menikahi seseorang yang sangat aku cintai…” kata Niel gemetaran. “Dan…seseorang itu adalah…kau,”
“Haaa???”
“Menikahlah denganku,”
**

TING..TONG..You got a message

Aku meraih ponselku untuk membaca pesan tersebut. Mataku terbelalak mendapati Eun Min yang menjadi sang pengirim pesan tersebut.

TING..TONG..Onew..1 message received

Aku melihat, cowok tampan itu meraih ponselnya dan matanya terbelalak. Aku kembali fokus pada ponselku dan segera membaca pesan dari sahabatku.

“MWOOOO??” teriakku yang bersamaan dengan teriakan Onew.
“Tara…apakah kau mendapat sms dari Eun Min?” tanya Onew yang aku jawab dengan mengangguk. “Demi Tuhan,, aku \mendapat dari Niel dan mengabarkan bahwa…”

“MEREKA AKAN MENIKAH DALAM WAKTU DEKAT INI?” teriak kami bareng. “TERUS…BAGAIMANA DENGAN KITA?”

Hahahaha…
**

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum membaca headline dari sebuah surat kabar. Mata tuanya berbinar bahagia pertanda dia sangat bahagia membaca berita tersebut.
“Ahhh…jagi..apa yang membuat senyummu merekah seperti itu?” tanya suaminya lalu duduk di samping wanita itu.
“Baca ini, yobo,” kata wanita itu lalu memberikan surat kabar itu. “Onew…”
“Ahh..ini..” kata suami wanita itu juga tersenyum. “Aku rasa, Tara ini memang ditakdirkan buat Onew,”
“Yobo…aku merasa sangat familiar dengan namanya.. Tara… dimana dan kapan aku pernah mengenal nama itu?”
“Hah?? Kau pernah mengenal namanya? Tara?” tanya suaminya lalu tersenyum. “Yaa~~ masa kau lupa…Tara.. dia pemiliki Cloudy Kindergarten yang akan buka cabang di distrik kita, jagi…”
“Tidak Yobo…perasaanku mengatakan, aku pernah mengenal nama Tara jauh sebelum ini,”
“Baiklah…Kau akan bertemu dengan pemilik nama Tara 2 minggu lagi, jagi,”
“Dan aku tidak sabar menunggunya,”
**

Onew POV…
Aku benar-benar menikmati perjalanan menuju Seoul karena saat ini Tara ikut bersamaku dan Hae Byeol. Aku sangat berterima kasih pada Kim, sekretaris yang sangat mengerti situasi.

“Onew…” suaranya mengagetkanku. “Terima kasih sudah menemaniku di Jeju,”
“Ahh…aku juga..Hae Byeol juga,” kataku lalu tersenyum.

Aku ingin sekali mengajaknya bertemu dengan orang tuaku hari ini. Aku ingin mereka mengenal Tara terlebih dahulu sebelum aku menikahinya. Ya, aku ingin sekali menikahinya.

“Tara…” kataku lagi lalu menepikan mobilku. “Hmm…aku ingin sekali mengajakmu ke Gwangmyeong…”
“Gwangmyeong??” histerisnya lalu matanya berbinar. “Aku setuju…aku setuju…”
“Haa???”
“Gwangmyeong..kau tadi mengajakku ke sana kan?” tanyanya yang aku jawab dengan anggukan. “Kok kau malah kaget begitu?”
“Tara…dengarkan aku…” kataku lalu memegang pundaknya. “Aku mengajakmu ke Gwangmyeong karena…karena ingin kau bertemu orang tuaku,”
“Mwo??”
“Nee~~”
“Jangan khawatir..aku bersedia kok,” jawabnya yang membuat aku tersenyum lega. “Aku sudah lama tidak mengunjungi daerah itu,”
“Kau??”
“Aku berasal dari sana juga, Onew,” jawabnya yang membuat aku tertohok. “Aku harap bisa bertemu dengan Eomonim itu. Eomonim yang selalu duduk di taman bungan dengan cucunya. Aku sayang sekali dengannya,”

“Eomonim yang selalu duduk di taman bunga dengan cucunya?” pikirku dalam hati. Apakah yang dia maksud itu ibuku.

“Eomonim itu selalu membawakan aku daging…karena aku sangat menyukai daging, Onew,” katanya dengan berbinar. “Aku benar-benar kangen dengannya,”
“Daging??”
“Nee~~ Eomonim itu sepertinya punya toko daging. Aku sudah menganggap Eomonim itu seperti Eommaku sendiri,”

Aku tergagap mendengar ceritanya. Eomonim yang dia maksud adalah ibuku. Ya, aku yakin sempurna. Dia dan ibuku sudah saling mengenal. Berarti, gadis yang selalu membuat ibuku ceria itu adalah gadis yang telah masuk ke dalam hatiku ini. Gadis yang saat ini tengah memangku Hae Byeol. Tara. Gadis itu.
End of Onew POV…
**

“Yoboseyo,” kataku menjawab teleponku. “Ahh….Kim..ada apa kau meneleponku? Ohh… aku lagi bersama Onew dan Hae Byeol mau menuju Gwangmyeong.. Kenapa? Hahhh?? Aku harus balik ke kantor segera? Kim..aku sudah berjanji pada Onew… Baiklah…baiklah…”

“Apakah kau diminta balik ke kantor?” tanya Onew sedikit kecewa.
“Aku benar-benar tidak bermaksud membatalkan janjiku, Onew, tapi…”
“Tidak apa-apa, Tara,” katanya dengan senyum. “Kita bisa ke sana lain waktu,”
“Sebentar,” kataku lalu membuka agendaku. “Kita ke sana tanggal 23 karena aku ada rapat dengan petinggi distrik Gwangmyeong,”
“HAHHH???” kagetku. “Apa aku tidak salah dengar?”
“Ini baca,” kataku mengulurkan agenda padanya. “Itu tulisan Kim untuk mengingatkanku agar tidak lupa,”
“Apakah kau mengenal petinggi distrik Gwangmyeong?” tanyanya segera.
“Tidak..”
“TARAAA…DIA ITU APPAKU…”
“Hahhh???”
**

“Kehidupan ini sangat rumit sekali, Hae Mi,” kata Eun Min tersenyum. “Banyak sekali misteri di dalamnya,”
“Apa yang ingin kau smapaikan, ohng? Aku ini tidak bisa mencerna omongan yang berbelit-belit,”
“Kau dan Tara sama saja sepertinya,”
“Apakah kau sudah memberitahu pernikahanmu padanya?”
“Tentu saja,” jawab Eun Min lalu menikmati pesanannya. “Ternyata, Niel itu merupakan sahabat Tara. Petinggi distrik Gwangmyeong ternyata Appanya Onew,”
“Hahh??” kaget Hae Mi. “Kalau mengenai Niel itu sudah jadi rahasia masyarakat, aku pikir kau sudah tau. Petinggi distrik Gwangmyeong… Apakah Tara sudah tau?”
“Aku rasa dia sudah tau soal itu, Hae Mi,” Eun Min menyandarkan punggungnya lalu tersenyum. “Aku tidak habis pikir dengan mereka berdua. Beberapa hari lalu mereka kepergok sedang berada di Jeju. Aku tau mengenai Tara..Onew?? Aku rasa dia menyusul Tara ke sana,”

Hae Mi mengangguk menanggapi omongan sahabatnya.
“Kau tau…aku berharap, Tara dan Onew beneran jadi. Aku kasihan dengan Hae Byeol..”
“Aku juga, Hae Mi, Hae Byeol..masih memerlukan figur seorang ibu,”
**

Aku membalas uluran tangan petinggi distrik Gwangmyeong yang diiringi dengan senyum.
“Aku benar-benar berterima kasih karena mendapat kesempatan bertemu dengan anda, Lee Sajangnim,”
“Aku yang harus mengucapkan itu, Tara ssi, aku tidak menyangka sebuah perusahaan raksasa di Seoul mau bekerja sama dengan kami,”

Kamipun melanjutkan pertemuan ini dengan rapat untuk membicarakan kelanjutan pembangunan Cloudy Kindergarten cabang Gwangmyeong. Benar-benar menyenangkan. Lee sajangnim merupakan sosok yang hangat, welcome, dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. Aku sangat mengagumi sosoknya. Aku tersenyum karena mendapati diriku melamunkan dirinya yang akan menjadi calon mertuaku.

“Babo,” kataku pelan lalu tersenyum.
“Tara ssi..ada apa?”
“Ahh..tidak… Maaf,”



“Semoga kerja sama kita ini berjalan lancar, Lee sajangnim,” kataku mengulurkan tangan.
“Aku berharap begitu,” katanya membalas uluran tanganku. “Tara, aku ingin berbicara sesuatu denganmu,”
“Ahh..baiklah,” kataku lalu mengikutinya masuk ke ruangannya.
“Masuklah,”
“Kamsahamnida, sajangnim,”
“Mulai saat ini, kau harus memanggilku dengan “appa”, Tara,”
“APPAAA???”
“Apakah kau keberatan?”
“Ahh…apa maksudnya ya?” tanyaku bodoh.

“Jagiya, keluarlah,”
Aku tersentak ketika melihat sosok yang dipanggil Jagiya oleh Lee sajangnim.
“Eommonim…” teriakku lalu segera memeluknya. “Aku benar-benar bahagia bisa bertemu denganmu lagi,”
“Tara…ternyata benar…kau Tara yang nakal itu,”
“Hahaha…aku sekarang tidak nakal, Eommonim…”
“Kau masih nakal, Tara,” suara Onew mengagetkanku. “Kau nakal karena telah mencuri hatiku,”
“Hahhh???
**

“Waahhhh…Eun Min cantik sekali,” kataku memujinya. “Omedetto,”
“Kau kapan menikah dengannya?” tanya Eun Min menggodaku.
“Hahaha…secepatnya,” jawabku tersenyum. “Hae Byeol…ayo salam dengan Ahjumma…”

“Yaa~~ JUNG TARAAAA~~~ AHJUMMA KATAMUUUUU?????”

Hahahaha…
**

[FanFict] Get Married, Am I? (Part 2)

Aku melewatkan hari ini dengan diskusi di Cube. Park Hae Mi dan L.Joe menginginkan pemotretan di Lombok. Alhasil, aku duduk mengantuk di hadapan mereka sambil mendengarkan manajer mereka membeberkan konsep pemotretan. Aku hanya mengangguk dan sesekali menjawab “nee” dan menyunggingkan senyum.

Aku terkaget karena ponselku berbunyi. Mereka semua memandangku segera.
“Ahh..mian..mian,” kataku segera keluar untuk menjawab panggilan itu. “Nee~~ Amor?? Ahh.. aku masih belum tau jam berapa selesainya. Tapi habis ini aku diminta datang ke MBC. Nee~~ kamu juga kah? Hmm.. baiklah… Aku akan menunggumu di sini. Nee~~”

Aku segera kembali ke ruangan sesaat setelah menyudahi pembicaraan dengan Onew di telepon. Aku hanya nyengir kuda ketika Papa Hong menegurku karena tidak men-silent-kan ponselku.

“Mian, Papa,” kataku dengan senyum. “Keputusannya bagaimana?”
“Kita akan lanjutkan di MBC, karena PD-nim WGM kepikiran untuk shooting WGM spesial Lombok,”
“Jjinjja??”
“Nee~~”
“Papa, aku nanti ke MBC bareng Onew ya. Dia menjemputku di sini,”
“Baiklah,”
**

“Jadi…kami akan membuat WGM Spesial, Beautiful Disaster, hanya beberapa episode di WGM Charamore. Kami masih kekurangan 1 pasang lagi,” kata PD-nim memandang kami semua. “Tara-Onew, Hae Mi-L.Joe, Silvana-Niel..”
“Nunmi-Minho,” celetukku.
“Nunmi? Nugu?”
“Ahh…Nunmi,” suara Papa Hong terdengar. “Hyung, Nunmi itu staff baru di Cloudyeppeo Entertainment. Kinerjanya sangat bagus sekali. SM Entertainment mengaku puas atas kerjanya ketika pemotretan KRY beberapa minggu lalu,”
“PD-nim, Nunmi lah yang mengajarkanku bahasa Korea. Akupun telah berjanji untuk membawa Minho ke Indonesia. Jebal,”
“Sebentar, Lee Minho maksudmu, Tara?”
“Bukaaannn…Choi Minho…SHINee,”
“Aku setuju, PD Hyung,” seru Onew lalu tersenyum.
“Okay, kami akan rundingkan dulu. Seminggu lagi akan kami umumkan keputusannya,”
“Baiklah,”

Kami semua menganggukkan kepala ketika PD-nim meninggalkan ruang rapat.
“Tara,” seru Hae Mi terdengar. “Apakah setelah ini kau free?”
“Hmm..sepertinya iya, namun aku mau pergi dengan Onew, Wae?”
“Aku ingin membicarakan lebih lanjut mengenai pemotretan ini. Kebetulan Silvana dan Niel juga setuju,”
“Kalau kau mau pergi dengan mereka, tidak apa-apa, chara. Aku akan menemanimu,”
“Jjinjja?”
“Nee~~”




Onew menganggukkan kepala ketika bertemu dengan Silvana dan Niel.
“Annyeonghaseyo, Onew imnida,”
“Ahh…Silvana imnida dan Niel,”
“Senang bertemu dengan kalian,”
“Kami juga,”

Aku sangat menikmati kencan buta seperti ini. Aku bisa menikmati kebersamaan dengan Onew tidak hanya saat shooting WGM.
“Tara…bagaimana perasaanmu bisa kencan dengan Onew di luar WGM?”
Aku tergagap mendengar pertanyaan dari Niel dan L.Joe.
“Bahagia,” jawab Onew tiba-tiba lalu menampilkan cengiran khasnya. “Aku bahagia bisa bersamanya di luar WGM. Iya kan, chara?”
“Nee~~amor,”
“Waaaa…kalian tetap memanggil “chara” dan “amor”. Romantis sekali,” kata Silvana sambil menikmati makanannya.

Aku dan Onew tertawa mendengar perkataan Silvana.

“Chara,” kata Onew lalu memindahkan sebagian makanannya ke piring kosong. “Buatmu,”
“Kenapa dipindahkan?” tanyaku bingung lalu menerima piring itu dan meletakkannya di depanku.
“Buatmu aja,” kata Onew dengan senyum khasnya.
“Deuuu…dunia milik berdua…yang lain menyewa ya,” goda Niel.
“Anda benar,” sahut Onew cepat.
**

Pagi-pagi sekali aku sudah berada di Incheon bersama Onew untuk menjemput Nunmi. PD-nim setuju untuk menambahkan Nunmi sebagai couple di Beautiful Disaster. Aku heran karena beberapa fans sudah terlihat di sekitaran bandara. Apakah fans ini tidur di bandara, itu yang menjadi pertanyaanku sekarang. Beberapa fans terlihat berjalan mendekati kami lalu dengan malu-malu menunjukkan kameranya.

“Eonnie, Eoppa, boleh foto bareng?”
“Ahh..tentu saja,” kata Onew mengangguk lalu segera pasang pose.
“Gomawo,” katanya lagi lalu mengulurkan sebuah buku lalu tersenyum. “Itu buat kalian,”
Kami menerima buku itu lalu membukanya. Kumpulan foto Charamore, mulai dari episode pertama. Aku benar-benar tersentuh. Akupun segera merengkuhnya dengan erat.
“Kamsahamnida ya,”
“Eonnie, aku boleh tidak berfoto denganmu?”
“Tentu saja boleh asal jangan dijual ya,” godaku. “Nanti teman-temanmu pada naksir aku,”
“Chara…” kata Onew dengan senyum. “Kau sungguh narsis sekali.
“Hehehe,” kataku lalu kembali pasang pose dengan fans itu.
“Maaf ya, kita tidak bisa berlama-lama di sini,” kata Onew mengatupkan tangan. “Orang yang kami tunggu sudah tiba,”
“Nee~~”
“Permisi,” kataku melambaikan tangan pada fans itu lalu berjalan menuju pintu kedatangan. Aku tersenyum ketika menemukan sosok Nunmi.

Beberapa wartawan yang telah mendapatkan bocoran mengenai Nunmi segera mencegat langkah kami dan langsung melayangkan beberapa pertanyaan.

“Nunmi ssi…”
**

“Ahhhh~~” kata Nunmi meregangkan otot ketika sampai di apartmentku. “Gomawo telah menjemputku,”
“Tidak masalah,” kataku lalu menghidangkan pasta kesukaannya. “Makanlah,”
“Waaaaa…” katanya senang. “Sejak kapan kau suka memasak pasta?”
“Bukan aku yang memasaknya. Onew,”
“Yaa~~yaa~~ kau beneran jatuh cinta padanya? Bukan hanya acting?”
“Kenapa kau malah menanyakan ini, ohng?”
“WGM itu…semuanya pake script…”
“Aku mengerti tapi beberapa adegan di WGM kami, ada yang tidak memakai script,”
“Aku tau…aku tau adegan yang mana aja. Adegan kau memeluk Onew dari belakang, itu tidak pake script kan? Terus, adegan Onew membangunkan kau di kereta api, aku rasa tidak ada di script. Tatapannya sangat berbeda, babo,”
“Babo??” sewotku.
“Iya, kau babo, kau tidak tau kapan Onew benar-benar “merasakan”nya. Seandainya Onew beneran jatuh cinta padamu, apa yang akan kau lakukan?”
“Molla,”
“Kau dan Onew…serasi sekali,”
“Terima kasih,”
**

Pagi ini aku masih sangat mengantuk namun tetap aku melangkahkan kaki ke MBC. Inilah tuntutan menjadi salah satu talent yang dipercaya oleh PD-nim. Onew dan Minho sudah berada di sana. Mereka sedang menikmati sarapan dengan segelas susu. Aku langsung mengambil tempat di sebelah Onew dan meletakkan kepalaku ke atas meja.

“Yaa~~Eomma…kok kau lesu begitu?” tegur Minho lalu tertawa. “Appa terlihat semangat,”
“Ahh..Minho…aku capek sekali,” kataku lalu mengangkat kepalaku dan menyandarkannya di bahu Onew. Parfum Onew tercium di hidung dan aku menyukainya. “Yaa~~Minho, apakah aku sudah mengenalkan kau dengan calon istrimu, Nunmi, ohng?”
“Astagaaa..sepertinya eomma sedang terserang amnesia akut. Bukankah kemaren kita sudah saling berkenalan?”
“Ahh..iiyaaa…” kataku lalu melihat Onew yang sedang menatapku. “Amor, ada apa?”
“Ayo buka mulutmu, aaaa..” kata Onew menyuapkan sarapannya padaku.
“Kamsahamnida,” kataku menerima suapan dari Onew dan tersenyum. “Aku mencintaimu, suamiku,”
“Mulaaaaaiiii~~~” sewot Minho dan Nunmi bareng. “Kita

buat adegan sendiri yuk,”
“Baiklah,” kata Nunmi dengan senyum.




“Maafkan saya karena telat,” tukas PD-nim meminta maaf lalu mengulurkan paket makanan. “Permintaan maafku,”
“Ahhh..PD-nim, tidak apa-apa,” kataku lalu menerima paket makanan itu dan membagikannya. “Kamsahamnida, PD-nim,”
“Kamsahamnida,”
“Kita mulai meeting ini 10 menit lagi ya. Silakan menikmati makanannya dulu,”
“Nee~~”

Kami segera menikmati makanan dari PD-nim agar tidak mengantuk ketika rapat berlangsung. PD-nim kembali ke ruang rapat tepat setelah kami membereskan meja dari sisa-sisa makanan.

“Well, kita mulai rapat sekarang,”
“Nee~~”
**

Aku kembali memulai syuting WGM dengan senang hati. Hari ini, aku akan membiasakan diri dengan SHINee karena mereka terpilih sebagai guest-star di WGM Spesial Lombok. Aku akan berekreasi dengan mereka. Betapa menyenangkan karena mereka akan mengajakku ke Waterboom.

Seperti biasa, aku menunggu di depan apartmentku dengan beberapa barang. Aku mendengar suara yang meneriakkan namaku. Aku melihat ke arah sumber suara, betapa kagetnya karena sebuah van yang berisikan SHINee melaju ke arahku.

“Tara eomma…” teriak Key sambil melambaikan tangannya dengan semangat. Aku tersipu malu lalu ikutan melambaikan tangannya.

Mereka segera berloncatan keluar ketika van berhenti dan melakukan dance Replay, namun liriknya diganti jadi “Eomma..neomu yeppeo”.

“Gamsahae…” kataku senang dan bertepuk tangan.
“Eomma…” kata Key yang paling semangat lalu memelukku. “Aku senang sekali karena bisa “main” dengan dirimu,”
“Eomma juga senang,”
“KEYY~~~” sewot Onew lalu menarik Key. “Jangan terlalu lama memeluk Eomma,”
“Appaaa…” kata Key manja. “Nanti Eomma duduk di sebelah Key ya,”
“Eomma nanti duduknya di sebelah aku aja,” kata Taemin dengan senyum lucunya.
“Tidak, nanti Eomma duduk di sebelah aku,” ujar Minho.
“Yaa~~ Hyung, kau tidak boleh ikutan. Nanti Nunmi Noona marah,” goda Taemin.

Hahahaha..
“Nanti Eomma duduk di sebelah Appa saja ya. Biar adil,” kataku menengahi.
“Yaa~~ kalian mau ditinggal?” seru manajer mereka.
“Tidaaakkk..” seru kami semangat lalu naik ke van.

Perjalanan kami serasa menyenangkan. Aku diajarkan permainan yang sering dimainkan oleh orang-orang Korea. Mereka menamakan permainan ini “sambung huruf terakhir”. Lucu sekali namanya. Aku sangat penasaran seperti apa permainannya.

“Eomma,” sahut Key. “Kita akan bermain “sambung huruf terakhir” untuk judul lagu tapi harus disebut penyanyinya juga. Ottae?”
“Aku setuju tapi jangan dalam bahasa Korea ya, aku tidak tau,”
“Apapun untuk Eomma deh,” kata Key lagi lalu tersenyum. “Kita mulai sekarang. Dimulai dari aku lalu ke Taemin, terus Appa dan seterusnya ya,”
“Baiklahhh…” sahut kami setuju.

“What is Love, Exo,”
Taemin tampak berpikir. Dia melihat sekeliling lalu menyengir karena kami semua menunggu jawaban darinya.
“Yaa~~yaa~~ bisa atau tidak, Taemin?” kata Minho tak sabar.
“Sebentar, Hyung,” kata Taemin tampak berpikir.
“Baiklah, aku memutuskan Taemin kalah,” kata Key lalu menjentik hidung Taemin.

“Yaa~~Key Hyung, kau tadi tidak bilang ada hukumannya,” sungut Taemin.
“Hehehe…aku lupa bilang. Kalau ada yang tidak bisa menjawab, akan diberi hukuman. Mulai dari kau lagi, Taemin,”
“Replay SHINee,”
“Yoriwang Suju Happy,”
“Appa…bukan dalam bahasa Korea,” lagi-lagi Key bersuara.
“Yaa~~Key..bisa tidak kau sebentar saja tidak bersuara?” kesal Onew lalu berpikir. “Your Eyes Super Junior,”
“S? Hmmm…” kataku berpikir. “Ahhh…Snowy Wish SNSD,”
“Jonghyun Hyung, giliranmu,”

Minho tertawa karena reaksi Jonghyun yang tengah berpikir itu.
“Sepertinya tidak ada judul lagu yang berawalan H,” kata Jonghyun polos.
“Yaa~~yaa~~” kata Onew. “Bagaimana bisa kau bilang tidak ada lagu yang berawalan H, ohng?”
“Memang tid..ak..Ahhh… Hello SHINee,”
“Oh Yeah MBLAQ,” jawab Minho.

Kami terus bermain. Taemin beberapa kali kalah. Aku bahagia sekali bisa bermain seperti ini. Nanti aku akan coba main dengan teman-teman kantor di Indonesia.

“Marry You,” kata Onew lalu menatapku.
“Yaa~~yaa~~Appa… kau menyebutkan judul lagu apa sekalian melamar Eomma, ohng?” kata Minho tertawa.
Onew hanya tersipu malu mendengar celetukan dari Minho dan tersenyum.
**

“Bagaimana perasaanmu ketika bertemu dengan SHINee dan “main” bareng?” tanya PD-nim.
“Ini kedua kalinya aku “bermain” dengan SHINee dan aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Pertama kali ketemu SHINee waktu pemotretan di New Zealand beberapa tahun lalu. Mereka lebih terlihat dewasa,”
“Jjinjja?”
“Aku benar-benar menyukainya,”
**

Onew POV…
Aku tertawa dan tersipu malu ketika PD nim mengungkit permainan ketika kami berada dalam van.
“Hahaha…apakah aku terlihat seperti melamar?”
“Nee~~”
“Apakah aku harus melamarnya?” tanyaku malu-malu.
“Mwo?”
“Aku menyukainya,” kataku lagi lalu tertawa lepas.
End of Onew POV…
**

“Waaahhhh…akhirnya sampai,” kata kami semua ketika mobil van berhenti. “Ayo kita turuuuunnn~~”
“Chara, hati-hati,” kata Onew lalu mengulurkan tangannya dan membantuku turun.
“Kamsahamnida,” kataku senang.
“Well…apakah yang akan kita lakukan pertama kali?” tanya Key dengan mic kebangsaannya, mic yang pernah dibawanya saat program Yunhanam.
“Sebaiknya kita beli tiket masuk dulu,” usul Minho.
“Kalau begitu, kami akan beli tiket masuk dulu,” kata Key di depan kamera.




“Aku gak mau..yaa~~aku gak mau…” teriakku kencang karena diajak ke rock-tower, perosotan tertinggi di waterboom.
“Eomma…nanti kami pegangin. Yagsok,” kata Key menunjukkin kelingkingnya.
“Kita nanti ambil ban yang berempat, chara,” kata suamiku menenangkanku.
“Tapi…”
“Janji, Eomma…”
“Baiklah,”

Kami berenampun mulai menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan. Alhasil, kami tersengal-sengal ketika sampai di atas.
“Ahhh…akhirnya sampai juga,” kataku lalu terus nempel dengan Onew.
“Selamat siang,” sapa safety-guard yang jaga. “Apakah sudah siap untuk meluncur?”
Aku menggeleng lemah. Tanganku terus digenggam Onew untuk memberikan kekuatan untuk mencoba permainan.

“Eomma…aku dan Minho Hyung pakai ban ini,” kata Taemin lalu mengambil ban untuk 2 orang.
“Eomma..Appa..kami duluan,” kata Minho lalu duduk di ban.

Beberapa saat kemudian terdengar teriakan mereka berdua yang heboh. Akhirnya, sekarang giliran kami yang akan meluncur. Jantungku berdebar kencang ketika duduk di ban.

Ready?”
“Nee~~”

Beberapa saat kemudian terdengarlah teriakan kami dan tentu saja teriakanku yang paling kencang.
**

“Aku tidak mau mencobanya,” kataku lalu duduk di pinggir kolam dengan mengulurkan kaki ke dalam kolam.
“Perosotan yang ini tidak setinggi yang tadi kok, chara,” kata Onew mengusap wajahnya lalu menyiram air ke arahku.
“Yaa~~amor..” kataku membalasnya dan tersenyum. “Aku capek,”
“Ayolah…ayolah,” bujuk Onew lalu mendaratkan tangannya di atas pahaku dan menatapku sambil tersenyum.
“Amooorrr~~” kataku lalu menghela nafas. “Baiklah,”
“Yatta…” kata Onew senang lalu keluar dari kolam dan membantuku berdiri.
“Kamsahamnida,” kataku lalu mengekor di belakangnya.
**

“Yaa~~ ternyata Eomma itu takut akan ketinggian,” sahut Minho sambil membaca sms yang dikirim oleh Papa Hong.
“Jjinjja?” kaget Jonghyun dan Taemin. “Apakah dia marah pada kita?”
“Molla. Aku merasa bersalah tapi ahhh…Eomma cantik sekali ya. Rambut yang biasanya dilepas kini dibentuk plum,” kata Key sambil menopang dagu.
“Iyaa.. Selain cantik, Eomma pintar sekali memasak,”
“Aku pernah menonton WGM mereka episode sehari sebelum perayaan 100 hari pernikahan mereka, Eomma ternyata pintar menari. Benar-benar perfect,” kata Jonghyun.
“Hmmm…Eomma sudah berhasil mencuri hati kita dengan makanan. Bagaimana kalau kita meminta dia untuk menari?”
“Setujuu…” kata Taemin semangat.
“Nah..itu Eomma..mari kita menodong Eomma untuk menari,”
**

Onew POV…
Aku benar-benar sangat menikmati hari ini karna bisa menikmati kencan bersama Tara. Aku sungguh mengagumi dirinya yang dibalut baju renang dengan rambut yang kembali dibentuk plum dengan beberapa anak rambut jatuh di dahinya.

Senyumku terus mengembang di bibirku karena senang sekali. Aku sama sekali tidak merasakan lelah. Kini, aku berjalan beriringan dengannya menuju ke tempat 4 member SHINee yang telah menunggu. Aku tersenyum ketika mereka melambaikan tangan ke arah kami.

“Lama sekali…kami sudah kelaparan,” sungut Key lalu manyun.
“Ini,” kata Tara lalu mengulurkan cemilan yang kami beli pada Key. “Eomma Appa beli buat kalian,”
“Belum cukup untuk meminta maaf, Eomma,” gantian Taemin yang komplain.
Aku hanya melihat keempat anakku komplain pada Eommanya dengan senyum.
“Baiklah kalau belum cukup. Apa yang harus Eomma lakukan?” tanyanya pelan dengan wajah yang menurutku merasa bersalah.

Aku merasa ada yang tidak beres ketika melihat cengiran evil dari keempat anakku.
“Menari. Kami mau Eomma menari,”
“Huhhh?? Menari?” tanyanya kaget.
“Nee~~”
“Tapi…”
“Kalau Eomma tidak mau menari sendiri, Appa yang akan menemani,”
“Mwo?? Yaa~~” kataku protes. “Masa kalian seperti ini dengan orang tua kalian, ohng?”
“Sekali-kali, Appa,” kata Key dengan cengiran khasnya lalu menunjuk ponsel Minho. “Lagu Replay ada di ponsel Minho,”
“Baiklah,” kata Tara lalu berdiri dan tersenyum malu-malu karena beberapa orang telah mengerumuni tempat kami.
“Appa~~kok kau masih duduk?” kata Taemin. “Kau juga berdiri di sebelah Eomma,”
“Arasso,” kesalku lalu berdiri di sebelah Tara.

“Start,” kata Minho lalu mengalunlah lagu Replay dari ponselnya.
End of Onew POV…
**

“Ahhh…capeeekkk…” kataku lalu menjatuhkan tubuhku di sofa. “Menyenangkan sekali. Amor, kamsahamnida,” kataku melihat dirinya yang sedang menata sepatuku di tempatnya.
“Chara, 2 hari lagi kan kita akan berangkat ke Indonesia, apakah ada yang harus disiapkan?”
“Peralatan menyelam, kalau kamu mau menyelam. Kacamata hitam dan topi pantai harus disiapkan, amor. Lotion khusus berjemur juga dibawa. Pasti harus membawa baju renang. Aku rasa itu saja yang harus disiapkan,”
“Baiklah,” kata Onew lalu duduk di sebelahku. “Chara, apakah nanti ketika di Lombok, aku akan bertemu dengan orangtuamu dan keluargamu?”

Aku menggeleng lalu tersenyum. “Mereka lagi berada di Singapura. Adik bungsuku minta jalan-jalan ke sana. Sebenarnya, keluargaku tidak tinggal di Lombok, mereka tinggal di Jakarta,”
“Begitu?” tanyanya lagi lalu menatapku. “Kau kan pernah pulang ke Indonesia karena ada pernikahan temanmu yang memintamu untuk jadi fotografernya, apakah kau bertemu dengan orang tuamu?”
“Nee~~dan mereka menanyakan kapankah Onew akan bertemu dengan mereka,”
“Jjinjjaa? Waaaahhhh…aku jadi berdebar nich,” katanya lagi lalu memegang dadanya dan tersenyum. “Aku ingin sekali mengajakmu ke rumahku, chara,”
“Mwoo? Bagaimana respon mereka ketika tau anaknya telah menikah dengan seorang gadis campuran yang sangat cantik?”
“Kau itu sungguh narsis Tara,” kata Onew sambil menarik hidungku dan menatapku lama lalu tersenyum. “Eomma selalu menanyakan kapan aku bisa mengirimkan foto pernikahan kita,”
“Haa??”
**

“Ini jadwal keberangkatan kalian ke Lombok,” kata PD nim menyerahkan kertas pada kami semua. Park Hae Mi dan L.Joe sudah berangkat duluan ke Lombok bersama Nunmi dan Minho. “Berhubung masih belum ada penerbangan yang melayani Korea – Lombok, maka kalian akan transit terlebih dahulu di Jakarta. Namun, kita tidak akan menginap di Jakarta,”
“Nee~~”
“Tara Onew, keberangkatan kalian ditunda 2 hari karena kami shooting di Lombok terlebih dahulu. Jadi, kalian dan SHINee merupakan kloter terakhir yang akan berangkat ke Lombok,”
“Baiklah,” kata kami mengangguk lalu menerima tiket Garuda Indonesia yang diulurkan PD-nim.
“Semoga perjalanan kalian menyenangkan,”
“Kamsahamnida,”
**

Onew POV…
“Indonesia?? Aku senang sekali bisa kembali ke sana. Aku dan SHINee pernah ke Indonesia untuk acara KIFF yang diselenggarakan di Jakarta,”
“Jjinjja?”
“Nee~~ aku akan menambah pengalamanku berada di Indonesia karena aku akan mengunjungi salah satu tempat wisata yang terkenal. Jujur, kebanyakan teman-teman artis merekomendasikan Bali. Kini, gantian aku akan merekomendasikan Lombok pada mereka. Ahh..aku sangat tidak sabar menunggu keberangkatan ke sana,”
“Semoga perjalanan kalian menyenangkan,”
“Nee~~”
End of Onew POV…
**

Aku kaget sekali ketika sampai rumah terlihat beberapa koper tergeletak di lantai. Mataku terbelalak ketika melihat SHINee terlelap di lantai. Aku berjingkat perlahan memasuki rumah pernikahan kami tanpa harus membuat mereka terbangun.
“Bagaimana bisa mereka tertidur dengan tangan sebagai bantal?” kataku pelan lalu segera naik ke atas untuk mengambil bantal.
Aku kembali turun dengan 5 buah bantal. Perlahan aku mendekati Taemin dan mengangkat kepalanya untuk meletakkan bantal.
“Mian,” kataku lalu beralih pada Key yang tergeletak di sebelah Taemin. Aku melakukan hal yang sama seperti pada Taemin.
Aku beralih pada Jonghyun. Aku segera beralih pada Onew yang tertidur di sofa setelah meletakkan bantal di bawah kepalanya. Aku tersenyum melihat selimut menutupi seluruh badannya. Perlahan aku membuka selimutnya dan menyelipkan bantal.

Aku menuju dapur untuk membongkar barang-barang yang dikirim oleh Mamaku setelah memastikan mereka semua nyaman dengan bantal.
“Wahhh..ikan gabus giling,” kataku lalu meletakkan bungkusan itu di freezer. “Wahh…sagu dan tepung terigu,”

Aku tersenyum menemukan surat di sana. Aku duduk di kursi lalu membaca surat itu. Aku tersenyum membaca baris demi baris yang ditulis oleh Mamaku.
“Aku mencintaimu, Mama,” kataku menggunakan bahasa Indonesia. “Hmm…apakah aku buat mpek-mpek saja ya? Yoshh…”

Aku segera menyiapkan 2 buah butir telur, semangkuk minyak goreng, ikan gabus giling, semangkuk tepung terigu. Aku mengambil timbangan untuk menimbang ikan giling itu.
“Hmm…1.5 kg,” kataku lalu berpikir. “Aku akan buat setengah saja, berarti 750 gr. Itu sama dengan 3 mangkok kecil,”

Aku menyiapkan mangkuk sedang sebagai tempat untuk mencampurkan bahan.
“Mangkok pertama,” kataku lalu kembali memasukkan ikan pada mangkok. “Mangkok kedua…yoshh..mangkok ketiga. Berarti airnya 2 mangkok,”




“Yoshh…adonannya sudah jadi,” kataku tersenyum. “Aku tinggal membentuk mpek-mpek lenjer dan kapal selam kecil,”
“Eomma..” suara Key mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya. “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Membuat mpek-mpek,” kataku tersenyum lalu kembali berkutat pada adonan itu.
“Apakah aku bisa membantu?” tanyanya lalu mendekat.
“Dengan senang hati,” kataku lalu memintanya mengambil celemek yang tersimpan di bufet lemari.
“Yosh..” katanya lalu mengambil piring. Aku meletakkan adonan di sana. “Apa yang akan aku buat?”
“Seperti ini,” kataku menunjukkan cara padanya. “Bagilah adonan itu menjadi beberapa bagian. Lalu ambil satu bagian lalu kau gulung sampai berubah panjang,”
“Aku mengerti,” katanya semangat lalu membagi adonan yang aku kasih menjadi beberapa bagian.

Aku kembali pada kerjaanku yaitu membuat mpek-mpek kapal selam kecil. Perlahan aku memasukkan telur pada bahan yang telah aku bentuk seperti mangkok. Aku memastikan air yang aku rebus sudah mendidih. Aku segera memasukkan bahan itu ke dalam air rebusan setelah menjadi mpek-mpek kapal selam.

“Bagaimana, Key?” tanyaku melihat hasil karyanya. “Wahh…benar-benar perfect,”
Aku takjub melihat hasil kerjaannya. Ukuran mpek-mpek lenjer yang dia buat sama semua.
“Hehehe…” katanya lalu tersenyum. “Eomma…setelah ini diapain?”
“Kau masukkan ke dalam panci yang sudah aku siapkan di atas kompor,”
“Baiklah,”

Aku sangat menikmati kegiatan memasakku bersama Key. Dia cepat sekali menangkap yang aku ajarkan.
“Eomma, kau sedang apa?” tanyanya sambil sesekali mengaduk rebusan.
“Aku lagi memanaskan cuka,” kataku lalu memintanya mencicipi rasanya.
“Hmm..pedas..dan manis. Enak,” kata Key lagi lalu perlahan mengangkat mpek-mpek yang sudah matang. “Eomma..ini sudah boleh dimakan?”
“Boleh saja,”
“Yosh…” Key segera mengambil garpu dari atas meja.
“Coba makan pake cukanya,” kataku lalu mengulurkan semangkok kecil cuka padanya.
“Aku makan,” katanya lalu memasukkan mpek-mpek ke dalam cuka. “Hmm…enak Eomma..enak…”

Aku tersenyum melihat ekspressi wajahnya.

“Kok sepertinya ada telur ya?”
“Iya..itu namanya mpek-mpek kapal selam kecil,”
“Wahhh…” katanya lalu segera ke ruang depan. “Eomma aku bangunkan mereka dulu,”
**

“Wahhhh…apa ini?” tanya Jonghyun yang telah duduk di kursi sambil menciumi mpek-mpek yang aku hidangkan.
“Mpek-mpek, salah satu makanan Indonesia. Mpek-mpek ini merupakan makanan khas dari Sumatra Selatan,”
“Mirip dumpling,” kata Taemin lalu mencobanya. “Wahh…enaaaakkkk…”
“Iyaa..iyyaa.. mirip dumpling,” kata Onew lalu ikutan mencobanya. “Enaaakkk..chara…enaak… Terima kasih, sayang,”

Aku tersenyum melihat mereka menikmati masakan yang aku buat. Aku sama sekali tidak pernah memasakkan masakan Korea pada mereka karena mereka pasti pernah memakannya jadi aku memutuskan akan mengenalkan mereka makanan khas Indonesia.

“Kalau yang ini hasil karyaku,” bangga Key.
“Benarkah, Eomma? Ini hasil karya Key Hyung?” tanya Taemin tidak percaya.
“Nee, Taemin,” kataku tersenyum.
“Key umma…gomawo, aku akan mencobanya,” kata Taemin.
“Charaaa… aku benar-benar sangat menikmati masakan ini,” kata Onew lalu mengelus-ngelus tanganku.
“Eheemmm…jangan beradegan 21 plus di sini,” komplain Taemin lalu tersenyum.
“Hahahaha…”
**

Hari keberangkatan kami menuju Jakarta telah tiba. Penerbangan menuju Indonesia jam 3 sore namun kami telah berangkat menuju Incheon Airport jam 10 pagi. Benar prediksi Papa Hong, bahwa akan terjadi kemacetan di Seoul. Kami terjebak kemacetan lebih dari 1 jam. Aku segera melihat jam di pergelangan tanganku, menunjukkan jam 11 siang.
“Jangan khawatir, kita tidak akan telat. Kira-kira 45 menit lagi kita akan sampai di Incheon,” kata manajer SHINee.
“Nee~~Oppa…” kataku lalu berusaha menunjukkan wajah tenang.




Akhirnya tiba juga van yang kami tumpangi di Incheon. Namun, kami merasa kesulitan memasuki terminal keberangkatan Internasional karena fans SHINee mengerumuni pintu terminal. Beberapa bodyguard bandara tampak menjaga kerumunan itu agar terkendali dan tidak menyebabkan kerusuhan di sana. Teriakan histeris dari Shawol semakin menggila ketika Jonghyun dan Key melangkah masuk menuju pintu terminal.

“KYAAAAA~~~JONGHYUN OPPAAA~~~ KYAAAAA~~~~ SARANGHAE~~SARANGHAE~~~”
“KYAAA~~~~UMMMAAAA~~ KEY UMMAAA~~”

“Saranghae,” balas Jonghyun dan Key lalu melambaikan tangan.

Teriakan kembali membahana ketika Taemin turun dari van dan melangkah masuk ke terminal.
“KYAAA~~~~~”

“Amor…aku takut sekali,” kataku melihat reaksi para fans ketika Taemin melangkah masuk yang dikawal oleh staff.
“Tenanglah,” kata Onew menenangkanku. “Pastikan tanganmu tidak terlepas dari tanganku,”
“Nee~~”

“Tara, Onew, giliran kalian,”
“Nee~~”

Onew pertama kali turun lalu dia membantuku turun. Teriakan makin histeris dan membahana ketika aku turun dari van. Aku hanya tersenyum dan mengeratkan genggaman tanganku.
“Charamore…charamore..charamore…” teriakan mereka makin menggila.
Beberapa wartawan segera mengarahkan kameranya ke arah kami. Aku dan Onew hanya tersenyum. Kami berdua berbalik badan ketika sampai di pintu terminal.
“Kamsahamnida..kamsahamnida..”

“Oppa..eonni…hati-hati di jalan,”
“Nee~~”
**

Sementara itu di Lombok, PD-nim mengadakan rapat dengan Silvaniel, HaeJoe, dan Nunminho.
“Charamore dan SHINee baru saja bertolak dari Seoul. Perkiraan sampai Lombok jam 6 pagi besok hari. Siapa yang akan menjemput mereka?”
“Aku saja, PD-nim,” kata Minho tersenyum. “Silvaniel dan HaeJoe ada pemotretan di Pantai Kuta, berarti Nunmi juga akan ikutan,”
“Tapi kan pemotretannya jam 10, PD-nim,” jawab Niel. “Aku rasa, kita jemput Tara dan SHINee dulu baru mengantarkan kami ke Pantai Kuta. Nanti kita minta driver standby di Pantai Kuta agar bisa mengantarkan mereka ke hotel,”
“Bagaimana? Apakah ada yang tidak setuju dengan usul Niel?”
“Kami setuju,”
“Bagus. Kalau begitu, kalian siap-siap, kita akan shooting di jalan Senggigi sampai Pasar Seni dan menaiki cidomo,”
“Kalau bisa sekalian kita ke coconut cafe,” kata Nunmi. “Kita bisa menikmati sate bulayak sambil menikmati deburan ombak,”
“Asiiiiikkkk….”
**

Aku terbangun ketika guncangan kecil di tubuhku. Wajah Onew tersenyum memandangku.
“Chara…sebentar lagi kita sampai di Lombok,”
“Jjinjja?”
“Nee~~”

Beberapa saat kemudian terasa getaran di dalam pesawat karena pesawat yang kami tumpangi akan mendarat.

“Selamat datang di bandara Internasional Lombok. Waktu menunjukkan pukul 06 pagi, terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Lombok. Seluruh awak pesawat mengucapkan terima kasih karena terbang bersama Garuda Indonesia Airlines. Semoga kita bisa bertemu pada penerbangan selanjutnya,”

Aku tersenyum lalu segera melepaskan seat-belt. Berhubung kami semua duduk di kelas eksekutif, jadi kami duluan yang keluar dari pesawat. Kami semua langsung menuju pintu keluar karena tidak ada barang yang dibagasikan. Aku dan SHINee tampak kaget karena tampak beberapa fans yang berkumpul di pintu kedatangan sambil membawa spanduk dan meneriakkan nama kami.

Tampak pihak keamanan sedang meng-clear-kan jalan sehingga kami semua aman sampai bus yang menjemput. Aku tersenyum ketika melihat sosok PD-nim, Silvaniel, HaeJoe dan Nunminho berjalan ke arah kami. Aku setengah berlari menghampiri mereka dan segera memeluk Nunmi.
“Akhirnya aku balik kampung,” kataku senang lalu menghirup udara Lombok. “Wahhhh….”

Bus segera meninggalkan bandara ketika kami semua duduk di tempat masing-masing. Aku tidak memperdulikan Onew karena perasaanku kali ini sangat membuncah diakibatkan bisa merasakan kembali suasana Lombok. Aku terus melihat pemandangan dari jendela dan terus tersenyum. Senang sekali aku bisa kembali ke Lombok.
**

Onew POV…
“Aku sedikit kesal sebenarnya karena Tara terus-terusan melihat pemandangan dari jendela. Aku mengerti kalau dia sangat merindukan Lombok tapi aku duduk di sebelahnya. Jadi…setidaknya dia lebih peduli padaku daripada pemandangan itu,”
“Apakah kau cemburu?”
“Tentu saja…aku yang duduk di sebelahnya tidak diperdulikan olehnya,”
End of Onew POV…
**

“Aku tidak bisa mengekspresikan perasaan saat menjejakkan kaki di Lombok. Betapa aku merindukan Lombok,”
“Apakah kau tidak menyadari kalau Onew sedikit kesal karenamu sewaktu di bus?”
“Jjinjja?” tanyaku yang dijawab anggukan oleh PD-nim. “Ahh…amor..aku benar-benar minta maaf karena terlalu asik menikmati pemandangan Lombok,”
**

Akhirnya aku dan Onew menuju Senggigi Beach Hotel and Resort setelah mengantarkan Silvaniel, HaeJoe, Nunminho dan SHINee di pantai Kuta. Suasana di van sangat hening karena Onew masih kesal akan tingkahku ketika di bus. Memang, Onew masih tetap tersenyum namun senyumnya terasa beda. Aku hanya menghela nafas dan duduk dengan diam di sebelahnya. Sedangkan Onew berkutat dengan ipodnya dan memasangkan earphone ke telinganya lalu memejamkan mata. Aku kembali menghela nafas melihat semua itu. Aku ingin menangis rasanya.

“Aku akan meminta maaf padanya,” kataku pelan lalu melihat ke arahnya. “Amor…”
Perlahan aku mencopot earphone-nya dan terus menatap ke arahnya. Matanya terbuka lalu melihat ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya.
“Ituuuu…ketika di bus tadi…” kataku takut-takut. “Aku benar-benar tidak tau kalau kau kesal akan tingkahku, amor. Jeongmal mianhae..miaann..”

Aku terus menatapnya dengan hati yang berdebar. Aku menghela nafas karena tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.

“Baiklah…berarti kau masih marah padaku,” kataku pelan lalu menyandarkan tubuhku ke kursi. Mataku terasa panas namun aku berusaha sekuat mungkin agar air mataku tidak menetes di hadapannya, PD-nim, maupun yang menonton adegan kami.
**

“PD-nim…sewaktu di van tadi, sepertinya Tara ingin menangis,” kata screen-writer ketika mereka beristirahat di kamar.
“Benarkah?”
“Nee~~lihat script ini,” katanya lagi lalu mengulurkan script ke PD-nim. “Adegan di van tadi sebenarnya tidak seperti itu. Apakah…Onew benar-benar kesal? Padahal kan kekesalan Onew hanya acting,”
“Kim ssi…tapi aku suka adegan yang tadi meskipun tidak ada di script,”
“PD-nim…sebenarnya…ada beberapa adegan yang tidak sesuai dengan script,”
“Jjinjja?” kaget PD-nim.
“Nee~~” jawab screen-writer. “Namun, acting mereka bagus sekali. Makanya aku tidak komplain meskipun tidak sesuai. Hmm..apakah..Onew..ada rasa ke Tara?”
“Yaa~~kau ini bagaimana..Mereka harus ada “rasa” satu sama lain agar sempurna,”
“Hyeong..jatuh cinta for real,”
“Mwo?”
**

Aku masih diselimuti sedih. Sejak sampai di hotel sampai waktunya makan malam, Onew sama sekali tidak berbicara padaku. Memang kami menikmati makan malam bersama, namun, sepertinya hati kami tidak menikmatinya.
“Tara…wae geurae?” tanya Silvana bingung melihat wajahku yang mendung.
“Haa?” tanyaku lalu segera menunduk ketika tatapanku bersiborok dengan matanya Onew. “Gwaenchana, Silvana,”
“Appa..kau kenapa?” tanya Taemin lalu menatapku dan Onew bergantian.
“Diamlah…kau berisik sekali,” kata Onew dingin lalu meninggalkan meja makan.

Kami semua saling pandang ketika Onew berdiri dan meninggalkan meja makan. Taemin, Minho, Niel, dan Jonghyun mengikutinya. Aku membiarkan air mataku jatuh tanpa peduli bahwa banyak orang yang akan menonton acara ini. Hatiku benar-benar sakit melihat Onew seperti itu.
**

“PD-nim…apakah kita harus menghentikan shooting hari ini? Adegan ini sama sekali tidak ada di script,” kata screen-writer mengejutkan.
“Benarkah? Aku mau lihat scriptnya,” kata PD-nim lalu mengambil script dan segera membacanya. “Benar…ada apa sebenarnya ini? Panggilkan manajer SHINee dan wakil dari Cube,”
“Nee~~”
**

“Tara..Tara…” ujar Silvana menatapku. “Kau kenapa, sayang?”
“Aku baik-baik saja,” kataku berdiri lalu berjalan menuju PD-nim yang sedang berbicara dengan manajer SHINee dan wakil dari Cube. “PD-nim, aku mohon, aku ingin istirahat sebentar saja,”
“Baiklah..kita akan menunda shootingnya. Silakan,”
“Kamsahamnida, PD-nim,”
**

“Nunmi, apakah kau sudah berbicara dengan Tara?” tanya Hae Mi cemas.
“Aku dan Silvana sudah mencoba menemaninya, namun, Tara ingin sendiri. Ada apa dengannya dan Onew? Apakah ini bagian dari script?”
“Tidak…adegan yang tadi sama sekali tidak ada di script, Nunmi,” jawab Minho yang bergabung dengan mereka lalu menghela nafas. “Kenapa dengan mereka? Memang, tadi Onew Hyung bilang kalau dia kesal dengan Tara Noona tapi masa sampai sekarang,”
“Apakah…hmm…Onew dan Tara…saling mencintai?” kata Hae Mi tiba-tiba.
“Yaa~~Hae Mi..Tara dan Onew memang harus saling mencintai agar tampak sempurna,”
“Maksudku saling mencintai for real,”
“Haa?”
**

“KYAAAAA~~~” teriak Hae Mi kencang ketika menyadari sosok Tara tidak ada di kamar.
“Yaa~~ Hae Mi,” kata L.Joe yang tergopoh-gopoh. “Ada apa?”
“Tara…Tara…tidak ada di kamar,” kata Hae Mi lalu menangis. “Apakah dia…kabur?”
“Kita akan membicarakan ini dengan staff,” bijak L.Joe lalu menatap Hae Mi.
“Benar..” kata Hae Mi menutup pintu kamar lalu beriringan menuju kamar PD-nim.




“APAAA??? Tara tidak ada di kamarnya?”
“Nee~~”
“Panggil Onew..dialah yang harus bertanggung jawab untuk masalah ini,”

Beberapa saat kemudian, sosok Onew yang masih mengantuk
an berpakaian tidur menemui PD-nim.
“Nee~~Hyung, ada apa?”
“Ada apa katamu? Gara-gara kau, Tara menghilang. Kau harus mencarinya dan meminta maaf padanya agar shooting bisa kembali berjalan,”
“Kenapa harus aku?” tanya Onew dingin. “Ketika di bus, dia tidak peduli padaku, kenapa aku harus peduli dengannya?”
“LEE JINKI…” kata Jonghyun tinggi. “Apakah kau laki-laki, ohng? Tara itu kan partner kau…”
“Hanya di WGM, Jonghyun,”
“Apakah benar, Tara itu hanya partnermu di WGM, ohng?” tanya Nunmi. “Bukankah kau…benar-benar mencintainya? Iya kan? Kau tidak akan bersikap seperti ini kalau bagimu Tara itu partnermu hanya di WGM,”

Onew terdiam mendengar perkataan pedas Nunmi. Hatinya berdebar kencang. Apakah saat ini perasaan yang sebenarnya pada Tara akan terbongkar.

“Onew,” kini gantian suara manajer mereka terdengar. “Apakah benar kau mencintai Tara?”
Onew tergagap mendengar pertanyaan dari manajernya. Dia melihat sekeliling. Semua yang berada di sana menunggu jawaban darinya.
“Onew, jawab pertanyaanku,”

“Hyeong…” kata Onew pelan lalu menghela nafas. “Benar, aku mencintai Tara…tidak hanya di WGM, tapi juga di kehidupanku. Maka dari itu, aku benar-benar marah padanya karena dia tidak peduli padaku. Saat ini, aku meminta izin padamu, pada SHINee, pada PD-nim dan tentu saja pada Cube Entertainment agar mengizinkan aku dan Tara pacaran,”
“MWOO???”
“Nee~~aku juga akan meminta izin pada Shawol dan tentu saja fansnya Tara,”
“Onew~~”
**

Aku menoleh ketika suara Nunmi terdengar memanggil namaku. Aku tersenyum ketika dirinya duduk di sebelahku.
“Babo,” kata Nunmi dengan senyum.
“Babo??” sewotku. “Kenapa kau sangat menyukai “babo”, ohng?”
“Ahh..” katanya lalu memandang ke arah laut. “Pantas saja kau sangat menyukai laut. Indah sekali bukan?”
“Kenapa kau tau aku ada di sini?”
“Tara Vanika…” kata Nunmi tersenyum. “Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun, sayang, meskipun aku baru di Cloudyeppeo,”
“Kau benar, Nunmi,” kataku lalu memandang laut. “Laut dan anginnya bisa mengambil beban di hatiku, Nunmi,”
“Kau mencintainya?”
“Aku sangat mencintainya, Nunmi. Aku sangat mencintai laut,”
“Huhh?? Yaa~~ Jung Tara..kau itu benar-benar Babo ya,” gemas Nunmi. “Aku menanyakan soal Onew,”
“Onew?” tanyaku pelan.
“Nee~~ Onew, ayam gantengmu itu. Kau mencintainya?”
“Tentu saja aku mencintainya agar kami terlihat sempurna di WGM,” kataku berbohong. Sangat menyakitkan membohongi perasaan.

Aku kaget karena Nunmi tertawa mendengar pernyataanku. Gadis cantik itu menatapku dengan senyum yang manis sekali.
“Aku tau kalau kau berbohong, sayang,” katanya lalu berdiri. “Baiklah…saatnya kau kembali ke hotel,”
“Nunmi~ya..” kataku pelan.
“Onew membutuhkanmu,”
**

Aku berjalan menuju ruangan yang dimaksud Nunmi dengan galau. Aku sebenarnya tidak ingin melihat wajah Onew hari ini. Perlahan aku mendorong pintu ruangan itu dan melangkah masuk. Mereka semua sudah duduk dengan tenang di sana. Mereka segera melihat ke arahku. Aku hanya menganggukkan kepala lalu menampilkan senyum simpul.

“Tara…” suara Jung-ssi, wakil dari Papa Hong terdengar ketika aku mau duduk. “Darimana saja?”
Aku melihat ke arahnya. “Maafkan aku, Papa Jung. Aku pasti mengkhawatirkan kalian semua. Aku dari pantai,”
“Pantai?” tanya PD-nim tidak percaya.
“Nee~~ Pantai merupakan tempat kesukaanku ketika ada masalah karena angin dan gelombang laut bisa mengambil masalahku, PD-nim,” kataku menjawabnya lalu duduk di sebelah Key.

“Noona..kau darimana saja?” bisik Key pelan. “Onew Hyung membuat masalah,”

“Baiklah..kita akan memulai pembicaraan penting ini sekarang,”




Aku terbelalak mendengar penuturan Onew tersebut. Apa katanya tadi? Dia mengatakan kalau dirinya menginginkan aku sebagai pacarnya. Apakah aku tidak bermimpi? Apakah benar yang sedang aku dengar ini?

“Tara..” kata Onew pelan. “Aku…benar-benar meminta maaf karena membuat air matamu jatuh. Aku seperti ini karena aku mencintaimu..aku tidak hanya menginginkanmu di WGM tapi juga di kehidupanku,”
“Noona…apakah kau menyukai bahkan mencintai, Hyung?” tanya Key sambil berbisik. “Terimalah dia, Noona,”
“Tara…aku tidak butuh jawaban sekarang, tapi aku mohon, pikirkanlah,” kata Onew lalu meninggalkan ruangan.

Aku berdiri dari duduk lalu segera mengejarnya.
“Amor…”
**

Onew POV…
Aku tidak tau apa yang tengah dialami oleh jantung dan perasaanku. Jantungku berdebar kencang ketika dirinya berdiri di hadapanku. Akupun segera merengkuh tubuhnya dan memeluk dengan erat.
“Amorr..” suaranya terdengar pelan. “Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahanku. Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu tapi perasaanku saat itu benar-benar sangat senang karena merasakan Lombok lagi,”

Aku melepaskan pelukanku dan menyunggingkan senyum. Tanganku menghapus air matanya dan tanpa permisi aku menyentuh bibirnya. Aku membuktikan cintaku dengan ciuman manis itu.

“Aku mencintaimu, Tara,” kataku dengan senyum. “Aku berharap, kau menemaniku tidak hanya di WGM tetapi juga di kehidupanku,”

Senyumku lebar ketika mendapatkan anggukan dari dirinya. Berati, Tara menyetujui keinginanku. Aku kembali mendaratkan bibirku di bibirnya.

“Kamsahamnida,” kataku sesaat melepaskan ciumanku.
**

“Baiklah…Tara Onew.. aku harap kalian bisa menunjukkan profesionalitas yang kalian punya untuk WGM ini,” ujar manajer SHINee pada kami berdua.
“Nee~~Hyung…”
“Kalian sudah menyatakan kalau real-for-dating, jadi jangan heran kalau nanti ketika sampai di Incheon, bakal banyak fans dan wartawan yang berkerumun di sana,”
“Nee~~” kata kami sambil senyum.
“Ahhh…anak muda zaman sekarang,” kata wakil agensiku sambil geleng-geleng. “Semoga hubungan kalian lancar ya,”
“Amieeenn..”




“Ciyeeee~~~” sorak SHINee, Silvaniel, HaeJoe, dan Nunminho ketika kami memasuki ruangan tempat kami shooting selanjutnya.
“Kita harus mendapat traktiran,” kata Niel semangat.
“Kami setujuuuu~~” seru Minho. “Nunmi…tempat yang enak dan mahal di mana? Kita akan ditraktir ama mereka,”
“Yaa~~yaa~~”
**

Hari ini merupakan hari yang sangat menyenangkan karena kami akan ke Gili Trawangan. Kami tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain karena kami akan menggunakan yacht pribadi milik Cloudyeppeo Entertainment. Kami tidak hanya mengunjungi Gili Trawangan akan tetapi juga mengelilingi Gili Air dan Gili Meno.

Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 45 menit itu tidak terasa karena kami sangat menikmatinya. Akhirnya terungkap bahwa Hae Mi dan L.Joe memiliki hubungan khusus sejak 2 tahun yang lalu. Silvana dan Niel juga telah berpacaran bahkan mereka berencana menikah tahun ini. Sedangkan Nunmi dan Minho, mereka saat ini dipertanyakan.

“Minho..” suara manajer SHINee terdengar. “Kalau kau juga ada rasa dengan Nunmi, cepat dikatakan, biar aku sekalian mengadakan konferensi pers di Seoul,”

Kami tertawa mendengar perkataan sang manajer ganteng itu. Biar bagaimanapun, tanggung jawabnya semakin besar ketika artisnya berpacaran.
“Aku merestui hubungan kalian, Charamore,” kata sang manajer disertai senyum. “Aku menginginkan kalian bahagia selamanya,”
“Kamsahamnida, manajer,”

“Chara…aku harap kau tidak tebar pesona dengan bule-bule yang ada di sana,”
“Ahh..tentu saja, amor,” kataku tersenyum.
“Yakin? Kemaren malam saja banyak bule yang mendekatimu dan aku tidak suka,”
“Onew~ya..” kata Silvana dengan senyum. “Itu resikonya kalau berpacaran dengan Tara. Dia kan cukup terkenal di sini,”

Hahahaha..
**

“Baiklah…kalian akan belajar diving,” kata PD-nim menginstruksikan shooting hari ini. “Kita sudah mendatangkan 3 pelatih diving yang memiliki banyak pengalaman,”
“Nee~~”
“Silvaniel dan HaeJoe bakal diajar oleh bapak Restu. SHINee bakal diajar oleh bapak Chandra. Nunminho dan Charamore akan diajar oleh bapak Atmaja,”
“Nee~~”




“Aku tidak sanggup,” kataku megap-megap sambil melepas peralatan menyelam.
“Tara, kau harus mencobanya,” kata pelatih kami lalu kembali memasangkan peralatan menyelam.
“Hmm..begini saja. Aku akan berenang sambil melihat keindahan dasar laut saja. Aku tidak bisa menyelam,”
“Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan kalian bertiga? Mau meneruskan latihan atau berenang saja?”
“Latihannya dilanjutkan, Pak,” jawab Onew semangat lalu menatapku khawatir. “Chara, berenangnya jangan jauh-jauh ya,”
“Nee~~ kan wilayahnya sudah diberi batas oleh Pak Atmaja,” kataku tersenyum. “Semangat, amor,”
“Nee~~”
**

Sementara itu, SHINee malah semangat berfoto ria dengan kostum menyelamnya. Pelatih mereka, Pak Chandra, hanya menatap dengan senyum 3 banci photo yang sedang asik berpose.
“Apakah sudah puas? Bisa kita mulai latihannya?”
“Hmm…apakah kami bisa berfoto di dalam air?” tanya Key dengan puppy-eyes.
“Bisa,” kata Pak Chandra tersenyum. “Apakah kamera kalian anti-air?”
“Iya, Pak,”
“Asiikkk…” kata Key lalu menceburkan diri ke air. “Mari kita latihan, Pak,”
**

Niel dan L.Joe terlihat asik berjemur di bawah sinar matahari. Sedangkan Silvana dan Hae Mi terlihat sibuk memakai peralatan menyelam.
“Yaa~~ Niel, kenapa kau tidak memakai baju selammu, ohng?”
“Fiancee~~ Aku lebih menikmati berjemur daripada menyelam. Kami akan menunggu di sini,”
“Janji, kami tidak akan tebar pesona dengan bule-bule di sini,” L.Joe menambahkan.
“Baiklah..kalau begitu, kami menyelam dulu,”
“Jalka, hati-hati,”




Silvana dan Hae Mi terbelalak melihat kekasih mereka sedang bersenda gurau dengan bule-bule cewek. Kedua gadis cantik itu setengah berlari ke tempat sang pacar.
“Niel..”
“L.Joe…”
“BAGUUUSSSS~~” kata kedua gadis cantik itu lalu menjewer telinga pacar mereka.
“Hmm..sorry..he is my husband,” kata Silvana dengan dingin. “How dare you can flirt with him? And, he is my friend’s husband. We have children,”
“Sayaaaanggg~~sudahlah…” kata Niel berusaha menenangkan Silvana.

Silvanapun mengomeli Niel dengan bahasa Inggris. Cowok tampan bersuara bagus itu hanya bengong melihat sumpah serapah yang keluar dari bibir Silvana.

“Niel, aku menyarankan kau harus belajar bahasa Inggris,” kata L.Joe tersenyum lalu tertawa. “Agar kau bisa mengimbangi calon istrimu,”
“Sepertinya begitu,” kata Niel tersenyum kecut.
**

Malam ini, kembali aku dan SHINee melaksanakan sebuah rapat mendadak. Manajer ganteng SHINee yang memimpin rapat dadakan ini.
“Baiklah…berita real-for-dating kalian telah sampai di telinga Shawol baik di Korea maupun dunia. Berita kalian menjadi on top di Trending Topic WorldWide. Pihak SM dan Cube telah mengklarifikasi berita ini,” kata Manajer ganteng itu lalu menyodorkan ipad miliknya. “Itu suasana ketika SM dan Cube mengklarifikasi berita kalian,”

“Hikss…kami tidak menyangka bahwa Onew Oppa berpacaran dengan Tara Eonnie. Hatiku tidak rela meskipun mereka terlihat serasi. Onew Oppaaaa~~”
“Sekarang giliran Onew yang berpacaran. Terus siapa lagi? Minho? Key? atau Taemin?”
“Chukae, Oppa.. Aku mendukung kalian,”
“Aku akan menunggumu putus dari Tara, Onew,”

“Wahhh…itu komentar para Shawol…” kataku lalu tersenyum.
“Bagaimana??? Itulah beberapa komentar Shawol yang tertangkap. Kalian sudah siap berhadapan dengan mereka?”
“Aku siap,” kata Onew. “Aku akan mempertaruhkan semuanya untuk berhadapan dengan Shawol. Aku percaya, Shawol akan mendukungku sepenuhnya,”
“Leader Onew..kami..semua mendukungmu,” kata SHINee tulus.
“Aku benar-benar mengucapkan terima kasih pada kalian,” kataku.
**

“Aku ada ide,” kataku lalu tersenyum. “Bagaimana kalau kita menyanyikan lagu Narsha eonnie yang judulnya I’m in Love?”
“Aku suka dengan lagu itu,” kata Silvana. “Namun, aku tidak bisa memainkan alat musik,”
“Tenang, aku dan Nunmi yang akan memainkan alat musiknya,” kataku lalu mengeluarkan ponselku. “Aku pernah membawakan lagu itu secara akustik,”

Kami semua mendengarkan lagu I’m in Love yang aku bawakan. Aku sedikit mengaransemen lagu itu. Senyum mengembang di bibirku pertanda aku bangga sekali karena karyaku dinikmati oleh orang lain.

“Wahhh…petikan gitarnya keren sekali. Siapa yang memainkannya?” tanya Haemi.
“Tara,” jawab Nunmi tersenyum. “Sedangkan pianonya, aku yang memainkannya,”
“Jjinjja??”
“Nee~~” jawabku tersenyum dengan lebar. “Itulah pekerjaan sampingan kami ketika lagi tidak ada orderan untuk pemotretan,”
“Hahaha…” kata Nunmi tertawa. “Sungguh menyenangkan,”
“Valentine masih 3 hari lagi, jadi kita masih ada waktu untuk latihan,”
“Setuju…”
**

“Kita sudah menunggu hampir 2 jam, namun, kenapa mereka semua belum muncul?” sungut L.Joe lalu mendaratkan pantatnya di sofa lobby hotel dan melihat sekeliling.
“Onew Hyung dan SHINee sedang pemotretan di Pasar Seni. Apa yang akan kita lakukan, L.Joe?”
“Molla…” kata L.Joe lalu melihat ke luar. “SHINee sudah kembali. Bagaimana kalau kita menanyakan apa yang akan kita lakukan dengan mereka,”
“Ide bagus,” kata Niel lalu berdiri dan berjalan menuju SHINee yang baru saja masuk.




“Yaa~~apakah kau yakin, Key?” tanya Niel yang melihat Key telah duduk di posisi supir cidomo. “Apakah kau bisa membawanya?”
“Kalian tenang saja,” kata Key pede. “Pak supirnya akan duduk di sebelahku. Naiklah,”

Akhirnya, L.Joe, Taemin, Jonghyun, Onew dan Minho naik di belakang. Supir Key segera menyuruh kuda berjalan.
“Key…kau membawa 6 orang ya,” kata Onew khawatir.
“Hyung..kau cerewet sekali..” kata Key kesal. “Aku tidak akan mencelakai kalian,”
“Aku percaya padamu,”

Key memang patut diacungi jempol. Dia berhasil membawa cidomo menuju batu bolong. Mereka semua segera turun dan mengambil selendang yang diberikan oleh penjaga pintu. SHINee, Niel, dan L.Joe menyempatkan diri berpose di pintu gerbang sebelum memulai petualangan mereka di dalam.

Thank you,” kata Key lalu segera masuk untuk menikmati pemandangan yang ada.
“Wahhhh….deburan ombaknya kencang sekali,” kata Jonghyun lalu melompat ke batu yang tersusun dengan indahnya.
“Hyung..hati-hati..nanti bajumu basah,” kata Taemin mengingatkan.

“Waaaahhhhh…” teriak Key mengagumi batu bolong. “Ini yang namanya batu bolong,”
“Mana?” tanya Niel dan L.Joe antusias.
“Ini,” kata Key lalu bersiap masuk ke sana.
“Key, kata petugasnya, batu bolong itu langsung terhubung dengan laut,” kata Onew mengingatkan. “Kalau kau mau berfoto, lebih baik di batu saja. Kau jangan sampai keluar dari batu bolong, nanti kau tidak bisa kembali,”
“Nee~~ Hyung,” kata Key mengangguk.

Ketujuh cowok tampan itupun tampak berpose sebagai kenangan bahwa mereka pernah datang ke batu bolong.

“Wahhh…indah sekali..” kata Niel lalu duduk di batu. “Airnya jernih sekali,”
“Lombok ini memang sangat indah ya,” gumam L.Joe yang duduk di sebelahnya.
**

“Yaa~~amooorrr…maafkan aku.. Kami semua tidak bisa menikmati makan malam dengan kalian.. Amooorr..mengertilah.. Yaa~~ aku tidak berkencan dengan bule kok.. Aku ada urusan,” kataku menghela nafas. “Aku mengerti, amor..”

Aku melihat ke arah Silvana yang tampaknya terlibat ribut dengan Niel di telepon. Begitu juga dengan Hae Mi dan Nunmi.

“Yaa~~ apakah mereka akan surprise dengan kejutan kita ini?” tanyaku lesu.
“Kita harus percaya, Tara. Mereka akan kaget dan memuji kita,” semangat Hae Mi lalu mengambil note lagu dan menyanyikannya.

Diantara kami berempat, suara Hae Mi yang paling bagus. Aku sangat menyukai suaranya. Kenapa dia tidak memanfaatkan anugerah yang diberi Tuhan padanya.

“Baiklah, kita mulai latihan lagi ya,” kataku lalu mengambil gitar dan mulai memetiknya.
“Aku sangat mengagumi petikan gitarmu, Tara,” puji Silvana tulus. “Iri sekali aku padamu,”

Hahaha…
**

“Ahh…semakin menyebalkan saja si Silvana itu,” kata Niel marah. “Selalu saja dia tidak bisa makan malam denganku. Apa yang sedang dilakukan olehnya?”
“Aku juga,” kata Onew duduk di depan Niel sambil manyun. “Kenapa Tara juga tidak bisa makan malam denganku?”
“Grr…Hae Mi…” kesal L.Joe lalu duduk dengan wajah masam. “Apa dia masih marah denganku karena kita tebar pesona dengan bule cewek beberapa hari lalu, Niel?”
“Molla…” jawab Niel. “Minho, kau bagaimana?”

Minho menggeleng lalu mengedikkan bahu. “Nunmi juga tidak bisa makan malam denganku,”
“Hyung…bagaimana kalau kita makan malam sendiri saja? Daripada bete ditinggal istri kalian,” kata Taemin.
“Setuju…”
“Aku dikasi tau ada restoran Korea di dekat sini, bagaimana kalau kita mencoba makan malam di sana?”
“Boleh juga,”
**

Terdengar ketokan di pintu kamar. Aku meletakkan baju yang sedang dipegang lalu segera membukanya. Wajah Onew muncul di hadapanku. Aku tersenyum melihat dirinya dan segera memeluknya.

“Kangen sekali padamu,” kataku lalu memintanya masuk.
“Demi Tuhan, chara,” kata Onew melihat kamarku. “Apa yang sedang kau lakukan?”
“Memilih baju untuk dinner nanti malam,” kataku tersenyum lalu duduk di sebelahnya. “Sepertinya makin tampan suamiku ini,”

“Haha…” katanya lalu menciumku. “Apa kau sudah membaca artikel tentang WGM Spesial Lombok? Banyak yang iri akan liburan kita ini, chara,”
“Jjinjja?” tanyaku antusias.
“Nee~~ Yang paling heboh adalah artikel mengenai Key membawa cidomo ke batu bolong beberapa hari lalu,”
Aku tertawa mendengarnya. Aku membaca artikel yang dimaksud. Kami semua tidak menyangka Key berhasil membawa cidomo itu dengan selamat.
“Aku yakin, Key akan menjadi sangat terkenal kalau dia transform menjadi supir cidomo,” kataku tersenyum. “Anak kita itu ada-ada saja,”
“Chara…besok kita akan pulang ke Seoul…” katanya menatapku khawatir. “Apakah kau sudah siap?”

Aku menatap ke arahnya dalam. “Aku siap. Kau jangan khawatir. Aku siap, amor. Kau cukup mengenggam erat tanganku untuk memberikan kekuatan,”
“Aku akan melakukan apa saja untukmu, chara,” katanya lalu berdiri dan mengambil sebuah baju yang menurutku sangat indah itu. “Aku akan memakai baju yang warnanya senada dengan ini, chara. Kau terlihat seksi dan cantik dengan gaun ini,”
“Baiklah..aku akan memakai gaun ini,”
“Je t’aime,”
**

Onew POV…
Aku tidak percaya mendengar perkataan Tara. Dia sudah duluan menuju restoran yang disewa crew WGM.
“Yaa~~” teriakku kesal. “Apa-apaan kau ini, chara? Aku tidak akan memarahimu karena aku tidak ingin mengacaukan suasana malam ini,”

“Hyung, wae?”
“Eommamu membuat kesal diriku,” omelku lalu menatap Minho. Cowok tampan itu sepertinya mengalami hal yang sama sepertiku.
“Hyuunggg~~Nunmi udah duluan,” kesal Minho lalu duduk di sebelahku.
“Aku rasa ada sesuatu dengan mereka,” kataku menatapnya. “Kita akan menanyakan pada Niel dan L.Joe, kalau mereka mengalami hal yang sama seperti kita, berarti benar, para istri kita itu merahasiakan sesuatu,”
“Hyung, itu Niel dan L.Joe,”
“Ayo kita tanya mereka,”
End of Onew
**

Aku tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihat para rombongan pangeran tampan memasuki restoran yang sudah disewa crew WGM. Aku berjalan mendekati Onew dan menyunggingkan senyum.
“Amorr…Happy Valentine Day,” kataku lalu menyodorkan sekotak coklat gede padanya.
“Gomawo, chara,” katanya lalu mencium pipiku dan tersenyum.

Aku melihat Nunmi melakukan hal yang sama pada Minho. Silvana dan Hae Mi juga melakukan seperti yang aku lakukan. Senyum manis menyertai acara kami malam ini.

“Chara…apakah kau merahasiakan sesuatu?” selidik Onew lalu menatapku tajam.
“Ani..” jawabku disertai senyum misterius.
“Chara…apakah kau akan membuat kejutan seperti beberapa bulan lalu? Kau akan menarikan Replay,”
“Amor, bagaimana mungkin aku akan menarikan Replay dengan gaun seperti ini,” godaku lalu mengerling genit. “Ra-ha-si-a,”
“Charaaa…”
**

Onew POV…
Mataku terbelalak ketika menyaksikan “istri” tercintaku berdiri lalu berjalan menuju stage yang sudah disiapkan. Mulutku ternganga ketika Tara mengambil gitar lalu duduk di sebelah Silvana.

“Hyung, apakah kau mengetahui kalau Noona bisa bermain gitar?” tanya Minho berbisik padaku.
“Apakah kau mengetahui kalau Nunmi bisa memainkan piano?” balasku.
“Tidak,”
“Aku juga tidak tau,”

“Onew…apakah kau mendapat bocoran mengenai kejutan ini?” tanya Niel penasaran.
“Sama sekali tidak, Niel. Apa yang akan mereka lakukan di sana?” jawabku.
“Molla,” jawab Niel lalu senyum-senyum gejeh.
“Sebaiknya kita nikmati saja apa yang akan dilakukan oleh Beautiful Disaster,” kata Key bijak. “Disaster apa lagi yang akan dibuat oleh mereka,”

Aku tersenyum gejeh ketika mendengar suara Tara mengucapkan “saranghae” kepadaku.

“Kami akan menampilkan sweet-disaster untuk para pangeran tampan di sana,” kata Silvana dengan senyum. “Tara, Nunmi…let’s play it,”

Aku sangat terpesona melihat Tara memetik gitar itu dengan cute. Dentingan gitar cute itu menambah suasana menjadi romantis.


to be honest from the
first time we met
saying i like you
was not easy for me to do

Rasa cintaku makin besar ketika mendengar suara Tara menyanyikan bait pertama. Dia sepertinya mengungkapkan perasaannya.

if i don’t approach you first
i was afraid of losing you
i wrote letters and prepare
small gifts for you

Suara Silvana dan Hae Mi yang renyah membuat wajah kedua pangeran mereka memerah dan senyum mengembang di bibir Niel dan L.Joe. Aku tersenyum melihat Niel mengambil mawar lalu memberikan pada Silvana.

if my love for you
goes any deeper
it would only hurt me more
its true my mind is full of fear

Hahaha…lagi-lagi Tara menyanyikan part yang sangat mengena. Benar, aku merasakan seperti itu. Aku merasa ketakutan ketika rasa cintaku makin besar padanya. Pandanganku beralih pada Nunmi yang tampak santai memainkan piano. Benar-benar menakjubkan. Ini benar-benar “disaster” untukku.

i pray with all my heart
the person that i’m hoping for
i believe that person is you
i’m in love
i fall in love

Kami semua bertepuk tangan ketika mereka selesai membawakan lagu I’m in Love. Aku yakin, para pangeran tampan sedang tertimpa sebuah sweet-disaster di hati mereka.
End of Onew POV…
**

“Ottae?” tanyaku sambil meletakkan kepalaku di pundaknya Onew.
“Aku berhasil tertimpa “sweey-disaster”-mu, chara,” kata Onew mengenggam tanganku. “Benar-benar daebak. Kau ini…lagi-lagi kau merahasiakan kepiawaianmu memetik gitar dariku,”
“Ahh…” kataku mengangkat kepalaku lalu menatapnya. Tanganku memegang pipinya dengan gemas. “Aku kan berniat memberikan kejutan padamu, amor,”
“Aku punya ide,” katanya tiba-tiba. “Bagaimana kalau kita kolaborasi? Pihak MBC meminta kita menampilkan sesuatu di acara mereka, Music Core,”
“Huhh???”
“Nee~~ Ottae?”
“Aku akan pikirkan lagi,”
**

Akhirnya kami semua kembali ke Seoul setelah berlibur lebih kurang 7 hari di Lombok. Pesawat Garuda yang membawa kami dari Indonesia akhirnya mendarat dengan indah di landasan udara Incheon. Aku dan Onew langsung menuju pintu keluar setelah selesai mengurus barang-barang bawaan. Benar saja…para wartawan sudah mengerumuni pintu keluar. Pihak keamanan bandara tampak kewalahan mengamankan situasi. Ternyata, para shawol dan charamore shipper juga berkumpul di sana.

Onew membuktikan janjinya. Dia terus mengenggam tanganku. Genggaman tangan Onew memberikan kekuatan pada diriku. Aku dan Onew hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka.

I’m in love with her,” jawab Onew disertai senyum khasnya. “She’s my everything,”
“Maaf ya…” kata manajer SHINee lalu menyeret kami menjauh dari sana. “Kami akan melakukan konferensi-pers untuk menjelaskan semuanya. Jadi, saya minta, beri jalan untuk mereka,”
**

Aku menghela nafas lega ketika konferensi-pers berjalan dengan lancar, tanpa hambatan. Aku benar-benar merasa lega ketika para shawol merestui Oppa mereka berpacaran denganku. Aku tersenyum ketika sosok Yesung dan Eunhyuk Oppa berdiri di depanku.

“Yaa~~yaa~~ apakah kau penyusup?” tanya Eunhyuk Oppa jenaka. “Kenapa Cube bisa berada di SM, ohng?”
“Oppa~~” kataku lalu tersenyum padanya. “Sebentar lagi aku akan memasuki SM,”
“Kami tidak akan terima,” kata Yesung Oppa usil. “Sebelum kau menyanyikan lagu I’m in Love untukku,”
“Mwo??” kagetku. “Oppa..lagu itu hanya buat Onew,”

“Tara…” suara Onew mengagetkanku. “Yaa~~ Kenapa 2 makhluk ajaib ini berada di sini?”
“Onew…saat ini sedang terjadi sesuatu yang sangat dahsyat di sini,” kata Eunhyuk Oppa serius. “Tara,,,akan menyanyikan lagu I’m in Love untuk Yesung Hyung,”
“Yaa~~” kagetku lalu memukul lengan pria tampan yang merupakan dance-machine di Super Junior itu. “Oppa, kau jangan “menganggu” kami ya,”

“Tara-ku yang cantik..aku akan disulap jadi ayam kalau berani “menganggu” kalian,” kata Eunhyuk Oppa lagi. “Ouw ya, semoga sukses ya kolaborasi kalian di Music Core,”
“Kamsahamnida, Oppa,” kataku lalu mengangguk dan tersenyum.
**

WGM Charamore merupakan WGM yang memiliki episode paling sedikit yaitu 40 episode ditambah dengan WGM Spesial Lombok 5 episode, jadi total semua 45 episode. Betapa menyenangkan bisa bekerja sama dengan pihak MBC dan tentu saja semua artis yang terlibat dalam pembuatan WGM Charamore.

Episode kali ini adalah mempersiapkan wedding-party. Key, menunjuk dirinya sendiri sebagai desainer karena selera fashionnya sangat baik. Oleh karena itulah, aku sudah berada di dorm SHINee.

“Noona…kali ini aku yang akan menjadi desainer kalian,” celetuk Key pede lalu duduk di hadapanku dan mengambil script yang sudah disediakan.
Aku tersenyum melihat dirinya yang terhanyut pada script itu.
**

“HYUUUUNGGG~~~ Apakah kau melihat kamera polaroid-ku?” kata Key histeris lalu mengangkat bantal-bantal sofa. “Yaa~~ Hyung, kau berdiri dulu,”

Aku tersenyum melihat Key stress mencari kamera polaroidnya. Hilir mudik dia mencari barang kesayangannya. Kamar-ruang tamu-kamar-ruang tamu. Namun, barang yang dicarinya belum ketemu. Cowok tampan itu akhirnya terduduk sendu di sofa dengan keringat mengucur.

“Yaa~~apakah kalian melihat kameraku?” kembali suara Key terdengar dan berdiri lalu beranjak ke kamar.
“Yaa~~Key..” kataku memanggilnya. “Terakhir kau gunakan kamera itu di mana?”

Key berhenti melangkah dan berbalik badan melihatku. Aku yakin 100 persen, banci kamera itu tengah berpikir keras.
“Ahh…kamar mandi, Noona,”

“Huhhh?? Kamar mandi?? Demi Tuhan, Key,”
“Hehehe…” kata Key cengengesan lalu segera menuju kamar mandi.
**

Aku membaca artikel mengenai upacara pernikahan yang dilaksanakan oleh Woojung couple di Lombok. Aku tersenyum bangga akhirnya Lombok sudah dilirik oleh Korea. Berarti tidak sia-sia usahaku memperkenalkan Lombok pada Korea.

“Yaa~~Noona…” suara Key menganggu kesenanganku membaca artikel. Akupun menjauhkan mataku dari netbook dan memandang ke arahnya. “Kenapa kalian tidak melangsungkan pernikahan di Lombok? Seperti Woojung couple?”

“Kami??” tanyaku balik lalu tersenyum. “Aku dan Onew sepakat untuk melangsungkan pernikahan di sini saja. Aku ingin sekali mengunjungi Jeju,”
“Jeju-do?” tanyanya antusias. “Jeju is romantic island, Noona,”
Really?”
“Nee~~” kata Key lalu mengangkat ponsel mewahnya. “Nee?? Ahhh..Jaejin..Aku lagi di dormnya Tara Noona, wae?? Ohh… baiklah..aku akan ke sana sekarang.. Nee~~”

Aku melihat Key memasukkan barang-barang yang berserakan ke dalam tasnya.
“Noona…aku terpaksa pergi sekarang, Jaejin meneleponku,”
“Ahh..” kataku sedikit kecewa karena orang yang berjanji untuk bergosip kini harus meninggalkanku sendirian. “Baiklah, Key, tidak apa-apa,”
“Bye, Noona..”
“Bye~~”
**

“MWOOO???” kagetku mendengar pernyataan Onew. “Foto pernikahan kita akan dipasang di toko orang-tuamu? Amor…”
“Charaa..tadi Eommaku menelepon, dia mengingatkanku agar membawa foto pernikahan kita dan dipasang di sana,” kata Onew tersenyum. “Jangan khawatir, chara,”
“Amorr…”
“Dan…” katanya berdiri lalu berjalan menuju kulkas. “Kita akan berbulan madu di kampung halamanku,”

Aku ternganga mendengar perkataannya. Kami akan bulan madu di kampung halamannya? di Gwangmyeong-si?

“Chara..” katanya menyadarkanku dari lamunan dan menyerahkan segelas susu padaku. “Orang tuaku juga akan mengadakan sedikit acara untuk pernikahan kita,”
“MWO??”
“Entahlah…” katanya santai lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dan menatapku. “Apa karena aku anak satu-satunya ya?”
“Amorr..pernikahan kita ini kan hanya fake-wedding, terusss…”
“Chara, ini semua memang fake tapi cintaku padamu itu real,”
“Arasso,” kataku akhirnya.
**

Aku hanya bisa tersenyum memandangi tubuhku yang dibalut hanbok untuk pernikahan. Aku sama sekali tidak mengenali siapa yang sedang tersenyum dengan manis ini. Aku benar-benar terlihat sempurna.

“Tara…” suara Haemi mengejutkanku. “Kyaaa~~ kau sangat cantik sekali. Sekarang kau benar-benar terlihat seperti wanita Korea sepenuhnya,”
“Kamsahamnida,” kataku tersipu lalu mengangguk ketika beberapa wartawan ingin mengabadikan diriku.
“Ppali wa,” kata Eun Min tiba-tiba lalu menarik tanganku. “Aku sudah tidak sabar melihat proses upacara tradisional kalian,”



“Kalian seperti putri dan raja,” kata PD-nim memuji hasil foto kami berdua.
“Kamsahamnida,” kataku malu-malu lalu melihat hasil foto tersebut. Aku benar-benar terpana. Aku dan Onew seperti pemain di Princess Hours.
“Noona, bagaimana? Keren kan?” suara Key terdengar bangga.
“Aku benar-benar menyukainya, Key,” kataku lalu memeluk tulus pada Key. “Kamsahamnida,”
“Ahhh..” kata Key garuk-garuk kepalanya. “Ini masih awal Noona. Aku masih punya 2 konsep lagi untuk kalian,”
“Jjinjja???”
“Kado pernikahan dari aku dan SHINee,”
**

Onew POV…
Aku terlonjak kaget mendengar teriakan Tara. Aku melihat ke arahnya yang sedang melotot ke arah teaser Taemin yang topless.
“Amoooorrr.. apa-apaan ini? Yadong?” tanyanya histeris sambil nunjuk-nunjuk laptopku.
“Yadong?” tanyaku bingung lalu melihat ke arahnya. “Apanya yang yadong?”
“Yaa~~ apanya yang yadong,” katanya meniru ucapanku. Aku tertawa melihat dirinya yang stress ini.
“Charaa…” kataku sambil tersenyum. “Ini bukan yadong, sayang. Ini Taemin,”
“Taemin?” kagetnya. “Taemin sapa? Amoorrr…ini sama sekali tidak pantas diliat oleh anak-anak yang belum berumur 17 tahun,”

Aku tertawa lebar mendengar penuturan polosnya.

“Ini Taemin..Lee Taemin.. magnae…”
“MWOOOO??? Taemin?? T.A.E.M.I.N?” kagetnya lalu terduduk lemas. “Kenapa dia berfoto ala yadong seperti ini?”
“Ini teaser comeback SHINee, sayang,” kataku lalu duduk di sebelahnya dan tersenyum mendapati tatapan menyelidik darinya.
“Apakah teaser-mu seperti Taemin?”
Secret,” kataku lalu menjauh darinya.
“Yaa~~ amoorr…” teriaknya kencang lalu mengikutiku.
End of Onew POV…
**

Jantungku berdebar kencang sepanjang perjalanan menuju kampung halaman Onew. Kali ini jantungku berdebar dengan sangat kencang, lebih kencang pada saat awal bertemu Onew.
“Kita akan sampai sekitaran 30 menit lagi, chara,” kata Onew menatapku.
“Bisakah kau lebih memperlambat mobilmu, amor?”
“Mwo?” kagetnya. “Chara, kita bisa ditabrak kalau membawa mobil lebih lambat dari ini,”
“Ahhhh..” kataku meringis lalu berusaha tersenyum.



“Inilah rumahku,” kata Onew lalu mengemudikan mobil memasuki pelataran rumahnya. Aku berusaha menenangkan jantungku dengan senyum. “Ayo kita turun,”
“Nee~~” kataku lalu turun dari mobil.
Seketika itu juga aku membeku karena kedua orangtua Onew telah berdiri di depan pintu untuk menyambut kami. Senyum hangat mereka memberikan sedikit ketenangan padaku.

“Amma..Appa..” kata Onew lalu memeluk mereka berdua dan mencium pipi sang Amma. “Kenalkan, dia ini menantu kalian, Jung Tara,”
“Annyeonghaseyo..Eom..Eomm..eonim..” kataku gugup lalu menyalami wanita paruh baya itu namun masih menyisakan kecantikannya.
Wanita itu tertawa melihat kegugupanku. “Kau bisa memanggilku dengan “Eomma”, Tara,”
“Ahh..Eomma…” kataku meringis malu lalu beralih ke pria tampan di sebelahnya.
“Kau harus memanggilku dengan sebutan Appa, Tara,”
“Ahh..annyeonghaseyo, Appa,”
“Annyeonghaseyo..” kata mereka sumringah.
“Onew, apakah kau membawa foto pernikahan kalian?” tanya Eomma segera lalu mengerling padaku.
“Bawa, Eomma,” kata Onew tersenyum. “Kami membawa 2 buah,”
“Bagus,”
“Tara, kau masuk duluan saja,” kata Onew tiba-tiba. “Aku mau mengambil foto pernikahan kita dulu,”
“Nee~~”
“Ayo anakku…kita masuk,”
“Nee~~”
**

“Wahhh…Onew Eomma…mereka serasi sekali,” komentar pembeli ketika membeli daging di toko Onew. “Kau pasti senang sekali mendapatkan menantu seperti Tara,”
Aku hanya tersipu mendengarnya. Saat ini, aku berada di toko daging Onew untuk membantu Eommanya.
“Aku senang sekali…karena aku memiliki teman untuk membicarakan hal-hal yang berbau perempuan,”

“Oleh karena itu, Onew Eomma sepertinya mulai melupakanku,” kata Appa lalu tertawa.
“Yaa~~Yobo..inilah perasaan seorang Eomma ketika mendapatkan seorang menantu perempuan. Bahagia sekali,”

“Onew..kau pasti bahagia ya bisa mendapatkan gadis seperti Tara,”
“Eomonim, aku bahagia kalau Eommaku bahagia. Berarti, aku sukses dong karena berhasil menemukan “teman” untuk Eommaku,”
“Masih belum, Onew,” kata Appa tiba-tiba. “Dia belum menunjukkan kepiawaiannya menarikan Replay dan memainkan gitar di hadapan kami,”
“Huh???”

Hahahaha…
**

[FanFict] Get Married, Am I? (Part 1)

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator

 

::::::::::
Title: Get Married, Am I?
Cast: Onew, Jung Tara, Park Hae Mi, Silvana Park
Cameo: rest of SHINee, Yesung, Nunmi, Doojoon, Jinwoon, Seulong, Minhyuk, TeenTop, dan Minwoo
Disclaimer: SHINee dan Yesung belong to SM Ent., Jinwoon dan Seulong belong to JYP Ent., Doojoon belong to Cube Ent., Minhyuk belong to FNC Music., Teentop belong to TOP Media., Minwoo belong to Starship., Jung Tara, Park Hae Mi, Silvana Park, Nunmi belong to cloudyeppeo Ent.

 

::::::::::

“Tara…apa yang sedang kau lakukan?” tanya asistenku, Nunmi, lalu melihat ke layar komputer. “Masih saja kau melihat-lihat foto mereka?”

Aku mengangguk lalu tersenyum lebar. “Ini hasil karya terbaikku tau. Khuntoria, siapa yang tidak mengenal mereka.. Betapa hebatnya aku bisa membantu mereka sewaktu pemotretan di Bali,”
“Sebenarnya, Cloudyeppeo Entertainment ini punya link dengan agensi di Korea kah?”

Aku memandang cewek cantik berkacamata yang memasang wajah penuh keingintahuan itu dengan senyum. Akupun mengeluarkan map biru dari laci dan memberikan padanya.
“Bacalah ini,” kataku lalu mataku beralih ke layar komputer. Kali ini, layar komputerku menampilkan fotoku bersama Nickhun dan Victoria. Lagi-lagi lengkungan ke atas di bibirku tercipta.

“Tara…berarti company kita ini dibawah naungan Cube Entertainment?” tanya Nunmi lagi.
“Iya, penanggung jawab utama kita atau bisa disebut Chief President kita ini Papa Hong…”
“Papa Hong? Siapa?”
“Wahhh…aku tidak tau siapa nama lengkapnya, yang jelas, aku memanggilnya Papa Hong,”

Aku tersenyum melihat gadis itu manggut-manggut dan mengembalikan map biru itu padaku.

“Tara, bukankah kau harus berangkat ke Gili Trawangan sekarang? Silvana Park dan Andromeda sudah menunggu di sana,”
“Mwo?” kagetku lalu melihat ke jam tanganku. “Mati.. Aku titip kantor padamu ya. Aku minta tolong telponin yacht kita agar ready ketika aku sampai di sana,”
“Beres…”
**

Pemotretan pun berjalan lancar. Aku sangat senang sekali bekerja sama dengan Silvana Park. Ini kali kedua aku bekerja sama dengannya. Silvana Park, artis baru namun sikap profesional akan kerja sudah sangat bagus.

“Tara, senang sekali aku bisa bekerja sama denganmu lagi,” ujarnya disela-sela waktu istirahat.
“Ahh…harusnya aku yang bilang seperti itu, Silvana,” kataku malu-malu lalu tersenyum. “Apakah kau tidak ingin berenang?”
“Aku tidak ingin buat kehebohan di sini. Para wisatawan lokal maupun mancanegara sudah banyak berkerumun di sekitar kita,”

Aku melihat sekeliling. Benar katanya. Sudah banyak orang berkerumun sambil memegang kamera untuk mengabadikan seorang Silvana Park.

“Kau benar,” kataku lalu mengangguk.
“Tara,” aku menoleh ke samping. Wajah sang manager, Andromeda, tersenyum melihatku lalu memberikan sebuah amplop. “Itu titipan dari Hong,”
“Papa Hong?” tanyaku tidak percaya.
“Nee~~ Papa Hong-mu menitipkannya padaku agar kau belajar bahasa Korea,”
“Haaa??? Aku?? belajar bahasa Korea?”
“Aku tidak bisa menjelaskan lebih detail, sebaiknya kau menelepon Papa Hong-mu, Tara,”
“Aku mengerti. Terima kasih,”
**

Aku duduk di meja kerjaku dengan lemas. Pembicaraanku dengan Papa Hong melalui telpon sangat mengejutkanku. Aku diminta untuk ikut sebagai talent di acara salah satu Channel TV Korea, MBC. Syuting acara itu akan dimulai 6 bulan lagi, oleh karena itu aku diharuskan belajar bahasa Korea.

“Tara, aku tidak menemukan tempat les bahasa Korea di Senggigi,” kata Nunmi pelan.
“Arghhh…Kenapa harus aku? Kenapa bukan kau, Nunmi, yang harus ikut acara itu?” kesalku.
“Apakah kau lupa? Aku masih baru di sini, Tara, jadi mana mungkin bisa ikut,”
“Anyway, kau bisa berbahasa Korea kan? Kau kan pernah bekerja selama setahun di sana, kan?”
“Haa?? Aku?”
“Aduhh…Nunmi…kau dipilih ama Papa Hong untuk masuk ke sini karena bisa berbahasa Korea disamping kau cantik dan memiliki ide-ide yang brilian untuk pemotretan,” kataku dengan puppy eyes. “Jadi, kau ajarkan aku,”
“Taraa…”
“Aku janji, aku akan membawa Choi Minho ke sini agar kau bisa melakukan apa saja dengannya. Bagaimana?”
“Mwoya?? Choi Minho? Hahahaha…” kata Nunmi senang. “Baiklah, aku akan memegang janjimu,”
“Bagus. Terima kasih,”
**

Kini, hari-hariku di Cloudyeppeo Entertainment makin berwarna. Setiap hari, aku harus menyediakan lebih kurang 4 jam untuk belajar bahasanya Papa Hong. Demi Tuhan…Memang aku ada darah Korea yang mengalir di tubuhku, namun, Papaku tidak pernah menggunakan bahasa Korea ketika berkomunikasi dengan kami. Beliau lebih senang menggunakan bahasa Inggris.

Kepalaku sudah butek karena tulisan-tulisan unik bin ajaib tengah mengantri masuk ke otakku. Aku hanya melihat Nunmi yang masih semangat mengajariku.
“Tara…ini dibaca Saranghaeyo…” katanya menunjuk sebuah tulisan di kertas itu. Aku mengikutinya. “Sa..rang..hae..yo,”
“Ohh…ini dibaca Sa..terus ini dibaca Rang…” kataku lalu melihat padanya. “Jadi, bulat kecil di bawah itu dibaca “ng” begitu?”
“Aku tau kalau kau bisa cepat belajar,” senangnya lalu tersenyum. “Aku punya hadiah untukmu,”

Aku ternganga melihat 2 buku lumayan agak tebal sudah teronggok di atas meja. Aku mengambil satu buku yang berada di atas. Buku bersampul biru itu bertuliskan “Tata Bahasa Korea”. Aku tersenyum miris ketika tanganku membuka lembar demi lembar dari buku itu.

“Baiklah, Nunmi,” kataku akhirnya. “Waktu belajar bahasa Korea hari ini kita akhiri saja,”
“Kau kan baru belajar 2 jam?”
“Aku mau ke Pantai Senggigi. Apakah kau lupa, kau sudah menandatangani kontrak untuk pemotretan Super Junior KRY di Coconut Cafe? Jadi, kau harus mencari spot di sana untuk dilaporkan ke SM Entertainment,”
“Astagaaa..Untung kau mengingatkanku,” kata Nunmi panik lalu segera mengambil tas kerjanya. “Paaakkk…antarkan aku ke Coconut Cafe,”

Aku tersenyum melihat kepanikannya. Memiliki partner kerja seperti dirinya merupakan kesenangan tersendiri. Dia serba bisa. She is special, begitulah kata-kata yang selalu aku ucapkan ketika ditanya apa pendapatku memiliki partner kerja seperti Nunmi.
**

Aku mengalami kemajuan pesat dalam belajar bahasa Korea meskipun kadang masih ada tata kalimat dan pengucapan yang salah. Kini, aku tidak perlu lagi menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan Silvana Park.

“Wahh…kau sudah bisa berbahasa Korea sekarang,”
“Nee~~ aku belajar otodidak dengan partner kerjaku,”
“Ahh…Nunmi maksudmu? Gadis itu istimewa sepertinya,”
“Sangat,” kataku tersenyum. “Silvana, kapan kau balik ke Korea?”
“Kalau tidak salah 2 hari lagi. Waeyo?”
“Anii…aku mau menitipkan sesuatu pada Papa Hong. Gwenchana?”
“Gwenchana,”
“Kamsahamnida,”
“Cheomaneyo,”
**

6 bulan kemudian…
“TARAAAAA~~~” teriak Nunmi kencang mengagetkanku.
“Wae geurae?” tanyaku melotot padanya.
“Email dari Papa Hong. Beliau memintamu menelponnya sekarang juga,”
“MWO??
“Jigeum..”

Aku mengangguk lalu segera menelpon Papa Hong. Aku segera berbicara ketika sebuah suara di seberang mengatakan “Yoboseyo”.
“Nee~~ Yoboseyo… Papa Hong… Ohhh…Kamsahamnida…” kataku lalu meletakkan telepon dan memandang Nunmi. “Papa Hong lagi ada rapat direksi untuk membahas acaranya MBC,”

Aku kaget karena bingung melihat eskpresi Nunmi yang kaget di depan laptop mungil miliknya. Aku ikutan melihat ke sana untuk mengetahui apa yang sedang dibacanya.

“Yaa~~yaa~~ bisakah kau menjelaskan ini artinya apa?” tanyaku.
Nunmi menjelaskan arti dari artikel yang sedang terpampang di hadapan kami. Aku mendengar dengan seksama.

“MWOO?? We Got Married??? Aku??”
“Nee~~ Namamu disebut di sini, yang akan menjadi talent acara WGM, namun, pasangannya masih menjadi rahasia. Chukae,”
“Tidak Nunmi..Tidak..ini pasti bohong kan?”

“Tara..ada telepon buatmu, Papa Hong,” panggil sekretaris.
“Terima kasih,” kataku lalu meninggalkan Nunmi untuk menjawab telepon. “Nee~~ Papa Hong,”
**

Seoul, South Korea…
Beberapa wartawan sudah berkerumun memenuhi pintu masuk gedung MBC. Fans WGM juga ikutan berkerumun. Mereka semua ingin mencari tau kelanjutan WGM yang akan melibatkan agensi Cube Entertainment. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi talent pada acara WGM Spesial kali ini.

“Hong ssi…” wartawan dan fans segera berdesakan ketika Hong-ssi, Executive Producer dari Cube keluar dari gedung MBC. “Siapa yang akan menjadi talentnya? Bisakah kau membocorkannya?”

Pria tampan itu tersenyum lalu diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari mereka.
“Well…apakah kalian ingat akan Cloudyeppeo Entertainment yang ada di Indonesia?”
“Nee~~anak perusahaan dari Cube untuk membantu artis-artis Korea yang akan melakukan pemotretan di Indonesia kan?”
“Benar…Talentnya merupakan best-staff dari Cloudyeppeo.. Jung Tara atau dikenal dengan Tara Vanika,”
“Tara Vanika?”
“Kalian tenang saja. Hari ini dia berangkat dari Indonesia, setelah dia sampai, kami akan segera mengadakan konferensi pers,”
“Kami mengerti, terima kasih akan waktunya,”
**

Akhirnya aku sampai juga di Seoul setelah menempuh perjalanan lebih kurang 10 jam. Aku bingung ketika sampai di pintu keluar banyak sekali fans yang berkerumun sambil membawa spanduk SHINee dan meneriakkan nama member SHINee. Aku segera melihat ke belakang ketika teriakan pada fans semakin menggila. Benar saja, Jonghyun, Taemin, dan Minho keluar dari sana. Aku segera menepi agar mereka bisa lewat dengan aman. Namun, mereka berhenti tepat di depanku sambil tersenyum.

“Tara..kok kau bisa berada di Seoul?” sapa Jonghyun mengagetkanku. Para fans semua segera mengabadikan moment itu dengan kameranya.

Aku yakin 100%, nama dan wajahku bakal menjadi headline di situs-situs online maupun fanbase-fanbase SHINee. Aku tersenyum lalu mengulurkan tangan.
“Kita ketemu lagi Jonghyun,”
“Noona..Kau Tara Noona kan?” jawab Taemin lalu ikutan menyalamiku.
“Nee~~ Taemin, senang bertemu denganmu lagi,”
“Aku juga, Noona…”
“Tara Noona..ohh…aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi,”
“Nee~~ Minho. Senang bertemu denganmu lagi,”

Aku mengangguk dan melambaikan tangan ketika mereka semua berpamitan dan berlalu dari hadapanku. Aku harus segera meninggalkan tempat itu sebelum para shawol “menginterogasi”. Aku menganggukan kepala dan menyisakan sebuah senyum ketika melihat sosok Papa Hong di sana. Aku melambaikan tangan padanya lalu berjalan menuju dirinya.

Kini, gantian fans WGM yang mengerumuni Papa Hong. Mereka semua segera melihat ke arahku ketika Papa Hong melambaikan tangannya.

“Annyeonghaseyo Papa Hong,” sapaku lalu menganggukkan kepala.
“Annyeonghaseyo Tara,” kata Papa Hong lalu menarik tanganku agar bisa berdiri di sampingnya. “Dialah Jung Tara, atau Tara Vanika,”

Lampu blitz dari kamera segera menerangi diriku setelah Papa Hong mengenalkanku pada mereka. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum ketika mereka semua melihat ke arahku.
“Annyeonghaseyo..Jung Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Nee~~ Bangaseupnida, Tara eonnie.. Fighting..”
“Nee~~ Kamsahamnida,”
**

Aku membaca script yang diberikan oleh pihak MBC dengan seksama. Aku sangat sulit mencerna tulisan-tulisan indah ini. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Tanganku terulur pada ponsel ketika benda itu menyala.
“Nomor siapa ini?” tanyaku bingung namun aku segera menjawab telepon itu. “Yoboseyo…Nee~~ Tara imnida.. Mwo?? Hmmm.. Nuguya??.. Yaa~~ Silvanaaaa… Nee.. aku sudah di Seoul…Help me, please…”

“Aku akan ke sana, Tara, kau tinggal dimana?”
“Aku tinggal di….”




TING…TONG…

Aku tersenyum senang ketika mendengar bel berdentang. Aku segera terbang menuju pintu untuk membukakan pintu. Aku tersenyum lebar melihat sosok Silvana sudah berdiri di sana dengan sekeranjang buah. Aku menganggukkan kepala ketika menyadari sosok yang berdiri di sebelahnya.

“Ayo masuk..” kataku mempersilakan mereka masuk. “Namun, maaf, apartmentku masih belum tertata rapi. Aku masih jet-lag,”
“Tidak apa-apa,” kata Silvana lalu duduk. “Tara, kenalkan, ini sahabatku, Park Hae Mi, baru-baru ini dia mendapat predikat Sun of Seoul,”
“Ahhh…aku pernah mendengarnya. Ternyata kau orangnya, Hae Mi, cantik sekali. Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Ahh…kau berlebihan, Tara,” kata Hae Mi senyum. “Senang bertemu denganmu,”

“Apa yang harus kami bantu?” tanya Silvana sambil melihat sekeliling. “Kenapa banyak sekali poster Beast di sini?”
“Ahh..itu..Papa Hong yang menempelkannya. Beliau mengatakan agar aku tidak kesepian di Seoul,”

Park Hae Mi berdiri untuk melihat foto-foto yang aku tata di dinding. Artistik menurutku.
“Tara…ini…Khuntoria?” tanyanya menunjuk sebuah foto Khuntoria lagi berpose denganku.
“Nee~~” kataku berdiri di sampingnya. “Sewaktu mereka berdua pemotretan di Bali beberapa waktu lalu, aku membantu mereka,”
“Ohh..ini…kau sama SHINee,”
“Nee~~ ini waktu pembuatan pictorial book SHINee tapi aku lupa di mana,” kataku meringis malu.

“Hae Mi, Tara itu sudah ahli di bidang pemotretan. Banyak sekali hasil karyanya yang mendapat penghargaan di Korea ini. Kemaren waktu aku pemotretan di Lombok, dia juga yang membantu,”
“Ohh…fotomu yang mendapat penghargaan Sun and Beach Category itu ya?”
“Mwo?? Foto yang mana, Silv?” tanyaku melihat ke arahnya.
“Ahh..foto ala paparazzi itu.. Yang kau ambil diam-diam…”
“Astagaaa… apakah aku lupa menghapusnya?”
“Hahaha…iya,”

Aku kembali duduk di samping Silvana setelah puas menjelaskan foto-foto itu kepada Hae Mi. Aku baru menyadari bahwa Park Hae Mi adalah seorang model dan yang pernah digosipkan dengan L.Joe TeenTop.

“Aku akan mengusulkan pada brand langgananku untuk membuat pemotretan di Lombok. Indah sekali,”
“Mwo? Apakah kau ada pemotretan?”
“Nee~~ brand langgananku mengeluarkan swimsuit terbaru, aku terpilih jadi model yang akan mengenakannya,”
“Kebetulan aku membawa profil perusahaanku yang di Lombok. Sebentar ya,”

“Yaa~~yaa~~ Tara.. kau ini…katanya kau ingin dibantu untuk bahasa Korea kenapa jadi membahas pemotretan, ohng?” teriak Silvana.
“Setelah ini,” balasku setengah kencang dari kamar.
Aku keluar kamar sambil membawa beberapa lembar kertas dan segera memberikan pada Hae Mi.
“Kami akan membantu kalau diperlukan,”
“Tapi, aku tidak bisa berbahasa Inggris,”
“Kebetulan sekali, partner kerjaku fasih berbahasa Korea,”
“Aku akan pertimbangkan dan mendiskusikannya kepada agensiku,”
“Nee…Kamsahamnida,” kataku lalu menyodorkan script pada Silvana. “Ini yang harus kalian bantu,”
“Baiklah…”
**

Akupun sudah memulai syuting untuk MBC WGM Spesial. Aku hanya diberi script generalnya dan aku harus mengembangkannya. Aku sama sekali bingung apa yang akan dilakukan. Pagi ini, aku sudah berdiri di depan apartment untuk menunggu sebuah mobil yang akan menjemputku. Aku kembali membuka card-mission itu untuk membaca perintah yang harus aku lakukan.

“Kau akan dijemput dengan van hitam yang di depannya ada hiasan bunga,” kataku membaca card itu.
Aku segera melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat van hitam. Aku tersenyum karena dari arah kiri meluncur van hitam berhiaskan bunga. Beberapa saat kemudian, van itu berhenti di depanku. Pintu terbuka dan beberapa orang turun dari dalam lalu segera menyanyikan sebuah lagu yang sama sekali tidak pernah aku dengar. Aku hanya tersenyum malu-malu mendapat perlakuan seperti itu.

“Selamat atas pernikahanmu, Tara, silakan masuk,”
“Nee~~ kamsahamnida,” kataku naik lalu mobil van itu segera meluncur.

Aku sama sekali tidak tau apa yang harus aku lakukan di dalam mobil van ini. Aku hanya sendiri dan ditemani oleh seorang PD-nim, cameraman dan lighting-man.

“PD-nim, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku pada PD-nim yang duduk di depanku.
“Lakukan yang terbaik,” katanya lalu tersenyum.

Akupun melihat sekeliling mengagumi interior van yang mewah namun minimalis. Beberapa sudut sudah dihiasi dengan bunga. Aku segera melakukan seperti yang dilakukan Nickhun Oppa ketika di bus menuju Building 63. Tanganku terulur ke atas untuk mengambil bunga. Aku konsentrasi pada karangan bunga kecil lalu menempelkannya pada rambutku.

“Ottae? Aku terlihat cantikkan?” tanyaku yang hanya dijawab senyuman oleh ketiga pria itu. Aku hanya mendengus sambil membolak-balik card-mission.

“Ahhh… aku tau apa yang harus aku lakukan,” seruku lalu menatap kamera dengan senyum. “Aku akan mengajarkan kalian perkalian menggunakan jari. Perkalian jari ini hanya berlaku untuk perkalian 6 sampai perkalian 9. Pethatikan ya,”

Akupun mengangkat kedua telapak tanganku sejajar dengan kamera.
“Baiklah, misalnya 6 dikali 6,” kataku lalu menutup 4 jari di tangan kiriku dan menutup 4 jari di tangan kananku. “Caranya, 4 jari yang ditutup kita kalikan. Berarti 4 dikali 4 kan 16. Terus, jari yang berdiri masing-masing jumlahnya 10, karena 2 jari yang berdiri maka jumlahnya 20. Untuk mencari hasilnya, jumlah jari yang ditutup ditambah dengan jumlah jari yang berdiri berarti 16 ditambah 20, hasilnya 36. Berarti 6 dikali 6 hasilnya 36,”

Aku mendapat applaus dari PD-nim. Aku tersenyum bahagia.
“Bagaimana? Mudahkan? Perkalian jari ini memudahkan kita yang belum terlalu hafal perkalian,”

“Kalau 8 dikali 7?” tanya PD-nim.

“Baiklah. 8 itu berarti 2 jari yang ditutup terus 7 itu berarti 3 jari yang ditutup,” kataku menunjukkan jari-jariku. “Sama seperti tadi, jari-jari yang ditutup kita kalikan, berarti 2 dikali 3 hasilnya 6. Nah, terus jari-jari yang berdiri ada 5, berarti jumlahnya 50. Hasilnya adalah 6 ditambah 50 adalah 56. Berarti 8 dikali 7 hasilnya 56,”

“Wowww…kereeeenn…”
“Kamsahamnida,”
**

“Waahhhh…Tara memang unik,” sahut Minhyuk yang nonton episode pertama dari studio. “Perkalian jari. Ide yang sangat bagus,”
“Benar… Baru kali ini aku mendapat pelajaran Matematika di WGM,” sahut Jinwoon.

Hahahahaa…
**

Rasa ingin tahuku muncul ketika mobil yang aku tumpangi berhenti dan pintu mobilnya dibuka dari luar. Sosok cowok berkacamata dengan membawa koper kecil masuk ke dalam van lalu duduk di sebelahku. Aku tersenyum lebar ketika cowok itu membuka kacamatanya dan tersenyum padaku.

“Doojoon…” seruku lalu sumringah. “Apakah kau yang akan menjadi pasanganku?”
Doojoon tersenyum padaku dengan malu-malu. “Bagaimana, PD-nim? Apa aku saja yang menjadi pasangan Tara?”
“Hahaha…” PD-nim hanya tertawa.

“Annyeong Tara…”
“Annyeong..” balasku sambil menganggukkan kepala dan tetap tersenyum.
“Apa yang kau rasakan ketika memasuki mobil cinta ini?” tanyanya.
“Mwo? Van ini mobil cinta?” tanyaku lalu tertawa. “Bingung tapi aku menikmatinya dan sangat penasaran dengan prince charmingnya,”
“Waahhh…”kata Doojoon lalu melihat ke kamera. “Papa Hong…rencana kita sukses.. Tara sukses penasaran,”
“Yaa~~Yaa~~ Papa Hong…jebal…”
“Tara, mungkin kau belum banyak dikenal di Seoul ini, apa yang kau rasakan ketika melihat fans yang berkerumun sewaktu kau tiba di sini?”

“Nee~~ aku memang belum dikenal banyak orang di entertainment Seoul namun di fotografi, aku cukup terkenal. Puji Tuhan, hasil karyaku mendapat penghargaan di sini,” kataku dengan senyum. “Meskipun aku tidak pernah bersentuhan langsung dengan dunia hiburan Seoul, namun Korean Hallyu sangat dirasakan di Indonesia,”
“Jjinjja??” tanya Doojoon antusias. “Aku baca beritamu di situs online, kau pernah terlibat kerja sama dengan beberapa artis Korea. Bisa kau ceritakan?”
“Nee~~”

Akupun menceritakan pengalaman itu dengan wajah yang bahagia. Itu sebuah prestasi yang sungguh luar biasa bisa bekerja sama dengan artis-artis ngetop Korea.

“Berarti, kau sudah cukup kenal dengan artis Korea? Siapa yang menjadi idolamu?”
“Idolaku? Tentu saja Beast…”
“Kamsahamnida. Aku sangat senang mendengarnya,” senang Doojoon. “Selain Beast?”
“2 PM, Super Junior, SHINee, F(x), Boyfriend dan Teentop,”
“Dari semua yang kau sebutkan, sebutkan 3 yang paling kau inginkan menjadi pasanganmu di WGM,”
“Hmm..2 PM, Super Junior dan SHINee,” jawabku dengan senyum. Aku ingin sekali Nickhun Oppa, Yesung Oppa, serta Onew yang jadi pasanganku,”
“Kau harus patah hati karena Nickhun Hyung sudah memiliki Victoria Noona…”
“Nee~~aku mengerti,” jawabku. “Oleh karena itu, 2PM dicoret dari listku, hehehe. Kalau Super Junior, sepertinya tidak mungkin karena 4 member dari mereka sudah ikutan WGM, berarti Suju dicoret dari list. Sisanya SHINee…”

“Kenapa kau memilih SHINee?”

Lagi-lagi aku menceritakan pengalamanku ikutan membantu pemotretan SHINee untuk membuat pictorial book mereka. Awal ketemu SHINee, aku terkesima melihat Onew dan Key. Mereka sangat spesial bagiku.

“Aku tidak habis pikir ada cowok se-cerewet Key dan sangat suka sekali menarikan dance dari girlband. Sangat menarik,”
“Kalo Onew?”
“Onew? Mungkin karena kami berdua sama-sama sering disebut tahu dan “aneh”. Onew…sangat menarik di mataku apalagi ketika dia melakukan onew condition,”

Aku melihat Doojoon membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah card lalu menyerahkan padaku. Aku menerima card itu dan mulai membacanya.

“Kau akan turun di depan Building 63 lalu masuk ke dalam dan menuju lift. Kau harus berhenti di lantai 42. Pasanganmu akan memakai kostum ayam. Setelah bertemu dengan pasangan, kalian berdua menuju lantai paling atas,”

Mobilpun berhenti setelah aku membaca card-mission itu.
“Selamat menemukan pasanganmu, Tara,”
“Algesseumnida. PD-nim dan semuanya…Kamsahamnida. Selamat jalan,” kataku pamitan lalu turun dan menutup mobil. Aku terus melambaikan tangan pada mobil van itu sampai mobil itu menghilang.

Aku segera berjalan menuju pintu masuk sambil beberapa kali menganggukkan kepala ketika orang-orang di sekitarku melambaikan tangannya padaku. Aku diam mematung ketika sudah masuk ke Building 63.

“Ottokhae?” tanyaku pada diriku sendiri lalu melihat sekeliling. Orang-orang yang berada di gedung itu langsung melihat ke arahku. Akupun melambaikan tangan pada mereka lalu menganggukkan kepala.

“Annyeonghaseyo,” sapaku. “Bisakah aku ditunjukkan arah menuju lift?”
“Baiklah,” jawab satu orang dari mereka lalu memintaku mengikutinya. “Silakan,”
“Kamsahamnida,” kataku lagi lalu mengikutinya. Aku memberikan seulas senyum padanya ketika dia mempersilakan aku masuk lift. “Kamsahamnida,”

Akupun segera memencet tombol 42. Jantungku saat ini berdebar-debar karena ingin bertemu dengan suamiku. Aku tersenyum lebar ketika lift berhenti di lantai 42 dan pintu terbuka. Sosok Minwoo Boyfriend berdiri di sana sambil membawa sebuah boneka beruang.

“Ahhh… Minwoo…” seruku sumringah lalu tertawa. “Senang sekali aku bisa bertemu denganmu langsung,”
“Nee~~Noona..”

Akupun keluar dari lift untuk berfoto bareng dengannya. Kesempatan emas. Aku tersenyum puas melihat hasil foto kami.
“Kamsahamnida,” kataku. “Sepertinya kau bukan pasanganku, Minwoo,”
“Nee~~Noona,” katanya lagi lalu memberikan boneka beruang padaku. “Kau harus berhenti di lantai 49. Fighting, Noona..”
“Gomawo,”

Akupun meneruskan perjalananku menuju lantai 49. Aku shock melihat cowok ganteng dengan sebuket bunga mawar telah berdiri di sana ketika pintu lift terbuka.
“Kyaaa~~Chunjii…” senangku lalu tanpa basa basi lalu memeluknya. “Senang bertemu denganmu,”
“Aku juga, Noona,” katanya lagi.
Lagi-lagi aku berfoto bareng dia. Aku mendapatkan kesempatan emas lagi. Aku tersenyum manis ketika cowok tampan itu memberikan bunga mawar yang dipegangnya.
“Noona, selamat untuk pernikahanmu. Kau akan mendapatkan sesuatu di lantai 60. Chukae Noona,”
“Kamsahamnida,”

Kembali aku meneruskan perjalananku menuju lantai 60. Jantung ini semakin berdebar-debar. Aku tidak melihat siapapun di sana. Aku keluar dari lift lalu melihat sekeliling. Mataku menangkap sosok yang memakai kostum ayam membelakangiku. Aku tertawa kecil lalu berjalan untuk menangkap “ayam ganteng” itu.
“Bingoo,” kataku berhasil menangkap ayam itu.

Aku kaget bukan kepalang bercampur senang ketika sosok “ayam ganteng” itu berbalik badan.
“ONEWWWW~~~” teriakku tidak percaya. “Kau..kau..”
Aku hanya garuk-garuk kepala tidak tau berbuat apa ketika berhadapan dengan pasanganku. Aku tertawa menutupi rasa grogiku.

“Ahh~~akhirnya aku bertemu dengan istriku,” kata Onew tertawa malu-malu.
“Aku juga senang bertemu dengan suamiku,” kataku.
“Hmm…apakah kau mendapat card-mission?” tanya Onew.
“Nee~~” akupun mengeluarkan card itu dan menyerahkan padanya.
“Sekarang, kita harus menuju lantai paling atas,” katanya lagi lalu menunjuk lift.
“Onew-ssi, lantai 60 ini merupakan lantai teratas. Tapi kenapa disebut Building 63 ya?”
“Tara-ssi, Onew-ssi, kalian harus menggunakan tangga untuk mencapai lantai 63,”
“Ahh..”
“Sebaiknya aku melepaskan kostum ayam ini sebelum kita ke lantai 63,” katanya malu-malu. “Apakah kau bisa membantuku?”
“Nee~~”
**

Onew POV…
“Apa yang kau rasakan pertama kali bertemu dengan Tara?” tanya PDseperti itu.
“Ternyata dia bisa dandan girly juga dan..hmm…Kemampuan berbahasa Koreanya sudah bagus,”
“Mwo?
“Pertama kali aku bertemu dia…waktu pemotretan untuk pictorial book. Waktu itu, Tara-ssi berambut pendek. Topi selalu menghias kepalanya. Dia itu selalu memakan permen lolipop. Baju kaos dan celana 3/4 serta sepatu sneaker selalu menemani dirinya, tak lupa kamera selalu menggantung di lehernya. Aku sungguh tidak menyangka..” kataku berhenti lalu kembali senyum. “Dia sangat cantik sekali. Ahh… Senang sekali aku bertemu dengannya lagi,”
“Jjinjja?” tanya PD-nim lagi dengan nada menggodaku.

Hahaha…
“Nee~~ Terima kasih, PD-nim, karena aku dipasangkan dengan dirinya,”
End of Onew POV…
**

“Apa yang kau rasakan, Tara, ketika bertemu dengan pasanganmu?”
“AMAZING,” semangatku lalu tertawa. “Hahaha.. Aku grogi sekali ketika sosok “ayam-ganteng” itu berbalik badan. Ahhh…Speechless,”
“Pertemuan kemaren merupakan pertemuan kedua dengan Onew, bagaimana perasaanmu?”
“Nee~~ Makin tampan dan terlihat lebih dewasa. Aku suka itu. Ahhh…pokoknya aku sangat menyukainya,”
“Suka?”
“Maksudku, aku sangat menyukai pernikahan ini. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik buat Onew,”
**

Sementara di salah satu studio MBC…
“Kyaaa~~ unik..Tara itu sangat unik. Bisa-bisanya dia foto bareng dengan Minwoo dan Chunji,” komen Jinwoon lalu tertawa.
“Astagaaaa…dia menyebut pasangannya dengan “ayam-ganteng”. Lucu sekali…Kau lihat, Jinwoon, ekspressi kaget dan senangnya tidak bisa disembunyikan ketika “ayam-ganteng”nya berbalik badan,” kata Seulong ngakak.
“Hahaha…Nee~Ong Hyung…Babo sekali mereka berdua,”
**

Onew POV…
Aku menyunggingkan senyumku ketika Tara berjalan masuk tempat janjian kami, Kona Beans. Aku terpesona melihat baju yang dia kenakan. Cantik sekali dan terlihat sangat fresh.
“Ahh.. kau sudah datang,” kataku segera menyambutnya dan menarik kursi lalu mempersilakan duduk.
“Kamsahamnida,” jawabnya lalu mengulurkan sesuatu. “Buatmu,”
“Apa ini?” tanyaku sambil menerima gift darinya. “Aku boleh membukanya?”
“Silakan. Aku membelinya sewaktu liburan di Bali dan sebagian aku beli dari tempat tinggalku, Lombok,”

Aku membuka gift itu sambil sesekali melihat dirinya yang melihatku dengan tatapan penuh suka dan penasaran. Aku tersenyum senang ketika berhasil menelanjangi kado itu. Mataku membesar melihatnya. Kalung, gelang, kaos bertuliskan “Lombok Island”, kaos motif barong, pembatas buku dan blangkon serta perlengkapan spa khas Bali.

“Itu…” katanya lalu menunjuk ke arah kado dan tersenyum. “Semoga kau menyukainya,”
“Kamsahamnida, Tara-ssi, aku senang sekali,”
“Gelang ini…” katanya lagi lalu mengambil gelang dan menarik tanganku dan memasangkannya. “Aku juga memakai gelang ini,”

“Ahhh…” kataku tertawa. “Bagaimana kalau kita mengabadikan foto dengan gelang ini?”
“Dengan senang hati,”
“Hana dul set,”

KIMCHEESE…
End of Onew POV…
**

Hari ini, aku ingin membuat kejutan pada Onew yang sedang sibuk latihan untuk beberapa show SHINee. Aku ingin mengirimkan makanan untuk SHINee. Aku duduk menopang dagu di dapur. Aku berpikir apa yang akan dibuat. Akupun segera menelepon Nunmi karena tidak menemukan ide.

“Nee~~ sedang apa? Ohh… Aku ingin memberi kejutan pada SHINee berupa makanan. Apa yang sebaiknya aku buat? Ahh.. Penyetan.. Kamsahamnida,”

Aku tersenyum lalu bergegas masuk kamar untuk mengambil kertas dan pulpen dan kembali ke dapur.

“Aku akan membuatkan SHINee penyetan dan nasi uduk,” kataku lalu membuka kulkas untuk memeriksa bahan dan bumbu. Aku tersenyum karena sebagian besar bahan dan bumbu sudah ada. “Berarti, aku harus membeli ayam, timun, tomat, garam, dan penyedap rasa,”




Seluruh pengunjung supermarket langsung melihat ke arahku dan beberapa diantara mereka ada yang mendekatiku untuk foto bareng maupun minta tanda tangan.
“Gomawo, Tara eonnie,”
“Nee~~ Gomawo,” kataku memeluk fans itu dan melambaikan tangan padanya.

Aku membuka catatanku untuk melihat list belanjaanku. “Yoshh…”
**

“APAAA???” teriak Key. “Jadi ada yang menggantikan posisiku? Nuguya? Nugu? Si tomboy Tara? Hufftt.. berani sekali dia, jagiya,” sewot Key lalu bermanja-manja dengan Onew.
“Yaa~~ Key…harusnya kau senang karena ada seorang eomma buat kalian,” kata Onew tersenyum malu-malu.
“Sepertinya Onew Hyung sudah mulai menyukai Tara Noona,” sahut Minho. “Hyung, sewaktu kami bertemu dengannya di bandara, kami sama sekali tidak menyangka ternyata Noona bisa berdandan girly seperti itu,”
“Key Hyung, dia sangat cantik,” balas Taemin.
“Aku juga tidak percaya bisa melihat dia dalam “girly”,”
“Yaa~~ Yaa~~jadi kalian berempat memihaknya, ohng? Aku ingin membuktikan dengan kepalaku sendiri. Apakah dia pantas menjadi eomma buat kita,” sewot Key.

“Onew…” suara sang manajer ditengah-tengah debat mereka. “Tara meneleponmu,”
“Kamsahamnida, manajer Hyung,” kata Onew lalu menjawab telepon. “Nee~~ Tara ssi…”
**

“Annyeonghaseyo, Onew-ssi…” kataku segera ketika mendengar suaranya di seberang. “Nee~~ aku sudah di gedung yang kau maksud. Studiomu lantai berapa? Baiklah.. Nee~~ Gomawo,”

Aku tersenyum lalu melangkah masuk dengan riang. Aku segera menekan angka 5 di lift dan menikmati perjalananku menuju studio SHINee. Kembali aku merasakan debaran di jantung semakin kuat ketika pintu lift terbuka. Aku segera bertanya pada salah satu staff kantor di mana SHINee berada.

“Baiklah. Kamsahamnida,” kataku. “Dia berada di ruangan itu,”
Aku berjalan pelan menuju ruangan tersebut dan tanganku terulur untuk membuka knop pintu. Aku mendorong pelan pintu tersebut dan melangkah masuk.

Aku segera menganggukkan kepala dan menyunggingkan sebuah senyum untuk mereka.
“Eomma…” sahut mereka semua kecuali Key. Cowok itu hanya melihatku dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak percaya.
“Yaa~~ apakah kau…apakah kau…si tomboy Tara? Demi Tuhan…”
“Tentu saja, si cerewet,” balasku lalu ikutan bergabung dengan mereka. “Akhirnya aku bertemu denganmu lagi,”
“Ini pasti mimpi. Kau cantik sekali,” gumam Key tidak berkedip melihatku.
“Yaa~~Kim Kibum…aku ini suaminya,” sungut Onew.

Hahaha…
Kami semua tertawa mendengar celetukan Onew. Tanpa basa-basi aku mengeluarkan makanan yang telah aku buat.
“Pasti kalian belum makan kan?” tanyaku sambil mengeluarkan 5 piring dan 5 botol air minum.
“Eomma…aku bantu,” kata Taemin lalu membantuku.
“Hmm… baunya enak sekali,” kata Minho yang membantuku mengeluarkan tempat nasi dan menuangkannya pada piring yang sudah disiapkan.
“Waaahhh…ayaaaammmm…” senang Onew lalu membagikan ayam pada mereka. “Ini lebih satu,”
“Aku sengaja melebihkan ayamnya. Itu buatmu, Onew-ssi,”
“Ahh…kau memang istriku yang baik,” kata Onew spontan.
“Hahaiii…”

“Ini nama makanannya apa, Eomma?” tanya Key sibuk menciumi sambal.
“Itu sambal terasi namanya,” jawabku tersenyum senang.
“Bukan ini. Nama makanan semuanya,”
“Ahh…kalau nasinya disebut nasi uduk. Kalau ayamnya disebut ayam penyet. Ini sangat populer di Indonesia,”
“Key umma…enak sekali,” jawab Taemin. “Jangan banyak-banyak sambalnya, pedas sekali. Ini pertama kali aku makan dengan rasa yang enak seperti ini. Eomma..kamsahamnida,”

“Ayo buka mulutmu. Aaaa…,” kata Onew menyuapkan nasi padaku.
Dengan malu-malu aku menerima suapan dari Onew. “Gomawo,”
“Ini enak sekali, Tara-ssi. I really love you,”
“Mwo??”
**

Onew POV…
“Ahhh…neomu..neomu..ceohahae…” kataku dengan nada bahagia. “Aku benar-benar surprise mendapati dia mengunjungiku dan membawakan makanan. Aku sangat…sangat…menyukainya,”
“Apa yang kau rasakan ketika member SHINee lainnya memanggil Tara dengan “eomma”?”
“Kaget…Aku rasa dia juga kaget ketika mereka semua memanggil dengan “eomma”. Hahaha…aku tidak tau mereka dapat ide dari mana ide itu. Aku hanya berharap, bisa menjadi suami yang baik buat Tara,”
End of Onew POV…
**

We Got Married, sukses mengubah diriku. Aku diminta untuk lebih mengalahkan egoku. Aku dituntut untuk lebih care pada orang lain. Biasanya aku senang menghabiskan waktu senggang tanpa siapapun, namun, sekarang aku harus berbagi dengan Onew, suamiku.

Aku berjalan menuju sebuah toko buku di pusat kota dengan riang. Meskipun ini merupakan pertemuan ketiga dengannya, namun, rasa gugup dan grogi itu masih menguasaiku. Aku sangat menikmati setiap saat bersamanya.

Aku tersenyum ketika beberapa orang yang berada di sana meneriakkan namaku dan Onew. Apakah ini yang selalu dirasakan oleh artis Korea? Dimana saja mereka berada, pasti ada fans yang mengikutinya. Fans itu seperti pengawal yang siap melindungi idolanya. Inilah yang tidak aku rasakan. Aku memang bukan artis tapi aku cukup terkenal di Lombok maupun Indonesia, namun, ketika aku menghabiskan waktu di mall, tidak ada fans seperti fans di Korea. Aku segera menuju tempat membaca buku yang terletak di lantai 3 dari toko buku ini.

Aku harus membiasakan diri menganggukkan kepala maupun membungkukkan badan selama berada di Korea. Itulah yang sering dilakukan mereka ketika bertemu dengan orang lain maupun berpisah. Aku menganggukkan kepala ketika sosok Onew dengan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung sampai siku. Topi baret hitam terlihat nangkring di kepalanya dengan angkuh. Senyum itu…senyum yang sangat aku sukai.

“Ahhh…maafkan aku,” kataku lalu berdiri di depannya. “Aku telat menemuimu,”
“Tidak apa-apa,” katanya lalu tersenyum.
“Gomawo,” kataku lagi lalu berusaha mencerna buku-buku yang tertulis dengan kanji Korea. “Molla,”
“Molla?”
“Ahhh..ini…aku sama sekali tidak memahami judul-judul buku yang ada di sini,” kataku meringis malu.
“Ahhh…” kata Onew lalu berjalan mendekati sebuah rak buku dan kembali dengan beberapa buah buku di tangannya.
“Wuaaaaa…” histerisku karena dia membawakan beberapa buku berbahasa Inggris karangan Paulo Coelho. “Kamsahamnida,”

“Nee~~ Tara ssi…kita bisa menikmati buku-buku ini sambil duduk dan kita juga bisa memesan makanan,”
“Baiklah..Aku menyukainya,” kataku senang.
“Bukumu aku bawakan saja,” katanya mengambil alih buku-buku yang di tanganku.
“Tasmu…aku saja yang bawa,” kataku.
“Terima kasih,” katanya lalu berjalan menuju meja dan meletakkan buku di atasnya. Aku mengikutinya.
**

“Hyung~~ berapa usia pernikahan kalian?” tanya Taemin.
“Hmm~~~ 3 bulan. Wae?”
“Wae???” tanya Taemin tidak percaya. “Yaa~~ Hyung, kau harus merayakannya,”
“Merayakan?”
“Hyuuuunggg~~neol jjinjja…” kesal Taemin lalu menunjukkan laptopnya yang sedang menayangkan WGM Khuntoria. “Lihat ini..Khuntoria merayakan hari jadi mereka yang ke 100 hari. Kau masih punya waktu 10 hari untuk menyiapkannya,”
“Hyung,” sambung Minho. “Apakah kau sudah mengetahui semuanya tentang Noona,”
Onew menggeleng menjawab pertanyaan Minho lalu menunjukkan senyum khasnya. “Hahaha…aku belum mengetahui semuanya mengenai Tara,”
“MWO?? Hyuuuuuu~~~nggg… Neol jjinjja…” kata Minho lalu menatap Onew lesu. “Kita cari tau lewat internet saja,”

Minho sibuk berkutat dengan Daum, search-engine Korea untuk mencari informasi mengenai Tara. Usaha pencarian yang memakan waktu 2 jam lebih itu tidak menghasilkan apa-apa.

“Ahh..aku baru ingat. Artis Indonesia kan tidak ada yang seperti kita. Jarang sekali ada artikel yang membahas facts tentang mereka,”
“Ahhh…bagaimana ini?” bingung Onew. “Apa aku menyamar lagi aja menjadi ayam untuk mencari tau informasi mengenai Tara?”

Taemin dan Minho hanya membeku dengan wajah tak percaya.
Onew condition,” kata Taemin lalu tertawa. “Aku saja yang mencari tau mengenai Tara. Kalian berempat memikirkan acaranya seperti apa,”
“Setuju. Kamsahamnida,”
**

Replay Japanese version mengalun indah dari ponselku. Aku mengernyitkan dahi berpikir nomor asing yang muncul di LCD ponselku ini milik siapa.

“Nee~~ Yoboseyo,” kataku lembut. “Nee?? Ahhh~~ Taemin.. Eomma?? hahaha…tidak apa-apa. Berarti aku dan Onew-ssi sudah memiliki 4 orang anak. Hmm..hari ini? Aku free sampai jam 2. Ohh..apakah kau tidak ada jadwal? Baiklahh..di Kona Beans saja ya..Nee~~”




Aku melambaikan tangan ketika Taemin muncul di Kona Beans. Aku menyunggingkan senyum ketika dia menganggukkan kepala.
“Eomma…” katanya dengan mimik jenaka. “Jangan bilang-bilang Appa kalau aku menemuimu,”
“Mwo??” tanyaku kaget lalu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Haha..baiklah,”
“Yagsok?” katanya lagi lalu menunjukkan kelingkingnya.
Promise,” kataku sambil mengaitkan kelingkingku. “Well, kamu mau memesan apa?”

Akupun menyebutkan pesanan kami lalu mengucapkan terima kasih dan mengembalikan menunya. Aku tersenyum melihat Taemin yang sepertinya salah tingkah.
“Hmm..Eomma, berapa usia pernikahan kalian?”
“3 bulan. Kenapa?”
“Apa kau tidak berkeinginan untuk merayakannya?”
“Merayakannya? Memangnya harus begitu?”

Aku tersenyum melihat wajah Taemin yang kaget.
“Eom~ma..kalau di Korea itu, kita harus merayakannya. Artinya kita itu merasa bersyukur atas apa yang telah kita alami dengan pasangan. Baik itu suka maupun duka. Bisa diartikan juga sebagai review hubungan,”
“Ahh…Aku jadi ingin merayakannya,”
“Jjinjja??” tanya Taemin senang sambil menikmati pesanannya.
“Nee~~ Tapi apa mungkin Onew ssi juga berpikiran yang sama? Apakah dia juga ada keinginan untuk merayakannya?”
“Molla,” jawab Taemin singkat lalu berpikir untuk memulai menggali informasi. “Eomma..hmm..aku pernah menonton beberapa episode, sepertinya kamu tidak suka makanan pedas ya?”
“Nee~~ rasa pedas untuk makanan Korea sangat spicy sekali, jadi perutku tidak kuat, Taemin. Namun, untuk makanan pedas di Indonesia, aku bisa memakannya. Aku pernah memakan ttokpokki di sini, namun, aku meminta bibi penjualnya agar porsi buatku tidak terlalu pedas,”
“Ohhh…Beberapa waktu lalu, aku lihat beberapa foto hasil karya Eomma, kenapa latar belakangnya semua laut?”
“Ahh~~itu…aku sangat suka akan laut maupun pantai karena aku merasa beban kerjaku akan hilang dibawa angin kalau aku berdiri di tepi pantai,”
“Wahhh…laut itu sangat indah. Eomma…”
**

Onew POV…
Aku membaca kertas yang disodorkan Taemin. Aku tertawa membaca tulisan yang ditulis dengan spidol merah, BACA dan DIINGAT. Aku membaca point demi point beberapa fakta mengenai Tara. Aku benar-benar berterima kasih pada Taemin dan Minho yang bersedia direpotkan.

“Ahh…dia sangat menyukai ayam goreng,” kataku senang lalu mataku beralih pada point selanjutnya. “Wahh…dia sangat menyukai lagu “Just the Way You are”,”

Aku mengambil buku dan kotak pensil dari dalam tas. Aku telah memikirkan beberapa yang akan aku siapkan untuk merayakan hari ke-100 kami.
“Menyanyikan lagu “Just the way You are”, kalau bisa versi piano. Aigooo…sepertinya aku harus meminta Wookie Hyung untuk mengajariku piano,” kataku lalu kembali membaca kertas itu. Aku tertawa-tawa membaca fakta mengenai istriku.

“Aku harus memberikan hadiah boneka beruang padanya,” kataku menulis di buku dengan senyum. “Terus, dia juga suka gurita, jadi aku akan membuatkan makanan kesukaanku, gurita pedas,”

“Yaa~~ Onew Hyung, Eomma tidak begitu suka pedas, jadi jangan sampai makanan kesukaanmu itu terlalu pedas,” kata Taemin.
“Nee~~” kataku lalu mencoret kata “pedas” lalu mengganti dengan “tidak terlalu pedas”.
End of Onew POV…
**

Aku melambaikan tangan ketika sosok Onew muncul di depan apartmentku. Aku tersenyum senang lalu menganggukkan kepala.
“Apakah kau sudah lama menungguku?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Baru saja kok,”
“Hmm…aku ingin mengajakmu ke sebuah tempat,” katanya lalu memandangku.
“Jjinjja?? Wahhh…gomawo,” kataku tersenyum.
“Aku harap kau menyukainya,”




“Waaahhh…aku sangat suka dengan kereta api…” histerisku senang. “Kamsahamnida,”
“Nee~~ Aku akan melakukan yang terbaik buat istirku,” katanya yang memicu semburat merah di wajahku.
“Terima kasih, suamiku,” kataku senang.
Aku mengikutinya dengan riang. Senyum selalu melengkung di bibirku dan debaran jantungku semakin menggila. Kami segera menuju kereta api setelah membeli tiket. Aku kaget pangkat tinggi ketika melihat gerbong kereta api. Sangat bagus sekali, berbeda dengan gerbong kereta api di Indonesia.

“Silakan duduk, my lady,” kata Onew dengan tersenyum.
“Ahh…terima kasih, my prince,”

Aku dan Onew kembali bertukar cerita. Perjalanan ini, merupakan perjalanan paling indah yang pernah aku lakukan. Aku menikmati setiap jengkal wajahnya sambil sesekali menikmati pemandangan dari jendela kereta api.

“Apakah kau lapar?” tanyaku padanya.
“Ahh..hahaha…” katanya garuk-garuk kepala. “Aku sangat senang sekali menantikan perjalanan ini sampai-sampai aku lupa sarapan,”
“Buatmu,” kataku lalu memberikan sekotak makanan padanya. “Semoga kau suka,”
**

“Waa..waa…romantis sekali mereka berdua,” komen Seulong yang menonton dari studio MBC. “Yaa~~ Taemin, gimana perasaanmu melihat adegan mereka ini?”
“Hahaha…aku iri, Hyung,” kata Taemin dengan mimik jenaka. “Tapi aku menang 1 poin dari Onew Appa, karena aku sudah punya nomernya eomma,”
“Mwo?? Dari mana kau dapatkan nomor ponselnya?” kaget Minhyuk.
“Aku mengambilnya dari ponselnya eomma. Aku menelpon ke ponselku,”
“MWO?? Wahhh..waahh…Onew harus berhati-hati denganmu, Taemin,”
“Astagaaa…lihat itu…Onew terus melihat ke arah Tara. Arrrgghhh…romantis sekali,” ujar Minhyuk stress. “Aku iri…”
“Eomma…paling mudah tertidur kalau melakukan perjalanan panjang. Hobi eomma itu tidur di perjalanan,”
“Yaa~~ Taemin, sepertinya kau banyak tau mengenai Tara?”
“Nee~~aku sengaja bertemu dengannya untuk mencari informasi. Minho Hyung, juga mencari informasi mengenai eomma melalui Papa Hong,”
“Kalian ini benar-benar anak berbakti,”
“Gomawo,”
**

Onew POV…
Aku tersenyum melihat Tara tertidur di sepanjang perjalanan. Aku tau, dia sangat lelah menyiapkan semuanya demi perjalanan ini. Aku ingin sekali menyentuh wajahnya, tapi perasaan itu segera aku tahan sampai tiba waktunya. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto ketika dia tertidur. Lucu sekali.

Aku membangunkan dia secara perlahan ketika kami telah sampai di tujuan.

“Ahh..apakah kita telah sampai?” tanyanya. “Ahhhh,,,aku pasti tertidur ya?”
“Kau tertidur di bahuku selama perjalanan,” kataku menggodanya lalu berpura-pura kesakitan.
“Mwo?? Ahh..maafkan aku,” katanya lalu segera memijat-mijat bahuku.

Aku menangkap tangannya lalu memandang ke dalam matanya. Aku merasakan sesuatu mengalir ke dalam hatiku. Aku merasakan jantungku berdebar kencang. Aku tersenyum menyadari ini semuanya. Ya, i’ve fell for her.

“Aku bercanda, sayang,” kataku lagi lalu tersenyum. “Bahuku cukup kuat kok untuk kepalamu,”
“Ahh…gomawo,” katanya lagi dengan wajah yang memerah.

“Kita telah sampai,” kataku lalu membawakan beberapa tas miliknya. “Ayo turun,”
“Nee~~”

Kamipun berdua turun dari kereta api dan berjalan ke pintu keluar. Kami berhenti melangkah lalu melihat sekeliling. Aku bingung harus berjalan ke arah mana.

“Onew ssi,”
“Yaa~~ bukankah kita sudah menyepakati untuk memanggil “sayang” satu sama lain. Aku memanggilmu “chara” dan kamu memanggilku “amor”?”
“Ahh…nee..” katanya tersenyum malu. “Mi amor..sebaiknya kita baca dulu card-mission yang diberikan oleh penjual tiket tadi,”
“Benar, benar,” kataku membuka card-mission lalu membacanya. “Sebaiknya kita menelepon nomor yang tertera di sini,”

Aku menekan nomor yang tertera di sana. Aku segera mengucapkan “yoboseyo dan annyenghaseyo” ketika suara seorang Ahjusshi terdengar di seberang.
“Nee~ahjusshi.. Onew imnida.. Aku dan istriku telah sampai. Aku bingung harus berjalan ke arah mana menuju tempatmu? Ohh.. Nee~~ baiklah.. Gomawo…”

“Bagaimana?” tanyanya dengan nada khawatir.
Aku tersenyum untuk menenangkannya. “Jangan khawatir, mi chara, aku sudah mengerti. Kita berjalan ke arah kiri,”
“Okay,”




Akhirnya kami berdua sampai di tempat yang dimaksud. Mataku terbelalak melihat tempat itu. Hatiku bersorak senang. Tempat itu adalah peternakan ayam. Aku melihat ke arah istriku, wajahnya menampilkan ekspressi kaget namun penasaran.

“Bagaimana?” tanyaku. “Apakah kau senang?”
“Nee~~” katanya lagi. “Ayo kita segera menemui pemilik peternakan ini,”
“Baiklah,”
End of Onew POV…
**

Aku sangat menikmati petualangan di peternakan ini. Aku bisa berinteraksi dengan ayam. Hal yang paling senang aku lakukan adalah mengumpulkan telur-telur dan memberi makan ayam.

Aku mengantarkan minuman yang telah disediakan oleh istri Ahjusshi ke Onew dan Ahjusshi yang sibuk membersihkan kandang ayam.

“Ahjusshi, mi amor, sebaiknya kalian istirahat dulu,” kataku setengah berteriak.
“Nee~~”
Beberapa saat kemudian, Onew dan Ahjusshi keluar dari kandang tersebut. Aku mengeluarkan sapu tangan dari celemekku dan menyeka keringat yang bertebaran di dahi Onew.
“Apakah kau capek?” tanyaku lalu mengelap keringatnya. “Sebaiknya kau istirahat dulu saja, mi amor,”

Aku menikmati saat ini. Duduk berduaan di rumput dengan beratapkan langit biru. Sinar matahari tidak terlalu panas karena angin berhembus dengan kencang. Aku menjadi cinta dengan suasana peternakan.

“Onew ssi, Tara ssi, kalian bisa berkeliling di desa ini menggunakan sepeda,”
“Nee??”
“Iya..kalian bisa menikmati indahnya pemandangan di desa ini dengan menggunakan sepeda. Tidak jauh dari peternakan ini, ada pantai yang cukup bagus. Aku bisa mengantarkan kalian ke pantai itu,”
“Hmm…apakah bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda, Ahjusshi?” tanya Onew antusias.
“Tentu saja. Aku akan menghubungi saudaraku yang bekerja di sana agar menyiapkan tempat,” kata Ahjusshi senang. “Kalian juga bisa menyantap seafood di sana,”
“Jeongmal?” histerisku senang. “Mi amor, kita harus ke sana,”
“Aku akan melakukan apa saja agar hatimu senang, chara, tapi kau harus berjanji, kau harus belajar dance-nya Replay ya,”
“MWO??” kagetku. “Aku tidak bisa menari,”
“Charaaa…”
“Baiklah…aku berjanji,” kataku tersenyum.




“Aaaaa….” teriakku ketika sepeda kami oleng dan jatuh di rerumputan.
“Gwaenchana?” khawatirnya.
“Aku tidak akan terluka karena jatuh seperti ini,” kataku dengan senyum, namun, beberapa saat kemudian, aku merasakan perih di dengkulku. “Aaaa…dengkulku…dengkulku…berdarah,”

Onew segera melihat ke arah dengkulku dan wajahnya memias. “Maafkan aku…maafkan aku,”
“Tidak apa-apa,” kataku menenangkannya.
“Sepertinya aku membawa obat luka,” katanya lagi lalu membongkar tasnya. “Aku membawanya. Ayo, aku obati dulu lukamu,”

Aku meringis perih ketika alkohol menyenhtuh lukaku. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat. Namun, mataku berair menahan perih. Aku menyunggingkan senyum ketika matanya melihatku.

“Kau menangis..ahh..senangnya karena kau bisa terlihat lemah juga di hadapanku,”
“Mwo??” kagetku. “Aku hanya kepanasan,”
“Mi charaa…kalau kau mau menangis, silakan. Aku kan suamimu,”
“Yaa~~ huffttt…” kesalku lalu manyun.
“Mi chara…mi charaa…” Onew menggodaku dengan menggelitik pinggangku. “Kau semakin terlihat cantik dengan wajah seperti itu.
“Yaa~~Neol…”

Onew hanya tertawa-tawa karena aku tertatih-tatih mengejarnya. Aku sungguh menikmati ini semua. Aku memang merasakan perih di dengkulku namun bahagia mengalahkan semuanya.

“Chara..chara…” kata Onew akhirnya menangkap tubuhku. “Sudah..sudah..nanti lukanya makin lebar. Kita kembali ke peternakan saja ya?”
Aku menggeleng. “Kita ke pantai dulu baru pulang,”
“Baiklah,” kata Onew lalu naik ke sepeda. “Ayo naik. Aku akan lebih hati-hati lagi,”
“Aku percaya padamu,”
**

Onew POV…
Aku akhirnya berhasil meminjam mobil Appa untuk merayakan hari ke-100 kami. Aku tersenyum puas melihat persiapan yang telah selesai. Aku mengambil kertas berisi list “Project 100 hari”.
“Mobil, boneka beruang, t-shirt Happy Holiday Onew, skin malgeum Onew, beres,” kataku mencoret beberapa poin dari list yang ada. “Berarti, yang kurang, hmm…huwaaa…masih ada 3 poin lagi. Menyanyikan “just the way you are”, menyiapkan kumpulan foto bersamanya selama 100 hari, dan menyiapkan makanan gurita (tidak) pedas,”

Aku melihat ponselku yang menyala. Sebuah pesan masuk ke ponselku, nama Yesung Hyung menjadi pengirimnya.
“Oh my gosh, aku lupa kalau ada janji dengannya dan Wookie Hyung,” kataku lalu menekan tombol call. “Hyuuuu~~nggg…mianhae…aku ke sana sekarang.. Nee~~ nanti kita sekalian ke cafe-mu ya.. Aku mencintaimu, Hyung.. Nee~~”

Aku tersenyum lalu menuliskan 50% di tulisan Norae. Aku bergegas membereskan barang-barangku lalu segera berangkat ke SM untuk menemui Yesung dan Wookie Hyung.




Aku tersenyum mendengar pertanyaan mereka. “Belum Hyung. Aku belum tau nomor ponselnya Tara,”
“Mwo?? Demi Tuhan, Onew, usia pernikahan kalian hampir 100 hari namun kau masih belum tau nomor ponselnya? Jadi, kalau kalian berhubungan, melalui apa?”
“Manajer Hyung,”
“Onew, hari ini kau harus mendapatkan nomor ponselnya. Taemin saja sudah punya nomor Tara,”
“Jeongmal? Taemin? Oh my… Anak itu harus diwaspadai,” omelku lalu manyun.
“Makanya itu. Kau kan suaminya, Onew, nomor ponsel itu sangat penting dibandingkan yang lain,”
“Nee~~hyung…Kebetulan nanti kami mau makan malam bareng, jadi aku akan menanyakan nomor ponselnya,”
“Bagus, kalau begitu kita latihan sekarang,”
End of Onew POV…
**

“Yaa~~kau kenapa menutup mataku, chara?” protes Onew ketika aku menutup matanya.
I’ve surprised for you, amor,” kataku berbisik padanya lalu membimbingnya duduk. “Sayang, kau tunggu di sini ya,”
“Chara..chara…” teriaknya panik.

Aku tidak menggubris teriakannya. Aku segera mengganti gaunku dengan baju casual dan berdiri di hadapannya. Aku tersenyum melihat dirinya yang matanya masih tertutup kain. Aku segera memberi kode kepada “asisten”ku untuk membuka penutup matanya Onew dan menyalakan tape-recorder. Beberapa saat kemudian, lagu Replay memenuhi ruangan dan aku segera menggerakkan badanku. Aku tersenyum melihat wajah Onew yang kaget namun terlihat bahagia itu. Rasanya malu sekali aku menari di hadapan suamiku dan pengunjung cafe itu. Inilah pertama kalinya aku menari di depan semua orang. Aku berharap dalam hati semoga tarianku ini sama dengan tariannya SHINee. Tiba-tiba saja Onew berdiri dari kursi dan bergabung denganku.

“Kita menari bersama,” katanya lalu mengikuti gerakanku.

Aku menikmati malam ini. Ini pengalaman yang tidak akan aku lupakan. Aku melakukan wave-hand ketika selesai menari. Aku tersenyum ketika mendapat applause dari para pengunjung.

“Kamsahamnida,” kataku kembali menganggukkan kepala lalu berjalan menuju meja yang sudah direserved. Aku tertawa ketika Onew menatapku dengan tatapan menyelidik. “Apakah kau surprised?”
“Tentu saja, chara. Kau sukses dan aku benar-benar bahagia,” katanya dengan senyum. “Siapa yang mengajarimu? Kenapa merahasiakannya dariku?”
“Ahhh…aku diajarin Taemin dan Eunhyuk Oppa. Aku belajar 3x seminggu. Maafkan aku, amor,” kataku tersenyum namun khawatir dia akan marah.
Dia hanya melihatku tanpa berkomentar apa-apa. Jujur, aku takut sekali melihat reaksinya seperti ini.
“Amor…” kataku perlahan menyentuh tangannya. “Apakah kau marah?”
“Aku tidak marah padamu, dear, hanya sedikit shock,” katanya lalu tersenyum. “Lain kali, kalau mau latihan menari, kau harus bilang padaku terlebih dahulu ya,”
“Nee~~ siaaappp…” kataku lalu menyantap menu yang sudah terhidang.
“Chara…hmmm…” suara suamiku terdengar ragu-ragu.
“Ada apa?”
“Lusa kan hari jadi kita yang ke-100, hmm…jadi aku tidak ingin merepotkan manajer kita masing-masing…”
“Amor, apa yang kamu inginkan?” tanyaku bingung. Dia terlalu berbelit-belit.
“Hmm…” katanya lalu menyodorkan ponselnya. “Aku minta nomormu,”
“Haa??” kataku kaget lalu mengambil ponselnya, menuliskan nomorku lalu mengembalikan padanya. “Amor..amor..kok susah sekali. Bilang aja kalau mau tukeran nomor,”
“Aku malu,”
“Astagaaa…” kataku lalu mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di atas meja.

“sekai no doko ni mo kawari wa inaiyo…kimi wa boku ni dake no everything”

“Ahhhh…” kata suamiku menunjuk-nunjuk ponselku yang berbunyi. “Replay…”
“Nee~~ aku membaca fakta-faktamu dari Internet dan kau ingin mengenalkan part-mu di Replay Japanese version pada shawol yang baru,”
“Apakah kau suka artinya?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Nee~~ aku sangat suka sekali arti dari part-mu ini,” aku menyunggingkan senyum yang paling manis.
It won’t change no matter where in the world…You are my only everything” katanya lalu menatap mesra padaku.
**

“Waaahhhhh….romantis sekali,” sewot Jinwoon yang menonton WGM dari studio MBC lalu manyun. “Ahhh…lama-lama aku tidak kuat melihat adegan demi adegan mereka,”
“Harusnya, Onew mengakhirinya dengan sebuah kiss yang romantis juga,” sambung Seulong.
**

Onew POV…
Aku mematutkan diriku untuk memeriksa apakah ada yang kurang. Aku tersenyum puas mendapati diriku tampan sempurna malam ini. Aku keluar kamar dengan beberapa barang di tanganku. Aku tersenyum ketika Key dan Jonghyun menyongsongku dan membantuku membawakan sebagian hadiah untuk Tara.
“Hyung, kau mau pergi kemana?” tanya Key menyelidik.
“Aku? Mau makan malam dengan Tara,” kataku lalu memastikan hadiah-hadiah itu aman di tempatnya.
“Ohh… Aku harap, kau menjadwalkan rekreasi dengan anak-anakmu,”
“Akan aku tanyakan pada eomma kalian,” jawabku senyum.
“Hati-hati, Hyung,”
“Nee,” kataku masuk mobil lalu segera menelpon Yesung Hyung untuk memastikan semuanya telah selesai apa belum. “Nee, Hyung, sekarang aku lagi di jalan menuju apartmentnya Tara. Ahh..kalian menunggu kami di sana? Aku benar-benar berterima kasih padamu, Hyung. Nee~~”




Aku perlahan mengemudikan mobilku masuk ke apartmentnya Tara. Aku keluar dari mobil lalu berdiri di depan sambil memencet nomor ponsel Tara.
“Chara, aku sudah di bawah. Nee~~”

Aku kembali memastikan dandananku. Aku berdiri tegap menunggu Tara dengan jantung yang berdebar kencang. Aku benar-benar terkesima ketika sosok Tara muncul di depanku. Gaun semi-formal jatuh dengan bebas di tubuhnya. Aksen belt-ribbon berwarna ungu menambah manis dirinya. Rambutnya yang biasanya digerai, kini dibuat plum dengan beberapa helai rambut membingkai wajahnya. Ahh..dia benar-benar cantik malam ini. Tidak ketinggalan, wedges dengan warna senada yang menghiasi kakinya tampak sempurna. Aku…jatuh cinta padanya.

“Amor..” suaranya memabukkanku. “Sepertinya kita sehati,”

Aku baru menyadari kalau kami berdua memakai baju dengan warna yang sama. Aku tersenyum lalu mengulurkan tanganku dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.

“Kamsahamnida,” katanya lalu aku segera menutup pintu dan masuk ke tempatku.
“Chara..” kataku lalu tersenyum dan mengulurkan sebuah kotak dari kantong suitku. “Bukalah,”
Dia menerima kotak dariku dan segera membukanya. Matanya berbinar dan bibirnya tersenyum. Perlahan dia mengeluarkan kalung berbandul love yang bisa dibuka.
“Ahh..” katanya lalu membuka bandul itu. “Lucu sekali foto kita ini, amor,”
“Aku pasangkan ya?” tanyaku sopan.
“Nee~~”

Aku mengambil kalung itu lalu segera memasangkan di lehernya. Aku mencium wangi segar dari lehernya. Ahhh…aku gila malam ini.
“Kamsahamnida,” katanya lalu kembali menatapku. “Kau sangat tampan, amor,”
“Nee,” kataku lalu menghidupkan mobilku. “Are u ready?”
“Siaaappp,”
End of Onew POV…
**

Aku memandang tidak percaya bangunan yang berdiri angkuh di sana. Handel dan Gretel. Tempat yang sangat ingin aku datangi ketika aku menjejakkan kaki di Seoul. Kini, keinginanku terkabulkan karena suamiku.
“Inilah tempatnya,”
“Kamsahamnida, amor,” kataku dan tanpa pikir panjang mencium pipinya.
“Ahh…” katanya lalu memegang pipinya yang aku cium. “Terima kasih untuk ciuman manis ini, Tara. Ayo kita turun,”
“Nee~~”

Aku segera turun setelah Onew membukakan pintu dan kembali mengulurkan tangannya. Aku dan Onew berjalan beriringan memasuki cafe itu. Betapa kagetnya ketika masuk, beberapa orang yang sangat kenal berdiri menyambut kami. Yang paling membuat aku kaget, backsound di cafe ini adalah Just The Way You Are, menambah romantis suasana.

“Selamat datang, pengantin baru,” suara Yesung Oppa menyambut kami.
Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku karena bertemu dengan dirinya. Namun, aku hanya tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
“Chara,” bisik suamiku. “Kau boleh memeluknya. Karena itu salah satu hadiahku untukmu,”
“Gomawo,” kataku lalu memeluk Yesung Oppa. “Yesung ssi, kamsahamnida,”
“Nee~~ silakan,” katanya lalu menunjukkan meja yang sudah disiapkan.

Aku terbelalak melihat meja itu. Meja itu…sangat romantis. Aku tersenyum ketika Onew menarik sebuah kursi dan memintaku duduk.
“Kamsahamnida,”
“Nee~~” kata Onew lalu duduk di hadapanku. “This is for us, our 100 days anniversary,”
“Kamsahamnida. Very very gamsahae,”
“Well…silakan menikmati suasananya ya sementara itu para pekerjaku akan menyiapkan menu buat kalian berdua,”
“Hyung, terima kasih,”
“Yesung ssi…”
“Kau bisa memanggilku dengan Yesung Oppa,”
“Yesung Oppa, very very gamsahae,”

Aku saat ini tidak bisa menghilangkan senyumku. Malam ini aku benar-benar bahagia. Kencan ini kencan yang paling romantis.

“Chara… buatmu,” kata suamiku mengulurkan kotak berukuran sedang berpita pink magenta padaku.
“Terima kasih,” kataku lalu segera membuka kotak itu. “Ahhh…T-shirt Happy holiday Onew.. Wahhh..skin malgeum…Mwo?? Apa ini? Project 100 hari Charamore?”
“Hehe..Charamore itu sebutan buat kita, chara. Sama seperti Khuntoria, Yongseo, Teukso, Adam,”
“Hahh…” kataku lalu membuka kumpulan foto kami berdua. Aku benar-benar tidak percaya Onew menuliskan detail semua peristiwa yang telah kami alami selama 100 hari. Aku menitikkan air mata kebahagiaan karena bisa mengalami ini semua.
“Amor..Aku benar-benar mengucapkan terima kasih padamu. I love you,” kataku lalu menyusut air mataku. “Aku benar-benar bahagia malam ini,”

Onew berdiri lalu berlutut di hadapanku dan menatapku mesra.
“Ini belum seberapa, chara. Aku masih punya hadiah lainnya,” katanya lalu berdiri dan berjalan menuju piano.
Tiba-tiba saja lampu sorot segera menyorot dirinya. Aku terpukau melihat dirinya diterangi lampu tersebut. Menyala seperti bintang. Beberapa saat kemudian, mengalunlah irama piano lagu kesukaanku dan suara Onew terdengar menyanyikannya. Kembali air mataku menitik menyaksikan penampilannya di sana.

When I see your face, there’s not a thing that I would change
Cause you’re amazing, just the way you are
And when you smile, the whole world stops and stares for a while
Because girl you’re amazing, just the way you are
The way you are, the way you are
Girl you’re amazing, just the way you are






“Amor…” kataku ketika berada di mobil. “Aku benar-benar bahagia malam ini. Terima kasih banyak, sayangku,”
“Aku jadi malu. Aku juga bahagia malam ini,” kata Onew lalu melihat ke dashboard mobil. “Apa ini?”
Aku melihat ke arah card yang berpitakan pink lalu menatapnya dengan senyum.
Card-mission,” kata kami bareng.
**

Sementara itu, Minhyuk dan Seulong menggigit bantal kursi studio MBC.
“Mukyaaaa~~~~” teriak Minhyuk histeris. “Tidaaaakkk…romantis sekali mereka.. PD-nim…bisakah aku menggantikan Onew???”
“Yaa~~yaa~~Minhyuk…kalau boleh, aku juga pengen. Mereka romantis sekali,” kata Seulong.
“Hyung, besok kita akan menyamar jadi Onew, bagaimana?”
“Mwoo??”
**

“Huwaaaa~~” kataku histeris. “Apakah ini hadiah dari PD-nim buat kita, amor?”
“Aku juga tidak tau. Kita tanya saja dengan ahjumma yang menelepon kita tadi,”
“Nee~~”

Aku dan Onew turun dari mobil dan bergegas menuju rumah itu. Rumah yang berlantai 2 ini bernuansa putih dan creme. Minimalis sekali. Rumah ini juga memiliki garasi. Teras rumah menambah indah yang terletak di atas garasi yang bisa diakses dari lantai 2.

Perlahan kami mengetuk pintu rumah dan menunggu dengan sabar di luar. Beberapa saat kemudian, seorang ahjusshi yang kemungkinan suami si ahjumma membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Kami ternganga melihat dalam rumah. Benar-benar mewah. Interior dan furniture yang ada sangat sepadan. Aku tersenyum ketika mendapati dapur yang terletak di samping ruang keluarga.

“Wahh…” kataku lalu naik ke lantai 2. “Amooorrr…indah sekali,”
Ternyata lantai 2 ini hanya berisi 1 kamar tidur yang dilengkapi dengan tivi plasma yang tertempel di dinding dan 2 jendela. Jendela 1 akses ke balkon dan jendela yang lain akses ke teras.
“Charaaa…” suara suamiku terdengar. “Kamu di mana?”
“Aku di teras,” kataku menghirup udara dalam-dalam.
“Chara…”
Aku menoleh ke arahnya dan menarik dirinya lalu segera memeluknya dari belakang. Romantis sekali. Kami bisa menikmati bintang dari sini.

“Tara ssi, Onew ssi…” suara Ahjusshi terdengar dari belakang.
Aku segera melepas pelukanku dan tersenyum.
“Selamat atas pernikahan kalian. Rumah ini menjadi rumah kalian. Kalian berdua bisa menghubungi kami kalau ada sesuatu yang dibutuhkan,”
“Nee~~” kataku lalu turun ke bawah karena Ahjusshi tersebut mau pulang. “Ahjusshi…kamsahamnida,”
“Nee~~”

“Charaa…” kata Onew dari belakang lalu duduk di sofa. “Ayo sini,”
Aku mengangguk lalu duduk di sebelahnya dan merebahkan kepalaku ke pundaknya.
“Besok, kita akan berbelanja untuk melengkapi rumah ini. Ottae?”
“Besok? Aku tidak bisa, amor, karena besok aku ada jadwal di Cube untuk berdiskusi mengenai pemotretan,”
“Begitu? Kira-kira jam berapa selesainya?”
“Aku tidak bisa memastikan. Nanti aku akan meneleponmu kalau sudah selesai,”
“Aku mengerti,”
**

[FanFict] Hangeng, I Still Love You

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator

::::::::::
Tittle: Hangeng, i still love you
Cast: Vanie Lee, Raissa
Disclaimer: Vanie Lee and Raisa belong to cloudyeppeo Ent.

::::::::::

Namaku Vanie Lee. Aku seorang ELF sejak pertengahan tahun 2008, namun aku mulai menyukainya sejak tahun 2009. Aku terpaksa “meninggalkan” Kim Jongwoon a.k.a Yesung demi dirinya. Ya, aku menyukainya, member Super Junior yang satu-satunya dari luar negeri, Hangeng.

Aku selalu menjawab “Hangeng itu beda dari artis Cina lainnya” ketika ditanya Kenapa aku bisa menyukai seorang Hangeng padahal aku sangat membenci artis-artis dari Cina.

Virus kpop mulai menyerangku dan tentu saja aku menyebarkan virus-virus kpop ke orang-orang terdekatku termasuk Raissa. Rayuan, tipu daya, usaha, yang aku keluarkan akhirnya berhasil menjadikan Raissa seorang ELF dan Siwon Lover.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun berlalu, rasaku ke Hangeng terus bertambah. Music Video plus performance Super Junior semuanya aku punya. Point of view di video-video Super Junior yang aku punya hanyalah Hangeng.

Aku bangga menjadi “aneh” dan “autis” sejak mengenal Hangeng. Celetukan demi celetukan yang mengomporiku untuk meninggalkan dunia kpop masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Orang-orang yang menjelekkan dunia kpop hanyalah sekelompok orang yang melihat mereka dari cover bukan dari perjuangan yang mereka rintis sehingga sukses dan dikenal dunia.

Hidup itu merupakan sebuah roda dimana rasa suka yang tebal bisa menipis dimakan oleh waktu. Itulah yang aku rasakan. Kesibukan kuliah, stress akibat tugas akhir menjadi penyebab aku sedikit meninggalkan kpop, meskipun aku selalu mendengarkan lagu-lagu Korea ketika mengerjakan tugas akhir.

Berita menggemparkan mulai menggoyahkan pertahananku sebagai ELF di penghujung tahun 2009, tepatnya tanggal 21 Desember 2009. Baru saja aku menyukai Hangeng, dia harus “berhenti” dari Super Junior. Pertanyaan besar dalam hatiku, apakah aku harus berhenti jadi ELF karena Hangeng sudah tidak ada di Suju? Jujur, aku sedikit egois dengan berita-berita mengenai Hangeng, aku tutup mata dengan usaha ELF seluruh dunia untuk mengembalikan Hangeng ke Suju, karena aku punya hidup sendiri, i’ve my own real life. Egois memang pikiranku saat itu. Tugas akhirlah yang menyebabkan aku seperti itu.

I don’t care about Hangeng, karena dia tidak bisa meluluskanku tepat waktu,” kataku ketika beberapa temanku membicarakan soal Hangeng yang sedang berjuang di pengadilan.

Sadis? Memang. Jahat? Pasti. Seandainya perkataanku didengar olehnya, dia pasti akan sedih dan bertambah bebannya.

Namun, aku tetap tidak bisa melupakannya begitu saja. Aku terus berdoa agar Hangeng mendapat pilihan yang paling baik.

“Aku bahagia apapun yang dipilihnya meskipun itu yang paling buruk bagiku,” tulisku di twitter.

Bingo, dia memilih balik ke negaranya daripada Super Junior. Ya, itulah pilihannya dan aku harus terima. Aku terus suka Super Junior meskipun tanpa Hangeng di dalamnya. Aku terus menganggap Super Junior itu berjumlah 13+2 termasuk Henry dan Zhoumi.

Januari 2010, sidang tertutup tugas akhirku berjalan dengan sukses dan puji Tuhan aku bisa wisuda di bulan Maret 2010. Aku mencantumkan namanya “Joshua Tan dan Jerome Kim” di point terakhir dari Bab Kata Pengantar buku tugas akhirku.

Tahun ini, 2011, tidak terasa sudah 2 tahun Hangeng berjalan sendiri tanpa Super Junior dan hasil karyanya mampu bersaing di kancah entertainment China bahkan dunia. Aku merasa bersyukur bahwa dirinya baik-baik saja meskipun ketika Super Show aku selalu berharap Hangeng berada di satu stage dengan Super Junior.

Hari ini, 24 September 2011, bersama Raissa aku mengalami kejadian yang tidak akan mungkin terlupakan. Berdesak-desakan di salah satu venue promosi filmnya bersama para fans lainnya demi Hangeng. Aku sudah berada di venue sekitar jam 10.30AM. Aku dan Raissa sempat berfoto di poster film yang tersedia. Kami juga tidak lupa mengisi perut sebelum “bertanding” dengan fans lainnya.

Berkeringat, terdesak, terdorong, bahkan terjatuh yang kami alami di venue tersebut tidak mengurungkan niat kami berdua untuk meninggalkan tempat itu.

“Cha, aku padamu,” kataku pada Raissa memohon untuk stand-by hapenya merekam Hangeng mulai dari pintu masuk sampai ke stage.
“Sipp.. Beres,” kata Raissa dengan senyum manisnya.

Namun, kesempatan yang hanya datang sekali itu akhirnya “has been cancelled” dikarenakan beberapa faktor. Kecewa? Jelas aku kecewa. Menangis? Tidak, aku tidak menangis. Ya, hari ini, aku tidak berhasil melihat Hangeng secara langsung, momen yang aku tunggu-tunggu lenyap diterpa angin begitu saja. Namun, sedikit angin bahagia menerpaku, Raissa berhasil merekam Hangeng masuk menuju stage sebelum dia balik arah menuju mobilnya. Puas banget aku melihat wajah tampannya meskipun hanya sebentar.

Kini, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar memberikanku kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengan dirinya dan mengatakan HANGENG, I STILL LOVE YOU. Ya, aku ingin sekali mengatakan itu pada dirinya. Cinta seorang fans akan memberikan kekuatan padanya untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi.

Hangeng, i still love you,” bisikku pada angin.

::::FIN::::

P.S: ini curahan hati sang Cloudyeppeo, benar adanya. Untuk nama Hangeng dan Yesung yang aku cantumkan di buku tugas akhirku, nanti aku kasih screen-shotnya.

Salam, cloudyeppeo
^.^v

[FanFict] Born to be Yours

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

Title: Born to be Yours
Cast: TeenTop, Jung Tara
Cameo: Kim Donghyun, Lee Sungmin, ,Park Eun Min, Park Hae Mi
Disclaimer: Lee Sungmin belong to SM Ent., Kim Donghyun belong to Starship Ent., TeenTop belong to TOP Media., Jung Tara, Park Hae Mi, Park Eun Min belong to cloudyeppeo Ent.,
::::::::::

Aku sedang menikmati makan malam berdua dengan kekasihku ketika mendapat telpon dari Min Soo Oppa. Aku segera menjawab telepon darinya setelah mendapat persetujuan dari kekasihku.

“Nee~ Oppa.. Stress?? Stress kenapa, Oppa? Aku?? Lagi makan malam dengan Donghyun..Ohh.. baiklah, aku akan meneleponmu kembali, Oppa.. Fighting..”

Aku meletakkan ponselku di atas meja lalu menatap kekasihku mesra. Donghyun membalas tatapanku dan memberikan seulas senyum yang sangat manis. Malam ini aku benar-benar sangat bahagia. Aku merasakan kalau malam ini predikat “Wanita paling bahagia” harus jatuh ke tanganku.

“Sayang, hari ini aku sudah mengikuti audisi tahap pertama di Starship,” katanya lagi. “Doakan aku agar berhasil masuk dan menjadi salah satu member Boyfriend,”
“Tentu saja, Oppa-ku sayang..” kataku lalu mengenggam tangannya erat. “Aku akan selalu mendukungmu,”
I really love you, honey,” kata kekasihku lalu mengecup tanganku mesra. “Ouw ya, ada apa dengan Min Soo, sayang?”
Aku menggeleng lalu tersenyum. “Aku akan menanyakan lebih lanjut nanti setelah pulang dari sini, Oppa,”
“Baiklah, aku akan segera mengantarkanmu pulang setelah dari sini,”
“Oppa…”
“Tara sayangku, Min Soo itu satu-satunya saudara yang kau punya di sini. Aku mengerti akan hal itu,”
“Terima kasih, Oppa,”




Aku segera menghidupkan laptopku dan menyambungkannya dengan koneksi internet. Aku mengklik logo Skype dan mengetik user serta passwordnya. Mataku bergerilya mencari nama Bang Min Soo di kontak. Aku tersenyum dan waving ketika wajah kusutnya muncul di layar.
“Oppa…”
**

Kehebohan terjadi di agensi Teentop. Beberapa staff terlihat kewalahan meladeni pertanyaan wartawan. Managemen Teentop duduk tidak berdaya di sofa. Rambut mereka awut-awutan dan wajah letih serta stress tampak.

CAP, leader dari Teentop, hanya bisa menatap 2 tersangka perkelahian dengan kosong. Cowok tampan yang mendapat posisi rapper itu tidak tau harus melakukan apa untuk menyelesaikan masalah mereka.

“Yaa~~ Chunji, Niel, apa-apaan kalian ini, ohng?” akhirnya CAP bersuara lalu memandang 2 cowok berambut merah dan keriting itu tajam. “Kalian mau jadi pahlawan, ohng?”
Mata Chunji menyirat kemarahan tingkat dewa. Dadanya naik turun tanda emosi masih menguasainya.
“Aku akan keluar dari TeenTop,” suara Chunji terdengar.

Semua yang berada di ruangan itu segera memandang ke arahnya.

“Yaa~~ Lee Chan Hee…TeenTop akan comeback stage dan kau mengatakan ini? Apakah kau sadar mengatakan ini, ohng?” maki sang manajer.
“Hyung, ini kedua kalinya kekasihku direbut…ahh..bukan..kedua kalinya aku dipermainkan.. Wanita yang aku cintai itu…berpacaran ama sahabatku sendiri… Apakah kalian tidak bisa merasakan apa yang aku rasa, ohng? Aku sudah memaafkan L.joe yang akhirnya bersama Hae Mi, Hyung… Kini, Eun Min pun meninggalkanku demi Niel? What the hell,”

“Chunji Hyung…” suara Niel pelan lalu menatap ke arah cowok yang duduk di sebelahnya dengan mata sendu. “Aku tidak tau kalau Eun Min itu…milikmu…”
“Tskk…aku tidak perlu mendengar suaramu, Niel..Ambil saja wanita itu, aku tidak butuh,” kata Chunji lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. “Semoga TeenTop makin sukses tanpa aku di sini,”

“Yaa~~ Chunji…” teriak CAP lalu menarik tangannya dan segera menamparnya. “Sebaiknya kau dinginkan dulu kepalamu,”
Cowok tampan berambut merah itu mengusap pipinya yang panas lalu menatap tajam ke arah leader dan segera berlalu dari hadapannya.
**

Aku segera menepikan mobil ketika melihat orang tergeletak di pedestrian yang tidak jauh dari apartmentku. Aku keluar dari mobil dan bergegas menuju tempatnya. Mataku terbelalak ketika darah tercecer di sekitarnya. Hidung, mulut, dan telinga orang ini mengeluarkan darah. Dadanya naik turun karena kesusahan bernafas.

“Jebaaalll…” katanya pelan lalu tangannya mencengkram tanganku. “Jebal, help me,”
Aku mengangguk dan dengan sekuat tenaga mengangkat tubuhnya dan memanggul tasnya lalu membimbingnya menuju mobilku. Aku melarikan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju Noel Hospital.




“Taraaaaa…” dokter Sungmin menyambutku dan menginstruksikan perawatnya untuk membuka pintu belakang mobilku.
Para perawat itu sungguh terampil nan cekatan mengeluarkan cowok itu dari mobil dan meletakkannya di atas brangkar dan segera membawanya masuk ke ruang ICU.

Aku berjalan mengikuti rombongan itu dengan linglung. Pikiranku kosong. Aku masuk ke ruangan dokter Sungmin dan duduk di kursi.

“Tara, apa yang terjadi?” tanya dokter tampan itu lalu mengulurkan botol minum. “Minumlah…kau sangat shock sekali,”
“Apakah dia akan meninggal?” tanyaku dengan mata berair.
“Aku belum bisa memastikan, sayang. Kita akan segera tau jawabannya setelah pihak ICU memeriksa keadaan korban itu. Apakah kau kenal dengannya?”

Aku menggeleng lalu menyerahkan tas yang sedari tadi aku bawa.
“Kau bisa memeriksa data yang kau butuhkan di sini,”
“Tas ini?”
“Nee~~ Tas ini milik cowok tadi,” kataku mengangguk.
“Baiklah,” kata dokter Sungmin menerima tas. “Aku akan memeriksa tas ini. Kau pulanglah. Aku akan menelepon Donghyun,”
“Gomawo,”
**

“APAAAA???” teriak beberapa orang ketika mendengar berita yang dibawa Changjo dan Ricky. “Kalian bilang Chunji tidak ada di rumahnya?”
“Nee~~ Hyung.. Saat ini, L.joe dan CAP Hyung lagi mencarinya di beberapa tempat nongkrongnya. Niel Hyung dan Eun Min Noona juga mencarinya di beberapa kenalan Chunji Hyung,” kata Ricky gusar.

“Yaa~~ Kim ssi…apa yang sedang kau lakukan, ohng? Suasana genting seperti ini kau malah sempat-sempatnya menonton berita kecelakaan,”
“Changjo, Ricky,” kata cowok yang dipanggil Kim ssi itu melambaikan tangan. “Bukankah itu…motornya Chunji?”

Changjo dan Ricky mendekati Kim ssi dan melihat tayangan tivi.
“Hyung, motor seperti itu kan banyak, bukan hanya Chunji Hyung yang punya,”
“Sudahlah,” maki sang manajer kesal lalu mematikan tivi. “Kalian bertiga duduk di sini,”
“Nee~~”



“Yaa~~ Hyung, bagaimana? Kau sudah menemukan Chunji?” suara Niel gusar ketika teleponnya tersambung. “Aku dan Eun Min belum menemukannya. Kami sekarang menuju rumah ke 15,”

Eun Min memandang kekasihnya dengan gelisah. Beberapa kali tampak tanganya mengusap-ngusap pundak kekasih untuk memberikan ketenangan. Niel memukul stir dengan kasar.
“Ini salahku…”
“Bukan…ini salah kita berdua,” ujar Eun Min pelan.



“CAP Hyung, ini cafe ke sepuluh yang kita datangi,” kata L.joe menatap CAP.
“Masuklah dan tanyakan pada pemilik cafe itu,” suara CAP lirih.
“Nee~ Hyung,” jawab L.Joe lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, sosok cowok berambut blonde itu keluar dengan wajah putus asa.
“Bagaimana?” tanya CAP segera ketika L.joe masuk ke dalam mobil.
“Dia tidak di sana,”
“Goshh…Kita harus mencarinya kemana.. AAAARRRGGGHHHH….”

TILILILIT…TILILILIT

“Hyung, ponselmu berbunyi,”
“Ohh…” kata CAP lalu mengambil ponselnya yang diletakkan di dashboard mobil. “Tara…”
**

1 bulan kemudian…
“Tara…” suara dokter Sungmin terdengar. Aku bangun dari tidur dan memandang ke arahnya. “Temui Donghyun untuk terakhir kalinya,”
“MWO?”
“Pergilah ke alamat ini, Tara,”
Aku menerima secarik kertas yang berisikan alamat dari dokter Sungmin.
“Jangan khawatir dengan Chunji, sayang, perawat di sini yang akan menjaganya,”

Aku keluar dari ruangan dan segera berlari. Aku terus berlari, berlari, dan berlari. Jantungku berdebar sangat kencang. Perasaanku tidak karuan saat ini. Air mataku luruh seirama dengan kecepatan lariku. Aku tidak memperdulikan cacian dan makian dari para pengendara maupun dari pejalan kaki yang aku tabrak. Nafasku tersengal ketika sampai tempat yang dimaksud. Aku melihat sosoknya membelakangiku. Perlahan aku berjalan ke arahnya.

“Donghyun Oppa…” kataku pelan.
Sosok itu berbalik badan dan memberikan senyum manisnya.
“Donghyun Oppa…”
“Ayo sini,” Donghyun Oppa menarik tanganku dan memintaku duduk di dekatnya. “Aku pikir, aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kali,”
Jantungku makin berdebar kencang ketika mendengar kata-kata itu.

“Tara…” suaranya mulai terdengar bergetar. “Aku rasa…kita harus mengakhiri hubungan ini, sayang,”
Air mataku jatuh dengan derasnya. Apa katanya tadi? Dia meminta kami putus?
“Oppa…kenapa?? Apakah kau marah padaku gara-gara…”
“Aku tidak marah padamu, sayang,” katanya tersenyum namun matanya berair. “Besok, aku akan ke Seoul, untuk menjalani training..Puji Tuhan, aku lulus menjadi salah satu trainee yang akan mengisi Boyfriend,”

Mataku terbelalak mendengarnya. Doaku dikabulkan Tuhan.
“Chukae, Oppa,” kataku pelan lalu berusaha tersenyum.
“Tara,” katanya lagi lalu merengkuh tubuhku. “Kalau kita dijodohkan oleh Tuhan, kita pasti akan bertemu kembali. Thanks for everything,”
Aku mengangguk dalam rengkuhannya. “Aku akan mendukungmu, Oppa.. Semoga kau sukses, Donghyun Oppa, dan jangan melupakanku meskipun kita tidak menjadi sepasang kekasih lagi,”
“Tentu saja..You’re my endless moment, honey, aku tidak akan melupakanmu,”




Aku memandang kosong ke arah Chunji yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan perban dan infus. Air mataku terus membasahi wajahku. Perlahan, aku memegang tangannya dan mengenggamnya.
“Aku berpisah dengan kekasihku karena kau, Chunji… Seharusnya aku mendampinginya tapi karena kau, dia memilih berjuang sendirian..Jadi aku mohon…. sadarlah… supaya pengorbananku tidak sia-sia,”
**

Manajemen TeenTop mendadak heboh ketika CAP mendapat telepon dari kepolisian Busan. Mereka semua terlihat tidak sabar untuk menginterogasi rapper tampan itu. CAP berbalik badan dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.

“Manajer Hyung,” suara CAP terdengar. Mereka semua menahan nafas menunggu kata demi kata yang keluar dari bibir CAP. “Chunji…ternyata mengalami kecelakaan dan sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri,”

“APAAAA???”

CAP mengangguk. “Kepolisian Busan tadi mengatakan, kejadiannya 1 bulan yang lalu…Pihak rumah sakit, kepolisian maupun orang yang menyelamatkan Chunji mengalami kesulitan karena data diri tidak ditemukan,”
“MWOO???”
“Nee~~ Titik terang terlihat ketika orang yang menyelamatkan Chunji mencari tau data dirinya dari motor yang digunakan. Perjuangan yang luar biasa…”
“Kita harus mengucapkan banyak terima kasih pada orang itu,”
“Manajer Hyung, masalahnya pihak rumah sakit tidak mau memberitahu identitas data diri penyelamat itu,”

“Baiklah kalau begitu, CAP. Kita harus mencari tahu siapa penyelamat itu supaya bisa mengucapkan terima kasih,”
“Tapi bagaimana caranya?”
“CAP Hyung,” suara Niel terdengar. “Kau kan punya sepupu yang tinggal di sana, Tara ya kalo tidak salah namanya? Kau kan bisa minta bantuan dirinya,”

“Benar..benar…” Changjo, Ricky, dan L.Joe menyetujui ide Niel.
“Tapi…sepupuku itu tidak tau kalau aku ini seorang artis. Bagaimana ini? Yang dia kenal adalah Bang Min Soo bukan CAP TeenTop,”
“Begini saja,” kata manajer TeenTop. “Aku setuju dengan ide Niel, CAP.. Kau, Ricky, dan Changjo berangkat ke Busan…tapi, kau ke sana bukan sebagai CAP tapi sebagai Min Soo. Kalian harus menyamar selama berada di Busan,”

“Kami setuju, manajer Hyung,”

“Aku tidak mengirimkan kalian berdua ke Busan, karena masalah kalian dengan Chunji masih belum selesai,” kata manajer Hyung pada L.Joe dan Niel.
“Kami mengerti, Hyung. Kami berdua tetap di Seoul untuk menyiapkan comeback stage TeenTop dan berusaha memikirkan cara untuk memperbaiki hubungan kami dengannya,”
“Baiklah. Kalian bertiga bisa berangkat besok ke Busan,”
“Nee~~,”
**

Aku terbangun dari tidurku ketika ponselku berbunyi. Aku tersenyum ketika melihat caller ID.
“Min Soo Oppa…” jeritku senang. “Mwo?? Kau dan 2 temenmu menuju Busan? Jjinjja?? Aku senang sekali, Oppa… Berapa lama kalian di Busan? Aku mengerti,,,kalian bisa menginap di apartmentku. Aku sekarang lagi di rumah sakit, oppa.. Bukan aku…temanku, Oppa… Dia menjadi korban kecelakaan.. Nee…”




Aku melambaikan tangan ketika sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Kaca mobil terbuka dan sosok Min Soo Oppa tersenyum.
“Oppa…” kataku tersenyum.
“Masuklah,” katanya lagi.
“Nee~~”

Aku sangat menikmati suasana seperti ini. Berkumpul kembali dengan sepupuku yang sudah lama tidak bertemu.
“Kami tinggal di satu apartment selama di Seoul, Tara,” kata Ricky. “CAP Hyung…ehh..maksudku Min Soo Hyung sangat baik sekali pada kami,”
“Min Soo Oppa memang baik banget,” kataku dengan senyum merekah. “Oppa…hmm.. bagaimana dengan temanmu yang menghilang itu?”
“Kami baru menerima kabar, ternyata dia mengalami kecelakaan, Tara,” jawab Changjo pelan.
“Maafkan aku,” jawabku.
“Ahh,,tidak apa-apa, Tara… Min Soo Hyung kan selalu merepotkanmu dengan curhatannya,” jawab Changjo jenaka.

Hahaha…
**

“Taraaa… Yaa~~ Jung Taraaaa…” teriak Changjo dari luar kamarku.
Aku terbangun karena mendengar suara teriakan Changjo dari luar kamar. Perlahan aku bangkit dan turun dari kasur. Aku masih setengah sadar ketika membuka pintu.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ayo cepat…” katanya lalu menarik tanganku.
“Yaa~~ Yaa~~” kataku. “Oppa, ada apa?”
“Tadi dokter Sungmin menelepon, dia mengatakan bahwa temenmu sudah sadar,”
“Mwo??? Jjinjja??” senangku. “Kita akan ke sana sekarang. Sebentar, aku mau bersihkan diri dulu,”
“Baiklah,” sahut mereka bareng.
**

CAP POV…
“Taraaa…kau dan Ricky duluan menemui dokter Sungmin dan temanmu, nanti aku dan Changjo menyusul,”
“Baiklah, Oppa. Kau bisa menelponku ataupun Ricky,”
“Nee, Hyung. Kalau gitu, kami duluan,”
“Hati-hati,”

Aku mengemudikan mobilku menuju tempat parkir yang telah disediakan rumah sakit. Aku dan Changjo segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Namun, baru beberapa langkah, kami menghentikan langkah dan bergegas balik ke mobil karena di depan pintu masuk utama telah banyak wartawan.

“Hyung, bagaimana ini?” cemas Changjo meremas rambutnya.
“Kita harus segera memberi tau Ricky,”
“Kau yang meneleponnya,” kataku lalu menunjukkan ponselku. “Manajer Hyung menelepon,”
“Baiklah,”

Aku segera menjawab telpon dari manajer Hyung. “Bagaimana bisa wartawan mengetahui tempat Chunji dirawat, Hyung? Kami bertiga sudah berada di rumah sakit, tapi aku dan Changjo masih di parkiran mobil. Ricky sudah masuk ke dalam bersama sepupuku… Kami akan berhati-hati, Hyung.. Nee…”

“Hyung, aku sudah memberitahu Ricky. Nanti mereka akan menelepon kalau sudah selesai,”
End of CAP POV…
**

“Taraaa…jebal…” kata Ricky tiba-tiba panik.
Aku melihat ke arahnya bingung. “Kenapa kau pucat seperti itu? Apakah kau sakit?”
Dia menggeleng lalu duduk di kursi. “Beberapa wartawan berkerumun di pintu masuk, bagaimana ini?”
“Haahh?? Yaa~~ apakah kau takut dengan wartawan, Ricky?” tanyaku yang dijawab anggukan. “Jangan takut, aku dan dokter Sungmin akan melindungimu. Sepertinya lama juga ya kita menunggu di sini. Apakah dia masih sibuk?”

Tok..Tok..

“Tara-ssi…” salah satu asisten dokter Sungmin masuk ke ruangan. “Mianhae, beliau masih sibuk menjawab pertanyaan wartawan berkaitan member TeenTop yang dirawat di rumah sakit ini,”
“Ohh…begitu? Baiklah.. Sampaikan padanya aku akan kembali nanti sore,”
“Akan aku sampaikan,” katanya lagi lalu melihat ke arah Ricky dengan tatapan penuh menyelidik. “Hmm..apakah kau salah satu member TeenTop?”

“Yaa~~ dia ini temannya sepupuku, mungkin hanya mirip,”
“Ahh..benar… Ada lagi yang akan kau sampaikan?”
“Begini, temanku ini memiliki fobia dengan wartawan, adakah alat agar dia tenang saat kami melewati kerumunan wartawan itu?”
“Mwo? Fobia akan wartawan? Lucu juga.. Sebentar, aku akan mencarikannya,”
“Kami akan menunggu di sini,”




“Yaa~~ apakah kalian pikir ini cukup untuk mengelabui wartawan?” tanya Ricky gusar.
“Aku rasa ini cukup. Semua perhiasan yang kau pakai sudah dilepas dan diganti dengan stetoskop dan masker,” kata asisten itu. “Lagian, wartawan tidak mungkin melihatmu karena banyak dokter yang keluar masuk, jadi mereka pasti menganggap kau salah satu dari mereka,”
“Kalau kau masih merasa cemas, tutupi kepalamu dengan topi ini,” kataku lalu menyerahkan topi yang berwarna senada dengan masker yang telah dia pakai.

Perfect,” kata Ricky tersenyum puas. “Kau bisa menelpon Oppa-mu sekarang,”
“Baiklah. Aku mengucapkan banyak terima kasih padamu, suster. Maafkan kalau temanku ini merepotkanmu,”
“Tidak apa-apa, Tara-ssi,”
“Kalau begitu, kami berdua permisi dulu ya,”
“Hati-hati,”
“Nee~~”
**

Ricky POV…
Jantungku berdebar kencang ketika melihat banyak sekali wartawan di sana. Aku melirik ke arah gadis cantik di sampingku yang sibuk dengan ponselnya. Gadis yang benar-benar cantik. Tara berpindah tempat di sebelah kiriku ketika melewati kerumunan wartawan itu.

“Tara…” suara seseorang memaksa kami harus menghentikan langkah.
Gadis cantik itu berhenti dan berbalik badan. “Ohh..dokter Sungmin, aku akan kembali nanti sore,”

Aku menganggukkan kepala ketika dokter Sungmin menyunggingkan senyum padaku.

“Baiklah..nanti aku akan meneleponmu lagi,”
“Nee.. Kami permisi dulu,”

Aku bernafas lega ketika berhasil melewati kerumunan wartawan itu. Namun, aku masih belum bisa membuka penyamaranku sebelum masuk ke dalam mobil. Aku segera masuk ke dalam mobil ketika mobil yang dikemudikan CAP Hyung berhenti di depan kami.

Aku melihat tatapan heran dari mereka berdua ketika kami masuk ke dalam mobil.
“Tara, Ricky mana? Kenapa kau malah bersama dokter ini?”

Aku dan Tara tertawa mendengar pertanyaan dari Changjo.
“Apakah kalian tidak mengenal dokter tampan ini, ohng?”
“Ini aku…Ricky,”
“Jjinjja…aku tidak mengenalmu,” kata CAP Hyung tertawa.
“Yaa~~ apakah kalian tidak tau kalau teman kalian ini fobia terhadap wartawan?”

“Tara…Tara…tentu saja Ricky fobia terhadap wartawan, dia kan Teen…”
“Teen?? Teen apa? Teenager?”
“Iyaa..teenager yang nakal tepatnya,” sahut CAP Hyung langsung dan mengedipkan mata padaku.
“Gomawo, Hyung,” kataku lalu membuka penyamaran.
End of Ricky POV…
**

“Siapa kau?” tanya Chunji galak ketika aku berada di ruangannya bersama dengan dokter Sungmin.
“Yaa~~” kesalku. “Bisakah kau beretika baik padaku? Kalau aku tidak membawamu segera ke sini, kau akan mati kehabisan darah,”
“Ohh…” katanya lagi lalu tersenyum sinis.
Ingin sekali aku menjitak kepalanya yang berambut merah itu.

“Chunji, dialah yang menyelamatkanmu,” kata dokter Sungmin.
“Arasso, dokter,” katanya lalu melihatku dari atas sampai bawah. “Kau…apakah punya maksud terselubung mendekatiku?”
“MWOO?? Maksud terselubung apa, ohng? Aku tidak mengerti akan perkataanmu,”
Aku sungguh sangat kesal dengan cowok tampan ini.

“Tara…aku perlu bicara denganmu,” kata dokter Sungmin padaku.
“Nee, dokter,”
**

Chunji POV…
Aku memandang sosok gadis cantik itu dengan senyum. Aku senyum melihat punggungnya yang hilang di telan pintu. Aku benar-benar mengucapkan syukur karena Tuhan tidak mengambil nyawaku ketika tabrakan itu terjadi. Ingatan terakhirku adalah ketika aku bertengkar dengan Niel. Ahh…aku benar-benar egois.

“Auchh…” kataku meringis kesakitan ketika mencoba menggerakkan kakiku. “Suster, apakah kakiku patah?”
“Tidak, hanya ada beberapa yang retak, namun sudah dioperasi. Kau akan di CT-scan setelah dokter Sungmin dan pacarmu, Tara, kembali ke ruangan. Selain itu, kau juga akan diterapi sebelum diperbolehkan pulang,”

“Suster, apa katamu tadi? Pacar? Gadis itu?”
“Nee~~ Chunji-ssi..kau sangat beruntung memiliki pacar seperti dirinya. Dia terus menunggumu di sini sejak kau masuk, kira-kira 1.5 bulan yang lalu. Setiap malam dia selalu tidur di sini. Aku benar-benar iri melihatmu,”

Apa katanya tadi? Gadis yang tidak aku kenal itu selalu menungguku di sini. Kenapa dia melakukan itu.

“Yaa~~” teriakku tidak sopan ketika gadis yang dimaksud suster masuk ke ruanganku. “Terima kasih,”
“Tara ssi, Chunji ssi, saya permisi dulu,”
“Nee, suster,” jawabku lalu menatapnya tajam. “Bicaralah yang sejujurnya,”
“Apa yang ingin kau dengar dariku, Chunji?”
“Semuanya,”
“Baiklah…”

Aku mendengar dengan seksama setiap kata yang diucapkan olehnya termasuk dia diputuskan pacarnya karena aku. Dia lebih memilih menungguiku daripada menemani pacarnya makan malam. Rasa bahagia masuk ke hati dan perasaanku mendengarnya.

“Sepertinya tugasku sudah selesai, Chunji ssi,” katanya mengagetkanku. “Selama terapi, kau akan ditemani oleh agensimu, TOP Media,”
“Tidak…aku tidak mau terapi kalau bukan kau yang menemaniku,”
“Mwo?? Yaa~~ kau akan dipindahkan ke rumah sakit Seoul, supaya penanganannya mudah dan cepat,”
“Tidak..Aku tidak mau. Kalau aku pindah ke rumah sakit Seoul, kau juga harus ikut,” kerasku.
“MWO??”
“Apa aku kurang jelas menanggapinya? Aku tidak mau terapi kalau bukan kau yang menemaniku. ARASSO??”
End of Chunji POV…
**

CAP POV…
“Hyung, kenapa Tara masih belum kembali?” cemas Changjo bolak balik seperti setrikaan.
“Terakhir dia menelponku, dia lagi di rumah sakit,”
“Bagaimana kalau kita susul saja ke sana?”
“Aku setuju dengan Ricky, Hyung,”
“Baiklah, kita sekarang ke sana,”




Aku, Changjo, dan Ricky bergegas menuju kamar temannya yang dirawat.
“Hyung, kita sudah bolak balik sampai 5 kali, apakah kau tidak tau kamarnya yang mana?” gerutu Changjo lalu berhenti. “Kau baca dulu sms Tara,”
“Baiklah,” kataku lalu membaca sms dari sepupuku. “Lantai 5, VVIP 3,”
“Hyuuunggg…sekarang ini kita berada di lantai 3. Neol jjinjja…” gerutu Ricky.
“Mianhae…Kalau begitu, kita naik lift saja,” usulku.
“Kami akan membunuhmu kalau kau ingin naik tangga,” sewot Changjo dan Ricky.

Beberapa menit kemudian kami bertiga sampai di lantai 5. Aku segera bertanya pada perawat agar tidak repot mencari mana kamarnya.
“Ohh..VVIP 3?”
“Nee~~”

Kami mengangguk ketika mendapat penjelasan dari suster penjaga itu. Kami segera mengucapkan terima kasih lalu berlalu dari hadapannya.

“Itu VVIP 3,” senangku.
Perlahan aku membuka pintu kamar dan berjalan masuk. Mataku terbelalak melihat sosok yang sedang menatapku.
“Chunji…”
CAP POV…
**

Chunji POV…
Mataku terbelalak melihat 3 sosok yang sangat aku kenal sedang berdiri di situ. Bagaimana mungkin mereka bertiga bisa mengetahui kamarku.

“Chunjiii…” teriak Changjo dan Ricky dengan binar mata bahagia. “Akhirnya kami menemukanmu,”
Mataku beralih pada sosok gadis yang menemaniku seharian yang tampak bingung dengan situasi ini. Ekspressi kaget terbaca dari wajah cantiknya.

“Yaa~~ Tara.. apakah kau memberi tau mengenai keadaanku pada mereka, ohng?” kataku.
“Aku?? Aku tidak tau kalau mereka mengenalmu, Chunji,”
“Jjinjja?”

“Chunji, benar apa yang dikatakan Tara, dia tidak tau mengenai Teen Top,” CAP Hyung menjawab pertanyaanku. “Aku senang sekali,”

“Maafkan aku,” kataku akhirnya. “Maafkan aku karena telah membuat kalian cemas,”
“Min Soo Oppa…”

Aku kaget mendengar gadis itu memanggil CAP Hyung dengan Min Soo Oppa. Rasa cemburu segera mengaliri perasaanku. Kembali perasaan takut itu muncul, takut kalau CAP Hyung akan mengambil Tara dari sisiku. Mataku mengilat marah ketika CAP Hyung menatap Tara dengan mesra.

“Hyung,” kataku dingin. “Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
“Mwo?”
“Ingat itu,”
End of Chunji POV…
**

“Astagaaaa…” kataku setelah Min Soo Oppa menjelaskan siapa mereka sebenarnya. “Pantas saja Ricky fobia akan wartawan,”

“Maafkan aku, sayang, karena tidak pernah memberitahumu mengenai pekerjaanku yang sebenarnya,” kata Min Soo Oppa mengatupkan tangan.
“Tidak apa-apa, Oppaku sayang,” kataku tersenyum lalu melihat ke arah Chunji yang sedari tadi berwajah masam memandang kami berdua. “Chunji, kenapa dengan wajahmu?”

“Aku? Tidak apa-apa, Tara. Hyung, ingat, aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
“Yaa~~ aku sama sekali tidak meng..er..” kata Min Soo Oppa menggantung. “Ahh..Arasso..”

“Tara, keputusan ada di tanganmu,” kata Chunji tiba-tiba. “Aku tidak akan pindah ke Seoul kalau kau tidak mau ikut,”
“Chunji, kau jangan seperti ini. Aku ini bukanlah siapa-siapa. Kebetulan saja aku lewat ketika kecelakaan itu terjadi…”
“Kau tidak mau kan pengorbananmu sia-sia?” tanyanya yang menohokku.

Aku memandang Chunji penuh selidik. Bagaimana bisa dia mengetahui kata-kata itu. Kata-kata yang aku ucapkan sewaktu hubunganku dengan Donghyun Oppa putus.

“Kau tidak mau kan, Tara?” tanyanya lagi.
“Kau…”
“Aku mendengar semuanya…Kau menangis, kau mengenggam tanganku, dan saat air matamu jatuh ke tanganku..aku mengetahui semuanya, Tara,”

“Kau..menangis? Kenapa?”
“Ahh..itu…Oppa…” kataku lagi dengan senyum. “Donghyun Oppa meminta putus dariku karena dia akan menjalani training di Starship,”
“Apa bukan karena aku?” goda Chunji dengan senyum.
“Yaa~~ Chunji..Neol jjinjja…” makiku lalu mengetok kepalanya. “Pede sekali,”
“Aku memang pede, Tara. Aku senang kau berusaha belajar untuk mengenali diriku secara perlahan,”

“HAA???”
**

Di sinilah aku berada sekarang, TOP Media. Aku memutuskan untuk ikut pindah ke Seoul demi seorang cowok bandel bernama Chunji. Aku hanya bisa menganggukkan kepala ketika manajer Teen Top memperkenalkan seluruh staff manajemen Teen Top padaku.

“Teen Top itu terdiri dari 6 cowok tampan namun sedikit agak nakal. Selama di Busan, kau sudah mengenal 4 dari mereka,” kata manajer itu lagi. “Niel dan L.Joe, mereka juga tergabung dalam Teen Top.

“Annyeonghaseyo,” kata menganggukkan kepala lalu tersenyum. “Jung Tara imnida. Bangaseupnida,”
“Senang bertemu denganmu, Tara. Niel imnida,”
“L.Joe imnida,”
“Kami mengucapkan banyak terima kasih karena kau menemani Chunji Hyung selama di Busan,”

Aku hanya tersipu malu mendnegar perkataan mereka.
“Aku pasti akan merepotkan kalian karena ikut ke Seoul,”
“Tidak, Tara,” kata manajer mereka. “Manajemen kami akan kalang kabut kalau kau tidak mengikuti keinginan bocah tengil ini. Kau akan tinggal di apartment Teen Top untuk sementara waktu. Kami akan bilang pada wartawan maupun fans kalau kau itu sepupunya CAP,”
“Aku benar-benar minta maaf kepada TOP media,”
“Tidak, Tara…Kalau kau tidak menyelamatkan Chunji, aku tidak tau bagaimana nasib Teen Top ke depan. Kami semua sudah menganggap kau bagian dari Teen Top,”
“Kamsahamnida,”
**

“Apartment kami ini terdiri 4 kamar. Changjo dan L.Joe sekamar, Ricky dan Niel sekamar. Aku dan Chunji satu kamar sendiri..”
“Hyung, Tara sekamar denganku saja,” celetuk Chunji tiba-tiba.
“MWO?? Yaa~~” kata Min Soo Oppa mengetok kepala Chunji gemas. “Tidak bisa…”
“Hyung, Tara kan ke sini karena Chunji,” kata Niel bijak. “Jadi, alangkah baiknya kalau mereka sekamar. Bukan karena apa-apa, kalau Chunji meminta sesuatu, Tara akan cepat membantunya…”
“Kalau begitu, aku saja yang sekamar dengan Chunji,” kata Min Soo Oppa lagi.
“Hyuuunggg… Aku sekamar dengan Tara ya? Aku janji…aku tidak akan melakukan apa-apa padanya…Jebaaalll…” bujuk Chunji dengan muka memelas.

Aku tersenyum melihat perdebatan 6 orang cowok tampan itu. Min Soo Oppa menghela nafas lalu melihat ke arahku.
“Apakah kau sudah memutuskan?”
“Kalau kau mengizinkan aku sekamar dengan Chunji, tidak masalah, Oppa…”
“Deuuu… Oppa…” goda Niel dan L.Joe bareng. “Romantis sekali,”
“Hyung, ingat…Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk ketiga kalinya,”
Niel dan L.Joe langsung terdiam dan saling pandang.
“Mian,”

“Tentu saja aku ingat. Aku juga tidak mau kejadian itu terulang lagi. Kalau terulang lagi, siapa yang jadi korban selanjutnya, ohng? Babo.. Ya sudah, kalau begitu, aku mengizinkan kau sekamar dengan Tara, tapi tidak seranjang. Kita akan membeli kasur buat Tara. Ingat Chunji, kau tidak boleh seenaknya berkeliaran dengan boxer kesayanganmu. Changjo, Ricky..kalian tidak boleh keluar dari kamar dengan topless. Niel, L.Joe…Kalian berdua…kalau mau makan setelah mandi, jangan hanya memakai handuk.. Mengerti?”

Aku ternganga mendengar penjelasan dari Min Soo Oppa. Sangat menarik sepertinya kehidupan Teen Top.
“Dan kau, CAP Hyung…kalau mabuk, jangan menciumi kami sembarangan,” kata Chunji dengan jenaka.
“MWOO???” teriakku. “Oppa… neol… Aku tidak akan berdekatan denganmu kalau kau lagi mabuk,”
“Hahaha.. Tara.. Kau jangan khawatir..Paling itu sasaranku ya Chunji, Niel, dan L.Joe,”
“Yacckkkssss…”
**

Inilah yang tidak aku sukai. Aku harus berhadapan dengan wartawan. Menjawab semua pertanyaan dari mereka. Ketika aku jujur, mereka akan mempertanyakan kejujuranku. Ketika aku bohong, mereka akan memojokkanku. Serba salah jadinya. Saat ini, aku harus berhadapan dengan wartawan ketika aku menemani Chunji terapi di salah satu rumah sakit di Seoul.

“Tara ssi… Tara ssi…”
Aku hanya tersenyum menghadapi paparazzi itu.
“Teman-teman wartawan bisa mendapatkan penjelasan saat konferensi-pers yang akan dilaksanakan TOP Media nanti malam. Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan kalian sekarang,”
“Tara ssi..Chunji ssi…Apakah kalian saat ini memiliki hubungan khusus?”

Aku melihat Chunji memintaku berhenti.
“Tentu saja..Aku dan Tara memiliki hubungan khusus. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan 1.5 bulan di rumah sakit Busan sewaktu aku dirawat. Tara selalu menjagaku setiap malam. Maaf, aku harus masuk sekarang karena jadwal terapiku sudah dimulai. Permisi,”

Aku mengangguk lalu mendorong kursi roda Chunji masuk ke dalam rumah sakit. Chunji akan menggunakan kursi roda selama kakinya belum bisa digerakkan.

“Tara, maafkan aku karena kau harus terbiasa berhadapan dengan wartawan,” kata Chunji pelan.
“Tidak apa-apa, Chunji,” kataku tersenyum.

“Dokter..sangat sakit sekali,” kata Chunji tertatih berjalan saat terapi lalu terjatuh.
“Chunjii..” teriakku lalu membantunya berdiri. “Apakah kau baik-baik saja?”
“Tentu…Kau jangan khawatir,” katanya lagi lalu kembali mencoba berjalan.

Aku melihat ekspressi Chunji yang kesakitan membuatku ingin menangis seakan aku merasakan sakit yang dia rasakan.

“Dokter, apakah harus seperti ini?” tanyaku bergetar.
“Aku mengerti kekhawatiranmu, Tara-ssi. Awalnya memang seperti ini. Percayalah…Pacarmu memiliki semangat yang luar biasa,”
“Pacar?”
“Nee…Cowok tampan ini pacarmu kan?”
“Haa???”

Aku ternganga mendengar perkataan dari dokter yang menemani Chunji terapi. Pacar? Siapa? Cowok tengil berambut merah ini? Chunji?

“Tara…” suara Chunji terdengar. “Apakah kau tidak keberatan menungguku sampai jam 12?”
Aku melihat ke arah jam tangan. Jam 12, berarti masih 2 jam lagi. Aku mengangguk lalu tersenyum.
“Gomawo,”
**

L.Joe dan Niel sedang menghabiskan waktu senggangnya dengan pacar mereka di sebuah cafe dekat agensi mereka. Mereka berempat tampak menikmati meskipun beberapa fans menganggu waktu kencan mereka.
“Gomawo, Oppa…” kata beberapa fans yang dilayani untuk foto bareng dengan mereka.
“Nee…” jawab Niel tersenyum. “Kalian berhati-hati pulangnya ya,”
“Nee, Oppa..”

“Chunji sudah kembali,” suara L.Joe terdengar. “Aku senang sekali, Chunji sudah bersikap seperti biasa,”
“Nee, Oppa, aku juga mendengar berita itu dari televisi,” ujar Hae Mi lalu menatap L.Joe dengan sayang. “Apakah Chunji sudah bisa memaafkan kita?”

L.Joe dan Niel hanya menghela nafas lalu tersenyum masam.
“Dia tidak pernah membahas masalah itu lagi. Sejak dia pulang sampai sekarang, hubungan kami sudah mulai membaik, tapi aku tidak tau di dalam hatinya,”
“Oppa…” kata Eun Min lalu mengenggam tangan kekasihnya lembut. “Kita harus meminta maaf padanya,”
“Jangan sekarang. Saat ini dia disibukkan dengan jadwal terapi untuk kakinya..”
“MWO???”
“Nee.. Dia mengalami kecelakaan di Busan, satu hari setelah pertengkaranku dengannya. Aku…benar-benar merasa bersalah. Saat ini, aku hanya terus berdoa agar gadis itu tidak menyakiti Chunji,”
“Gadis itu?” bingung Hae Mi dan Eun Min bareng. “Nugu, Oppa?”

“Jung Tara…gadis cantik yang selama 1.5 bulan menemani Chunji sewaktu dirawat di Busan. Ternyata, Tara itu sepupunya CAP Hyung,” jawab Niel pelan.
“Tara? Kenapa dia bisa menemani Chunji?” penasaran Eun Min.
“Tara…gadis itu yang menyelamatkan Chunji sewaktu kecelakaan terjadi. Lokasi kejadian kecelakaan ternyata tidak jauh dari apartmentnya. Kami semua benar-benar berhutang budi pada Tara. Kalau dia…kalau dia tidak ada di sana..mungkin…mungkin Chunji sudah berada di surga sekarang,” sedih L.Joe meneteskan air mata.

“Tapi sepertinya Chunji tidak tau kalau Tara itu sepupuan dengan CAP Hyung. Matanya selalu mengilat marah ketika Tara dan CAP Hyung mesra-mesraan. Kadang, aku ingin tertawa melihat adegan mereka bertiga,” ujar Niel tertawa.

“Kami ingin sekali berkenalan dengan Tara, Oppa. Bolehkah?”
“Asal kalian tidak bertemu dengan Chunji, tidak apa-apa. Chunji kan tidak ingin kalian muncul di hadapannya,”
“Kami mengerti, Oppa,”
**

“Chunji~ahh.. Aku tidak ingin ikut ke KBS. Sudah cukup wajahku muncul saat konferensi-pers kalian. Aku tidak ingin membuat heboh di sana,”
“Kenapa, Tara?” tanya Changjo lalu menatapku.
“Aku takut, artis-artis di sana bakal menyukai aku,”
“MWO???” kata Chunji lalu menatapku dalam. “Demi Tuhan, Jung Tara, kau sungguh narsis sekali,”
“Narsis itu daya tarikku, Chunji,” kataku menjiplak kata-katanya.
“Oh goshh…” kata Changjo geleng-geleng kepala. “Kita kedatangan 1 makhluk narsis lagi. Oh my,”

“Taraaaa…” suara sang manajer terdengar. “Kau tidak keberatan kan ikut ke KBS?”
“Manajer Oppa…” kataku menatapnya. “Aku tidak mau ikut. Aku yakin, nanti pasti heboh di sana,”
“Jebaalll…”
“Tara, ayolah…” kata Min Soo Oppa membujukku.
“Baiklah…baiklah…dengan syarat, kalian harus melindungi aku,”
“Aku yang akan melindungimu,” kata Chunji menatapku.
“Kamsahamnida,”




“HAAAA??? Aku? Aku juga ikutan rehersal? AKUU???” kagetku.
“Nee…” jawab manajer oppa.
“Oppa… Aku ini bukan siapa-siapa. Fans Teen Top banyak di sana. Nanti netizen akan berkomentar yang macam-macam. Oppa.. aku ini gadis biasa,”
“Aduuhhh…bocah iniii… Mulai saat ini, kau bagian dari Teen Top. Arasso?”
Aku mengangguk pasrah lalu duduk di sebelah Chunji.
“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau ikut naik ke atas panggung, Tara?” tanya Chunji menatapku.
Aku melihat dirinya yang sudah didandani. Betapa tampannya dia. Aku melirik ke kakinya. Aku menghela nafas lalu melihatnya dan tersenyum.
“Aku takut…semua fans-mu marah gara-gara aku selalu berada di sekitarmu,” kataku pelan. “Aku…”
“Semua fans sudah menerima kamu. Mereka malah memintamu selalu berada di sekitarku, Taraku sayang,”
“Chunji…” kataku pelan. “Apakah nanti…ketika kakimu sudah sembuh dan tidak butuh bantuanku lagi untuk berjalan, apakah kau akan melupakanku?”
“Tidak…aku tidak akan melupakanmu. Kalau itu terjadi, lebih baik aku tidak usah sembuh saja,”
“Andwae..andwae.. Maafkan pertanyaan bodohku itu. Fighting untuk comeback stage-nya ya,”
**

Donghyun POV…
Aku tampak terkejut melihat sosok gadis yang kini berada di hadapanku. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih saat ini. Gadis itu…gadis yang selama ini selalu berada di pikiranku muncul dengan seorang pria tampan yang merupakan salah satu member Teen Top sunbaenim. Aku tersenyum ketika gadis itu menyunggingkan senyumnya.

“Donghyun Oppa…astagaaa.. kau tampak tampan sekali,” katanya memujiku lalu berjalan mendekatiku dan tanpa pikir panjang dia memelukku. “Aku kangen sekali padamu, Oppa,”
“Kenapa kau bisa berada di sini?” tanyaku.
“Karena dia, Oppa,” jawabnya lalu kembali ke sebelah cowok tampan itu.

Aku menganggukkan kepala ketika cowok berambut merah itu menganggukkan kepala.
“Jadi kau yang bernama Donghyun Oppa?” kata cowok tampan itu. “Akhirnya aku bisa melihatmu juga,”
Aku tertawa mendengar perkataannya dan tersenyum. “Namaku bukan Donghyun Oppa, namaku Kim Donghyun,”

“Donghyun Hyung…sebentar lagi giliran kita yang perform,” kata Minwoo mengingatkanku.
“Oh..iyaa…” kataku mengangguk. Mataku beralih pada mereka berdua dan berjalan mendekati cowok tampan itu lalu membisikkan sesuatu. “Aku titip Tara padamu. Jangan buat dia menangis lagi,”

“Nee~~ Percayalah padaku,”
“Tara, aku tidak bisa berlama-lama, kalau ada kesempatan, kita ketemuan lagi ya,”
“Oke, oppa.. Fighting…”
End of Donghyun POV…
**

“Min Soo Oppa…” kataku memanggil namanya lalu duduk di sebelahnya. “Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”
“Silakan,” katanya lalu menutup majalah yang dia baca dan melihat ke arahku.
“Oppa… Apa maksud perkataan Chunji “aku tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi untuk ketiga kalinya”?”
“Haa??”

Aku melihat ekspressi kaget di wajahnya. Namun dia berusaha untuk menutupinya dengan senyum manisnya.
“Tara, beberapa bulan lalu, Chunji berkenalan dengan seorang gadis. Wajah Chunji selalu tersenyum karena gadis itu. Ternyata, Chunji hanya dipermainkan oleh gadis itu, Tara,”
“Dipermainkan?”
“Nee..Gadis itu ternyata menyukai L.Joe,”
“Haa??”
“Chunji dan L.Joe kan akrab, jadi ya gadis itu mendekati sahabatnya L.Joe. Betapa marahnya Chunji pada saat itu, namun, kemarahan itu bisa ditahannya demi Teen Top. Setelah itu, Chunji kembali dekat dengan seorang gadis. Namun, lagi-lagi Chunji menelan pil pahit Tara, gadis itu ternyata mendekati Chunji untuk bisa berdekatan dengan Niel,”
“MWO?”
“Kecelakaan kemaren itu, puncak kemarahan Chunji pada Teen Top, Tara. Satu hari sebelumnya, dia memutuskan untuk hengkang dari Teen Top karena emosi masih menguasai dirinya,”

Aku terhenyak mendengar cerita dari Min Soo Oppa mengenai Chunji. Cowok itu selalu menampilkan senyumnya di depan kami semua ternyata dia menyimpan luka yang amat dalam di hatinya.

“Tara…” kata Min Soo Oppa mengenggam tanganku. “Aku mohon padamu, jangan membuat Chunji tersakiti untuk ketiga kalinya,”
“Min Soo Oppa, apa maksudmu?” tanyaku kaget.
“Seperti yang diberitakan, kau dan Chunji memiliki hubungan khusus, jadi, aku tidak ingin melihat air mata dan luka pada diri Chunji,”

BRAAKKK…BRAAAKKK…

Aku dan Min Soo Oppa segera melihat ke arah pintu. Chunji berdiri di sana dengan mata yang mengilat marah. Changjo dan Ricky hanya bisa mematung melihat kemarahan Chunji.

“Jadi ini maksudnya, Tara,” makinya tinggi. “Kau mendekatiku karena CAP Hyung, ohng?”

Aku melepaskan genggaman tangan dan berjalan mendekatinya.
“Apa maksud perkataanmu?” kataku tenang.
“Kau…dan dia..” tunjuknya. “Kau mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan dia kan, Tara?”
“Aku??”
“Iyaa… Aku tidak habis pikir… Kau selalu mengikuti perkataan Hyung karena…karena..karena kau mencintainya,” makinya dan matanya berair. “Aku kecewa pada kau, hyung, kau selalu bilang “arasso” tapi apa…kau mengkhianatiku,”

“Ada apa ini?” tanya Niel dan L.Joe lalu masuk ke dalam. “Chunji…Hyung…Tara… Ada apa ini?”
“Diamlah kalian berdua,” bentak Chunji pada Niel dan L.Joe.

Aku benar-benar sedih mendengar perkataannya. Aku benar-benar kecewa saat ini. Air mataku menjadi saksi kekecawaanku pada Chunji. Apakah dia tidak bisa membaca semua yang aku lakukan?

“Chunji…jaga kata-katamu,”
“Ohh… kau mau membela Tara, ohng?”

Akupun menghadiahi Chunji sebuah tamparan.
“Dengar Chunji…aku tidak perlu mendekati siapapun termasuk kamu untuk seorang Min Soo Oppa..tanpamu pun, aku bisa. Kau tau, aku lebih dulu mengenal Min Soo Oppa daripada kalian. Aku memang mencintainya…aku memang mencintai Min Soo Oppa. Aku selalu mengikuti kata-katanya karena…aku ini adik sepupunya Min Soo Oppa. Hanya dia yang aku miliki di Korea, Chunji. Hanya dia, seorang Min Soo Oppa,” makiku bergetar lalu bergegas keluar.

“Tara..Tara…” Changjo menahan langkahku.
“Aku melakukan ini semua demi kau, Chunji. Akupun rela putus dari Donghyun karena kau. Aku ikut ke Seoulpun hanya karena kau. Demi kau, Lee Chanhee. Apakah kau tidak bisa membaca semuanya, ohng?”

“Tara…dinginkan kepalamu dulu,” ujar Changjo memegang lenganku.
“Lepaskan tanganmu dari lenganku, Changjo,” kataku menatap Changjo dengan mata yang basah. “Biarkan aku pergi untuk mendinginkan kepalaku,”
“Tapi kau tidak punya siapa-siapa selain kami, Tara,” kata Ricky.

“Aku kecewa padanya. Tolong sampaikan padanya, terima kasih untuk semuanya,” kataku lalu dengan pelan melepaskan tangan Changjo. “Min Soo Oppa…sampaikan terima kasihku pada Manajer Oppa, permisi,”

“Tara..Tara.. yaa~~ Jung Tara…” teriak Min Soo Oppa lalu mengejarku.
**

“Babo,” kata Niel tinggi pada Chunji yang terduduk di sofa. “Kau babo, Chunji,”
“Diamlah,” maki Chunji.
“Saat ini aku tidak akan tinggal diam, Chunji,” kata Niel lagi. “Kau meragukan ketulusan Tara? Tsk..tsk.. Apakah kau tidak bisa membaca semua ini? Dia melakukannya demi kau. Aku tau, kau masih menyimpan rasa trauma pada gadis yang mendekatimu, tapi…seorang Tara yang sama sekali tidak mengenal Teen Top? Kau juga ragu padanya, ohng? Tatapannya padamu dengan tatapannya pada CAP Hyung berbeda. Dia memang mencintai Hyung, bahkan sangat mencintai Hyung,”

“Chunji…” kata Ricky lalu duduk di sebelahnya. “Selama beberapa hari aku di Busan, aku merasakan kehangatan dan ketulusan saat dia menjagamu di rumah sakit. Dokter Sungmin mengatakan semuanya. Dia menangis saat kau masuk ICU. Dia segera menanyakan “apakah cowok itu akan meninggal”. Dia selalu bilang tidak bisa ketika sang pacar mengajaknya untuk makan malam karena kau. Kau tau…dia selalu keliling Busan untuk mencari tau mengenai keberadaan keluargamu. Betapa bodohnya kau karena curiga seperti ini,”

“Satu hal lagi…kami bisa menerima kabar dari kepolisian Busan mengenai keadaanmu karena da mencari tau data dirimu dari motor yang kau pakai. Dia mencatat nomor polisi motormu dan segera ke kepolisian Busan. Usaha itu memakan waktu 1 bulan lebih,” jawab L.Joe pelan.

“Wajar, Hyung, dia dan CAP Hyung seperti itu. Mereka bersaudara. CAP Hyung, semenjak orang tuanya meninggal, dia tinggal di keluarga Tara…” kata Changjo pelan. “Minta maaflah padanya dan CAP Hyung,”
**

“Taraaa…” suara Min Soo Oppa terdengar di belakangku. Aku berbalik badan dan melihat dirinya berkeringat karena mengejarku.
“Kenapa kau mengejarku?” kataku dingin. “Lebih baik kau urusi saja adikmu itu,”
“Karena kau yang menjadi prioritasku, Tara. Kembalilah ke dorm,”
“Aku tidak mau kembali ke sana, Oppa,” kataku pelan lalu duduk. “Aku capek seperti ini, Oppa. Aku capek. Aku mau kembali ke Busan saja,”
“Apartmentmu yang di Busan kan sudah disewakan…”
“Aku bisa tinggal di rumahnya dokter Sungmin,”
“Tidak Tara… Aku tidak akan mengizinkan kau kembali ke Busan…”
“Kau siapa yang berhak melarangku, ohng?”
“Taraaaa… Neol…Oke, aku mengerti perasaanmu yang kecewa padanya. Apakah kau mulai mencintainya?”

Aku terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Pundakku disentuh olehnya.
“Kau sudah mulai mencintainya, Tara,”
“Molla…”
“Aku percaya kau akan kembali ke dorm. Kalau kau tidak kembali, Manajer Hyung bisa membunuhku dengan kemarahannya,”
“Aratta,”
**

“Waahhhh…ternyata Jung Tara itu cantik sekali ya,” puji Hae Mi saat mereka menonton siaran ulang konferensi pers oleh TOP Media di cafe. “Pantas saja Chunji tidak ingin kehilangan dia,”
“Aku berharap, Niel tidak jatuh hati padanya,”
“Yaa~~ aku rasa Tara bukanlah gadis yang suka menggoda laki-laki. Wajahnya polos sekali,”
“Hahaha…” kata Eun Min menertawakan kebodohannya. “Chunji pasti tidak akan mengizinkan gadisnya untuk menggoda lelaki di sekitar mereka. Yaa~~ Hae Mi…bukankah gadis itu Tara?”
“Eodi?”
“Itu. Gadis yang duduk di meja nomor 4,” tunjuk Eun Min yang diikuti Hae Mi.
“Benar…Ayo kita ke sana,”
“Geundae…”
“Kalau kau tidak mau, aku saja,”
“Baiklah,”

Akhirnya 2 gadis cantik itupun berjalan menuju meja nomor 4.
“Jung Tara ssi,”
**

“Jung Tara ssi,” suara seseorang memaksaku untuk berhenti melamun. Aku tersenyum melihat 2 gadis cantik berdiri di hadapanku.
“Nee?” bingungku.
“Hmm…boleh kami bergabung denganmu?”
“Ohh…” kagetku lalu meminta mereka segera duduk. “Apakah aku kenal dengan kalian?” tanyaku. Kedua gadis yang duduk di depanku menggeleng lalu tersenyum.
“Tidak, Tara…kau tidak mengenal kami,” jawab gadis manis berkacamata. “Namaku Hae Mi, Park Hae Mi,”
“Namaku Eun Min, Tara, Park Eun Min,”
“Hae Mi..Eun Min…” kataku pelan sambil menatap mereka berdua. “Chun..ji?”
“Nee~~ Mungkin kau sudah mendengar cerita mengenai kejahatan kami padanya,” lirih Eun Min.
“Ahhh…aku sudah mengetahuinya,” jawabku.

“Kau dan Chunji?”
Akhirnya aku menjelaskan kisahku mulai dari awal sejak bertemu dengan cowok tengil itu sampai bertengkar dengannya.

“Taraaaa…” sahut Eun Min lalu tersenyum. “Itulah yang akan dilakukan Chunji kalau dia melihat gadis yang dicintai dan disayangi bermesraan dengan cowok lain apalagi sahabatnya,”
“Karena Chunji tidak tau mengenai kau dan CAP Oppa,”
“Molla,”
“Kembalilah padanya, Tara, kami tidak ingin kau menjelma seperti kami yang menyakitinya. Sudah cukup, kami berdua saja yang menyakiti Chunji…”
“Tapi Eun Min…”
“Kau mencintainya,” kata Eun Min lalu mengusap air mataku. “Buktinya ini,”
“Kau menangis karena dia, Tara. Kembalilah sebelum terlambat,”

Aku hanya menatap kedua gadis itu dengan kosong.
**

Aku mengalahkan emosiku demi Chunji. Yaa.. Aku melakukan semua ini hanya demi cowok berambut merah itu. Aku menganggukkan kepala ketika semua mata member TeenTop termasuk dirinya melihat ke arahku. Aku merasakan, tatapan mereka semua mengikutiku lalu menghembuskan nafas lega.

“Apakah kalian sudah makan?” tanyaku dingin.
“Belum, Tara,” jawab Ricky lalu berdiri. “Aku akan membantumu memasak,”
“Yaa~~ Yaa~~”
“Aku akan mendekatinya kalau kau tidak segera,” jawab Ricky lalu menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke dapur.

“Ricky…” suara Chunji terdengar. “Tolong tinggalkan kami berdua,”
“Tapi, Hyung…” kata Ricky ngotot namun menganggukkan kepala dan segera keluar dari dapur.

Aku tidak menggubris kehadirannya. Aku terus membelakangi dirinya. Aku mendengar dia menarik kursi lalu menghela nafas. Kembali aku mendengar dia menarik kursi lalu memelukku dari belakang. Aku membiarkan tubuhku dipeluk oleh dirinya.

“Kenapa?” tanyaku menghentikan kegiatanku ketika mendengar isak tangisnya.
“Aku takut kehilanganmu, Tara…Maafkan aku.. Maafkan kebodohanku,” katanya.
Aku berbalik badan dan segera memeluk dirinya lalu mengusap-ngusap punggungnya untuk memberikan ketenangan. Aku melepaskan pelukanku lalu memberikan tissue padanya dan tersenyum.
“Kau jelek kalau menangis,” kataku tersenyum.
“Tara…” katanya lalu menatapku dalam. “I was born to be yours,”
“Haa??”
“Pasca kecelakaan itu…aku seperti terlahir kembali..Tuhan “melahirkanku” lagi karena untuk berpasangan dengan salah satu malaikat-Nya,”

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku menikmati ketika tanganya menyentuh wajahku. Aku senang sekali ketika dia mengecup mesra keningku.

“Aku tidak akan menyentuh bibirmu sebelum kau resmi menjadi milikku,” katanya lagi.
Aku segera mengecup bibirnya sekilas lalu tersenyum.
“Mian, aku mencuri bibirmu, Chunji,”
“Kau…anak nakal…” kata Chunji lalu memelukku dengan erat.

“Yaa~~ Yaa~~ kalian berdua…” ujar Changjo dan Ricky bersama. “Apakah kalian tidak malu bermesraan di hadapan kami semua, ohng?”

Aku dan Chunji segera melihat ke arah pintu. Benar saja, 5 makhluk ajaib berada di sana dengan wajah yang siap menggoda.

“Nanti kita lanjutkan ya, sayangku,” kata Chunji lalu mengusir 5 makhluk ajaib itu. “Tara,,,i was born to be yours,”

::::FIN::::

[FanFict] Two is Better than One

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

This FF i dedicated for my “bestie”..
::bat in http://www.twitter.com/@wookietis as Park Eun Min::
::vemy in http://www.twitter.com/@vemysuryo as Park Hae Mi::
::::::::::

Title: Two is Better than One
Cast: Eli (Kim Kyoung Jae a.k.a Ellison Kim), Kevin, AJ, Jung Tara, Park Eun Min, Park Hae Mi
Cameo: Jung Yonghwa, Vanie Lee
Disclaimer: UKISS belong to NH Media., Jung Yonghwa belong to FNC Music., Vanie Lee, Jung Tara, Park Hae Mi, Park Eun Min belong to cloudyeppeo Ent.,
::::::::::

Backsound when you read my fanfic:
~~ Chris Brown – With You (of course Princess Velascoversion too)
~~ Britney Spears – Born to Make You Happy
~~ Tamia – Officially Missing You
~~ Boys Like Girls Ft. Taylor Swift – Two is Better than One (of course Princess Velasco version too)
::::::::::

Cloudyeppeo Cafe and Resto…
Suasana malam minggu di Cafe yang paling terkenal di seluruh Seoul, Cloudyeppeo Cafe and Resto, sungguh meriah. Sang owner, Jung Yonghwa, sedang merayakan hari ulang tahunnya. Senyum selalu mengembang di bibir seksinya. Today is his day, begitulah kira-kira.

Mata indahnya menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang sudah lama dinantinya. Sosok yang selama ini selalu menemaninya baik suka maupun duka. Ya, sosok itu merupakan tunangannya, Vanie Lee.

“Kau sungguh bahagia, Hyung,” ujar Eli, sambil memperhatikan seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.

Yonghwa memandang Eli dengan tatapan bahagia dan senyumnya makin merekah. “Dia diturunkan dari khayangan untukku, Eli. Tuhan sungguh baik padaku,”

Eli tertawa simpul dan tersenyum geli mendengar penuturan sahabatnya. “Yaa~~ Jung Yonghwa Hyung, kau benar-benar dimabuk cinta,”
“Tentu saja, Eli. Hari ini adalah hari spesialku, tapi masih ada yang kurang,”
Eli kaget mendengar penuturan Yonghwa. “Kurang?”
“Ne~ adik angkatku tidak bisa menghadiri pesta ini padahal dia sudah berada di Seoul, dasar bocah,”
“Mungkin dia mau memberikan kejutan buatmu,” kata Eli lalu menoleh ke arah Kevin. “Hyung, it’s show time,”
Yonghwa mengangguk lalu tersenyum ketika Eli meninggalkan dirinya menuju panggung.

Yonghwa merogoh sakunya ketika ponselnya bergetar. Matanya membulat ketika melihat sang caller ID. Segera sumpah serapah keluar ketika dia menjawab panggilan.

“Yaa~~ Jung Tae Ran~~ Neol.. Vanie menunggu daritadi.. Mwo??? Kau benar-benar, Jung Tae Ran… Molla.. Mian?? Ara.. Besok pagi-pagi sekali kau sudah harus berada di apartmentku.. Mengerti?”

Matanya menatap panggung ketika suara Kevin terdengar.
“Yonghwa Hyung, selamat ulang tahun.. Semoga kau dan Vanie Noona terus bersama.. this song dedicated for you, Hyung,”

“Gomawo~~” teriak Yonghwa dan Vanie bersama.

I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought
“Hey, you know, this could be something”
‘Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I’m left with nothing

Tepuk tangan bergemuruh ketika dentingan gitar dari AJ sangat manis terasa. Vocal Kevin dan Eli segera membius tamu yang datang.

So maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one
But there’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking two is better than one


**

Suara Princess Velasco memenuhi seantero ruangan kamarku. Penyanyi cewek asal Filifina ini mengaransemen ulang lagu Two is Better than One milik Boys Like Girls. Perasaanku menjadi adem dan rasa deg-deg-deg-an jantungku semakin terasa ketika pikiranku melayang pada kejadian 5 tahun yang lalu. My Precious Moment, aku menamakan moment romantis nan indah itu. Pertukaran pelajar dengan beberapa mahasiswa dari Washington D.C merupakan kejadian yang tidak akan aku lupakan.

“Hai, namaku Ellison Kim, kamu bisa memanggilku Eli,”
“Namaku Jung Tara, Eli, dan kau bisa memanggilku dengan Tara,”
“Senang bertemu denganmu, Tara,”
“Aku juga,”

Pertemuan yang sangat biasa namun menjadi luar biasa ketika virus merah jambu berperan banyak dalam pertemanan kami. Aku menyukai cowok Korea itu namun perasaan itu terus aku pendam sampai dia harus kembali ke Washington D.C setelah masa pertukaran pelajar selesai.

Farewell party memberikan aku ide untuk menyatakan perasaan pada Ellison secara tidak langsung. Aku menyetujui ketika sang ketua panitia memintaku menjadi salah satu pengisi acara.

“Tara, aku dengar dari panitia, kamu akan menyumbangkan sebuah lagu?” tanya Ellison ketika kami berdua sedang menyantap makan siang.
“Iya, semoga suaraku tidak membuat orang-orang yang mendengarnya pada hilang keseimbangan dan jatuh pingsan,”
“Hahahaha.. Kamu itu berlebihan. Suaramu itu bagus banget. Aku suka,”

Aku senyum-senyum gejeh ketika mengingat moment pesta perpisahan itu. Tanganku terulur ke sebuah buku yang tergeletak tak jauh dari lampu tidur. Perlahan aku menyandarkan tubuhku di sandaran kasur dan membuka buku itu. Buku itu merupakan sweet-routine scrapbook kami berdua.

Mataku terpaku pada lembar terakhir dari scrapbook yang aku pegang. Sebuah foto dengan judul two is better than one. Foto itu merupakan foto terakhirku berduaan dengan Ellison Kim. Mataku memanas ketika menyadari perasaanku tidak akan pernah tersampaikan padanya.

Aku mencoba mencarinya di Washington D.C dengan berbekalkan alamat yang dia berikan namun kekecawaan yang aku telan. Dia dan keluarganya sudah pindah ke Seoul. Aku terpaksa kembali ke Indonesia dengan sia-sia

Selang beberapa lama dari kejadian itu, Tuhan menjawab doaku, aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Seoul. Apakah Tuhan menginginkan aku dan Ellison bersatu? Semoga itulah rencana Tuhan untukku.
**

Seorang cowok tampan duduk melamun sambil membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya. Senyum sesekali tergambar dari bibir seksinya. Desah nafasnya terdengar ketika matanya terpaku pada foto yang terletak di lembar terakhir, foto itu merupakan last-sweet-memory dirinya dengan cewek yang sedang dipeluknya.

AJ dan Kevin memandang cowok tampan itu dengan penuh tanya. Mereka berdua perlahan berjalan ke arahnya.
“Eli, wae geurae? Apakah dikarenakan ulang tahunnya Yonghwa Hyung?

Perkataan AJ tidak digubris Eli karena dirinya sibuk berkutat dengan buku yang dipegangnya.

Two is better than one?” seru Kevin sambil memelototi buku yang dipegang Eli.
“Yaa~~” kata Eli tinggi lalu segera menutup buku tersebut namun terlambat karena AJ segera mengambil buku itu dan bergerak menjauh dari Eli.
Good Job, AJ,” seru Kevin lalu menyusul AJ.

“Ahhh~~ aku yakin sekali, kau sangat menyukai lagu yang kita bawakan di acaranya Yonghwa Hyung pasti gara-gara gadis yang sedang kau peluk kan?”

Eli mengangguk lesu dengan mata meredup sedih. “Aku kangen padanya. Seluruh memori dengannya kini bermain-main di relung hatiku,”

“Hyung, kenapa kau tidak kembali ke Indonesia, mencari dirinya?”
“Yaa~~ Kevin Woo.. neol babochorom,” kata Eli marah. “Bagaimana mungkin aku ke Indonesia, lagian kejadian terjadi 5 tahun yang lalu…”
“Tapi, Hyung…” kata Kevin pelan. “Kalau kau berjodoh dengannya, Tuhan pasti mempertemukan kalian berdua. Percayalah,”
“Seperti kata Super Junior sunbae, When I first saw you (first saw you) a miracle (a miracle), dan aku percaya itu,”
**

Jam 6 pagi, aku sudah rapi berdiri di depan pintu apartment Yonghwa Hyung. Ya, aku tidak mau memanggilnya dengan Oppa karena tidak cocok untuk dirinya. Tanganku terulur akan memencet bell ketika suaranya mengagetkanku.

“Yaa~~”
“Hyuuunggg~~” kataku berbalik badan lalu mengulurkan kotak gede padanya dan mengeluarkan jurus ampuh, senyuman. “Saengil chukahanda,”
“Masuklah,” kata Hyung mengambil kadoku dan mempersilakan aku masuk. “Kau itu, Tara, dongsaeng yang nakal, ketika Oppanya,,,”
“Ralat.. Hyung, bukan Oppa…”
“Araa..” dongkol Yonghwa Hyung meletakkan kadonya ke atas meja lalu tangannya mengambil sebuah gelas dan mengulurkannya padaku.
Aku menerima gelas itu dengan senyum. “Mianhae, Hyung.. Jeongmal mianhae,”
“Huffftttt…” kata Yonghwa Hyung lalu memandangku dengan detail. “Aku baru menyadari kalau kau itu cantik…”

Aku mendelik mendengar perkataannya. Bagaimana bisa dia baru menyadari sekarang kalau aku cantik padahal kami berdua telah hidup bersama lebih kurang 5 tahun.

“Yaa~~ Yonghwa Hyung, apakah matamu perlu dipakaikan kacamata kuda, ohng? Kenapa kau baru menyadari kalau aku ini sangat cantik sekarang?”

Hahahahha..
Aku sangat dongkol mendengar tawanya. Aku segera membuang muka ketika senyumnya tergambar di bibirnya.

“Jeongmal mianhae, dongsaeng tersayangku…” katanya lalu duduk di sebelahku. “Sebentar lagi, aku akan menikah dengan Vanie dan…”
“Kau khawatir aku akan menangis tersedu-sedu, Hyung?” tanyaku jenaka. “Itu tidak akan terjadi,”
“Tskk.. Bukan itu yang aku khawatirkan, sweetheart. Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian di Seoul,”

Aku mendelik mendengar perkataannya. Apa katanya tadi? Dia tidak tega meninggalkanku sendirian.. S.E.N.D.I.R.I.A.N?? Apa dia tidak menganggap keberadaan Eun Min dan Hae Mi di kehidupanku?

“Hyung.. Kau tidak perlu khawatir, aku masih memiliki Eun Min dan Hae Mi. Percayakan aku pada mereka,”
“Ahh.. Kalau begini, aku jadi tenang..” katanya lalu berdiri dan menuju pintu ketika bel berdentang.

“Yaa~~ Jung Tara.. Neoll~~ “teriak Vanie Eonnie kencang setelah pintu terbuka lalu setengah berlari ke arahku.
Aku segera menghindar ketika kedua tangannya akan mendarat di kedua pipiku. Namun, usahaku sia-sia. Tangannya lebih cepat dibanding usahaku. Aku hanya bisa meringis ketika pipiku menjadi korban keganasan tangan halusnya.

“Eonnie..eonnie.. mian, jeongmal mianhae…” kataku meringis.
“Tara…neol…” katanya galak lalu melepaskan tangannya dari pipiku. “Kenapa kau tidak datang tadi malam, ohng? Anak nakal,”

Aku hanya tertawa simpul melihat eonnie tersayangku sewot.

“Eonnie, kau jangan marah-marah seperti ini, nanti cepat tua,” kataku menggodanya. “Well, aku tidak bisa datang karena aku ada sedikit masalah di bandara…”
“Begitu?”
“Nee~~ masa aku bohong ama kalian? Memang, jam 6 aku sudah berada di Seoul, tapi masih di bandara, tsskk..menyebalkan sekali kalau aku mengingat hal itu,”

“Bagaimana liburanmu di Indonesia?”
“Menyenangkan, Hyung.. Aku akhirnya bisa kembali lagi ke negara itu setelah hengkang dari sana, hehe..”
“Tara..” suara Vanie Eonnie terdengar lalu menatapku. “Kau ini, mau sampai kapan kau memanggil Yonghwa dengan Hyung?”

Hahaha..

“Sampai aku siap memanggilnya dengan Oppa, Eonnie,”
**

Eli POV…
Inilah spot terbaikku. Duduk di pinggir jendela sambil menikmati secangkir kopi hangat dan sepotong roti. Aku bisa menikmati moment yang ada di balik jendela yang terpampang di hadapanku.

Pagi ini, aku sangat menikmati sebuah momen yang menurutku tidak bisa dilewatkan begitu saja. Moment yang sukses membuat mataku tidak berkedip.

Gadis itu duduk di taman kampus yang letaknya berseberangan dengan kafetaria. Sambil menghirup harumnya kopi dan lezatnya rasa dari kopi tersebut, aku menikmati setiap jengkal wajahnya. Rambut setengah ikalnya dibiarkan tergerai indah. Wajah ovalnya terlihat cantik ketika kacamata nangkring di sana. Secangkir kopi dan beberapa tumpuk buku menghiasi mejanya. Ahhh…aku ingin menjadi gadis yang duduk di hadapannya. Aku bisa menikmati senyum manisnya itu.

“Yaa~~ Yaa~~ Eli Hyung… Yaa~~” suara Kevin menganggu kegiatanku pagi ini.
Aku menoleh kesal ke arahnya dan segera mempersilakan dia duduk.

You late,” kataku sedikit tinggi.
i know, Hyung,” jawab Kevin dengan senyum. “Mian. AJ memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit,”
“Dia sakit?”
“Bukan, teman kecilnya masuk rumah sakit, Park Hae Mi…”
“Ahhh..Park Hae Mi, aku kenal sama dia. Dialah gadis pertama AJ yang dikenalkan padaku. Aku berharap, AJ dan gadis itu bersama,”
“Hyung, apakah kau menyukai gadis yang di sana itu?” kata Kevin menohokku lalu melihat ke arah gadis itu.

Aku hanya tertawa menanggapi celotehan Kevin.

“Aku tidak melarang kau menyukai gadis itu, tapi aku mohon dengan sangat jangan gadis yang duduk di hadapan gadis yang berkacamata itu, she’s taken by me, Hyung,”
“Oh my…kalian semua sudah memiliki seseorang, sedangkan aku?”
two is better than one,” kata Kevin dengan senyum. “Lupakan gadis Indonesiamu dan buka hatimu untuk gadis itu,”
“Aku butuh bantuanmu, Kevin, kenalkan aku dengan gadis berkacamata itu…”
“Hyuuungggg, terima kasih… Akhirnya aku ada alasan untuk mendekati Park Eun Min… Tapi, bagaimana dengan gadis Indonesiamu?,”
She’s my miracle, Kevin, and i know i’ll meet her then i’ll say i really love her,”
“MWO? You’re a cute playboy,”

Hahaha…
End of Eli POV…
**

Aku menopang dagu menunggu Park Eun Min di depan studionya. Aku janjian bertemu dengannya jam 10 siang, namun, sudah 1 jam lebih aku menunggunya di sini, gadis cantik itu belum menunjukkan batang hidungnya.

Aku mengeluarkan ponselku lalu segera menulis pesan singkat pada Hae Mi kalau kami berdua telat menjenguknya. Aku tersenyum ketika mendapati “It’s okai” sebagai jawaban pesanku.

“Taraaaa~~,” suara Eun Min terdengar ceria memanggil namaku.
Aku mendengus melihat ke arahnya. Mataku menyipit ketika seorang cowok yang tidak aku ketahui namanya berjalan di sebelah Eun Min. Aku membalas senyumnya ketika unknown man memberikan seulas senyum manis padaku.

“Taraaa~~ jeongmal mianhae… Aku baru bisa keluar studio sekarang,”
“Masih belum 2 jam kok aku menunggumu,” kataku jenaka menggodanya. “Aku sepertinya belum mengenal unknown man ini deh,”
“Ahh..lupaaa… Namanya Kevin, Kevin Woo, best-partner di grup vocal. Kevin, dia ini sahabatku yang paling bawel, yang suka mengomel dengan bahasa Indonesia, Jung Tara,”
“Senang berkenalan denganmu, Kevin,” kataku mengulurkan tangan.
“Aku juga, Tara, senang berkenalan denganmu,”

“Kevin, maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini, karena aku dan Tara mau menjenguk temanku yang sedang dirawat,”
“Ahh?? Baiklah kalau begitu, salam buat temanmu. Hati-hati,”
“Nee~~”
**

“AJ Hyung, scrapbook punya Eli Hyung di mana ya?” tanya Kevin disela-sela sibuk membongkar lemari buku yang ada di studio mereka.
“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan buku itu, ohng? Yaa~~ yaa~~ apa yang kau buat, Kevin? Ruangan ini jadi berantakan,” kata AJ sedikit keras.
“Tenang..aku akan mengembalikan seperti semula. Aku butuh buku itu, AJ,”
“Kenapa kau tidak menanyakan langsung padanya?”
“Benar juga,” ceria Kevin lalu mengambil ponselnya dan menekan nomor Eli. “Hyuunggg~~~”




Eli bingung melihat Kevin yang bersemangat membuka scrapbook miliknya. Eli dan AJ hanya saling pandang melihat apa yang dilakukan Kevin.
“Hyung,” kata Kevin lalu menunjuk ke salah satu foto yang ada. “Dia…”
“Haa?? Apanya yang dia?” tanya Eli bingung.
“Dia, gadis yang bersama Eun Min, yang beberapa hari lalu kau amati dari balik jendela kafetaria, Hyung,”

Mata Eli berbinar mendengar perkataan Kevin.
“Ceritakan padaku,”
**

“Apaaa??? Kau tidak bisa menemaniku menjenguk Hae Mi? Yaa~~ Park Eun Min.. Neol… Arasso.. Gwenchana.. Yee~~” kataku menyudahi perbincangan dengan Eun Min di telepon.




Aku mendorong pelan pintu ruangan Hae Mi dan segera menyunggingkan senyum ketika 2 orang cowok sudah berada di sana.

“Annyeong Hae Mi..” kataku lalu menyerahkan sebungkus buah jeruk padanya. “Mian, Eun Min tidak bisa ikut, dia masih ada jadwal latihan untuk pentas musikal pertamanya,”
“Ahh..tidak apa-apa, Tara. Ouw ya, pasti kau belum kenal dengan mereka kan?” kata Hae Mi dengan senyum yang aku jawab dengan gelengan. “Kenalkan, yang ini namanya AJ, teman kecilku, dan yang satunya, namanya Eli,”
“Eli?” kagetku. “Ohh..oppss..maaf,”
“Tidak apa-apa,” kata cowok bernama Eli itu dengan senyum.
“Nahh, cewek bawel nan cerewet ini namanya Tara, Jung Tara. Dia ini sering mengomel dengan bahasa Indonesia, mentang-mentang lama tinggal di sana,”

“Indonesia?” kata Eli tercekat. “Kau lupa padaku, Tara?”

Aku, AJ, dan Hae Mi kaget mendengar perkataannya. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini, bagaimana bisa dia melontarkan pertanyaan seperti itu.

“Tara..finally i found you,” katanya lagi lalu memelukku. “Aku menemukanmu, dear,”

Aku bengong mendapat perlakuan seperti itu. Tapi kenapa aku pernah merasakan pelukan ini. Hangat. Aku mendongak mencari matanya untuk mencari sesuatu yang aku butuhkan, penjelasan.

“Ellison?” lirihku pelan. Dia mengangguk. “ELIIIIII….”

Aku membalas pelukannya dengan erat. Tanpa terasa air mataku mengalir. Air mata bahagia. Akhirnya aku menemukan dirinya. Tuhan sangat baik padaku.

“Taraaaa…two is better than one,” kata Eli lalu mengecupku dengan lembut.

“Yaa~~yaa~~” kata Kevin lalu mengetok kepala kami berdua dengan gemas. “Kalian berdua ingin membuat kami semua iri ya?”

“Haa??” aku dan Eli melihat ke arah mereka. Eun Min dan Kevin sudah berada di ruangan Hae Mi dan melotot ke arah kami berdua.

“Kalian berdua boleh melanjutkan hal yang tadi kok..asal jangan di sini,” sungut AJ.

“Hae Mi, menurutmu two is better than one itu bagus tidak?” tanya AJ malu-malu.
“Bagus kok. Kenapa?” jawab Hae Mi bingung.
“Kalau gitu, kamu mau kan sama aku?”
“HAAA???”

Aku ngakak melihat ekspressi AJ mengutarakan perasaannya pada Hae Mi.

“Tentu saja aku mau, AJ,”
“Jeongmal?” tanya AJ yang mendapat anggukan dari Hae Mi. “Thank you,”

“Kau bagaimana, Kevin?”
two is better than one,” jawab Kevin dan Eun Min bareng.

Hahahaha…

[FanFict] Oh My Goddess

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

Title: Oh My Goddess
Cast: No Min Woo, Jo Twins, Jung Yunho, Jung Tae Ran, Park Eun Min, Park Hae Mi
rest of cast: Lee Sungmin, Victoria
Disclaimer: Minwoo, Jo Twins belong to Starship Ent., Jung Yunho, Lee Sungmin, Victoria belong to SM Ent., Vanie Lee, Park Hae Mi, Park Eun Min belong to Cloudyeppeo Ent.,
::::::::::

Wanita cantik itu menekuri beberapa lembar kertas yang memenuhi meja kerjanya. Wajahnya mendongak ketika seorang laki-laki masuk ke ruang kerjanya dan menyerahkan sebuah amplop berwarna biru.

“Kamsahamnida..” kata wanita cantik itu lalu menerima aplop biru itu dan segera membukanya”
“Lady Raina…” suara laki-laki itu terdengar. “Kabar Agassi baik-baik saja di Korea,”
“Nee~,” jawab wanita cantik itu lalu menunjukkan sebuah foto. “Foto ini menunjukkan anak gadisku dalam keadaan baik-baik saja. Aku kangen padanya,”
“Lady, yang sungguh mengejutkan, Agassi tidak memakai “Jung” di depan nama Tara..”
“Jeongmal?” tanya wanita cantik itu kaget. “Wae?”
“Kami masih belum tau alasan Agassi, Lady,”
“Baiklah..Kabarkan pada suamiku bahwa Vanie baik-baik saja di Korea,”
“Nee~~~,”
**

“Yaa~~ No Min Woo… Kenapa kau diam saja? Ayo kita lanjutkan pesta malam ini,” kata cowok tampan berambut pirang lalu mengulurkan segelas cocktail.
“Anii.. Kalian saja yang berpesta,” tolak Min Woo dengan senyum.
“Kau kenapa sich, Min Woo? Aku sengaja mengadakan pesta ini karena kau berhasil meraih juara di kompetisi dance,” sungut Hae Mi lalu duduk di depan Min Woo. “Apa kau teringat dengan wanita yang hampir kau tabrak itu? Dia sengaja menabrakkan dirinya pada mob..”

“Park Hae Mi…” suara Min Woo tinggi. “Aku tidak suka kau menuduh orang sembarangan. Kejadian itu memang salahku,”
“Geundae, Min Woo~~” kata Hae Mi lagi.
“Sudahlah..aku pulang saja..” kata Min Woo lalu berdiri dan mengambil kunci mobil miliknya. “Mood-ku hilang gara-gara kau, Hae Mi. Kalian saja yang menikmati pestanya,”

“Min Woo~~ Yaa~~ No Min Woo~~” teriak cowok tampan berambut pirang.
“Sudahlah Youngmin, biarkan Min Woo sendiri dulu.. Dia masih merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya tadi siang,”
“Tapi Eun Min..wanita itu sengaja menabrakkan dirinya pada mobil Min Woo.. Dasar orang miskin,”
“Park Hae Mi, aku tidak suka kau berbicara seperti itu. Kau kan tidak tau kejadian yang sebenarnya, sebaiknya kau jaga mulutmu,” maki Eun Min tinggi.
**

“APAAA??? Benar apa yang kau katakan, Yunho?”
“Nee~~ Appa..” sahut Yunho menunduk dan mengenggam tangan sang Ibu. “Sungmin mengatakan, tadi siang Tara diserempet sebuah mobil, tapi puji Tuhan, dia tidak apa-apa,”
“Amma harus ke Korea sekarang,”
“Lady Raina.. mohon tenangkan diri anda,” kata butler kepercayaan keluarga Jung dan menyerahkan segelas air putih.

Victoria menerima gelas itu lalu memberikannya pada mertua tersayangnya.
“Amma..minumlah dulu,”
“Gomawo, Vic,”

“Amma, Appa,” suara Victoria terdengar lembut lalu matanya memandang Lady Raina dan Lord Tony bergantian. “Aku dan Yunho Oppa yang akan ke Korea. Kebetulan Yunho Oppa harus menghandle Cloudyeppeo Coorporation,”
“Tapi…”
“Honey,” suara Lord Tony terdengar. “Percayakan Tara pada mereka berdua dan Sungmin. Lee Sungmin, anak kecil itu bisa dipercaya, toh ditangan dia, Cloudyeppeo Coorporation makin sukses,”
“Baiklah,”
**

“MWO??? Oppa dan Eonnie mau datang ke sini? Tapi buat apa, Oppa? Jangan-jangan, kau memberitahu mereka mengenai kecelakaan yang aku alami?” tanyaku yang dijawab anggukan oleh Sungmin. “Oppaaaa.. aku kan sudah bilang…”
“Tara.. lihat buku tabunganmu,” sewot Sungmin Oppa lalu memberikan buku tabunganku. “Kau sama sekali tidak melakukan penarikan,”
“Hubungannya apa, Oppa?” tanyaku bodoh.
“Sepupuku yang pintar.. Aku lama-lama capek ya bicara sama kamu,” kata Sungmin Oppa berdiri lalu menuju kulkas. “Kau itu anak konglomerat, orang tuamu punya kuasa, kenapa kau tidak tuntut saja pelakunya?”

Aku tersenyum lalu berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
“Aku baik-baik saja, Oppa. Puji Tuhan, aku tidak mengalami luka serius. Lagipula, aku tidak begitu ingat dengan wajah si pelaku,”
“Kau itu malaikat, Tara,”
**

Park Eun Hae, direktur utama dari perusahaan tekstil terkenal, Byeol Textile Company, mondar-mandir di depan kedua anak perempuannya.
“Appa..kau berjanji besok mengajak kami liburan di Jeju, kenapa tiba-tiba dibatalkan?” sungut Hae Mi.
“Besok..Vice President dari Cloudyeppeo Association tiba di Korea, jadi kita harus menyambutnya..”
“Appaaa…Memangnya siapa dia sich? Menganggu acara liburan kita saja…”

“Hae Mi, siapa dia? Dia itu pemegang saham terbesar di perusahaan kita. Kalau seandainya dia mencabut sahamnya, dalam hitungan 1 detik, kita akan bangkrut. Eun Min, berikan penjelasan padanya,”

“Tidak perlu, aku kecewa padamu, Appa,” maki Hae Mi lalu keluar dari ruang keluarga.
“Appaaa~~” kata Eun Min lembut. “Jangan kau masukkan hati, Hae Mi memang seperti itu,”
**

Min Woo POV…
Aku duduk di perapian dengan sendu. Peristiwa tadi siang masih segar dalam ingatanku. wajah gadis itu memucat karena menahan perih. Darah yang keluar dari lutut gadis itu. Senyum yang masih muncul ketika orang-orang membantunya dan “gwenchana” yang keluar dari bibirnya.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Beban bersalah itu masih menggelayut di hatiku.

“Besok aku akan ke sana lagi untuk mencari tau siapa dia,” kataku lalu berbaring di kasur. Mataku tidak bisa terpejam.

“No Min Woo,” suara Appa mengagetkanku.
Aku segera bangkit dari tidurku dan duduk. “Nee, Appa,”
“Hae Mi mengatakan padaku kalau kau menyerempet seorang wanita miskin. Benar begitu?”
“Miskin? Appa tau dari mana dia miskin? Appa jangan dengar perkataannya Hae Mi,”
“Apapunlah itu, Min Woo. Besok kau antarkan uang ini pada wanita itu dan bilang padanya supaya tidak melaporkan pada polisi. Appa ini seorang pengusaha terkenal Min Woo, kepercayaan dari Cloudyeppeo Association. Kalau mereka mendengar anakku terlibat tabrak lari, apa kata mereka?”

Aku marah mendengar perkataan Appaku. Aku membanting tas yang berisi uang itu ke lantai.
“Aku yang akan bertanggung jawab, Appa. Aku tidak membutuhkan uangmu,”
“Min Woo…berani sekali kau membantah Appa. Aku sudah kecewa karena kau lebih memilih dance daripada kantor. Jangan pula hal ini menambah kekecawaan Appa padamu,”
“Terserahlah,” makiku lalu keluar kamar.
“Min Woo~~ No Min Woo~~”
End of Min Woo POV…
**

“Aku sudah tau yang jadi korban tabrak lari Min Woo kemaren siang,” semangat Hae Mi lalu memberikan kertas yang dibawanya pada Kwangmin, sang kekasih.
Kwangmin mengambil kertas itu dan membacanya. “Tara? Bekerja di Cloud Kindergarten?”
Hae Mi mengangguk lalu senang. “Kita bisa mengancamnya agar tidak melaporkan Min Woo pada polisi. Kalau kita kasih uang pada cewek miskin itu, dia tidak akan bisa macam-macam pada kita,”

Youngmin mengambil kertas itu dari tangan Kwangmin.
“Aku rasa dia tidak seperti yang kau pikirkan Hae Mi. Aku tidak suka kau seperti ini,”
“Yaa~~ Youngmin.. kenapa siey kau itu sama seperti Eun Min. Apa kalian mengenal gadis ini? Pernah berinteraksi dengannya?”
“Park Hae Mi…Kenapa sich kau ini? Kau masih dongkol gara-gara tidak jadi liburan, ohng? Aku tidak mau kau jadi orang yang jahat dengan orang yang tidak kau kenal. Sudah jelas itu salahnya Min Woo, harusnya kita yang meminta maaf padanya..”
“Maaf katamu? Aku harus meminta maaf pada cewek miskin ini? Tsk..tskk.. tidak akan pernah aku lakukan. Arasso?” maki Hae Mi lalu pergi.

“Aku akan meminta Min Woo untuk menemui gadis ini dan meminta maaf padanya,” kata Eun Min pelan pada tunangannya, Youngmin.
“Honey..”
“Hahhh..aku berharap, sesuatu terjadi pada Hae Mi agar dia sadar kalau dunia itu berputar,”
**

Min Woo POV…
Aku mencocokkan alamat yang diberikan oleh Eun Min dengan bangunan yang berada di hadapanku.
“Benar, ini dia,” kataku lalu masuk ke dalam. Betapa terkejutnya aku karena Sungmin Hyung berada di sana. Aku mengira-ngira apa yang terjadi sekarang. Apakah Sungmin Hyung kekasih gadis yang aku tabrak. “Hyung,”
“Ahhh..kau Min Woo, ada urusan apa ke sini?” tanya Hyung bingung.
“Hmm..aku…aku..” bingungku lalu terpaku pada lowongan kerja di sini. “Ingin menanyakan lowongan kerja yang ada di sini,”
“Hahh?? Kau ingin bekerja? Apa yang akan dikatakan Appamu?”
“Mohon dirahasiakan dari Appa, Hyung,”
“Baiklah..Kebetulan kau ada di sini, aku bisa tenang menitipkan Tara padamu. Kalau dia bertanya, bilang saja aku kembali ke kantor,” kata Hyung lalu bergegas keluar.
“Hyuung..” kataku lagi. “Kau dan Tara..”
Aku melihat Sungmin Hyung tersenyum. “Tara itu..satu-satunya yang aku miliki sekarang. Aku sangat menyayanginya,”

Aku menelan ludah mendengar perkataannya. Aku tersenyum ketika Hyung melambaikan tangan. Aku duduk dengan bingung sambil memperhatikan sekeliling. Mataku tertumbuk pada sebuah lukisan yang tergantung di dinding. Mataku menyipit. Aku segera berdiri dan berjalan mendekati lukisan itu.

“Cloudyeppeo Association?” desisku pelan. “Apa hubungannya Tara dengan Cloudyeppeo Association?”

Aku berteriak ketika sebuah tangan menyentuh bahuku.

“Yaa~~” kata gadis di depanku sambil memegang sapu. “Kau siapa? Mana Sungmin Oppa?”
“Ahhh..Mian..mian.. Kenalkan namaku Min Woo.. Tadi Hyung berpesan padaku agar bilang padamu kalau dia harus kembali ke kantor,”
“Hyung?” tanyanya curiga.
“Baiklah..Apakah kau bisa menurunkan sapumu dulu?”

Gadis cantik itu tersenyum malu lalu menurunkan sapunya. Aku melirik ke arah dengkulnya. Perban.

“Apa yang kau lihat? Apakah kau baru melihat gadis cantik dengan dengkul yang diperban, ohng?” kata gadis itu lagi lalu mempersilakan aku duduk.
“Kaki..mu..”
“Ahh…ini??? Kemaren aku diserempet sewaktu aku menyeberang,”
“Apa…”
“Kenapa kau memanggil Oppa dengan Hyung? Kau kenal padanya?”
“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali,” jawabku dengan terus memandang wajahnya.
“Terus, ada urusan apa kau datang ke sini?”

Aku pun menceritakan kedatanganku ke sini dengan gembira. Aku sangat terkesima dengan gadis yang duduk di hadapanku ini. Matanya jernih. Bibirnya merekah merah. Pipinya sedikit agak chubby. Rambut burgundy sedikit ikal menghiasi kepalanya dan membingkai wajahnya. Tak lupa kacamata Levis’s Girl membingkai matanya. Aku menikmati semuanya. Oh My Goddes, you’re so beautiful.
End of Min Woo POV…
**

Butler kepercayaan keluarga Jung sedikit terburu-buru memasuki ruang kerja Lord Tony. Dia segera menganggukkan kepala ketika sang Lord memandanginya.
“Ada apa? Sepertinya kau membawa sesuatu yang harus segera di sampaikan?”
“Nee~~” jawab butler lalu memberikan sebuah map. “Saat ini Agassi bekerja di Cloud Kindergarten, Lord. Map ini berisi laporan keuangan dari rekening Agassi. Anehnya, sama sekali tidak ada penarikan di sana,”
“MWO???” kaget Lord Tony lalu segera membuka map itu dan memahami isinya. “Terus, bagaimana Tara bisa menghidupi dirinya?”

“Barusan Young Lord Sungmin menghubungi saya. Agassi memakai uang gajinya, Lord,”
“Oh My…” respon laki-laki tampan itu. “Hubungi Sungmin, aku ingin bicara padanya,”
“Nee~
**

“Min Woooo~~ Apa yang sedang kau lakukan?” kagetku karena melihat Min Woo basah karena keringat dan tissue bekas berserakan di sekitanrnya.
“Ahh..ini,” katanya lalu segera membuang tissue bekas pakai itu ke tong sampah. “Aku tadi turun naik tangga soalnya bosan,”
“Haahhh??? Bosan?? Kalau kau bosan, kau akan naik turun tangga?” tanyaku yang dijawab anggukan. “Kau ini sangat menarik, Min Woo,”
“Terima kasih,” jawabnya dengan senyum yang efeknya menggetarkan hati. “Ouw ya…tadi, seorang cewek yang bernama Victoria mencarimu di sini,”
“MWO???” kagetku.
“Nee~~ Tara, hmm…ada hubungan apa kau dengan keluarga itu?”
Aku bingung mendengar pertanyaannya.
“Victoria, Sungmin, mereka itu..keluarga Cloudyeppeo Association…”

Aku menghindar tatapan Minwoo. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak ingin orang-orang sekitarku mengetahui latar belakangku. Aku tidak ingin orang-orang menerimaku karena latar belakangku.

“Tara..”
“Hmm…aku cukup kenal dengan mereka bukan berarti aku ada hubungan yang spesial kan?”
“Lukisan ini,” kata Min Woo menunjukkan lukisan padaku. “Lukisan ini menjadi saksi kau ada hubungan yang spesial dengan mereka. Simbol Cloudyeppeo Association, hanya orang-orang yang spesial yang bisa memegangnya. Taraaa…”

“Dia adikku, No Min Woo,” suara Yunho Oppa terdengar. “Tara, lebih tepatnya Jung Tara, anak perempuan dari Raina Singhania dan Tony Jung. Adik perempuan dari Jung Yunho,”
“Oppaaaa~~” kataku lalu memeluknya. “Bogoshipo,”
“Kau cukup puaskan dengan jawabanku?” tanya Oppa lalu duduk. “Anak ini bandel sekali. Dia tidak mau menyandang “Jung” agar tidak dikuntit oleh paparazzi, Min Woo,”
**

Min Woo POV…
Aku tenganga mendengar perkataan Yunho Hyung. Siapa yang tidak mengenalnya. Jung Yunho, Vice President Cloudyeppeo Association, sangat terkenal akan keuletan kerjanya. Anak pertama dari Tony Jung dan Raina Singhania ini dipercaya untuk menghandle Cloudyeppeo Coorporation yang berada di Korea. Dan ternyata, gadis yang berhasil membuatku jatuh hati itu, adik kandungnya.

“Yaa~~ No Min Woo, kenapa kau kelihatan gelisah, ohng?” tanya Yunho Hyung menatapku.
Aku membalas perkataannya dengan seulas senyum. “Aku benar-benar kaget bisa bertemu denganmu di sini, Hyung, dan sungguh, aku shock mendengarnya. Yaa~~ Tara, kenapa kau merahasiakan semua ini?”

Gadis itu hanya tersenyum menanggapi kesewotanku dan makin mengeratkan pelukan pada Yunho Hyung. Iri sekali aku melihatnya. Ahhh!!

“Aku ingin mereka menerimaku sebagai Tara, bukan Jung Tara, Min Woo. Sekarang, setelah kau mengetahui ini, apakah kau akan tetap menerimaku sebagai Tara?”
“Tentu saja, aku menerimamu apa adanya, Tara,”
“Hei..hei.. apakah kalian berdua pacaran?” skak Yunho Hyung lalu menatap kami berdua gantian. “Pacarankah kalian?”

“Oppa… apa-apaan kau ini,”
“Hyuunggg..”

Hahahaha..
“Polos sekali muka kalian. Apakah kau tau kalau Tara ini suka sekali yang namanya martial art?”
“Nee~ Hyung. Aku sudah beberapa kali menemaninya latihan,”
“Wowww…Tara, sebaiknya kau sedikit mengubah gaya dandananmu,”
“Oppa..
“Hyung, aku suka Tara yang seperti ini,”
End of Min Woo POV…
**

“TOLOOONGGG…TOLOOOONGGG…”
Aku berhenti dan melihat sekeliling untuk mengetahui siapa yang meminta tolong. Aku melihat seorang gadis berlari ke arahku dan di belakangnya terdapat beberapa pria sedang mengejar dirinya.

“TOLOOONGGG….”
Aku menangkap gadis itu dan memintanya berdiri di belakangku.
“Cihhh…lepaskan gadis itu atau kau juga akan berurusan dengan kami, gadis manis,”
Aku melirik ke lambang yang terdapat pada seragamnya, bunga sakura.
“Harusnya aku yang bilang seperti itu,” jawabku pelan. “Kalau kalian berani melangkah sedikit saja, Sakura Export Import, akan bangkrut,”
“Heh, anak kecil, kau tau apa mengenai kami, ohng?”
“Sakura Eksport Import, berada di bawah Cloudyeppeo Association. Bagaimana jika aku memberitahu soal ini pada Vice President mereka, ohng?”
“MWO?? Cloudyeppeo Association? Neol..”
“Pilihan ada di tangan kalian. Menyerang kami atau kembali pada bos kalian,”

Aku tersenyum melihat para pria itu memilih pilihan kedua.
“Ternyata Cloudyeppeo punya kuasa juga,” kataku pelan lalu memapah gadis itu menuju kantorku. “Semua sudah baik-baik saja,”

Gadis itu hanya memandangiku dan mengikuti semua perkataanku.
“Kau itu malaikat, Tara,”
“Hah?? Hei, kau tau darimana namaku?”
“Tidaklah penting aku tau darimana namamu. Aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkanku dari orang-orang itu,”
“No problem,” kataku memberikan handuk basah padanya. “Bersihkan dulu lukamu sebelum diobati,”

Aku masuk ke dalam untuk mengambil kotak obat. Aku segera menemui gadis itu setelah menemukan obat luka dan alkohol.
“Ini sedikit agak pedih ya,” kataku sambil menuangkan alkohol pada kapas lalu mentutulkan kapas itu pada lukanya.
“Ahh..sakit..Taraaa..gomawo..”
“Namamu sapa?” tanyaku.
“Eun Min. Ouw ya, apakah kau mengenal Cloudyeppeo Association?”
AKu tertawa mendengarnya. “Aku hanya menggertak saja,”
“Jeongmal?”
“Nee~~”
**

“APAAAA?? Pelaku tabrak lari itu anaknya Presiden No, butler?” marah Lord Tony. “Apakau kau tidak berbohong?”
“Tentu saja tidak, Lord. Ini buktinya,”
Lord Tony menerima amplop itu dan dengan kasar membukanya. Matanya membesar melihat laporan itu. Tangannya mengepal lalu menggebrak meja.
“Berani sekali dia menyebut Tara dengan “wanita miskin itu”. Aku akan buat perhitungan dengannya. Siapkan tiket ke Korea dan hubungi direksi Cloudyeppeo Coorporation, aku akan ke Korea,”
“Geundae, Lord…”
“Butler, laksanakan segera perintahku,”
“Algesseumnida, Lord. permisi,”

“No Min Min, kau harus bertanggung jawab semuanya. Aku tidak akan memaafkanmu atas kejadian ini,”
**

Betapa menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama Oppa tercinta. Namun, kesenangan ini tidak berlangsung lama karena seorang gadis yang tidak dikenal mencegat kami dan segera menyiram air padaku. Aku kaget mendapat perlakuan seperti itu. Sungmin dan Yunho Oppa segera menangkap tangan gadis itu ketika ingin menamparku.

“Hehh~~lepaskan..lepaskan..Aku tidak ada urusan dengan kalian berdua,” kata gadis itu sambil berontak.
Vic Eonnie membantuku untuk mengeringkan wajahku dan mengelap bajuku.
“Gadis miskin ini sengaja menabrakkan dirinya ke mobil Min Woo..agar keluarga Min Woo memberinya uang..”

Aku kaget bukan kepalang mendengar perkataannya. Apa katanya tadi? Min Woo yang menyerempetku? Min Woo? No Min Woo?

“Gadis miskin katamu?” marah Yunho Oppa. “Kau bilang Tara ini gadis miskin? Berani sekali mulutmu berbicara seperti ini. Lancang,”

“Anda yang lancang, Tuan. Anda tidak tau siapa saya? Anda telah melakukan pelecehan seksual pada saya,”

Aku melihat mata Sungmin Oppa mengilat marah. Yunho Oppa juga, namun dirinya berusaha menahan amarah. Victoria Eonnie tersenyum lalu berjalan mendekati gadis itu.
“Anak kecil, kau tau apa akibatnya kau melakukan ini?”

“Cihh..aku tidak takut. Appaku punya kuasa. Appaku dan Appa Min Woo merupakan pengusaha terkenal di Korea. Kalian siapa, ohng? Berani sekali kalian berempat mengancamku,”

“Yaa~~ Park Hae Mi..Park Hae Mi..cepat minta maaf pada mereka,” seorang lelaki setengah tua memaksa gadis itu meminta maaf.
“Minta maaf, Appa? Kau suruh aku meminta maaf pada mereka? Yang benar saja,”
“Park Eun Hae,” suara Yunho Oppa terdengar.
“Yaa~~ anda lancang sekali memanggil Appaku dengan hanya menyebut nama,”
“PARK HAE MI, DIAMLAH KAU,”
“Kami tidak perlu permintaan maaf dari nona kecil ini, Park Eun Hae. Asistenku akan mencabut semua sahamku dari perusahaanmu,”
“Cloudyeppeo Coorporation, akan mencabut semua fasilitas yang ada di perusahaanmu, Park Eun Hae-ssi,”

“Yunho Oppa..Sungmin Oppa…”
“Tara, kau diamlah,” maki Sungmin Oppa marah. “Kelakuan anakmu cukup memalukan, Park Eun Hae,”

Laki-laki tua itu segera membungkuk memohon agar Jung Yunho dan Lee Sungmin menarik ucapannya.

“Kau seharusnya mengajarkan sopan santun pada gadis ini, Park Eun Hae. Rumah yang kau tempati sekarang, itu merupakan fasilitas dari Cloudyeppeo Coorporation. Aku harap, besok, kau dan keluargamu sudah keluar dari rumah itu. Permisi,”

“Vice President, Sungmin Sajangnim, aku mohon,”
“Tony Jung akan mengurus semuanya. Permisi,” kata Yunho Oppa lalu menyeretku dengan kasar.
**

Hae Mi POV…
Aku hanya bisa menunduk. Aku tidak sanggup menegakkan kepala untuk memandang Appa, Amma, dan Eun Min. Saat ini aku berharap untuk mati. Aku tidak sanggup menerima semua ini.

“Park Hae Mi…inikah balasan yang kau beri pada kami? INIKAH BALASANMU?” maki Appa padaku. “Amma…anakmu ini sangat keterlaluan. Aku malu punya anak seperti dia,”

Air mataku jatuh dengan deras mendengar perkataan Appa.
“Hae Mi,” suara Eun Min terdengar. “Harusnya kau bisa tertawa karena berhasil membuat keluarga kita bangkrut seketika. Bukan Tara yang wanita miskin, tapi kau, kau itu yang wanita miskin. Kau tidak tau kan kalau dialah yang menyelamatkanku dari komplotan SEI. Dia juga yang mengobatiku dan dia juga yang mengantarkanku pulang ke rumah. DIA..TARA SANG WANITA MISKIN ITU,”

“Appa..mianhae..”
“Mian katamu? MIAN, HAE Mi? Besok, Appa harus menghadiri rapat direksi CA. Tony Jung, Presiden Komisaris sekaligus ayah dari Tara datang ke Korea untuk membahas masalah ini,” kata Appa tinggi. “Kau itu begitu sombong, Hae Mi, harusnya kau itu seperti Tara. Kau tau, dia tidak mau menyandang marganya agar dia bisa diterima sebagai Tara bukan Jung Tara. Tapi kau, kau selalu mengharapkan orang-orang di sekitarmu menerimamu sebagai Park Hae Mi, anak dari Park Eun Hae,”

“Yobo.. maafkanlah Hae Mi,”
“Chagi..kau tau apa yang dia lakukan tadi, ohng? Dia memaki Vice Presiden CA, dan Presiden CC. Aku sangat malu melihatnya. Hae Mi, tanpa mereka, aku ini bukan siapa-siapa. Merekalah yang membantu Appa sampai Appa bisa mencapai kesuksesan seperti ini, tapi kau…kau merenggutnya tidak sampai 1 detik,”

Aku terus menangis mendengar semua ini. Aku terlalu egois. Aku jahat. Benar yang dikatakan Eun Min, aku ini seseorang yang jahat.

“Appa..aku akan meminta maaf pada mereka..”
“Maaf? Apakah kau tadi tidak mendengar perkataan Vice Presiden dan Sungmin Sajangnim, ohng? Mereka tidak perlu permintaan maaf darimu. Cloudyeppeo Association, tidak akan memaafkan orang yang telah menyakiti keluarga mereka. Apalagi yang kau sakiti itu anak dari Presiden Komisaris mereka, pimpinan tertinggi. Besar juga nyalimu,”

“Appa..aku akan meminta maaf pada Tara, gadis itu kan baik hati. Kita bisa memanfaatkan Tara…”

PLAKKKK!!!
“PARK HAE MI, MASUK KE KAMAR DAN BERESKAN BARANG-BARANGMU. AKU MALU PUNYA ANAK SEPERTIMU,”
End of Hae Mi POV…
**

“APAAA??? Korban tabrak lari itu anak dari Presiden Komisaris Cloudyeppeo Association? Jeongmal?” kaget Kwangmin dan Youngmin.
“Nee~~ Keluargaku diusir dari rumah ini,” jawab Eun Min pelan. “Ini semua gara-gara Hae Mi,”
“Kalian diusir? Jahat sekali mereka,”
“Jo Kwangmin..ketika kau lagi jalan dengan keluargamu, tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal menyiram kau dengan air di tengah keramaian, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku pasti marah besar pada orang itu, Eun Min,”
“Itu yang dilakukan Hae Mi pada Tara. Dia menyiram air ke Tara saat gadis baik hati itu sedang jalan dengan keluarganya. Parahnya, air itu juga mengenai Vice Presiden, yang juga Oppanya Tara. Hae Mi juga sempat memaki Yunho-ssi dan Sungmin-ssi,”

“MWO?? Itu fatal sekali, Eun Min. Apa yang dilakukan Hae Mi sangat jahat. Apa yang akan dilakukan oleh Appamu?”
“Appa berusaha membujuk Tony Jung…”
“Kalian tau, Tony Jung itu orang yang sangat keras. Dia akan melakukan apa saja untuk melindungi kedua anaknya,” sahut Kwangmin pelan.
“Nasib keluarga Min Woo bakal sama seperti keluargamu, Eun Min. Aku dengar, Tony Jung akan melakukan rapat direksi di sini perihal tabrak lari yang dilakukan Min Woo pada anaknya,”
**

Rapat direksi sedang berlangsung dengan tegang di ruang serbaguna CC. Seluruh mitra kerja CC dan beberapa staff CC hanya bisa menundukkan kepala. Rapat direksi ini merupakan persidangan yang akan dilakukan oleh Tony Jung pada Byeol Textile Company dan Noel Company.

Rapat direksi ini berlangsung tertutup. Tidak ada satupun wartawan yang diizinkan masuk. Tatapan tajam dari Tony Jung menyapu seluruh ruangan. Kiri kanan Tony Jung terlihat Lee Sungmin dan Jung Yunho sedang menatap tajam pada Presiden Park dan Presiden No.

“Apa yang anakmu lakukan sangat memalukan, Presiden Park,” suara Tony Jung terdengar. “Apakah anakku tidak cukup membantu anakmu dari kejaran komplotan Sakura Eksport Import, ohng? Masih kurang ya pertolongan dari anakku? Dia yang mengobati anakmu, dia juga yang mengantarkan anakmu ke rumah,”

Matanya beralih pada Presiden No.
“Dan kau, Presiden No…Aku sama sekali tidak percaya apa yang aku dengar. Anakmu mau bertanggung jawab atas ketidaksengajaan itu tapi kau malah menyuruh anakmu memberikan uang pada “gadis miskin itu”. How dare you can tell like that, ohng? Nama gadis yang menjadi korban tabrak lari itu Jung Tara, Presiden No, bukan gadis miskin itu,”
**

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju ruang serbaguna CC. Aku membawa simbol Cloudyeppeo Association untuk pengampunan pada Presiden Park dan Presiden No.

Pihak keamanan segera mencegah ketika aku akan memasuki ruang serbaguna itu.
“Agassi.. anda tidak bisa memasuki ruangan ini,”
Aku terpaksa memakai martial artku untuk melumpuhkan mereka semua.
“Jeongmal mianhae,” kataku lalu segera mendobrak pintu ruangan itu. “APPAAAA…”

Tony Jung dan seluruh yang menghadiri rapat direksi ini termasuk keluarga dari Presiden Park dan Presiden No segera melihat ke arahku. Beberapa asisten Appa berusaha mencegahku.
“Biarkan aku atau kalian akan aku lumpuhkan dengan martial art?” ancamku lalu segera berjalan ke arah Tony Jung. “Appa…aku akan menggunakan ini untuk memberikan pengampunan pada mereka,”

“JUNG TARA…kau keterlaluan,” kata Appa lalu merebut simbol itu dan melemparkannya. “Aku tidak menerima permohonanmu, keluarlah dari sini,”

“Appa…aku mohon..”kataku lalu berlutut. “Ampunilah mereka…”
“Park Eun Hae dan No Min Min, lihat apa yang dilakukan oleh anakku? Padahal dia sudah disakiti oleh keluarga kalian, tapi dia rela berlutut untuk meminta pengampunan buat kalian? Ajarkanlah keluargamu untuk lebih sopan santun, terutama kau, Eun Hae, ajarilah Park Hae Mi agar tidak sombong dan lebih bersikap sopan santun pada orang lain,”

Aku berdiri lalu merebut mikropon di depannya Yunho Oppa. “Mungkin pertanyaan seluruh staff direksi terjawab hari ini. Aku, Jung Tara, anak perempuan dari Tony Jung. Aku, yang sehari-harinya bekerja di Cloud Kindergarten, merupakan adik dari Jung Yunho. Aku sengaja tidak memakai margaku agar semua orang bisa menerimaku sebagai Tara, gadis biasa. Presiden No, aku memang gadis miskin, karena kekayaan ini merupakan titipan Tuhan pada keluarga Jung. Presiden Park, aku lah yang menyelamatkan anakmu, Park Eun Min, dari kejaran komplotan SEI, tapi inikah balasan yang kalian berikan? Kalau tau ini balasan dari kalian, lebih baik aku membiarkan anakmu mati di tangan SEI,”

Aku mengambil nafas lalu terdiam karena mataku tertumbuk pada sosok Min Woo. Cowok itu hanya bisa tersenyum masam menatapku.

“Hari ini, aku menggunakan simbol CA untuk memberikan pengampunan pada kalian bukan berarti aku sudah memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh anak kalian. Aku tidak ingin, keluarga kalian menderita akibat dari kesalahan ini. Aku berharap, apabila kalian dapat pengampunan dari Tony Jung, bisa mengajarkan sopan santun dan tanggung jawab pada anak kalian,”

Aku menatap ke Tony Jung. “Appa…bagaimana kalau kau berada di posisi mereka? Aku mohon Appa, berilah pengampunan pada mereka,”

Air mataku mengalir ketika mengucapkan itu. Aku melihat Appa melihat bergantian pada Yunho dan Sungmin Oppa dan menarik napas dalam-dalam ketika melihat ke arahku.

“Jebal, Appa, Jebal,”
“Butler, bawa Agassi keluar dari sini,” kata Yunho Oppa.
“Aku mau di sini, Oppa. Jangan paksa aku atau butler akan merasakan kekuatan martial artsku,”
“Aku menyesal mengajarimu martial art, Tara,”
“Sudahlah, kau duduk di sebelah Victoria,” dingin Yunho Oppa.
“Nee~~” kataku lalu duduk di sebelah Vic Eonnie. Vic Eonnie segera memelukku.
“Appa pasti mengabulkan permintaanmu, sayang. Dia sangat menyayangimu,”

“Baiklah, aku sudah memutuskan, aku, Tony Jung, akan mengampuni kalian berdua…”

Air mataku jatuh dengan deras mendengar perkataan Appa. Aku bahagia sekali mendengarnya.

“Aku mengampuni kalian berdua dengan sebuah syarat. Kalian berdua pasti mengetahui Cloud Kindergarten kan?”

“Presideeenn..Kamsahamnida. Nee~~ kami tau,” jawab Presiden No dan Park sambil menyusut air matanya.

“Aku meminta anak kalian membantu di sana, mengembangkan sekolah itu agar bisa buka cabang di seluruh Seoul. Tapi, selama 6 bulan, anak kalian tidak akan digaji. Bagaimana?”

“Presiden Jung…” suara Hae Mi terdengar. “Aku akan melakukan apa saja untuk memperbaiki kesalahanku,”
“Aku akan pegang janjimu, Park Hae Mi,” kata Appaku dengan senyum. “Baiklah, saya akhiri rapat direksi siang ini. Saya berharap, ini semua bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Sopan santun dan tanggung jawab, itu poin penting bagiku. Aku tidak akan mengampuni seseorang apabila orang itu “menganggu” anak dan keluargaku. Permisi dan selamat siang,”

Aku segera berdiri dan memeluk Appa ketika beliau melewatiku.
“Appa…” kataku terisak. “Jeongmal gomawo, Appa, gomawo,”
Yunho dan Sungmin Oppa mengelus kepalaku dengan sayang.
“Sepertinya Presiden kita sangat menyayangi anak bandel ini,” goda Sungmin Oppa.
“Aku juga sangat menyayangimu, anak kecil yang tampan,” balas Appa menggoda Sungmin Oppa. “Tara, malam ini, kau harus mengikuti makan malam dengan direksi,”
“Appa…”
“Yaa~~ sudah saatnya kau menunjukkan jati dirimu sebagai anak dari Tony Jung. Arasso?”
“Nee~ Algeusseumnida, Presiden,” kataku tersenyum lalu memberi hormat padanya.
“Appa pergi dulu, masih ada urusan yang harus diselesaikan. Yunho, Sungmin, kalian harus ikut,”
“Nee~~ Presiden,”
“Bagaimana dengan kau, Victoria?”
“Sepertinya aku akan meninggalkan Tara dengan pria tampan ini, Presiden. Aku akan ikut dengan kalian,”

Aku melambaikan tangan ketika orang tersayangku berjalan keluar dari ruangan ini yang diikuti oleh seluruh staff direksi.

“Jung Tara ssi,”
Aku berbalik badan. Sosok Presiden Park berdiri di depanku dan segera berlutut. Refleks aku membungkuk untuk mencegahnya.
“Presiden Park, apa yang kau lakukan? Berdirilah,”
Air mata keluar dari mata tuanya.
“Kamsahamnida…Kamsahamnida,”
“Presiden Park…aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Jadi kau tidak perlu seperti ini. Kau harus membuktikan bahwa kau berhasil mendidik kedua anakmu. Kau dan Presiden No, merupakan orang kepercayaan Tony Jung, makanya Appa seperti ini,”

“Tara ssi…” suara istrinya terdengar. “Kau benar-benar berhati malaikat. Aku malu dengan keluarga kalian,”
“Eomonim…Kamsahamnida,”

“Tara…” kali ini suara Eun Min terdengar. “Bolehkan aku memelukmu?”
“Tentu saja,” kataku lalu membalas pelukannya. Gadis cantik ini segera menangis.
“Tara..aku malu sekali atas perbuatan adikku padamu. Aku rasa, ini pelajaran yang harus dia terima,”
Aku melepas pelukannya dan menyungginkan senyuman.

“Gwenchana, Eun Min,”

“Apakah kali ini tiba giliranku?” tanya Min Woo pelan.
“Tentu saja,” kataku lalu menggandeng tangannya. “Aku permisi dulu,”




Aku duduk berdua dengannya di kafetaria yang terletak di lantai basement. Aku menatap cowok tampan ini sambil senyum. Betapa tampannya cowok ini.
“Tara,” suaranya terdengar lalu melihat ke arahku. Refleks aku membuang tatapanku ke arah lain. “Terima kasih karena kau menyelamatkan keluargaku,”
“Lupakan itu, Min Woo,” kataku lalu mencomot kentang goreng. “Benar, aku sudah melupakan kejadian itu kok,”
“Jjinjja?” tanyanya yang aku jawab dengan anggukan. “Gomawo, my goddess,”
“MWO?? My Goddess??”
“Nee~~ You’re my goddess, Tara, and i love you,”
“Haaa???”
I love you,”
**

6 bulan kemudian…
Aku, Eun Min, Hae Mi dan Min Woo sedang membahas opening ceremony Cloud Kindergarten untuk wilayah Jeju. Tawa, muka serius, dan debat mewarnai rapat kecil kami. Jeju Cloud Kindergarten, merupakan cabang kedua yang berhasil kami hasilkan setelah Mokpo Cloud Kindergarten.

“Pengisi acaranya sudah aku tetapkan,” sahut Eun Min. “Niel dan L.Joe Teen Top, Dongwoon Beast, Wook..Yaa~~ Taraaaa…”
Aku mengambil kertas yang dipegangnya. Mataku terbelalak melihat list pengisi acara. Semuanya adalah idolanya.
“Yaa~~ Park Eun Min…dengan apa kita bayar mereka, ohng? Bayaran untuk mereka sangat mahal,”
“Appaku yang akan membantu, Tara…”
“Niel dan L.Joe, Dongwoon, Wookie, Kevin, Key…Oh My, Eun Min,” kataku lalu menatap dirinya. “This is for you, right?”
“Baiklah, Jung Tara-ssi, aku akan menambahkan idolamu. Hangeng, Nickhun, Doojoon, Yonghwa, Yesung, Chunji, Youngsaeng…”
“Stop..stoop…” kata Hae Mi sewot. “Kalian berdua ini ya. Kau, Eun Min, alasanmu apa menulis semua idolamu sebagai pengisi acara kita? Kau kan sudah menikah dengan Youngmin…”

Eun Min hanya meringis malu lalu tersenyum gejeh. “Meskipun aku sudah menikah dengan Youngmin, aku sangat mengidolakan mereka, hehehe,”
“Sungguh kasihan si Youngmin,” sahut Min Woo lalu tersenyum.
“Sudahlah, jangan membahas pernikahanku, nanti kalian bertiga timbul rasa iri,”

“Baiklah…kita lanjutkan membahas ini. Mengenai pengisi acara, kita skip dulu,” sahut Hae Mi kesal.
“Tidak bisa begitu..” omel Eun Min.

Aku dan Min Woo hanya menonton pertengakaran dua kakak beradik yang sama-sama keras kepala itu. Park Eun Min dan Park Hae Mi, meskipun keras kepala namun mereka saling menyayangi dan melindungi.




“Aku lapar,” kata Eun Min setelah puas bersitegang dengan Hae Mi.
“Satu jam lebih kalian berdebat soal pengisi acara kita nanti,” sambung Min Woo.
“Baiklah, kita makan dulu,” kata Hae Mi membereskan kertas-kertas yang berserakan.
“Yaa~~ kalau kita makan sekarang, bagaimana dengan Jo Twins yang sedang menunggu hasil rapat, ohng?”
“OMG, aku lupa kalau mereka masih menunggu hasil rapat ini. Kita lanjutkan dulu rapat ini baru makan,”

Sementara itu di Jeju…
Jo Twins sibuk maen games karena kelamaan menunggu hasil rapat. Handphone dan laptop mereka biarkan begitu saja.
“Yaa~~ Kwangmin, apa sebaiknya kita menanyakan hasil rapatnya?”
“Nanti saja. Tara tadi mengabariku kalau Hae Mi dan Eun Min sedang ribut membahas pengisi acara kita nanti,”
“Oh My…” shock Youngmin. “Kalau begitu, kita maen games saja dulu,”
Let’s go,”

FIN

[FanFict] Lacoste (Part 4)

Hankyung POV…

Aku sengaja mematikan lampu kamarku agar bisa tenang merenungkan kejadian di rumah sakit sewaktu aku menjenguk Eun Min, kejadian yang berhasil membuatku “hancur berantakan”. Perasaanku terasa diaduk-aduk. Emosi, kesedihan, kepalsuan menjadi satu. Setidaknya aku berhasil mengontrol emosi agar tidak menambah keruh suasana.

Everyday I hold out comforting myself “it’ll be alright”
But it makes me afraid little by little
I tell myself to believe in myself, but I don’t
Now I don’t know how longer I can hold out
But wait it’ll come
Although the night is long, the sun comes up

Perasaanku remuk redam. Junhyung membuktikan ucapannya. Aku menjadi berpikir, apakah ini yang disebut karma? Apakah ini yang disebut penyesalan? Air mataku luruh secara perlahan menyadari bahwa Vanie telah berada jauh dari sisiku. Aku tidak bisa lagi memiliki semuanya seperti dulu.

“Hankyung, neol babochorom,”kataku pelan lalu berusaha menutup mata.
Aku segera membuka mata karena ketika aku menutup mataku, bayangan Vanie lengkap dengan senyum segera melintas di pikranku.

“Vanie..”kataku pelan lalu berusaha tersenyum. “Aku akan mengikhlaskan kalau akhirnya Junhyung yang kau pilih,”

Someday after this darkness clear up
I hope the warm sunshine dries these tears
But wait it’ll come
Although the night is long, the sun comes up

End of Hankyung POV…
**

Aku duduk diam di kelas sambil mendengarkan penuturan Chinju. Gadis cantik ini menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Eun Min mulai dari awal sampai akhir. Nafasku turun naik mendengarnya. Emosi, itulah yang aku rasakan.

“Tara…” kata Chinju sedih. “Aku tidak akan memaafkan Wookie yang telah melukai Eun Min,”
Aku mengangguk lalu berusaha tersenyum.
“Tara…” kata Chinju lagi lalu mengenggam tanganku. “Apakah kau baik-baik saja?”
Aku lagi-lagi mengangguk dan kembali menampilkan senyuman. “Gwenchana,”
I trust you, dear,”
“Thanks,”
**

Aku berjalan perlahan menuju kamar Eun Min. Aku mendorong pelan pintu depan dan melangkah masuk. Aku melihat Dongwoon sedang duduk di sana.

“Yaa~~ Son Dongwoon,” sapaku sambil meletakkan tas di lantai lalu duduk di seberangnya. “Pulanglah, bersihkan tubuhmu dulu. Kau sungguh berantakan,”

Dongwoon tersenyum lalu menggeleng. “Aku baik-baik saja, Tara, kau tidak perlu khawatir,”
“Baiklah kalau begitu,” kataku tersenyum lalu melihat ke arah Eun Min. “Kau pasti kangen padaku, Eun Min,”
“Tidak,” kata Eun Min menggodaku.
Aku tertawa mendengar celetukannya. “Tidak akan mungkin maling ngaku maling,”
“Yaa~~ Jung Tara.. Neol.. Kau tetap seperti biasa, pabo,”
Aku makin tertawa lebar mendengarnya. “Itulah aku, Park Eun Min,”
“Aku bahagia karena aku memilikimu,”
Me too,”
**

Junhyung POV…
Aku.. Yong Junhyung… terpaksa mengakui kekalahan pada cinta. Aku berubah drastis ketika bertemu dengannya. Aku…tidak bisa lagi bersikap cool dan arogan ketika berhadapan dengannya. Ya, aku, Yong Junhyung, telah jatuh cinta padanya.

Aku melihat ke arah pintu ketika seseorang membukanya. Hankyung, seseorang yang sudah aku sakiti, berjalan masuk dan menyunggingkan sebuah senyuman ke arahku. Mataku mengikuti dirinya.

“Junhyung,” katanya lalu menatapku tajam. “Apakah kau serius mendekati Tara?”
Aku tergagap mendapat pertanyaan seperti itu. Aku diam tanpa kata merespon pertanyaannya.
“Junhyung, sejujurnya, aku sangat tersakiti dengan semua ini, tapi…” katanya lagi lalu menghela nafas panjang dan berusaha tersenyum. “Aku berusaha ikhlas jika kau dan dia saling mencintai,”
“Han…”
“Kalian berdua, sama-sama aku sayang, Junhyung, aku tidak akan mengambil kebahagiaan kalian demi kebahagiaanku,”
“Hankyung…aku…”
“Aku percaya, kau tidak akan menyakitinya. Jangan sampai, kejadian yang pernah menimpanya terulang lagi,” kata Hankyung menepuk pundakku lalu berjalan keluar dari Lacoste’s Castle.

Aku hanya bisa memandang punggungnya dengan diam. Sedikit kelegaan melingkupi perasaan dan hatiku. Lampu hijau dari Hankyung merupakan jalan satu-satunya untuk mendekati Tara.

“Aku akan menjaga sekuat yang aku mampu, Hankyung. Aku berjanji padamu, tidak akan menyakiti Tara,”
End of Junhyung POV…
**

3 minggu kemudian…
Aku terbelalak membaca koran sekolah yang dibawakan Donghae. Headline beritanya mengenai Wookie yang tertangkap polisi karena meniduri seorang gadis belia.
“Apa-apaan ini?” kata Chinju marah. “Mencoreng nama baik sekolah kita,”
Aku menghela nafas lalu mengangguk. “Kenapa Wookie berubah seperti ini?”
“Itu karena kau, pabo,” seru Donghae jenaka.
“Yaa~~ Lee Donghae, apakah kau mau berakhir di pemakaman, ohng?” makiku kesal.

PLETAAAKKK!!! Kepalaku diketok JUnhyung.
“Yaa~~ Jung Tara, hati-hati kalau berbicara,”
“Aduuuhhhh…” kataku meringis sambil mengusap-ngusap kepalaku. “Yong Junhyung, kau sadis sekali, pabo,”

Aku tidak bisa menafsirkan perasaanku padanya. Lihat senyumnya saja jantungku sudah berdegup kencang lebih dari 2 kali kecepatannya. Bagaimana kalau sampai bersentuhan dengannya, kemungkinan besar jantungku bisa meledak.

“Yaa~~ Jung Tara…” kata Junhyung lagi lalu tersenyum. “Saranghae,”
“MWO???” kata Chinju dan Donghae bareng. “Saranghae?”
“Ckckck…” sambung Dongwoon. “Akhirnya kau menyerah dihadapan cinta, Junhyung,”
“Diamlah kalian,” kesal Junhyung lalu manyun.
“Hahahahaha…Akhirnya…seorang Yong Junhyung menyerah… Yaa~~ Yaa~~ sebentar lagi, nama Junhyung bakal jadi headline koran sekolah kita,” celetuk Eun Min.
“Yaa~~ Park Eun Min…”

Aku tersenyum melihat wajah Junhyung yang memerah karena malu. Tanganku tanpa basa basi segera menyentuh dadanya. Degup jantungnya sangat kerasa, jantungnya berdegup kencang.

“Yaa~~” kata Junhyung lalu memegang tanganku dan menatapku tajam. “Apa-apaan kau. Kau yang menjadi penyebab semua ini, jadi kau harus bertanggung jawab,”
“Tenang saja, Yong Junhyung, aku pasti akan bertanggung jawab,” kataku tersenyum lalu mengangguk.

“Camkan,” seru Donghae tiba-tiba lalu mengeluarkan ponselnya. “Hankyung menelepon,”

Kami semua diam dan konsentrasi pada Donghae yang sibuk berbicara dengan Hankyung. Cowok tampan itu kembali ke negaranya karena lulus audisi di salah satu agensi di sana.

“Apa katanya?” seruku penasaran.
“Dia titip salam buatmu. Hankyung sangat kangen padamu, Tara,”
“Mwo?? Cowok China itu malah kangen dengan Tara, ckckckck, dasar.. Apa dia tidak kangen dengan kita?” sungut Dongwoon manyun.
“Yaa~~ Dongwoon.. sekarang dia kangen padaku, pasti besok dan seterusnya dia kangen pada kalian, Lacoste,”
“Tara, kau jangan cemburu ya,” kata Donghae jenaka. “Hankyung dikabarkan lagi dekat dengan salah satu aktris sana, Ling Yuka,”

“Sebentar, Ling Yuka? Ling Ling?” seruku kencang.
“Iiyaa.. Kau kenal dengannya?”
“Tentu saja aku kenal. Ling Yuka itu merupakan tetangga kami dulu. Ahhh..betapa berun..tung..nya…” seruku pelan karena mendapat tatapan tajam Junhyung. “Maksudku, aku sangat beruntung karena Hankyung mendapatkan wanita seperti Ling Yuka,”

“Junhyung, kau janganlah cemburu seperti itu. Memang, Hankyung dulu pernah memiliki Tara, makanya dia kangen pada Tara. Nah sekarang dan seterusnya, kau yang memiliki Tara,” Eun Min berbicara sebijaksana mungkin.
“Hahh???” bingungku.
“Aduuuhhhh… Junhyung, sepertinya kau harus mengajarkan Tara agar dia tidak pabo,” sungut Eun Min lagi.
“Aku akan mengajarkan semuanya pada Tara. Semuanya,”
“Nee~~ Seonsaengnim,” kataku lalu nyengir lebar.
“Kau itu selalu saja berhasil membuat jantungku berdegup kencang,”
“Saranghae,” balasku lalu tersenyum.

::::FIN::::

[FanFict] Miracle is Everyday (Part 1)

3 years later…

Wo~a Wo~a Wo~a Wo~a
Wo~a Wo~a Wo~a Wo~a

[RYEOWOOK]
You’re so blinding to my eyes
My heart beats if I’m with you
You’re still the only number one for me
I love you

[KYUHYUN]
Come to me just a bit more
I want to hold your hand tight
This song is only for you
I love you forever

[ALL] I need your love love love

[DONGHAE]
I promise you this while looking to your eyes
I’ll keep this feeling to be by your side and love you only

[ALL] Baby need your love love love

“WELCOMEEE… Seouuulll… I’M COMIIIINGGGG…” teriakku keras ketika aku turun dari pesawat Korean Air yang membawaku dari Las Vegas menuju Seoul.

[SUNGMIN]
Your love is just enough for me
Even if I had to lose everything
You’re the only one that I would never let go

[ALL] You’re my everything, my love

Aku bergegas menuju ruang kedatangan untuk mengambil barang dan mengurus visa. Aku menghirup dalam-dalam udara yang terdapat di dalam Incheon Airport.

I’ll start my new life in here.. Yonghwa..bogoshipta..” kataku tersenyum.

[KYUHYUN]
You’re all that I see
The thoughts of you just keep coming
I simply can smile forever

[ALL] You’re my everything, my heart

[RYEOWOOK]
You’re so deep within me
More beautiful than angels
I will love you only


**

Doojoon POV…

“Vanie…saranghae…”

Aku terbangun dari tidurku ketika mimpi itu kembali menghampiriku dan jantungku selalu berdegup kencang ketika mimpi itu datang. Aku mengusap wajahku lalu turun dari kasur.

Perlahan aku berjalan menuju dapur dan mengeluarkan sebotol air dingin dari dalam kulkas lalu segera meneguknya.

Perkataan Ammaku kembali terngiang sebelum aku berangkat ke Seoul.
“Doojoon, map ini berisikan laporan pendonoran yang kau terima.Amma baru saja mendatangi rumah keluarga Mr. Jung untuk menemui tunangannya, ternyata tunangannya sudah berada di Seoul,”

“Arrgghhh…” kataku lalu masuk ke ruang kerja.
Tanganku membuka laci meja kerjaku dan mengeluarkan map biru. Perlahan aku membaca isi dokumen itu.

“Jung Yonghwa..Enganged…” kataku lalu menyandarkan tubuhku. “Apakah Vanie itu nama dari tunangannya Yonghwa?”

Aku menoleh ke ponselku ketika benda itu menyala. Kikwang meneleponku. “Nee~~ Mwo? Kita ada jadwal pemotretan untuk Cloudyeppeo Magazine? Ahh.. Mengenalkan Cloudyeppeo Shopping Central yang baru resmi di buka? Ahhh~~ ownernya baru kembali dari Las Vegas? Nee..”

Aku termenung mendengar perkataan Kikwang. “Las Vegas? Cloudyeppeo? Sepertinya aku sangat familiar dengan Cloudyeppeo,”
End of Doojoon POV…
**

Aku mengacungkan jempol ketika lighting-man menguji coba lighting untuk pemotretan Beast. Perfecto. Aku berjalan menuju decoration and interior crew untuk memeriksa kesempurnaan dekorasi mereka. Excelent.

“Agassi, ada tamu untuk anda,” kata sekretarisku lalu menunjuk sang tamu. Aku tersenyum lalu berjalan menuju mereka.

“Eun Min~~ Hae Mi~~” kataku lalu memeluk mereka.

“Bogoshipo,”



I still have something to tell you
It might be a little late, but these are the words I

never got around to say

The most beautiful moment of my life is…
… When I loved you after meeting you
Now I know that you’re the biggest gift of mylife

“Mianhae,” kata Eun Min mengenggam tanganku.
Aku tersenyum. “Aku baik-baik saja sekarang, Eun Min..”
“Yaa~~ kata Hae Mi lalu tersenyum nakal. “Bagaimana kalau kau tebar pesona dengan Beast? Pengecualian, Yang Yoseob.. He’s taken by me,”

“Yaa~~ Kenapa aku harus tebar pesona? Mereka lah yang harus tebar pesona,”
“Hahahaha.. Vanie Lee.. kau tidak berubah,”
“Tentu saja.. ” kataku lalu meneguk minumanku. “Bagaimana dengan karirmu, Eun Min?”
“Puji Tuhan, beberapa bulan lalu MV pertamaku featuring Super Junior KRY telah dirilis. Minggu besok, aku bakal goodbye-stage di Inkigayo,”
“Ahh.. Chukae… dan kau Hae Mi?” tanyaku menatap matanya.

We would chat
We would stroll
These were the happy moments because it was just two ofus
We are two different persons
But we’re alike
And sometimes people would ask if we aresiblings

“Puji Tuhan..restoranku berjalan lancar.. Aku akan mengajak kalian makan gratis di restoranku, ottae? Syarat dan ketentuan berlaku,”
“Mwo?”
“Nee~~ Kalian berdua harus mengajak pasangan kalau mau makan gratis di sana,”
“Yaa~~” makiku lalu tersenyum.
“Aku percaya..Tuhan pasti memberikan seseorang yang lebih baik dari…Yong..hwa…”

“Ahh.. Eomonim menelponku untuk segera mengenalkan seseorang itu padanya,”
“Eomonim?”
“Nee~~ Amma-nya Yonghwa. Tara juga.. gadis cantik itu sudah marah-marah karena sampai saat ini aku tidak membawa seseorang itu padanya. Tara bahkan akan menjodohkanku dengan sahabat kekasihnya,”

Aku merengut ketika 2 gadis cantik yang duduk di hadapanku tertawa lepas.

“Yaa~~ Menyebalkan..”
“Wae?”
“Huffftt..”
**

Doojoon POV…
Aku berjalan dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan menuju tempat pemotretan. Aku berjalan sambil melihat sekeliling. Kenapa aku merasakan ini? Apakah karena mata dan jantung yang berada di tubuhku milik orang lain? Apakah ini semua ada kaitannya dengan Jung Yonghwa?

“Hyung..” suara Dongwoon terdengar. “Kenapa kau bersikap aneh?”
“Huh? Ahh.. hanya perasaanmu saja,” kataku lalu bergegas masuk ke tempat pemotretan.

“Selamat datang, Beast,” kata seseorang yang menurutku sangat tampan itu. “Saya, Sekretaris Kang,”
“Doojoon, Yoon Doojoon, leader,”
“Ahh.. Sebelumnya kami minta maaf karena Agassi belum bisa menemui kalian karena ada urusan mendadak,”
Aku tampak kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan sang owner.
“Pemotretan akan dilaksanakan sebentar lagi, silakan,” kata Sekretaris Kang lagi lalu mengantarkan kami ke sebuah ruangan. “Kalian akan di make-over terlebih dahulu,”
“Nee~~”
End of Doojoon POV…
**

“Yaa~~ kalian merasa sesuatu yang aneh tidak pada Hyung?” kata Yoseob.
“Aneh?” tanya Junhyung yang dijawab anggukan oleh Yoseob. “Anehnya di mana?”
“Ahh.. Aku merasa ada yang ganjil sejak Hyung kembali dari Las Vegas. Apakah Hyung pernah datang ke sini? Sendirian?”
“Ini yang pertama kali Hyung dan Beast datang ke CSC. Yaa~~ bukankah CSC ini baru buka beberapa minggu lalu ya?”
“Dan beberapa minggu lalu jadwal kita di Thailand,”

Kikwang, Dongwoon, dan Hyunseung saling pandang. “Kenapa Hyung tau toilet ada di mana,”
Mereka kembali saling pandang setelah menyadari keganjilan yang terjadi.
“Aku heran, Hyung tau toilet ada di mana padahal Sekretaris Kang belum selesai menjelaskan,”
“Aku mulai merasa ada yang tidak beres sejak pertama kali datang. Doojoon Hyung berkali-kali berhenti dan menatap sekeliling,”
“Aku merasa…” kata Junhyung nimbrung. “Doojoon Hyung familiar dengan tempat ini,”
“Benar,” koor mereka bareng.
**

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Sekretaris tampan Kang.
“Agassi, ini hasil pemotretannya,” aku mengambil amplop coklat tersebut. “Dan ini, proposal Cube Entertainment untuk bekerja sama dengan kita,”

Aku mengambil amplop satunya. “Kerja sama? Proposal?”
“Nee~ Agassi.. Cube Entertainment, terutama Beast, menginginkan kerja sama untuk pembuatan Music Video mereka dan wardrobe,”
“Mwo?”
“Nee~ Agassi.. Mereka menunggu jawaban dari Anda,”
“Ahh.. Arasso.. Kamsahamnida,”
“Ne.. Agassi, saya permisi dulu,” katanya lagi lalu keluar dari ruanganku.

Aku membuka amplop coklat berukuran sedang lalu mengeluarkan isinya. Beberapa lembar foto berjatuhan di atas meja. Aku mengambil satu per satu foto tersebut.

“Ahh.. Beast itu terdiri dari 6 orang cowok tampan,” kataku tersenyum lalu meletakkan kembali foto itu dan mengambil lainnya. “Son Dongwoon,”

Aku mengagumi foto Son Dongwoon. Cowok itu sama sekali tidak ada potongan Korea. “Ahh… Yoseob,”

Aku kembali meletakkan foto itu di atas meja dan mulai mencari foto yang bertuliskan Yoseob. “Ini dia, Yang Yoseob… Ahh.. Apakah selera Hae Mi seperti ini? Tidak.. Seleranya berbeda-beda.. Boyfriend aja seleranya seperti Jo Kwangmin. Apa persamaan antara Yang Yoseob dan Jo Kwangmin?”

Aku meletakkan foto Yoseob dan mengambil foto lainnya. Aku terhenyak melihat foto yang aku pegang dan mataku terbelalak ketika menatap matanya. Senyum dan tatapan matanya mengingatkan pada sosok Yonghwa.

“Kenapa ini?” kataku lalu memegang jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang.
**

Yoseob kembali memergoki sang leader sedang melamun menghadap jendela sambil memegang dada. Yoseob segera memanggil Kikwang dan Dongwoon.

“Wae?” kata Kikwang berjalan mendekat.
“Lihat,” kata Yoseob sambil menunjuk ke arah Doojoon.

“Apakah yang dipikirkan Hyung sampai harus seperti itu?”
“Aku rasa, telah terjadi sesuatu di Las Vegas,”
“Hmm..apakah ini dampak dari pendonoran yang Hyung terima?” duga Yoseob sambil memandang Kikwang dan Dongwoon.
“Mungkin juga. Kita tidak berhak mencari tau mengenai siapa yang mendonorkan mata dan jantung kepadanya,”
“Benar juga…tapi kita bisa mencari tau mengenai Cloudyeppeo,”
“Bingo,”
**

Aku duduk di ruang tamu sambil menikmati roti bakar buatanku. TV flat dihadapanku sedang menayangkan gossip artis Korea.

“Ahh.. Beast,” kataku lalu mengambil remote dan membesarkan volume.

“Rapper Beast, Yong Junhyung berpacaran dengan salah satu member girl band, Kara, Goo Hara. Rumor ini telah diklarifikasi pihak Cube dan DSP, manajemen artis yang menaungi mereka berdua…”

“Wowww.. Singer ketiga yang berani membuka kisah cintanya setelah Shindong dan Jonghyun,” kataku tersenyum lalu mengambil ponsel.

“Yoboseyo.. Taraaa~~ dongsaeng.. bogoshipo… MWO?? Putus? Klise, dear.. Mian..Mian.. Ahh.. kesibukan kalian yang menjadi penyebab hubungan kalian putus? Bagaimana kalau aku menjodohkanmu denga sekretarisku, Kang Minhyuk. Hhahahaa… Arasso.. Eonnie tau kok.. Wahh.. Chukae.. Akhirnya kau menjadi dokter juga.. Chukae.. Nee~~ Salam buat Amma dan Appa ya… Saranghae,”
**

Minhyuk POV…
Aku menghentikan langkahku ketika melihat sosok Doojoon berdiri di depan pintu masuk. Tingkahnya sangat mencurigakan. Aku kembali meneruskan langkahku ketika dia melihat ke arahku. Aku menyunggingkan senyum.

“Yo~” sapaku. “Ada yang bisa saya bantu, Doojoon-ssi?”
“Tidak…Kebetulan aku lewat, makanya aku mampir. Apa aku bisa bertemu dengan Agassi kalian?”
“Ahh.. Agassi? Tunggu sebentar,” kataku lalu mengeluarkan ponsel dan mulai menekan nomor ponsel Noona. “Noona… Kau ada di mana? Doojoon-ssi mau bertemu.. Ohh… Nee~~ Akan aku sampaikan padanya,”

“Doojoon-ssi, jeongmal mianhae, Agassi lagi berada di Cube Entertainment..”
“MWO??”
“Nee~ dia lagi di agensimu,”
“Kalau begitu, aku akan menyusul ke sana. Gomawo,” kata Doojoon-ssi lalu masuk mobil.

Aku hanya menatap bingung mobilnya yang semakin menjauh

“Wahh.. kecepatan mobilnya berapa km/jam ya?” tanyaku pada diriku sendiri lalu masuk ke dalam.
End of Minhyuk POV…
**

Doojoon berlari dengan kencang memasuki agensinya setelah mobilnya aman di parkiran. Kepalanya melihat sekeliling ketika dirinya sampai di lobby utama.

“Dia tidak ada di sini,” katanya lagi lalu segera menuju lift. Dia menekan dengan kasar tombol lift lalu kepalanya mendongak melihat lift sedang berada di lantai berapa.

Damn…” katanya lalu berlari ke arah tangga darurat.

Dia berlari, berlari, dan terus berlari melewati setiap anak tangga. Nafasnya tersengal ketika sampai di lantai yang dimaksud. Dia berjalan cepat menuju ruangan manajernya dan membuka kasar pintu ruangannya.

Seluruh member Beast dan manajernya terkejut melihat sosok Doojoon yang berkeringat dengan nafas terengah-engah.

“Mana gadis itu?” tanya Doojoon kasar. “Mana dia?”
“Yaa~~ Doojoon..”
“Cloudyeppeo…” kata Doojoon lirih.
“Ahh.. Maksudmu ownernya? Baru saja keluar dari sini.. Aku pikir kau berpapasan deng…”

Doojoon segera berlalu dari sana dengan kasar. Dia kembali berlari untuk mengejar sang owner. Sang manajer keluar untuk melihat sosok Doojoon namun sang leader sudah tidak lagi berada di sana.

“Hahh..” kata Park-ssi lalu menghela nafas. “Apa yang terjadi? Jangan bilang dia ada kisah dengan gadis cantik tadi,”
Yoseob menggeleng lalu menceritakan semua keanehan yang dirasakan olehnya.
“Hyung, bisakah kau mencari tau mengenai Cloudyeppeo? Aku rasa, Doojoon Hyung merasa familiar dengan Cloudyeppeo,”
“Familiar? Bukankah kunjungan kalian kemaren merupakan yang pertama..”
“Nee~~ Tapi…”
“Sudahlah…”
**

Aku menikmati makan malamku dengan bahagia. Menghabiskan malam bersama sahabat merupakan pilihan yang tepat ketika tidak memiliki seseorang yang mencintai dan kita cintai.

“Vanie, Hae Mi… Mulai besok sampai 1 bulan ke depan, aku tidak bisa menemani kalian.. Aku ada show Sweet Galaxycious di England terus Las Vegas,”
“Las Vegas?” tanyaku pelan.
“Nee~~ sekalian aku mengunjungi makam Yonghwa, Vanie,”
“Ahhh.. Gomawo,” kataku tersenyum. “Kau bisa menghubungi Tara, adiknya,”
Eun Min mengangguk. “Aku pasti akan menghubungi gadis genit itu,”

Aku dan Hae Mi tertawa mendengar Tara dipanggil “gadis genit” oleh idolanya. Tara, Jung Tara, mengidolakan Eun Min meskipun statusku saat itu adalah calon kakak iparnya.

“Yaa~~ kalau didengar olehnya, status Eonnie idola akan dicabut secara paksa…” kata Hae Mi lalu tersenyum sumringah dan melambaikan tangan.

Aku dan Eun Min segera melihat kemana arah lambaian tangannya. Yang Yoseob dan Son Dongwoon berjalan ke arah meja kami lalu tanpa basa basi bergabung.

“Hai, Vanie Lee,” kataku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.
“Yang Yoseob,”
“Son Dongwoon,”
“Yaa~~ apakah kalian tidak mengenal gadis cantik ini?” tanya Eun Min menggodaku.

Aku tersenyum melihat gelengan yang tercipta dari Yoseob dan Dongwoon.
“Tentu saja mereka tidak mengenalku secara waktu mereka pemotretan di Cloudyeppeo Shopping Central beberapa hari yang lalu aku tidak bisa menemui mereka,”
“MWO?? Kau sang owner CSC yang kemaren lusa menemui Park Hyung?” tanya Yoseob yang aku jawab anggukan. “Jjinjja? Wahhh…kau cantik sekali…pantas saja Doojoon Hyung rela tersengal-sengal dan berkeringat mengejarmu…”

“Ciyeeeee…” goda Hae Mi. “Ternyata, Hyungmu sudah terpikat dengan kecantikan sahabatku,”
“Kau juga cantik, Hae Mi,” kata Yoseob malu-malu.
“Yaa~~ Park Hae Mi,” kataku lalu melotot ke arahnya.

“Biarkan dia melanjutkan ceritanya,”
“Eheeemmmm…yang penasaraaannn…” kata Hae Mi lagi lalu segera mempersilakan Yoseob melanjutkan ceritanya.

Aku, Hae Mi dan Eun Min menjadi pendengar setia untuk 2 cowok tampan itu. Aku hanya bengong mendengar keseluruhan cerita ari Yoseob dan Dongwoon.

“Doojoon-ssi merasa familiar dengan CSC?” kata Eun Min lalu melihatku dengan mata menggoda. “Apakah kau ada kisah dengannya sebelum kau bersama Yonghwa, Vanie?”
“Yaa~~ aku tidak pernah mengenal pria sebelum bertunangan dengan Yonghwa…”
“Ohh.. Kau sudah bertunangan?” kata Dongwoon.
“Nee~~ tapi pertunangan kami tidak akan lanjut ke pernikahan karena Yonghwa…” kataku berhenti sejenak untuk menarik nafas. “Yonghwa sudah meninggal 3 tahun lalu akibat kecelakaan di Las Vegas,”

“MWO??”
“Ahh..maafkan aku karena menceritakan hal pribadi ini kepada kalian,”
“Tidak apa-apa, sejak malam ini dan seterusnya, kau adalah teman kami,”
“Yaa~~ Son Dongwoon, berarti kami berdua tidak bisa menjadi teman?” sungut Eun Min.
“Lebih dari teman buatku,” kata Dongwoon dengan senyum.
“Dan kau Hae Mi, aku berharap kita bisa lebih dari teman,”
**

Doojoon POV…
Lagi-lagi aku terbangun karena mimpi yang sama. Aku tidak habis pikir kenapa ini semua bisa terjadi padaku. Perlahan aku turun dan duduk di kursi dan menghubungkan laptopku dengan koneksi internet. Aku mengetikkan alamat twitter dan beberapa saat kemudian home-page twitterku terbuka. Perlahan aku mengarahkan pointer ke tulisan “Mentions”. Aku tersenyum membaca mention-mention dari Beauty yang memenuhi mentionku. Aku kembali ke timeline setelah membaca mention. Aku terus meng-scrool down timelineku dan akhirnya menemukan twitpic update dari Yoseob.

Mataku segera terbuka dan kantukku hilang ketika membaca twitan foto yang diupdate oleh Yoseob.

“Is she Yeppeo? Of course, she is cloudyeppeo,”

“Mwo?? Cloudyeppeo?” kataku lalu segera meng-klik foto tersebut. Foto itu ternyata foto Yoseob, Dongwoon dan seorang gadis yang selalu mampir di mimpi dan mungkin sudah masuk di kehidupanku.

She’s her,” kataku pelan lalu merasakan jantungku berdegup kencang.
End of Doojoon POV…
**

Yoseob dan Dongwoon semangat bercerita mengenai pertemuannya dengan sang owner Cloudyeppeo di hadapan member Beast lain.

“Vanie Noona…Neomu yeppeo.. Pantas saja dia memberi nama Shopping Central-nya dengan Cloudyeppeo,”
“Nama yang unik karena huruf Y-nya besar…”
“Masa siey?” kata Junhyung lalu mengambil kantong belanjaan dari cloudyeppeo. “Benar.. cloudYeppeo,”
“Y itu…inisial dari tunangannya yang sudah meninggal 3 tahun lalu di Las Vegas,”

Doojoon yang sedari diam mencerna cerita dari Yoseob dan Dongwoon akhirnya bersuara.
“Las Vegas? 3 tahun lalu?”
“Ne~ bertepatan dengan kecelakaan yang kau alami, Hyung,” kata Yoseob pelan. “Maaf, aku jadi mengingatkanmu dengan kejadian itu,”
“Tidak apa-apa,” kata Doojoon lagi lalu tersenyum lirih.

“Yaa~~ Y itu…”
“Yo…”
“Yonghwa, Jung Yonghwa,” kata Doojoon cepat lalu berdiri dan keluar.

“Aku rasa, ada hubungannya antara cloudYeppeo, Vanie Noona, dan Yonghwa dengan sikap Hyung yang aneh akhir-akhir ini,”
“Apakah donor mata dan jantung yang Hyung terima dari Yonghwa?” kata Junhyung lalu terdiam.
**

Aku berjalan perlahan ketika menyadari ada seseorang berdiri di sana. Kenapa orang itu tau tempat persembunyianku ketika aku sedang rindu pada Yonghwa. Orang itu berbalik badan ketika menyadari kehadiranku.

“Aku sudah menunggumu dari tadi, vanie,” kata orang itu lalu berjalan mendekat.

Mataku terbelalak ketika melihat wajah orang itu yang ternyata cowok sangat tampan yang memiliki tatapan yang sama dengan tunanganku, Yonghwa.

“Akhirnya kita bertemu juga,” kata cowok itu lagi lalu tersenyum dan menatapku.
“Yong..hwa,” lirihku pelan.
“Yonghwa? Siapa itu? Namaku Doojoon, Yoon Doojoon,”

Aku mundur beberapa langkah dan berbalik badan. Aku tidak tau kenapa reaksiku seperti ini. Rasanya aku ingin menangis dan berlari memeluk cowok tampan itu.

“Darimana kau tau tempat ini?” tanyaku lalu kembali menatap dirinya. “Tempat ini..hanya aku dan Yonghwa yang tau.. Kenapa kau bisa berada di sini?”
“Aku juga tidak tau.. Perasaanku mengatakan, aku sangat familiar dengan tempat ini, Vanie,”
“Dan…darimana kau mengetahui namaku?”

“Siapa yang tidak tau nama seorang gadis cantik sepertimu? Semua orang pasti mengetahui namamu. Bukan hal sulit mencari sesuatu yang berhubungan denganmu,”
“Kau pasti mencari tau melalui Kang Minhyuk, kan?”

Aku kesal sekali melihat cowok yang bernama Doojoon ini. Dia selalu tersenyum dan tersenyum. Bisa-bisa aku mabuk senyumannya.

“Sekretaris Kang maksudmu?” tanyanya yang aku jawab anggukan. “Ahh.. Sekretaris tampan itu rupanya. Aku tidak pernah mencari tau tentang dirimu melalui dia. Perasaanku yang menuntunku untuk menemuimu di sini. Jantungku yang mengatakan semuanya,”
“Bagaimana bisa jantungmu menuntunmu ke tempat ini? Tidak ada yang mengetahui tempat ini selain aku dan Yonghwa,”

“Kemarilah,” katanya lalu mengenggam tanganku. “Vanie, kalau kau merindukan Yonghwa, kau bisa melihatnya pada diriku,”
“Tidak bisa, kau dan Yonghwa berbeda, meskipun kalian berdua memiliki mata yang sama,”
“Hahahha… Kau ini sungguh lucu, aku menyukainya, dan aku berharap..kita bisa dekat satu sama lain, Vanie,”
**

[FanFict] Miracle is Everyday (Prologue)

Annyeong haseyo..
cloudy here..
i’ve made this FF just for fun
you can enjoy my FF without permission
but, if you will take out this FF, you MUST don’t claim them as yours..
of course, you must write credit belong to cloudyeppeo Entertainment in cloudyeppeo.wordpress.com, because i REALLY HATE a thief and plagiator
::::::::::

This FF i dedicated for my “bestie”..
::bat in http://www.twitter.com/@wookietis as Park Eun Min::
::vemy in http://www.twitter.com/@vemysuryo as Park Hae Mi::
::::::::::

Tittle: Everyday is Miracle (Prologue)
Cast: Beast, Vanie Lee, Park Hae Mi, Park Eun Min
Cameo: Jung Yonghwa, Jung Tara, Kang Minhyuk
Disclaimer: Jung Yonghwa dan Kang Minhyuk belong to FNC Music., Vanie Lee, Park Hae Mi, Jung Tara dan Park Eun Min belong and rest cast to cloudyeppeo Ent., Beast belong to Cube Entertainment.
::::::::::

Backsound when you read my fanfic:
~~ Jung Il Woo – Scarecrow
~~ Super Junior – Angel
~~ UKISS – Kiss Me
::::::::::

Sirine ambulance dan polisi meraung-raung memecah langit kelam Las Vegas. Tim Forensik berusaha mengeluarkan korban kecelakaan ketika Police Investigation Las Vegas mendatangi lokasi kecelakaan.

“Selamat malam, sir, korban kecelakaan bernama Jung Yonghwa, kebangsaan Korea Selatan, baru 6 bulan menjadi warga negara Las Vegas,” kata Captain Horatio, ke Detective Grissom.
“Captain Horatio, korban berhasil dikeluarkan,”
“Segera bawa ke Las Vegas International Hospital,”
“Roger, sir,”
**

Terjadi ledakan di salah satu pusat perbelanjaan Las Vegas. Beberapa pengunjung dinyatakan tewas di tempat, namun, ada satu orang yang berteriak lirih meminta pertolongan di bawah reruntuhan.

“Help me.. Anyone.. Please help me,”

“Captain Greg, ada korban di bawah reruntuhan yang berteriak minta tolong,”
“Siapkan alat berat untuk mengangkat reruntuhan tersebut. Tim Forensik, bersiaga untuk segera menarik korban ketika reruntuhan berhasil di angkat,”
“Roger,”
**

Kringg…kringg…
Aku tergopoh-gopoh mengangkat telepon ketika benda itu berbunyi. Jung Tara, calon adik iparku berdiri di sampingku.
“Selamat malam,”
“Apa benar ini kediaman Mr. Jung Yonghwa?”
“Benar, saya tunangannya, Vanie Lee…”
“Ms. Vanie, tunangan anda mengalami kecelakaan di depan Tangiers…”

Aku jatuh terduduk mendengar perkataan orang yang meneleponku. Jung Tara mengambil alih telepon tersebut dan segera memelukku.

“Eonni…Oppa…Oppa…”
“TIDAAAAAAKKKK… TIDAAAAAKKKKK,” histerisku.



Las Vegas International Hospital…
Aku sesenggukkan ketika berada di kamar jenazah. Yonghwa terbaring kaku di sana. Aku tidak bisa berpikir jernih. Air mata menjadi saksi bahwa kepergian Yonghwa selamanya sangat menyakitkan. Hari pernikahan kami hanya tinggal menghitung bulan tapi Yonghwa meninggalkanku sendirian di Las Vegas.

“Eonnie,” Tara menangis lalu memelukku. “Ikhlaskan Oppa, Eonnie…”
Aku menggeleng kuat. Air mataku terus mengalir kencang menyaksikan tubuh Yonghwa yang akan dikremasi.

“Vanie…” suara Amma dan Appa terdengar.
Aku menoleh ke mereka dan jatuh terduduk. “Dia telah pergi, Amma.. Yonghwa telah pergi,”
“Vanie…” kata Amma memelukku. “Ikhlaskan dia, nak, ikhlaskan,”
“Vanie…” kata Appa juga memelukku. “Ikhlas,”
“YONGHWAAAAA~~~”
**

Pemakaman…

I try to feel you at the tip of my fingers
But Every single time I always forget that I can’t touch you
Do you know? there’s a room in my heart
You live there, There’s no place for others
Now even the memories are lost, even the warmth is gone~

Aku hanya diam mengikuti upacara pemakaman Yonghwa. Air mataku terus mengalir selama upacara berlangsung.

I’m a scarecrow fending for myself.
My heart without you, I’am such a sad scarecrow
I keep swaying in the harsh wind, even if my body scatters apart
Someday, if you’d come to me, I want to embrace you with my arms wide open
I’ll wait for you

Everyday is Miracle… Kita tidak tau kapan Tuhan mengambil anaknya.. Hari ini, anak terbaik Tuhan telah meninggalkan kita….”

Aku menangis sesenggukan mendengar perkataan Pendeta. Aku masih belum bisa menerima kalau Yonghwa telah pergi meninggalkanku selamanya. Pelukan Tara dan genggaman Amma menguatkanku. Aku tidak mau menyalahkan Tuhan karena Dia pasti memberikan sesuatu yang indah di balik ini semua. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian Yonghwa tapi…air mata yang mengatakan semuanya.

“Ameeenn…” kataku pelan lalu duduk dan mengusap-ngusap makam Yonghwa. “Honey, inikah yang terbaik buat kita? Inikah rencana Tuhan buat kita? Honey…”

“Vanie, mari kita pulang, sayang. Yonghwa pasti sudah tenang di sisi-Nya,” kata Amma Yonghwa dengan senyum.
“Eomonim…”
“Eonnie, mari kita pulang,” kata Tara dengan senyum lalu mengenggam tanganku.
“Ne~” kataku pelan lalu berdiri. “Honey, aku pulang dulu,”



I try to send your voice away
it keeps buzzing in my ears and makes me think of you again
The time with you cannot flowing, even if I try to block it

Aku segera masuk ke dalam mobilku sesampainya di rumah dan membawa mobilku menuju lokasi kejadian. Aku turun sambil membawa bunga mawar. Hatiku kembali sesak melihat lokasi kejadian.

I’m a scarecrow fending for myself.
My heart without you, I’am such a sad scarecrow
I keep swaying in the harsh wind, even if my body scatters apart
Someday, if you’d come to me, I want to embrace you with my arms wide open
I’ll wait for you

Bangkai mobil Yonghwa masih di sana. Darah masih berceceran di sana. Aku berjalan perlahan melewati police-line dan terduduk di sana lalu meletakkan bunga mawar.

“Yonghwa… Yonghwa…” kataku mulai terisak. “I love you forever,”
**

Sementara itu di Seoul, member Beast, seluruh staff Cube Entertainment menangis ketika melihat berita mengenai ledakan di Las Vegas. Yoon Doojoon, leader Beast, menjadi salah satu korban yang masih dipertanyakan keadaannya. Doojoon dikabarkan selamat dalam keadaan luka parah. Puing-puing reruntuhan mengenai mata dan menusuk jantungnya.

Beauty, sebutan fans Beast, berkumpul di halaman depan Cube Entertainment dengan memakai baju hitam-hitam tanda berduka. Mereka semua berdoa demi keselamatan sang leader yang sedang berjuang di Las Vegas.
**

“Mr. Doojoon akan menerima donor mata dan jantung dari keluarga Jung,” kata dokter Catherine menyerahkan map.
“Jung Yonghwa… Enganged?”
“Yup, tapi tunangan dari Mr. Jung Yonghwa tidak mengetahui mengenai hal ini. Ini pesan terakhir dari Mr. Jung sebelum dia meninggal,”

“Dokter Catherine, biarlah tubuhku mati selamanya asal kenanganku dengan Vanie tetap hidup meskipun itu di tubuh orang lain. Mata dan jantungku, akan kudonorkan kepada yang membutuhkan untuk menjaga kenanganku bersama Vanie. Tolong, rahasiakan ini dari Vanie,”

“Ahh..Mulia sekali Mr. Jung.. Apakah aku bisa melihat tunangannnya dan mengucapkan terima kasih?”
“Sayang sekali, keluarga Mr. Jung sudah pulang karena mereka sedang melakukan upacara pemakaman,”
“Aku akan menemuinya dan mengucapkan terima kasih meskipun waktunya bukan sekarang,”
**

Doojoon POV…
Perlahan aku membuka mata setelah perban terlepas. Aku kaget karena bayangan seorang gadis yang tidak aku kenal muncul secara tiba-tiba. Aku tersenyum ketika melihat sosok Amma, Appa berada di ruanganku.
“Amma..Appa…”
“Doojoon..puji Tuhan.. Terima kasih,” kata Amma memelukku.
“Mr. Doojoon, bagaimana perasaanmu?” tanya dokter Catherine.
“Aku bahagia sekali, dokter. Tuhan masih sayang padaku. Aku satu-satunya korban yang selamat dari ledakan di Las Vegas Shopping Central,” kataku dengan senyum.
“Puji Tuhan, Mr. Doojoon. Laporan mengenai pendonor mata dan jantung sudah aku serahkan kepada orang tua anda,”
“Terima kasih,”
End of Doojoon POV…
**